Setelah 2 Boeing 777 Celaka, Kemudian 2 Airbus 320, Terasa Bau Teror Semakin Menyengat

27 March 2015 | 10:34 am | Dilihat : 1007

Print

Kronologis Kecelakaan A320 Germanwings (foto : dailymail.co.uk)

Dalam dunia intelijen, bagi para agen hingga analis selalu dituntut untuk dapat menjawab kata 'mengapa?' Karena mengapa mengandung arti penting dari motif sebuah kejadian dan diperlukan sebagai dasar pembuatan sebuah kebijakan atau keputusan sebuah pimpinan organisasi bagi kelangsungan, keamanan serta keselamatan apa yang dipimpinnya di masa depan.

Nah, dalam kaitan kecelakaan pesawat terbang, para investigator harus bekerja keras dalam menjawab kata mengapa tersebut. Masyarakat dunia kini harus bertarung, berjuang unutk hidup, persaingan dalam dunia bisnis menjadi ajang hidup dan mati agar tidak terjadi kebangkrutan. Dalam sisi lainnya, kondisi dunia internasional nampak semakin memprihatinkan, dimana aksi kelompok terorisme menjadi sebuah ancaman yang semakin nyata, penyelidik kecelakaan pesawat jelas menjadi lebih berat lagi. Kecelakaan bukan hanya disebabkan oleh standard yang dianut tetapi ada faktor lain yang menurut penulis adalah "the art of impossible."

Dalam sebuah kecelakaan pesawat udara dikenal  istilah accident yaitu peristiwa yang terjadi di luar dugaan manusia yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat udara jenis kecelakaan ini menimbulkan korban manusia. Sedang incident adalah kecelakaan yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat, tetapi umumnya tidak menimbulkan korban. International Civil Aviation Organization (ICAO) membagi faktor penyebab kecelakaan pesawat udara dalam empat kelompok yaitu, faktor software (kebijakan, prosedur dan lain-lain), hardware (prasarana, sarana), environment (lingkungan dan cuaca) dan liveware yaitu manusia (human error).

Federal Aviation Administration, mengatakan hanya 23% kasus kecelakaan pesawat, penyebab utamanya adalah kondisi cuaca. Menurut statistik, faktor manusia mempunyai andil paling besar yaitu 66%, sedang faktor pesawat terbang (Machine) yaitu 31.8%. Dalam tahapan penerbangan kecelakaan banyak terjadi saat pesawat take off, naik (climb-up), dan landing (mendarat). Pada saat pesawat di udara “cruise” merupakan tahap penerbangan yang paling aman.

Berdasarkan beberapa fakta diatas, secara umum, apabila pada masa kini terjadi sebuah kecelakaan, terlebih kecelakaan berbau accident, maka selain dilakukan penyelidikan standard (dari faktor yang disebutkan oleh ICAO), badan intelijen maupun aparat kepolisian sebaiknya juga fokus dan mengumpulkan bahan keterangan (pulbaket) intelijen agar penyelidikan tidak tersesat dan mengabaikan sesuatu penyebab yang impossible.

Penulis terus bertanya dan mencoba terus menganalisis fakta maupun indikasi kecelakaan pesawat penumpang yang menonjol dalam setahun terakhir. Semoga hasil analisis ini bermanfaat bagi dunia penerbangan pada umumnya. Memang cara berfikir insan intelijen selalu khawatir, semua hanya disebabkan karena cara berfikir 'the worst condition' (kondisi terburuk) menjadi utama. Maksudnya apabila memang perkiraan kondisi terburuk tadi terjadi, maka kita sudah siap dan tidak terkena unsur pendadakan. Mari kita bahas empat kasus kecelakaan pesawat yaitu dua buah Boeing 777-200 serta dua buah Airbus 320-200 dengan dasar pemikiran ilmu intelijen.

Fakta-fakta Yang Berlaku

Kasus Boeing 777 Malaysia Airlines, MH370. sejak Sabtu, 8 Maret 2014, pesawat Boeing 777 milik perusahaan Malaysia Airlines (MAS) dengan nomor penerbangan MH370 menghilang dalam penerbangannya dari Kuala Lumpur ke Beijing, Tiongkok. ATD MH370 (Actual Time of Departure) KUL  00.42.05 waktu Malaysia, MH370 meninggalkan bandara Sepang,  ETA (Estimate Time of Arrival) Peking, Beijing  06.30 dalam hari yang sama. Jumlah penumpang 227 orang (termasuk 12 crew).

Sebelum pesawat hilang dari radar Sepang, ATC menghubungi pilot untuk berganti komunikasi dengan menara kontrol Ho Chi Minh ,Vietnam. Kontak terakhir pukul 01.19.24 . Pukul 01.19.29, pilot MH370 menanggapi. Pukul 01.21 pesawat menghilang dari layar kontrol lalu lintas udara saat transponder di pesawat dimatikan. Satelit Inmarsat mencatat adanya komunikasi berupa "ping" yang terakhir pada pukul 08.11. Menurut para investigator pesawat dunia, saat koferensi di Australia bulan Oktober 2014,  pesawat diterbangkan menuju ke Selatan Samudera Hindia dengan ketinggian 5.000 ft dan berakhir di laut sebelah Barat Perth.

Airlines-Malaysia-MH370

Pesawat Boeing MAS MH370 Yang Masih Hilang (Foto: news.liputan6.com)

Kasus  Boeing 777 Malaysia Airlines, MH17.  Pesawat Malaysian Airlines jenis Boeing 777-200, flight  number MH17 telah jatuh hancur di atas udara Ukraina. Pesawat itu jatuh di Ukraina Timur pada hari Kamis (17/7/2014) dengan 295 penumpang, termasuk 15 crew pesawat. Dari beberapa informasi, diperkirakan pesawat telah ditembak jatuh oleh peluru kendali anti pesawat darat ke udara. Reruntuhan tersebar seluas sembilan mil, menunjukkan pesawat telah meledak di udara sebelum jatuh.

Pesawat jatuh di atas desa Torez, sekitar 25 km sebelah timur dari kota Donetsk dan dalam wilayah yang dikuasai pemberontak separatis pro-Rusia dari Ukraina bagian Timur. Hingga kini belum ada pengakuan ataupun bukti siapa yangmenembakkan misil yang meruntuhkan pesawat tersebut.

SPREAD TEMPLATE

Kronologis MAS, MH17 di Ukraina (Foto: thetimes.co.uk)

Kasus Airbus A320-200 AirAsia, QZ8501. Kasus yang menyangkut kecelakaan pesawat Air Asia Indonesia jenis Airbus A320-200 Flight Number QZ8501 sejak Minggu pagi (28/12/2014), terdapat korban  total 162 penumpang dan crew yang onboard.

Penjelasan Menhub, menyebutkan kronologis;  Pertama – Pilot meminta bermanuver kekiri dikarenakan Cuaca dan hal tersebut mendapat ijin dari AirNav , namun setelah itu meminta naik ke ketinggian 38.000 feet yang standar yang diijinkan sebelumnya hanya 32.000 feet , permintaan ini belum diberi izin , pasalnya Airnav masih memantau apakan di area tersebut aman dari benturan jalur pesawat bagi AirAsia QZ 8501 .

Kedua – Walau belum mendapatkan ijin pada pukul 06.12 wib , pesawat justru terdeteksi naik dengan kecepatan 1400 feet permenit , dan dalam 15 detik sudah mencapai ketinggian 33.700 kaki , dengan kecepatan pesawat mencapai 6000 kaki permenit , sangat janggal  dan dalam 9 detik kedepannya , speed mencapai 11.100 kaki permenit . dan telah mencapai ketinggian 36.700 kaki dalam 13detik berikutnya .

Ketiga – Usai pesawat mencapai ketinggian 36.700 kaki , selang 6 detik berikutnya pesawat turun tiba tiba dengan jarak 1.500 lalu 7900 dan akhirnya berada di level 24.ooo kaki hingga tak lagi terdeteksi oleh radar.

post-39438-0-28322400-1419777650

Kronologis waktu Kecelakaan AirAsia QZ8501 (hflight.net)

Kasus A320-200  Germanwings, Flight 4U 9525 .  Airbus A320 milik perusahaan penerbangan Germanwings (Lufthansa) mengalami kecelakaan di Prancis pada Selasa, 24 Maret 2015, saat terbang dari Barcelona, Spanyol, menuju Duesseldorf, Jerman. Pesawat  membawa 150 penumpang termasuk awak pesawat. Semuanya diperkirakan tewas.

Penelitian terhadap salah satu kotak hitam yang berisi rekaman audio pesawat Germanwings yang jatuh di kaki Gunung Alpen pada Selasa (24/3) menunjukkan penemuan yang mengejutkan, bahwa kapten pilot pesawat sempat terkunci di luar kokpit dan tak bisa masuk ke ruang pengendali pesawat sebelum kecelakaan terjadi. Co Pilot (Lubitz) kini dituduh dengan sengaja menjatuhkan pesawat menabrak gunung.

Pada hari Kamis (26/3), tragedi kecelakaan pesawat beralih menjadi investigasi kriminal dimana seorang jaksa Perancis, Brice Robin berdasarkan hasil pemeriksaan blackbox mengatakan bahwa co-pilot Andreas Lubitz sengaja menjatuhkan pesawat Airbus A320-200 Flight 4U9525 Germanwings ke Pegunungan Alpen Prancis. Robin menyampaikan fakta mengerikan dimana mengatakan pesawat melakukan penurunan yang curam tapi stabil dan tampaknya tidak mengagetkan sebagian penumpang, hingga penumpang menjadi jelas akan terjadi tabrakan dengan puncak bersalju Alpens (Washington Post).

Berdasarkan fakta black box, menurut Robin, pada 10:31, setelah Captain Pilot (Mr. Patrick) terdengar keluar cockpit, pesawat sudah berada pada ketinggian jelajah 38.000 feet. Diketahui dari rekaman data  bahwa autopilot dimatikan dan co-pilot dan Lubitz mengaktifkan sistem  penerbangan untuk memulai turunnya pesawat . Sebuah analisis data transponder oleh Flightradar24 menunjukkan bahwa autopilot pesawat itu telah disetting ulang secara manual dari 38.000 ke bawah 100 meter.

Ketika Captain pilot mencoba untuk masuk kembali, rekaman menunjukkan, dia menjadi semakin panik, menggedor pintu ketika co-pilot tidak membiarkan dia masuk. Pintu masuk kedalam cockpit dengan tujuan pengamanan dapat di “lock” dari dalam cockpit walaupun dari luar Captain pilot memiliki kode untuk membuka. Captain Patrick menjadi semakin panik dan mencoba mendobrak pintu, setelah mendengar alarm pesawat akan menabrak gunung. Yang terjadi kemudian senyap dan pesawat menghantam gunung, hancur berkeping-keping.

Saat kritis tersebut, meskipun berulang kali ATC mencoba menghubungi Lubitz, Robin mengatakan tidak ada respons dari cockpit pesawat, tetap silent tetapi menakutkan dan kepanikanpun terjadi.  Germanwings induk perusahaan Lufthansa, Kamis menyatakan terkejut dan shock dengan informasi tersebut, menggambarkan Lubitz sebagai "100 persen fit untuk terbang." Dikatakan Lubitz relatif baru pada jabatan co-pilot di Germanwings, anak perusahaan Lufthansa. Dia telah bertugas selama 18 bulan, memiliki 630 jam terbang, dinilai aman dan mampu mengendalikan pesawat Airbus A-320. Kepala eksekutif Lufthansa Carsten Spohr mengatakan Lubitz lulus tes fisik dan psikologis yang dilakukan dengan ketat.

Saat ini, saham Airbus dipegang oleh EADS (80%) dan BAE SYSTEMS (20%), dua penyedia dan pemroduksi militer terbesar di Eropa.  Nama konsorsium pembuat pesawat ini adalah Airbus Industrie (Airbus). Produsen ini mempekerjakan sekitar 40.000 karyawan di beberapa negara Eropa. Perakitan final dilaksanakan di Toulouse, Perancis dan Hamburg, Jerman, meskipun konstruksi dilakukan di beberapa pabrik di Eropa.

Menurut Airbus, terdapat sekitar 3.600 pesawat jenis A320 yang beroperasi di seluruh dunia. Disebutkan analisis keselamatan Airbus, keluarga  A320 memiliki rekaman sebagai pesawat dengan tingkat keamanan yang baik, dengan hanya rata-rata mengalami 0,14 kali kecelakaan fatal per 1 juta kali lepas landas.

 Analisis Sisi Intelijen

Dari empat kasus kecelakaan pesawat angkut modern tersebut dalam kurun waktu setahun, menurut penulis kini masih tetap diselimuti misteri yang harus dicarikan jawaban mengapanya oleh badan-badan  intelijen baik terkait ataupun tidak. Dua kasus pertama terjadi pada pesawat buatan Boeing dari AS dengan  operator Malaysia. Sementara dua kasus kecelakaan lainnya  melibatkan dua pesawat buatan Aisbus (konsorsium Eropa). Sekecil apapun penyebabnya, bagi dunia penerbangan ini sebuah aib dan bahaya yang harus dijelaskan baik oleh produsen serta operatornya.

Dalam dua kasus pertama, kasus kecelakaan terjadi pada pesawat dengan operator Malaysian Airlines yaitu Boeing 777 MH370 (8/3/2014) dan MH17 (17/7/2014). Sementara dua kasus, pertama AirAsia Airbus 320-200 flight QZ8501 (28/12/2014) dan  Germanwings (Lufthansa) flight 4U 9525 (24/3/2015). Interval waktu kasus dua Boeing 777 adalah 4 (empat bulan), sementara interval waktu kecelakaan dua pesawat Airbus A-320 adalah sekitar 3 (tiga bulan). Kasus harus dicermati karena masing-masing menyentuh terget (pesawat terbang angkut) dan  jenis pesawat dan pembuat.

Dalam dunia intelijen, membaca  serangan teror, waktunya dirancang harus "ajeg" yaitu terencana, perhitungan interval, untuk mendapatkan efek rasa takut yang sangat, atau mungkin hanya berupa sebuah 'message tertutup tetapi jelas' kepada pihak tertentu (target operasi).  Sebagai contoh, dalam serangan teror di Indonesia, bom bunuh diri terjadi lima kali diantara tahun 2002-2009. Dari beberapa pengungkapan, suicide bombing para teroris  dalam rangka menyerang kepentingan AS dan dan sekutunya, berupa pesan untuk menimbulkan efek gentar dan rasa tidak aman warga dan kepentingan AS di Indonesia.

Lima kasus yang menonjol yaitu Bom Bali-1 (12 Oktober 2002), 202 tewas, 300 luka-luka. Bom besar kedua di Hotel JW Marriott Jakarta tanggal 5 Agustus 2003, 11 tewas, 152 luka-luka.  Bom Kedubes Australia di Kuningan Jakarta 9 September 2004, 5 tewas, ratusan luka-luka.  Bom Bali -2 diledakkan di Raja’s Bar Kuta dan Nyoman Cafe Jimbaran, Bali. 1 Oktober 2005, 22 tewas dan 102 orang luka-luka. Bom Keempat diledakkan di hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton pada 17 Juli 2009, 9 tewas 50 luka-luka. Interval kasus adalah 10 bln, 1 th 3 bln, 1 th 3 bln, 3 th 9 bln.

Nah, dari pembandingan kasus, terlihat target bom sangat jelas AS beserta sekutunya (Australia), dengan gencarnya pemberantasan teror oleh aparat keamanan (Densus 88), interval yang awalnya berkisar antara 10 bulan - 1 tahun 3 bulan kemudian jaraknya semakin jauh dan lama (3 tahun 9 bulan). Serangan teror terhadap kepentingan AS di Indonesia berhenti setelah 2009, bergeser kearah pimpinan nasional dan kemudian ke Polri. Teroris (Jamaah Islamiyah dan jaringan Al Qaeda) tercerai berai menjadi sel-sel kecil dan konsep serangannya bergeser atau digeserkan. Mereka tidak menyerang publik, tetapi presiden, Polri dan Gereja.

Nah, kembali kepada kasus kecelakaan empat pesawat angkut Boeing dan Airbus. Dari dua kasus Boeing 777, MAS, hingga kini masih diselimuti misteri. MH370 yang tetap 'raib' hingga kini menurut analisis penulis dapat dimasukkan dalam aksi bunuh diri dari Captain Pilotnya. Penulis membuat beberapa artikel (periksa artikel terkait). Kesimpulan kasus MH370 adalah pelenyapan pesawat untuk menghilangkan motif. Apabila blackbox ditemukan, maka investigator akan bisa membaca apa yang terjadi pada Boeing 777 tersebut.

Pada pesawat Boeing777 MH17 yang runtuh sebagai akibat dihantam oleh misil (SA-11), hingga kini belum juga dapat dibuktikan siapa penembak dan apa tujuannya. Memang MH17 menurut penulis sudah merupakan target yang diincar oleh pihak tertentu (bisa pemberontak yang didukung Rusia ataupun fihak Ukraina) yang sama-sama memiliki rudal BUK. Oleh karena itu kasus kedua pesawat MAS tersebut penulis kategorikan sebagai akibat atau aksi teror. Baik oleh teroris yang anti Barat, atau oleh pihak yang mengincar kebangkrutan Malaysia Airlines. Bisa juga ini merupakan pressure politik terhadap Malaysia terkait situasi dan kondisi politik internasional.

Pada kasus jatuhnya AirAsia Airbus A320-200 Flight QZ8501, menurut data black box, penyebabnya lebih kepada masalah weather. Kondisi cuaca ekstrem yang dihadapi penerbang yang cukup berpengalaman menurut penulis tetap meragukannya dia takluk dengan menghadapi tembok cumulonimbus. Sejatinya pilot yang mampu memantau dari jarak 16 mil bisa menghindar dan merubah jalur penerbangan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dia tetap harus menghadapi tembok awan positif yang seharusnya dihindari. Terbersit, kini apakah ada kaitan penyebab keputusannya antara "low cost carrier" atau penyebab ekstrem lainnya.

Pada kasus kecelakaan pesawat Airbus Germanwings, berdasarkan informasi dari Jaksa Robin, nampaknya co pilot Andreas Lubitz telah melakukan tindakan mencelakakan diri beserta pesawat yang dikemudikannya. Dia sengaja mengunci Captain Pilot (Mr.Patrick) diluar cockpit dan kemudian pesawat diset ulang ke manual dan dengan sengaja ditabrakkan ke Gunung.

Nah, sebenarnya apa yang terjadi dengan empat kasus tersebut? Dua kasus Boeing lebih berbau adanya aksi teror yang disengaja. MH370 termasuk aksi bunuh diri (suicide) untuk melenyapkan motif, kasus MH17 bukan peristiwa kebetulan juga. Target bisa Boeing atau Malaysia (ini yang belum juga bisa dijawab oleh Malaysia sebagai operator). Pada awal kasus MH370 penulis memperkirakan itu adalah serangan teror dari Al Qaeda, yang akan menciptakan state tension ke AS (fatwa Ayman al-Zawahiri, pengganti Osama bin Laden).

Dalam kasus Airbus A320, kasus pertama QZ8501 masih mengundang misteri, walau menurut blackbox masalah cuaca dan keputusan pilot bisa menjadi penyebab, pertanyaannya mengapa captain pilot tetap nekat menembus awan comulonimbus yang hingga ketinggian 40.000ft? Ini masalah yang juga belum terjawab.

Dalam kasus kedua Airbus A320 Germanwings, nampaknya mulai didapat titik terang, dimana ada indikasi dan fakta bahwa Co Pilot-nya sengaja mengambil alih kemudi pesawat, menyingkirkan captain pilotnya dan menjatuhkan pesawat. Ini masuk dalam aksi bunuh diri (suicide).

Nah, dari keempat kasus diatas, dipandang perlu baik operator maupun regulator penerbangan internasional, khususnya di Indonesia untuk lebih mencermati dan meneliti bahwa ada dua kasus kecenderungan aksi bunuh diri, satu kecelakaan oleh penyebab serangan luar dan satu kasus yang mungkin disebabkan oleh aturan ketat dari manajemen penerbangan. Low cost carrier diterapkan dalam kasus dua Airbus yang celaka, yaitu  AirAsia dan Germanwings.

Oleh karena itu, kita jangan hanya terpukau hanya kepada penyelidikan standard kecelakaan operasi penerbangan semata. Ada sisi lain yang harus diperhatikan. Sisi lain itu adalah manajemen penerbangan murah, kemungkinan pengaruh faham radikal yang mampu menginfiltrasi dan mempengaruhi benak penerbang pesawat angkut. Sebuah pekerjaan berat bagi para penanggung jawab operator, khususnya sekuriti pengamanan. Cara pandangnya harus lebih komprehensif. Persaingan merek dagang juga harus menjadi pertimbangan. Untuk sebuah bisnis ratusan miliar dan bahkan triliun dollar, langkah menghalalkan cara bisa saja dilakukan agar menang. Pihak intelijen penulis perkirakan bisa membaca beberapa kasus yang terjadi dan kaitan kejadian.

Di sisi lain, untuk melakukan sebuah aksi teror di pesawat terbang, kini tidak perlu menyelundupkan teoris ke dalam pesawat, membawa bom atau senjata , resikonya sangat besart. Yang perlu diwaspadai adalah upaya  menciptakan teroris yang memang mempunyai wewenang duduk di cockpit pesawat. Dunia semakin complicated, disinilah intelijen harus berperan banyak. Mari kita waspada. Manusia akan semakin takut menghadapi sesuatu yang tidak jelas, begitu kira-kira.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis intelijen www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Dalami Keganjilan Air Asia di Juanda Disitu Awal Musibah QZ8501,  http://ramalanintelijen.net/?p=9404

-Hilangnya Air Asia QZ 8501 Dari Sudut Pandang Intelijen, http://ramalanintelijen.net/?p=9394 -MH370 dan MH17 Adalah Dua Pesan Teror Terhadap Malaysia, Adakah Pesan Ketiga?  http://ramalanintelijen.net/?p=9261  

-Apakah Malaysia Airlines MH17 Memang Sudah Ditarget? http://ramalanintelijen.net/?p=8660

-Boeing 777 Malaysia Airlines Flight MH17 Jatuh Ditembak di Udara Ukraina,  http://ramalanintelijen.net/?p=8550

-Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad Menyatakan CIA Menutupi Masalah MAS MH370,  http://ramalanintelijen.net/?p=8404

-Skenario Desepsi MH370 dan Alasan Ke Samudera Hindia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8264

-Kasus MH370, Sebuah Pelajaran Berharga Bagi Indonesia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8208

-Skenario Desepsi MH370 dan Alasan Ke Samudera Hindia,   http://ramalanintelijen.net/?p=8264 -Penyelidikan MH370 ditingkatkan Menjadi "Criminal Investigation" ,  http://ramalanintelijen.net/?p=8245

-Ayman al-Zawahiri Pengganti Osama Perintahkan Serang AS,  http://ramalanintelijen.net/?p=7431

               
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.