Pemimpin Indonesia Mendatang Diera Digital

13 June 2011 | 6:45 pm | Dilihat : 1242
Oleh  :  Prayitno Ramelan

Pemilu dan pilpres masih sekitar tiga tahun lebih, tetapi getaran politis para capres mulai terlihat. Sabtu (11/6), mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah mengungkapkan niatnya untuk maju di Pilpres 2014. Kemudian sehari setelah itu Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subijanto di Malang menyatakan kesiapannya menjadi capres 2014.

“Saya tidak akan menampik amanah tersebut,” kata Prabowo saat membuka kegiatan pertemuan Gerakan Buruh,Tani,dan Nelayan di Malang. Jusuf Kalla mengungkapkan kesiapannya menjadi capres 2014 saat menjawab pertanyaan pembawa acara Rossy Goes to Campus,Rosiana Silalahi, di Panggung Baruga AP Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Ternyata panggung pilpres masih menarik bagi jago-jago tua untuk kembali mengadu nasib di pentas politik. Apakah semudah itu atau apakah mereka masih bisa laku, atau apakah parpol pendukungnya mampu? Itulah pertanyaannya. Kini mari kita membahas tentang pemimpin Indonesia diera digital ini.Untuk mengukur kesahihan para calon presiden yang masih bersemangat tersebut.

Indonesia masa kini, kita sadari sudah masuk ke era 'digital society' yang memiliki berbagai aspek menarik yang terkait dengan konteks kepemimpinan. Bangsa Indonesia dapat diumpamakan sedang menjalani proses tawaf, dimana dalam prosesnya `satu bagian terhubung dengan bagian lainnya. Hakikat tawaf yang sempurna adalah menjaga kesinambungan tersebuit sehingga dapat diambil manfaatnya secara optimal.

Aspek pertama, kita mulai dengan bagian terakhir tawafnya Indonesia, yaitu kondisi aktual saat ini, dimana kemajuan teknologi multi media sudah merangsak keberbagai sendi kehidupan, dan karena itu harus mendapat prioritas untuk difahami secara utuh. Sering tanpa terduga, platform teknologi multi media telah memfasilitasi individu-individu yang pandai untuk memanfaatkannya bagi kepentingan pribadi, kelompok atau kombinasi keduanya diberbagai sektor, seperti pendidikan, agama, industri, ekososbud dan polhukkam.

Konsekuensi logisnya, masyarakat telah menjadi 'spoiled society'. manja dengan beragam pilihan dan kemudahan bertransaksi. Dalam 24 jam mereka mampu bertransaksi dengan telpon seluler (fitur GPRS), dari segala pejuru dunia. Status 'relationship' antara konsumen dengan produsen atau konstituen dengan parpol sudah berubah. Kini konstituen sudah menjadi kaisar, dimana kondisi ini dikenal sebagai 'constituen driven society'.

Aspek kedua dikenal sebagai momentum. Meskipun momentun ini berada pada tahapan awal pada tahapan tawaf yang sebelumnya, namun hakikat dan fungsinya memiliki peran kunci, strategis dan relevan dengan kondisi saat ini dan dimasa mendatang. Dalam dunia pemasaran, politik atau militer, momentum bisa terjadi karena di design khusus atau terjadi karena faktor ekstern diluar kendali seseorang. Sebagai contoh, kemerdekaan Indonesia merupakan  momentum (takluknya Jepang kepada AS) yang terjadi diluar design para pejuang kemerdekaan. Nah, momentum ini dimanfaatkan secara cepat dan tepat oleh Bung Karno, Bung Hatta serta para ring satu mereka.

Dengan konsideran diatas, maka untuk mengembangkan dan membentuk seorang pemimpin nasional yang ideal di era 'digital society' terdapat dua isu yang harus difahami dan di-integrasikan secara sistematis dan proporsional. Pertama, mampu memanfaatkan kondisi masyarakat yang sedang ber-eforia dengan teknologi multi media. Kedua, mampu memanfaatkan momentum yang dalam kaitan ini adalah momentum yang di desain khusus secara intern sesuai kebutuhan yang diperlukan.

Pada tahapan operasional, dasar 'assumption is the mother of all disasters' atau 'never operate in darkness' adalah filosofi yang umumnya diterapkan pasukan anti teror kelas satu. Kaidah-kaidah tersebut meski sederhana, namun harus dilakoni secara utuh, dari konsep sampai proses detailnya ('attention to details').  Dari berbagai kasus, tahapan operasional harus melakukan 'exercise' terhadap momentum.

Indentifikasi momentum memiliki beberapa tahapan, yaitu menganalisa fakta dan pergerakan isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat. Pulbaket pergerakan isu dapat dilakukan dengan metode riset kualitatif ('focus group discussion') atau sesuai kebutuhan, bisa juga dengan pola kuantitatif ('large scale consumer research). Analisa diatas harus bisa menghasilkan sebuah kesimpulan tentang peluang ataupun momentum yang akan timbul, baik yang sedang atau yang dibutuhkan masyarakat.

Setelah indentifikasi momentum, tahapan selanjutnya adalah pengembangan produk, dimana identifikasi  momentum yang dihasilkan harus dijadikan dasar pijakan ('basic reference') untuk mengembangkan produk dengan beberapa tahapan. Pertama, pengembangan konsep. Dalam sosok kepemimpinan, konsep yang dimaksud dianalogikan sebagai 'brand personality' yaitu kombinasi yang menyatukan hal-hal yang bersifat non fisik ('intangable') dan fisik ('tangible'). Idealnya kombinasi harus bisa dirasakan kehadirannya dibenak dan hati konstituen sesuai dengan jamannya. Brand personality harus diuji apakah sudah sesuai dengan kebutuhan dan bisa diterima konstituen.

Kedua, adalah pengembangan karakter  yaitu hal-hal yang bersifat non fisik,  yaitu pengembangan formulasi. Dilanjutkan dengan pengembangan produk dengan fokus pada hal-hal yang bersifat non fisik seperti karakter dan perilaku. Pengembangan karakter sangat rawan masalah, sering terlihat mudah namun sulit, karena karakter merupakan cerminan hati nurani yang tulus dan sering terkait erat dengan tampilan fisik.

Ketiga, pengembangan fisik, atau pengembangan 'packaging'. Prinsip utamanya harus tampil alamiah, namun sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan. Dalam kenyataannya, hal-hal kecil ini dan yang seharusnya sudah menyatu dengan 'brand personality' sering kali disepelekan, baik disengaja ataupun tidak karena faktor keangkuhan. Sebuah contoh jelas tentang masalah karakter dan fisik, terlihat kelas pada pilpres 2004, dimana Megawati melaksanakan konsep 'full staff management delegation' tetapi tidak diimbangi sistem dan fungsi 'cross checking'. Dengan status 'incumbent plus the ruling party', para elit PDIP menjadi arogan alias 'extra over confident'.

Saat masyarakat menjadi jenuh, munculah setitik momentum yang saat itu di ekspos media masa dengan istilah 'Jenderal kok kayak anak kecil'. Momentum sedetik ini seakan memicu simpati publik dan kemudian berhasil diberdayakan SBY.

Momentum bisa terjadi secara alamiah atau by design, namun harus diingat momentum sifatnya sangat situasional atau kondisional sesuai dengan waktunya, sehingga pemanfaatannya harus jeli. Penggunaan momentum yang diulang belum tentu berhasil, karena situasi dan kondisi lingkungan di era teknologi multi media ini bergerak dengan cepat dan dinamis.

Walaupun konsep, karakter dan fisik sudah sesuai tuntutan jaman, produk yang beguspun belum menjamin sukses.  Sukses sangat terkait dengan proses interaksi sebuah ecosystem secara menyeluruh, yang meliputi fungsi-fungsi seperti pengembangan produk, perancanaan, logistik, sampai ke periklanan. Disinilah peran media sebagai sebuah 'silent revolution' akan berperan besar.

Sebagaimana umumnya para capres, waktu yang dicurahkan untuk 'brand building' sangat singkat, rata-rata antara 6-12 bulan. Ini jelas tidak cukup mengingat luas wilayah dan banyaknya penduduk.  Untuk mempengaruhi penduduk, dibutuhkan waktu, pola pemasaran sistematis, sistem logistik yang berkesinambungan, distribusi, modus, cara periklanan kreatif yang memanfaatkan teknologi multi media.

'Brain washing Exercise' atau 'brand building' harus dilakukan terus menerus, kreatif dan konsisten, tidak bisa hanya sekedar satu tahun sebelum pemilu. Komponen-komponen tersebut yang harus ditelaah, agar effort yang dikeluarkan sebanding dengan apa yang didapat. Berat memang untuk menjadi pemimpin di negara besar ini.

 

         
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.