Teroris Jaringan Solo, Poso dan Depok ditangkap Densus di Solo

24 September 2012 | 9:20 am | Dilihat : 850

Sabtu (22/9) dinihari hingga pukul 11.00 tim Densus 88/Anti teror Polri berhasil menangkap delapan orang terduga teroris dari beberapa tempat dikota Solo. Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo memastikan seluruh terduga teroris tersebut merupakan jaringan lama dan terkait dengan jaringan Solo, Depok, dan Poso. Dalam penggerebekan tersebut, Densus menemukan sejumlah rangkaian bom yang beberapa di antaranya langsung diledakkan di rumah terduga teroris.

”Yang paling menonjol dari temuan itu ada lima jenis bahan peledak yang siap diledakkan, kemudian beberapa yang sedang dilakukan analisis karena sangat membahayakan. Jadi kita tunggu perkembangannya nanti,” kata Kapolri di Halim. Penyergapan terduga teroris tersebut diawali dari penyergapan RK (Rudi Kurnia Putra), 45, Sabtu (22/9) dini hari. Aparat Densus 88 menangkapnya saat Rudi berada di jalanan Kampung Griyan setelah dibuntuti dari halte bus Kleco. Setelah Rudi, Densus menangkap BH (Baderi Hartono), 45, Jalan  Belimbing Kelurahan Pajang Kecamatan  Laweyan, RT 05/RW X, ditangkap seusai salat subuh di Masjid Al Huda, sekitar pukul 05.30 WIB. Di rumah Baderi,ditemukan 7 buah bom botol, 3 kg belerang, kno 3 0,5kg, 1 kg pupuk urea, 11 buah detonator rakitan, dan pipa paralon yang sudah dibentuk dan  komponen elektronik, buku-buku Jihad dan 4 pedang. .

Pada pukul 08.00 WIB, Densus kembali mengamankan Kamidi, 43, di rumahnya, Jalan Lempuyangan II A RT 07/RW X Kampung Griyan. Di rumah Kamidi, ditemukan Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan ditemukan, 20-an buah inisiator, 4 kg belerang, 5 kg black powder, cairan asam sulfat dan rangkaian HP. Karopenmas Polri Boy Rafli menjelaskan,“Tiga buah bom pipa dan  2 buah bom botol diledakan (didisposal dilokasi),” ungkapnya, karena tidak mungkin mengamankannya.

Pada Sabtu (22/9), Densus juga menangkap Anggri Pamungkas (19), terduga teroris yang tergabung dalam kelompok yang sama. Angri  ditangkap di perbatasan Desa Cobra dengan Desa Bloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Densus kemudian menangkap tiga terduga teroris lainnya. Durrahman, anggota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), ditangkap saat dirinya mengabadikan gambar di lokasi penangkapan di Griyan. Fajar Novianto ditangkap dekat rumahnya di kawasan Purwosari, Laweyan, Solo. Di Pasar Hardjodaksino, Densus menangkap terduga teroris Priyanto saat berdagang. Seorang terduga lainnya ditangkap Densus di Bacem, Sukoharjo. Pengurus JAT Soloraya Endro Sudarsono membenarkan Durrahman adalah anggotanya.

Pengembangan terus dilakukan Densus. Pada hari Minggu sekitar pukul 11.00, kembali telah ditangkap Joko Tripriyanto alias Joko Parkit (45), di Kampung Mondokan, RT 02/RW XI, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengungkapkan, Joko ditangkap tanpa perlawanan. Dia diduga berperan menyimpan bahan-bahan pembuatan bom untuk melancarkan aksi teror bersama kelompoknya. Sejumlah bahan kimia untuk merakit bom diamankan dari kediaman Joko. Menurut Boy, Joko adalah seorang residivis kasus kekerasan. Joko dan Angry diduga terlibat dalam peledakan di Beji, Depok, serta penemuan bom rakitan di Tambora,J akarta Barat. Anggri diketahui merupakan seorang perakit bom.

Sejak Sabtu (22/9), dari pengembangan informasi, Densus telah menangkap Badri Hartono (45), Rudi Kurnia Putra (45), Kamidi ( 43),  Indran Vitrijan (30),  Nopem (30), Fajar Novianto (18),  BarkahNawa Saputra (24) dan Triyatno (29). ”Pimpinannya Badri Hartono,” jelasnya. Badri bersama Rudi Kurnia mengoordinasi dan mengomando kelompoknya. Baderi merupakan pemimpin jaringan Thoriq cs di Beji Depok. Thoriq pemilik bom rakitan di Tambora.  Mereka merupakan DPO pelatihan teroris di Poso, Sulawesi Tengah, beberapa bulan lalu. Saat itu, polisi menangkap dua orang dan lainnya berhasil melarikan diri.

Menurut Karopenmas Polri, Brigjen Boy Rafli Amar, Baderi Hartono mendapat ilmu merakit bom dari Bagus Budi Pranoto alias Urwah. yang merupakan perakit bom saat teroris asal Malaysia, Noordin M Top masih beraksi di  Indonesia. Urwah adalah perakit bom yang meledak di JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009. Ia dan perakit bom lainnya (Ario Santoso alias Aji) merupakan murid teroris Malaysia lainnya, Dr Azahari. Kedua DPO tersebut menjadi buron bersama Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir. Urwah tewas ditembak Densus bersama Noordin M Top beserta Aji dan pemilik rumah Hadi Susilo di Kampung Kepuh, Jebres, Solo pada tanggal 16 September 2009. Baca artikel penulis "Sebuah Analisa Setelah Noordin Tewas", http://ramalanintelijen.net/?p=1556.

Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli mar menjelaskan RK (Rudi Kurnia Putra) termasuk kelompok teroris yang bertanggung jawab atas penemuan bahan peledak di Bojong Gede, dia direkrut dan dilatih di Poso. Sedangkan, BH (Baderi) adalah Amir kelompok teroris terkait dengan Rudi. Menurut Boy, dugaan awal dari tujuan 8 terduga teroris tersebut adalah aksi pengeboman pada berbagai fasilitas Polri. ”Pimpinannya Badri Hartono,” jelas Boy. Badri bersama Rudi Kurnia mengordinasi dan mengomando kelompoknya. Mereka merupakan DPO pelatihan teroris di Poso, Sulawesi Tengah, beberapa bulan lalu. “Keduanya berkaitan dengan Naim dan Mujib yang ditangkap 12 Juli lalu di Poso,” kata Kepala BNPT, Ansyaad Mbai.

Dari hasil pemeriksaan sementara, delapan terduga teroris yang ditangkap di Solo, itu diketahui telah merencanakan aksi terornya sejak bulan Juni 2012. Hal ini setidaknya terungkap ketika Densus 88 menemukan bom serta sejumlah bahan peledak di tempat mereka tinggal. "Perencanaan ini meliputi perakitan bom, perekrutan pelaku bom bunuh diri, dan belanja bahan peledak," kata Boy Rafli Amar, di Gedung Bhayangkari Mabes Polri, Sabtu (22/9). Ditambahkan oleh Boy, Polri masih bekerja keras untuk menemukan lokasi atau orang-orang lain yang memiliki keterkaitan dengan delapan terduga teroris tersebut. Selama empat bulan tersebut, kelompok Thoriq dan Wahyu bersama delapan terduga teroris yang ditangkap di Solo ini merencanakan aksi dan target teror yang mungkin dilakukan.

Dari rangkaian penelusuran, penyelidikan dan tindak counter terorism yang dilakukan oleh Densus 88 sebagai Tim Anti teror Polri, terlihat bahwa kelompok teroris tetap berkembang bak belalai gurita. Kelompok mereka walau kecil nampaknya telah mampu meningkatkan rencana serangan berupa pembuatan bom rakitan dan bahkan bom jenis kimia yang sangat berbahaya. Kelompok ini mempunyai basis pelatihan di Poso dan kini mereka sudah tersebar kebeberapa daerah. Suksesnya operasi Densus 88  patut diacungi jempol dan kita mengharapkan masyarakat luas juga membantu memberikan informasi terhadap ulah kelompok teroris yang sangat berbahaya tersebut.

Sebuah catatan penting penulis, kelompok teroris telah kembali bangkit dan mampu membeli bahan pembuat bom serta senjata. Nampaknya ilmu membuat bom rakitan diturunkan berjenjang dari mantan teroris yang  telah ditangkap atau telah ditembak mati. Mereka kini mampu mengumpulkan dana dengan cara yang lebih modern, tidak hanya dengan cara merampok, tetapi diantaranya dengan memanfaatkan kemampuan IT (Informasi dan Teknologi) yaitu dengan menjadi hacker. Mreka mampu memanipulasi forex dan berhasil mencuri dana dengan teknologi IT. Perkembangan semacam inilah yang harus dipotong dan diawasi dengan lebih ketat oleh aparat keamanan.

Prayitno Ramelan (www.ramalanintelijen.net)

Ilustrasi gambar : skalanews.com

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.