Perseteruan AS dan China di Laut China Selatan

22 November 2011 | 7:05 am | Dilihat : 1331

Tuesday, 22 November 2011

Kehadiran Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama di Bali, Kamis (17/11), telah menarik perhatian dunia, karena untuk pertama kalinya seorang Presiden AS menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur.

Kedatangan presiden AS di manapun selalu menghebohkan bagi tuan rumah yang dikunjunginya, tidak terkecuali Indonesia sebagai negara di mana Obama pernah melewati masa kecilnya selama empat tahun di sini. Sebelum menginjakkan kakinya di Bali, Obama mengunjungi Australia. Di Canberra, Obama mengumumkan pada Rabu (16/11) bahwa AS berencana menempatkan 2.500 marinirnya di Darwin, Australia untuk menopang aliansi di Asia.

Perjanjian jangka panjang penempatan kekuatan militer di Darwin dengan Australia ini merupakan gelar kekuatan di kawasan Pasifik yang pertama kalinya sejak berakhirnya perang Vietnam. AS sejak akhir Perang Dunia II hingga kini masih memiliki pangkalan militer yang besar di Jepang dan Korea Selatan, kawasan Pasifik Utara.

Kehadirannya di Asia Tenggara juga sangat menurun di mana pada awal 1990 pangkalan utamanya di Clark Field dan Subic Bay, Filipina ditutup. Para pemimpin China berpendapat bahwa AS berusaha untuk mengepung China secara militer dan ekonomi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Liu Weimin mengatakan, “Ini mungkin tidak cukup tepat untuk mengintensifkan dan memperluas aliansi militer dan mungkin tidak menjadi kepentingan negaranegara di kawasan ini.”

Perkembangan China

China dalam beberapa tahun terakhir telah banyak melakukan investasi dalam memodernisasi militernya. Upaya China dalam penggelaran jangka panjang pesawat-pesawat tempur dan kekuatan laut telah meresahkan negara-negara kawasan Asia Tenggara dan negara yang berbatasan dengan laut China Selatan. Kekuatan militer China lebih besar dari pada waktu-waktu sebelumnya.

Anggaran militer riil tidak pernah dipublikasikan, namun para ahli mengatakan ia memiliki anggaran setidaknya tiga kali lipat selama dekade terakhir. China telah menegaskan klaim teritorial ke gugusan pulau-pulau Spratley dan dua kelompok pulau lain, satu di lepas pantai Vietnam dan lain lebih dekat ke Jepang. Kepulauan Spratly selama ini diperebutkan oleh Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam.

Di mana pulau yang disengketakan oleh beberapa negara akan memberikan wewenang yang luas atas hak-hak minyak dan gas di Timur dan Laut China Selatan. Sebuah tinjauan yang dibuat setiap empat tahun oleh Pentagon mengidentifikasikan beberapa negara di kawasan yang terletak berbatasan dengan laut China Selatan sebagai mitra strategisnya. AS juga mulai memulihkan hubungan bilateral dengan Myanmar agar menjadi negara yang demokratis.

AS telah meningkatkan bantuan kerja sama militer dengan Indonesia agar ikut berperan dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan. Walaupun anggaran pertahanannya dipotong USD400 miliar dalam sepuluh tahun, Obama menyatakan tidak akan mengorbankan kawasan Asia-Pasifik. Keterlibatan AS dalam berperan di kawasan Asia Tenggara dan di Laut China Selatan menunjukkan bahwa AS menjadi lebih populer dibandingkan China yang selama ini merasa tidak mempunyai saingan di kawasan.

Selama sepuluh tahun sejak serangan 911, AS telah disibukkan dalam perangnya di Irak dan di Afghanistan. Kini tujuan utama perang melawan terorisme global telah mereda dengan terbunuhnya pimpinan Al-Qaeda, Osama bin Laden. Telah diputuskan AS akhir tahun ini akan menarik pasukannya dari Irak dan pada 2014 akan menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan.

Kawasan Strategis

Laksamana RobertF Willard, Komandan Komando Pasifik AS, menjelaskan kepada wartawan saat bepergian dengan Presiden Obama, nilai jalur laut kawasan Laut China Selatan untuk perdagangan bilateral tahunan bernilai USD5,3 triliun, di mana USD1,2 triliun terkait dengan AS. Benjamin Rhodes, wakil Penasihat Keamanan Nasional Komunikasi Strategis, menyatakan bahwa jalur laut tersebut bukan hanya untuk kepentingan AS.

Kehadiran AS atas permintaan serta minat dari negara-negara di kawasan agar AS mulai memainkan perannya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk kembali merangkul multilateralisme. Sebagai bukti keseriusannya, Presiden Obama telah bergabung dengan para pemimpin dari 16 negara lainnya dalam pertemuan KTT Asia Timur Ke-6 di Bali kemarin. Inilah untuk pertama kalinya seorang presiden AS ikut berpartisipasi dalam forum KTT Asia Timur.

Obama menginginkan tampil perkasa dalam menekan Beijing. Dia membuat kemajuan atas rencana ambisius AS yang akan menciptakan zona perdagangan bebas Pasifik, dikenal sebagai Kemitraan Trans-Pasifik, di mana China tidak termasuk di dalamnya. AS akan mulai menempatkan 250 orang marinirnya di Darwin dan jumlahnya akan terus ditingkatkan hingga 2.500 orang. AS tidak akan membangun pangkalan-pangkalan baru di benua itu, tetapi akan menggunakan fasilitas pasukan Australia.

Dari perkembangan perang dingin antara China dan AS, Indonesia sebagai negara yang menganut politik bebas dan aktif harus mampu memosisikan dirinya di kawasan yang bisa sewaktu-waktu bergolak dan menjadi ajang konflik terbuka. Keteguhan dan persatuan ASEAN sebagai kekuatan politik dan ekonomi di kawasan perlu terus dipertahankan.

Walau secara militer China kini menjadi salah satu raksasa dunia, dengan posisinya yang terkepung dan mayoritas negara-negara kawasan memihak AS, secara politis China menjadi lemah. Karena itu, kemitraan dengan AS dan China perlu terus harus dijaga. Dengan tercapainya balance of power di kawasan, konflik terbuka masih dapat dihindari. Tindakan sewenang-wenang China seperti terhadap Filipina akan dapat diminimalisasi.●

PRAYITNO RAMELAN Pemerhati Intelijen www.ramalanintelijen.net

Sumber : Harian Seputar Indonesia (22/11/2011)

Ilustrasi gambar : SurabayaForex

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.