Penembak Intel Kodim di Aceh itu Kriminal Bersenjata dan Berbahaya

30 March 2015 | 8:23 am | Dilihat : 866

direktur-yara

Direktur YARA Safaruddin (Merah) bersama DinMinimi (dgn AK), Foto: aceh.tribunnews.com

Sudah sepekan terjadi peristiwa mengejutkan di Aceh, dimana dua anggota Intel Kodim 0103 Aceh Utara atas nama Serda Hendriyanto dan Serda Indra Irawan pada hari Selasa (24/3/2015) sekitar pukul 08.30 WIB di Desa Alue Mbang, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara ditemukan tewas ditembak. Hingga kini belum ditemukan siapa pelaku pembunuhan dua anggota TNI tersebut.

Menurut informasi, dua anggota Kodim Aceh Utara itu sebelumnya diculik sekelompok orang bersenjata di Aceh Utara pada hari Senin, 23 Maret 2014 saat sedang melakukan pengumpulan informasi keberadaan kelompok bersenjata di Aceh Utara. Komandan Korem 011/ Lilawangsa, Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin, menyampaikan bahwa Sertu Indra Irawan dan Serda Hendrianto diculik dan ditembak saat dalam perjalanan pulang dari rumah Daud, Kepala Mukim Desa Batee Pila. Menurutnya, penculik diduga berjumlah lebih dari lima orang bersenjata laras panjang dan menembak keduanya dari jarak dekat.

Di tubuh Indra ada luka tembakan di pipi dan peluru tembus hingga kepala. Ada juga tembakan di tangan kanan dan dada. Sedangkan di tubuh Hendrianto ditemukan luka tembak di kaki dan dada.

Kepolisian Daerah Aceh menduga pelaku penculikan dan penembakan merupakan kelompok yang pernah melakukan tindak kriminal di Langsa dan Aceh Timur. Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi, Rabu(25/3), di Aceh Utara mengatakan, "Kelompok tersebut pernah melakukan kriminalitas di Aceh Timur. Mereka menggunakan senjata campuran, ada yang AK47 dan M16," katanya.

Saat disinggung tentang motif pelaku melakukan pembunuhan itu, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto belum memastikan secara jelas pelakunya. Di Media Center Kodam Iskandar Muda, pada Selasa (24/3/2015) Agus menyatakan, ."Saya tidak pernah mempertimbangkan pelaku dari kelompok mana. Yang jelas itu sebagian masyarakat Aceh," katanya. Namun diperkirakan sebagian dari mereka telah meninggalkan wilayah Aceh Utara.

Menurut Agus, ada kemungkinan keterlibatan kelompok pemilik ladang ganja dalam kejadian ini, karena TNI akhir-akhir ini sangat gencar memusnahkan ladang ganja, terutama di Aceh Utara. “Bisa saja mereka dendam terhadap tindakan TNI tersebut.” Menurut Pangdam, pihak TNI menyerahkan kasus tersebut ke aparat penegak hukum. "Pada tingkat ini, jika dia sudah menyentuh TNI, kalau masih bisa dipertimbangkan oleh hukum akan kita serahkan ke hukum," tegas Pangdam. Kodam Iskandar Muda kemudian menurunkan personil TNI dari tiga Kodim di Aceh untuk membantu pihak Kepolisian mengejar dan mencari para pelaku. Menurut Danrem, Kodam menurunkan dua SSK (Satuan setingkat kompi) dan dua SST (Satuan setingkat peleton) dan diperkuat 40 personel Anoa dengan senjata lengkap.

Pangdam memastikan tidak ada operasi militer yang dilakukan di Nisam, Aceh Utara, meskipun ada pengerahan pasukan pasca insiden penculikan hingga pembunuhan terhadap dua prajuritnya.

Siapa Pelakunya?

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh, Safaruddin, menilai aksi penculikan yang mengakibatkan tewasnya Sertu Indra Irawan dan Serda Hendrianto, merupakan bentuk kriminal murni yang diduga kuat bermotif ekonomi. Paska insiden penembakan dua anggota anggota intel TNI tersebut, Safaruddin mengaku sempat dihubungi Din Minimi, dan menyatakan bahwa kelompoknya bukan pelaku penculikan dan penembakan dua anggota TNI itu. Mereka mengatakan, tidak memiliki kebencian terhadap institusi TNI. "Aksi penculikan itu dilakukan oleh kelompok lain yang juga masih menggunakan senjata api," kata Safaruddin di Aceh, Rabu, 25 Maret 2015. Din Minimi dikenal juga sebagai Nurdin Bin Ismail Amat Alias Abu Minimi.

Dikatakannya juga bahwa pelaku merupakan kelompok senjata yang memanfaatkan senjata yang masih beredar untuk kepentingan ekonomi Sementara kelompok Din Minimi mengakui bahwa aksinya hanya untuk memperjuangkan hak-hak reintegrasi yang hanya dinikmati segelitir anggota GAM paska damai.

Menurut Safaruddin, Din Minimi ikut juga memperjuangkan dana reintergrasi bagi anggota TNI/Polri yang menjadi korban saat konflik terjadi di Aceh. "Ketidakpuasan akan pembagian dana reintegrasi dinilai menjadi penyebab masih banyaknya senjata yang beredar di Aceh saat ini."

Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Infanteri Achmad Daniel Chardin menduga, ada tiga kelompok yang bersenjata yang beraksi di kawasan Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Kelompok itu masing-masing berjumlah 10-15 orang. Menurut dia, masing-masing kelompok itu dipimpin oleh Bahar, Dahlan dan Din Minimi. TNI belum belum memastikan kelompok mana yang menembak dua anggota TNI itu.

Daniel mengatakan, ketiga kelompok itu termasuk yang paling dicari Kepolisian Aceh Utara. Mereka sering melakukan tindak kriminal dengan menggunakan senjata. Mereka diperkirakan masih ada di sekitar hutan Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Ketiga kelompok tersebut memiliki kepentingan berbeda. Ada kelompok yang targetnya menghasilkan uang dari narkotika.

Sasaran operasi aparat keamanan tak lagi sebatas Nisam dan Nisam Antara, tetapi meluas ke Sawang dan Kuta Makmur. Bahkan ada masyarakat yang melihat pergerakan pasukan di pedalaman Tanah Luas, Nibong, dan Simpang Keuramat. Danrem mengatakan kepada Serambi, Rabu (25/3) membenarkan pihaknya mengintensifkan operasi memburu kelompok bersenjata yang semakin meresahkan masyarakat Danrem juga memperkirakan kelompok yang menculik tersebut adalah warga dari Aceh Utara sehingga mereka sangat menguasai medan. “Kalau pun ada dari luar Aceh Utara, tentu ada orang dalam juga yang terlibat,” tandasnya.

Ditanya terkait mafia narkotika, Daniel mengatakan ada kemungkinan pelaku adalah kelompok pemilik ladang ganja, karena akhir-akhir ini TNI sangat gencar dalam melakukan pemusnahan ladang ganja di Aceh Utara. Bahkan sejak beberapa bulan terakhir TNI sudah memusnahkan 24 hektar ladang ganja melalui tiga kali operasi secara berturut-turut. “Mungkin saja mereka dendam terkait tindakan TNI tersebut, namun semuanya belum dapat kita pastikan,”

Selain dua anggota TNI tersebut, terjadi pembunuhan terhadap anggota Polri pada hari Selasa (25/3), yang menewaskan Bripda Said M. Riza dari Polres Pidie. Bripda Said tertembak saat bersama rekan-rekannya melakukan penyamaran terhadap transaksi Ganja di kawasan tangse, Pidie. Saat dalam penyamaran dan akan menangkap pelaku, senjata pistol Said direbut pelaku dan menembak korban.

Analisis

Sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh Pangdam Iskandar Muda dan Danrem Lilawangsa, penembakan terhadap dua anggota intel Kodim tersebut menunjukkan bahwa masih ada senjata api yang masih beredar di kawasan Aceh. Yang jelas senjata (AK47 dan M16) adalah sisa-sisa dari konflik pada masa lalu saat terjadi konflik pada GAM.

Setelah tercapai kata sepakat tentang otonomi Aceh, dan terbentuknya pemerintahan di Aceh melalui pilkada, nampaknya pemda masih sulit mengakomodir semua faksi yang pada masa lalu masih memegang senjata api. Mereka merupakan personil yang cukup terlatih dan sering melakukan kontak senjata dengan TNI dan Polri pada masa lalu.

Seperti dikatakan Danrem, Kolonel Daniel, di sekitar hutan Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara terdapat tiga kelompok sipil bersenjata yang masing-masing dipimpin oleh Bahar, Dahlan serta Din Minimi. Ketiga kelompok tersebut diketahui memiliki kepentingan berbeda. Ada kelompok yang targetnya menghasilkan uang dari narkotika. Inilah yang dicurigai TNI telah melakukan pembunuhan dua anggota TNI tadi.

Aceh mempunyai sejarah kawasan dimana banyak ditemukan ladang ganja dengan kualitas tebaik dan ditanam oleh kelompok khusus di daerah pegunungan yang sulit ditemukan. Kodam ikut berpartisipasi memberantas lading ganja dan nampaknya memang hasil operasinya membuat sakit hati.

Selain itu menurut data BNN (Badan Narkotika Nasional), link antara kelompok Narkoba Malaysia dengan Aceh merupakan jaringan besar disamping jaringan Iran, Afrika dan China. Selain anggota TNI, ditembaknya Bripda Said anggota Polres Pidie merupakan bukti kenekatan mafia narkoba di Aceh.

Sementara dapat disimpulkan bahwa tewasnya dua anggota TNI di Aceh tersebut lebih kepada ulah sindikat narkoba. Motif sakit hati kepada TNI yang telah melakukan operasi pembersihan lading ganja adalah sebagai latar belakang kejadian. Keterlibatan adanya ISIS atau kepentingan lain di Aceh sementara dapat dikesampingkan. Ini ulah murni warga Aceh tertentu.

Upaya terorisme jaringan luar sejak Jamaah Islamiyah/Jamaah Anshorut Tauhid sejak peristiwa Jalin Jantho menunjukkan konsep infiltrasi Terorisme tidak masuk di Aceh. Hal yang penting adalah masih beredarnya senjata serbu dikalangan beberapa warga sipil demi kepentingan kriminal ekonomi, ini yang harus ditindak sesuai UU yang berlaku. Kini mereka harus menerima resiko berhadapan dan akan dikejar oleh TNI yang mulai lebih intensif mengejarnya. Mereka menyentuh esprit de corps, itu kesalahan fatalnya.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan,  Analis intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.