Aliansi Pertahanan AS-Australia Berusia 61 Tahun

23 April 2012 | 6:09 am | Dilihat : 2121

Kedatangan 200 Marinir AS (USMC) ke barak militer di pinggiran kota Darwin Australia pada hari Rabu (4/4) merupakan kejadian penting bagi Australia. Menteri pertahanan Australia, Stephen Smith, dalam sambutannya saat penerimaan  200 Marinir tersebut sebagai bagian dari rencana penempatan 2500 pasukan dalam waktu lima tahun menyatakan sebagai hari bersejarah dalam aliansi 61-tahun antara Australia dan Amerika Serikat.

Kedatangan pasukan AS tersebut merupakan bagian  kesepakatan antara Washington dan Canberra untuk mendirikan sebuah pusat latihan permanen bersama kedua negara. Kedua negara mengumumkan pada bulan November tahun ini, akan mengirimkan pesawat tempur AS ke Australia untuk melindungi kepentingan AS di seluruh Asia. PM Australia, Julia Gillard  mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa rotasi enam bulan pertama tidak termasuk alat berat, kendaraan atau pesawat. PM Gillard menyatakan, "There are no US military bases in Australia, and this will not change," tegasnya.

Duta Besar AS untuk Australia, Jeffrey Bleich, pada upacara penyambutan tersebut menyatakan  bahwa kawasan Asia-Pasifik adalah wilayah "paling dinamis di dunia''. Selanjutnya dikatakannya "This is the fastest growing economic area and also the one that is enduring the greatest demographic change and we want to make sure that it continues to be a peaceful, prosperous and stable area,"tegasnya. Cara kita mencapai kondisi tersebut  adalah dengan memastikan bahwa rute perdagangan tetap terbuka dan bahwa kita siap untuk menghadapi  setiap masalah yang sewaktu-waktu akan muncul.

Menanggapi kekhawatiran yang muncul di China, dengan adanya tuduhan bahwa penggelaran kekuatan AS di Australia adalah bagian strategi yang lebih besar untuk mengepung China dibantah oleh Menhan Australia Stephen Smith. Dia  menyatakan bahwa tidak benar hubungan militer yang lebih erat antara Australia dan Amerika Serikat adalah respon terhadap pertumbuhan yang pesat  dari militer China, yang kini merupakan mitra dagang paling penting bagi Australia.

Selanjutnya dia menyatakan, "The world needs to essentially come to grips with the rise of China, the rise of India, the move of strategic and politicaland economic influence to our part of the world." Hal serupa juga pernah  dinyatakan dinyatakan oleh Presiden Barack Obama pada bulan November tahun lalu  yang mengatakan bahwa "The notion that we fear China is mistaken. The notion that we are looking to exclude China is mistaken .... we welcome a rising, peaceful China." Bahwa AS dan Australia tidak takut dengan perkembangan di China.

Bahasa yang disampaikan oleh para pejabat tinggi di Australia adalah bahasa diplomatis dalam rangka menetralisir kecurigaan para pejabat di China terhadap upaya pengepungan aliansi Barat terhadap perkembangan di China. Langkah AS-Australia adalah langkah balance of power yang merupakan langkah nyata untuk pengamanan  kawasan Asia-Pasifik seperti yang dikatakan Dubes AS, sebagai kawasan paling dinamis dan daerah dengan perekonomian yang paling berkembang di dunia.

Aliansi militer AS-Australia seperti yang dikatakan Menhan Australia sudah berusia 61 tahun, dimana pada Tahun 1951 di San Fransisco ditanda tangani Pakta Pertahanan ANZUS (Australia, New Zealand-US). Pada Tahun 1984, pemerintah  New Zealand (Selandia Baru)  memberlakukan kebijakan yang kemudian menjadi undang-undang, yang melarang kapal-kapal bertenaga nuklir  dan pembawa senjata nuklir untuk singgah di pelabuhan Selandia Baru.

Kebijakan ini memicu perselisihan antara Selandia Barudengan AS. Pada tahun 1986, AS menyatakan tidak lagi menjamin keamanan Selandia Baru berdasarkan Pakta ANZUS. Pakta ANZUS kini hanya dilakukan antara AS-Australia, yang hingga tahun 2012 ini telah berusia 61 tahun. Oleh karena itu kedatangan pasukan AS ke Australia dinyatakan oleh Menhan Stephen Smith sebagai sebuah sejarah penting.

Pada masa lalu, pembentukan aliansi ANZUS  yang dibentuk oleh AS lebih ditujukan untuk menahan gerak maju komunis di Asia. Selain ANZUS,  pada masa lalu di kawasan Asia  Tenggara juga dibentuk aliansi  SEATO (South East Asia Treaty Organization) yang diresmikan tanggal 8 September  1954 dengan anggota Australia, Prancis, Inggris,  Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Thailand dan Amerika Serikat dengan markas besar di Bangkok. Pakta ini ternyata gagal mencegah kemenangan komunis di Indo Cina dan dibubarkan pada tahun 1977.

Aliansi militer lainnya di kawasan Asia Tenggara yang masih aktif adalah Five Power Defence Arrangements (FPDA) , yang didirikan tahun 1971, terdiri dari Singapura, Malaysia, Australia, Selandia Baru dan Inggris. FPDA adalah aliansi yang melindungi Malaysia dan Singapura apabila menghadapi ancaman akan mendapat perlindungan dan pertahanan udara. FPDA secara rutin melakukan latihan bersama, sejak tahun 1997 latihan semkin diintensifkan dengan sandi Flying Fish,  Starfish dan Mayor Adex yang melibatkan  35 kapal perang, 140 pesawat and 2 kapal selam. Para Menteri Pertahanan kelima negara secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas latihan bersama, stabilitas kawasan, ancaman non-konvensional dan dampak krisis ekonomi global terhadap keamanan regional.

Itulah gambaran tentang beberapa aliansi militer di kawasan Asia Pasifik. Pada intinya beberapa negara Barat terus merasa khawatir terhadap gerak maju faham komunis pada masa lalu. Semua aliansi yang dibentuk oleh negara-negara Barat (Blok AS)  seperti ANZUS, NATO, SEATO merupakan lawan dari gelombang pengaruh faham komunis di dunia. Setelah gerak negara-negara komunis tidak menjadi ancaman utama lagi, kini aliansi AS-Australia diperkuat khusus untuk mengamankan jalur perekonomian mereka.

Sementara FPDA merupakan aliansi militer negara-negara persemakmuran Inggris di Asia Tenggara. Pada intinya negara-negara Barat lebih fokus kemungkinan ancaman dari China dan Korea Utara yang masih menggunakan faham komunis.

Bagaimana posisi Indonesia? Sebagai negara yang berdaulat, dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia tidak bergabung dalam sebuah pakta pertahanan. Akan tetapi Indonesia memang harus mampu menempatkan diri dan menyesuaikan dengan perkembangan situasi kawasan yang nampaknya bisa sewaktu-waktu bergolak dan terjadi konflik karena persoalan ekonomi. Tidak ada pilihan lain, Indonesia harus memperkuat diri dalam bidang pertahanan, agar duduk sama tegak dan berdiri sama tinggi dengan beberapa aliansi yang semakin ramai di sekitarnya.

Harga diri bangsa ini terletak bagaimana kita bersama mampu menjaga kedaulatan negara, dan kedaulatan masa kini dan masa mendatang banyak tergantung dengan kemajuan teknologi militer. Kalau tidak maka negara ini akan di "acak-acak" tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan mereka akan mengatakan "Indonesia Cemen." Itu yang tidak kita kehendaki bersama pastinya. Jangan lagi kita berfikir sektoral dan sempit, kita harus lebih cerdas dan cerdik  memikirkan kepentingan nasional Indonesia untuk jangka panjang. Itulah makna Indonesia Merdeka. Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.