SBY: Kebangkitan Peradaban Islam, Tragedi Akhlak dan Kebebasan

12 July 2010 | 12:35 am | Dilihat : 121

Penulis sangat tertarik dengan sambutan dari Presiden SBY pada peringatan Isra' Mi'raj 1431 H/2010 di Istana Negara, Jumat (9/7) malam. Judul pidato adalah "Saatnya Indonesia Bangkitkan Kembali Peradaban Islam. "  Isi pidato terdiri dari tiga hal pokok. Pertama tentang kebangkitan kembali peradaban Islam di Indonesia terkait dengan arah modernisasi negara. Kedua, tentang  tragedi akhlak yang melanda sebagian masyarakat berupa perilaku yang sangat menyimpang dan menodai nilai-nilai agama dan kesusilaan. Ketiga, tentang masalah kebebasan dan hak yang tanpa batas.

Penulis pada beberapa kesempatan telah menyampaikan,  secara tertulis di Kompasiana tentang adanya kerawanan penerapan modernisasi. Penulis mengkhawatirkan modernisasi Indonesia  yang lebih berkiblat kepada  faham demokrasi AS dan negara-negara Barat lainnya  akan membawa akibat kepada gangguan keamanan kepada bangsa Indonesia.

Samuel P. Hutington dalam artikelnya yang berjudul Benturan Peradaban, menuliskan tentang upaya  Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya dalam membujuk masyarakat lain untuk mengadopsi ide-ide Barat tentang demokrasi dan hak asasi. Dikatakannya bahwa pemerintahan demokratis modern berasal dari Barat. Ketika berkembang di masyarakat non-Barat, hal ini biasanya merupakan produk dari kolonialisme atau pemaksaan Barat.

Berkembangnya pengaruh faham demokrasi di dunia jelas tidak terlepas dari arus globalisasi. Fareed Zakaria mengatakan bahwa Amerika berada di pusat globalisasi dunia. Amerika tampaknya tak dapat dihentikan. Bila perbatasan ditutup, Amerika datang lewat surat. Bila surat disensor, Amerika muncul dalam makanan siap saji dan jins bulukan. Bila produk dilarang, Amerika meresap melalui televisi satelit. Orang Amerika sangat nyaman dengan kapitalisme global dan budaya konsumen.

Mari kita lihat efek sejarah modernisasi ala Barat.  Modernisasi yang dilakukan oleh Presiden Nasser telah  menyebabkan konflik di dalam negerinya. Janji Nasserisme telah menyebabkan ekonomi Mesir tidak bergerak, sementara populasi meningkat dua kali lipat. Angka pengangguran sebesar 25 persen, dimana sebanyak 90 persen pengangguran adalah sarjana. Nasser adalah mantan tentara yang paling ter-Barat-kan. Saat itu Timur Tengah ingin sekali menjadi modern tetapi mereka gagal. Janji Nasser berubah menjadi mimpi buruk. Masyarakat yang semula sangat mendambakan modernisasi kemudian menolaknya.

Selain itu Shah Iran yang mencoba menggerakkan Iran agar menjadi modern ala Amerika dengan cepat, menjadi korban dari revolusi keras pada 1978. Di Turki, Pada tahun 2000 telah terjadi arus urbanisasi, dimana desa-desa menjadi kosong. Kemiskinan desa merupakan bagian normal dari tatanan sosial, tetapi kemiskinan perkotaan adalah suatu hal yang membuat tak stabil secara sosial. Saat itu Islam dengan susah payah membentuk konsensus dengan modernisasi. Fareed menegaskan bahwa mengimpor semangat masyarakat modern, pasar bebas, partai politik, pertanggung jawaban dan undang-undang merupakan hal yang sulit dan berbahaya.

Indonesia kini memiliki potensi konflik di kalangan anak muda. Terlihat jelas bahwa pelaku pemrotes berbentuk terorisme adalah mereka yang berusia relatif muda. Kaum muda yang bingung dengan kedua kaki berada disisi yang berbeda, sekarang mencari alternatif baru yang murni dan lebih sederhana. Fundamentalisme memangsa orang-orang seperti ini. Ledakan anak muda yang gelisah adalah berita tidak baik.Dengan tekanan dan perubahan serta pengaruh fanatisme sempit yang ringan saja, biasanya akan menghasilkan politik protes baru. Kini menjadi lebih jelas, mereka tidak hanya mengincar Amerika tetapi juga pejabat negara dan aparat keamanan.

Oleh karena itu kebijakan presiden seperti yang disampaikannya pada acara maulid dinilai dapat menetralisir kemungkinan ancaman tersebut. Dikatakannya "Kita memiliki potensi yang besar untuk mengembalikan kejayaan dan keagungan islam yang telah menghadirkan tatanan peradaban dunia yang damai dan harmonis." Menurut Presiden SBY, peradaban Islam sesungguhnya adalah bagian dari puncak peradaban manusia di dunia, peradaban yang dapat tumbuh berdampingan dengan peradaban umat lainnya dengan damai.

Ajaran Islam juga membawa tata nilai dan budaya yang berorientasi pada perilaku dan cara pandang yang kreatif, inovatif, dan berkeadaban. "Tata nilai dan budaya itulah yang membentuk tatanan masyarakat yang maju dan berpengetahuan. Tatanan masyarakat seperti itu pula yang telah melahirkan puncak keemasan, kejayaan Islam sejak awal masa ke tujuh Masehi yang dikenal dengan nama the golden age of Islamic history," SBY menjelaskan.

Dengan demikian diharapkan kegelisahan kaum muda yang menginginkan perubahan radikal dan kaum tua yang menginginkan penerapan syariat Islam di Indonesia dapat teredam dan terwadahi, dengan penegasan bahwa tatanan masyarakat yang maju (modern)  akan dilakukan juga diantaranya dengan dasar pemikiran tata nilai dan budaya Islam. Inilah langkah dan kebijakan  positif yang merupakan bagian dari upaya menetralisir pandangan fanatisme sempit dikalangan kelompok radikal. Penulis menyebutnya sebagai bagian dari langkah de-radikalisasi.

Persoalan kedua yang menjadi inti sambutan adalah   terjadinya tragedi akhlak yang melanda sebagian masyarakat, yaitu perilaku yang sangat menyimpang dan menodai nilai-nilai agama dan kesusilaan. Dikatakan oleh Presiden "Sebaliknya nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran agama dan norma- norma kehidupan bangsa kita yang mulia harus kita jauhi. Para guru agar benar-benar mendidik murid-muridnya dengan norma nilai dan budi pekerti yang luhur, dan para ulama serta pemimpin agama benar-benar mengarahkan umatnya dengan moral dan akhlak yang baik." Presiden berharap para penegak hukum untuk dapat menjalankan tugasnya secara tegas dan penuh tanggung jawab. "Jangan biarkan perilaku buruk dan merusak nilali-nilai agama, moral dan akhlak terus berkembang di tengah masyarakat kita."

Persoalan ketiga yang dikatakan oleh presiden adalah soal kebebasan dan hak tanpa batas. "Kebebasan, meskipun mengatasnamakan demokrasi dan HAM, juga ada tata krama dan batasannya sebagaimana yang tercantum dalam konstitusi kita. Ini berlaku untuk siapapun bagi yang memegang hak dan kebebasan, ini juga berlaku kepada para pelaku demokrasi dinegeri ini," Kepala Negara mengingatkan. Penulis dalam beberapa artikel menyampaikan bahwa kebebasan tanpa batas dalam penerapan demokrasi telah menimbulkan konflik dan kekerasan.

Presiden menjelaskan, bilamana negara dan para penegak hukum menjalankan tugasnya dengan baik maka hilangkanlah pikiran dan tuduhan bahwa seolah-olah hak dan kebebasan mulai dibatasi. "Hilangkan pula anggapan bahwa negara terlalu turut campur tangan dalam kehidupan individu atau ranah kehidupan masyarakat. Justru sebaliknya, pemerintah dan masyarakat ingin menyelamatkan akhlak, moral, dan budi pekerti masyarakat bangsa kita," lanjut SBY.

Demikian tiga hal yang penulis cermati dari pidato presiden, yang merupakan bagian dari strategi penyelamatan bangsa dan negara. Ketiganya, baik kebijakan modernisasi, soal ahlak dan kebebasan menjadi tiga masalah prinsip dan krusial yang memang harus ditangani dengan sangat serius, konsisten dan bijak. Seperti tagline bikers Harley Davidson, "Sudah Di Jalan Yang Benar." Semoga.

PRAYITNO RAMELAN, Penulis Intelijen Bertawaf Yang Bahagia.

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/07/12/sby-kebangkitan-peradaban-islam-tragedi-ahlak-dan-kebebasan/ (Dibaca: 968 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.