Esprit de Corps Geng Motor Pita Kuning

21 April 2012 | 10:34 am | Dilihat : 2200

Pada saat masih aktif bertugas, ada tiga korps yang penulis perhatikan yaitu POM, Paskhas dan Intelijen. Ketigaa korps tersebut mempunyai anggota pasukan terlatih sesuai kecabangannya. Dan yang selalu penulis perhatikan demikian banyaknya anggota pasukan yang merupakan rekutan baru, masih muda-muda dan penuh dengan semangat dan masih emosional. Bahkan banyak yang masih terpengaruh dengan semangat tawuran saat di SMA sebelumnya.

Sebagai Kepala Dinas Pengamanan TNI AU, penulis mempunyai catatan perkembangan karir anggota TNI AU dimanapun mereka berada,  mencatat dan memroses tiap pelanggaran yang dibuat. Penekanan disiplin kepada tiga korps diatas harus keras, karena begitu mereka tidak dikontrol dengan ketat, akan terbentuk sebuah kelompok gerombolan bersenjata yang terlatih. Tangan besi, itulah istilah yang penulis tekankan kepada para komandan-komandan satuan. Tanpa kompromi mereka yang melanggar ditindak dengan keras, sesuai dengan hukum yang berlaku di militer.

Kita terkejut dengan terjadinya kasus pembunuhan dan penyerangan terhadap warga di Jakarta pada malam/dini  hari tanggal 7, 8 dan 13 April dinihari, yang dilakukan oleh kelompok anak muda yang melakukan penyerangan dibeberapa tempat. Publik menjadi geger, Polisi geger, dan sampai Kodampun juga geger. Terakhir sampai-sampai Menkopolhukam dan presidenpun juga ikut memberikan arahan dan rasa keprihatinan.

Apa sebenarnya yang terjadi? Setelah beberapa hari, Pangdam Jaya (Mayjen TNI Waris) menyampaikan adanya keterlibatan oknum TNI dalam penyerangan geng motor itu. Demikian juga pihak polri mencium ada kekuatan tertentu yang berada dibalik geng motor pita kuning itu.

Masalah terkuak setelah ada empat anggota TNI yang ditangkap dan  diperiksa. Kapuspen Kodam Jaya, Kolonel Infanteri Adrian Ponto mengatakan, Polisi Militer Kodam Jaya masih mendalami peran ke-empat anggota Arhanud-6 (Serda YP, Serda JT, Praka M, dan Pratu MKI) yang terlibat dalam aksi kekerasan geng motor. Mereka terbukti terlibat dalam aksi kekerasan bersama ratusan oknum anggota TNI di delapan titik di Jakarta pada Jumat (13/4/2012) dini hari.

Keempat anggota Artileri Pertahanan Udara  yang bermarkas di Tanjung Priok tersebut diamankan Pomdam Jaya pada 18 April 2012. Mereka ditahan berdasarkan penyelidikan terhadap ponsel milik Prada Akbar Yudhi Aldiah, anggota Kostrad Divisi 2 Malang yang tertembak di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat, saat tengah melakukan aksinya.

Bersama ratusan orang lain, empat orang anggota TNI tersebut menggunakan sepeda motor dan melakukan aksi kekerasan di delapan titik di Jakarta pada Jumat (13/4/2012) dini hari. Kejadian itu menyebabkan 9 orang terluka dan seorang meninggal dunia.

Kepala Badan Intelijen Negara Letjen Marciano Norman mengatakan terkait soal geng motor di Jakarta, informasi Panglima Kodam Jaya Mayjen Waris yang menyatakan adanya keterlibatan anggota TNI pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh geng motor di Jakarta telah ditindak lanjuti. Penegakan hukum di lingkungan TNI tetap dijalankan.

Kepala Penerangan Kodam Jaya, Kolonel Inf Adrian Ponto mengatakan, aksi beringas itu merupakan bentuk solidaritas para pelaku atas tewasnya kelasi Arifin, rekan seangkatan mereka yang dikeroyok sekelompok pembalap liar di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu (31/4/2012). Pomdam Jaya kini tengah menyelidiki oknum yang menyebarkan pesan melalui SMS maupun BlackBerry Messenger yang berisi permintaan untuk berkumpul di halaman Monumen Nasional, tempat aksi tersebut dimulai.

Dari beberapa penjelasan pejabat, nampaknya bukti-bukti mulai semakin jelas menunjukkan adanya keterlibatan beberapa oknum TNI dalam penyerangan geng motor, berupa tindakan balas dendam. Kematian kelasi Arifin telah mengundang simpati teman-teman se angkatannya, yang kemudian membentuk kesatuan aksi balas dendam. Dalam kehidupan militer dikenal dengan istilah "Esprit de Corps."

Esprit de corps dapat diartikan dengan beberapa penjelasan, dimana terjemahan umumnya adalah "semangat kelompok." Semangat umum yang ada pada anggota kelompok berupa antusiasme, inspirasi, pengabdian, dan hal lainnya yang pada intinya bangga dan setia serta  menghormati kelompoknya.

Secara harfiah diartikan sebagai jiwa korsa, sebuah bentuk kekompakan, kebersamaan yang terjalin dalam sebuah kelompok, instansi atau organisasi yang dilandaskan keikhlasan tanpa paksaan apapun. Sebuah ikatan erat dalam hubungan yang melibatkan emosi diantara sesama. Bentuk kerjasama sederajat. Tidak memandang golongan ataupun status. Seiya sekata senasib seperjuangan. Saling berbagi dalam kesenangan maupun kesulitan, saling bahu membahu dalam kebersamaan menghadapi setiap tantangan menghadang.

Nah, dari pengalaman beberapa perang besar di dunia, apabila sebuah pasukan kehilangan Esprit de Corps, maka pasukan tersebut akan mudah dikalahkan dalam sebuah pertempuran. Semangat kelompok terus ditekankan oleh komandan satuan, karena kebersamaan adalah salah satu kunci sukses dalam kepemimpinan.

Nah, dalam kasus geng motor pita kuning, kalaupun nanti terbukti bahwa banyak anggota TNI yang terlibat, disitu yang terbaca semangat kelompok mereka tersentuh. Teman-teman kelasi Arifin seangkatan (lulusan), tanpa melihat dari TNI Angkatan mana, kemudian bersatu dan melaksanakan aksi balas dendam.  Semua hanya karena sakit hati, tersinggung, merasa dicederai oleh sekelompok geng motor, hingga menyebabkan temannya tewas. Maka bergeraklah kelompok pasukan liar tersebut ke seantero wilayah di DKI.

Bagaimana kedepannya? Sebaiknya segera dilakukan konsolidasi internal masing-masing satuan dimana diperkirakan ada anggotanya terlibat. Jangan di kompori, justru harus didinginkan dan diberi arahan jelas kekeliruan tindakan mereka yang melanggar hukum. Bagi yang bersalah segera di proses sesuai ketentuan. Pihak Polri sebaiknya segera menelusuri dan menangkap para pelaku pembunuh kelasi Arifin. Tanpa ada penjelasan yang transparan, sulit menurunkan semangat balas dendam kelompok yang sudah terbentuk. Mereka ingin memeberi pelajaran dan agak protes kepada Polisi yang terlalu lama menangkap pembunuh temannya. Bahkan diberitakan salah tangkap. Rasa tidak puas itu bisa memunculkan kembali aksi protes dalam bentuk anarkis lainnya, dan bahkan bisa menjadi lebih  berbahaya.

Setelah membaca beberapa penjelasan di media, penulis menyarankan sebaiknya bagi pejabat yang tidak pintar berbicara tidak perlu memberikan penjelasan ke media, kesannya lucu, tidak ada wibawa dan bahkan memancing emosi anggota. Cukup diserahkan saja kepada juru bicara masing-masing.

Penjelasan tentang masalah keributan apabila menyangkut TNI dan Polri, sebaiknya hati-hati, karena mereka sensitif dan bersenjata. Ini untuk menjaga emosi, agar jangan sampai ada anggota yang mengeluarkan senjata dari gudangnya dan menimbulkan masalah baru. Itulah sedikit ulasan dan informasi yang bisa disampaikan. Semoga persoalan geng motor tersebut dapat segera diselesaikan dengan baik dan aman. Prayitno Ramelan (www.ramalanintelijen.net)

Ilustrasi Gambar : Okezone.com/Geng Motor Brigez.

 

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.