Jangan Bunuh Diri, Berbahaya !

2 December 2008 | 5:57 am | Dilihat : 338

Oleh: Prayitno Ramelan

Pada pagi ini, setelah penulis membaca-baca koran, membuat bahasan masalah politik, terbersit keinginan membuat selingan artikel. Hari ini penulis mampu menyelesaikan artikel masalah "gaib" yang sudah sekian lama dibuat tetapi selalu tidak pernah selesai dikerjakan. Beberapa waktu lalu setelah melihat di teve kisah seorang ibu yang yang bunuh diri, setelah sebelumnya meminumkan racun pada anaknya yang masih kecil, tulisan ini di putuskan untuk ditayangkan, dengan harapan ada manfaatnya untuk kita yang masih hidup agar jangan bunuh diri karena "berbahaya" untuk ketenangan ruhnya. Sebuah kisah nyata di keluarga yang diikuti dan disikapi penulis seperti mengalirnya air disebuah sungai. Penulis tidak faham tentang masalah gaib, sehingga tidak akan mampu mengurai lebih jauh lagi.

Bunuh diri adalah keputusan pendek seseorang yang mental dan jiwanya tidak mampu menghadapi masalah atau tekanan hidup didunia. Keputus asaan dan penderitaan yang sangat berat dapat memicu seseorang untuk mengambil jalan pintas menyelesaikan masalahnya dengan membunuh dirinya. Dari beberapa kasus pemberitaan, cara bunuh diri dilakukan dengan meminum racun, gantung diri, menyilet diri, terjun dari gedung bertingkat, dan banyak cara lainnya.

Biasanya penyebab bunuh diri disebabkan karena tekanan masalah ekonomi, penyakit berat, putus cinta, masalah keluarga, dan banyak lagi penyebabnya. Keputusan mengambil jalan pintas yang dirasa akan membebaskan diri dari masalahnya tersebut, ternyata merupakan masalah baru yang ternyata jauh lebih menakutkan, kalau boleh di katakan mengerikan. Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah kisah "gaib" yang coba dikupas sedikit menggunakan referensi agama Islam, karena penulis bukan ahli agama. Penulis mencoba menggabungkan sebuah kejadian gaib dengan pencerahan dari tulisan seorang penulis buku-buku Islam Agus Mustofa dalam serial diskusinya Tasawwuf Modern yang berjudul "Mengubah Takdir".

Agus Mustofa menyampaikan didalam bukunya, "Allah melarang seseorang untuk bunuh diri, Ini menunjukkan bahwa kematian bisa diusahakan oleh seseorang. Sebagaimana pula kesehatan bisa diusahakan. Dengan kata lain, kalau Allah sudah menentukan kematian seseorang secara wajar, mestinya bagaimana pun seseorang melakukan usaha bunuh diri, ia tidak akan bisa terbunuh. Tapi karena ia bisa terbunuh, maka Allah pun melarang mereka untuk bunuh diri". Referensi Agus Mustofa diambil dari QS. Al Hijr (15) : 56 yang terjemahannya ; Ibrahim berkata : "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat" .

Yang kedua diambil dari surat QS. An Nisaa' (4) : 29 yang terjemahannya ; " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu".

Nah, kini kita memasuki sebuah kisah nyata tentang alam gaib, yang sedikit sekali dibukakan oleh Allah kepada manusia, berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dibuka seluas-luasnya. Hanya orang tertentu yang mendapat rahmat dan ijin Allah di beri kemampuan melihat alam gaib tersebut.

Penulis mempunyai sanak keluarga yang pada enam tahun lalu masih kuliah di Universitas Trisakti. Pada suatu hari si gadis ini sekembalinya dari kuliah dengan terengah-engah menceritakan bahwa dia tadi di fakultasnya ditabrak "kerbau". Dan yang aneh kerbau tadi melewati dirinya tanpa ada rasa apa-apa. Setelah kejadian tersebut, maka mulailah rangkaian peristiwa-peristiwa yang aneh tetapi nyata. Kalau ke toilet dia mengaca, maka dikaca terlihat banyak wanita yang berpakaian putih-putih yang berdiri di belakangnya ikut mengaca, mukanya macam-macam, aneh-aneh.

Perasaan takut dan rasa terganggu terus membayanginya, tapi katanya ada yang aneh, kalau dia mempunyai rasa takut berjalan disuatu tempat mesti ada suara yang mengingatkan dengan berbisik, jangan melihat kekiri atau kekanan. Bisa dipastikan ada mahluk yang aneh dan bentuknya macam-macam dan menakutkan. Berhubung kondisi ini dirasa terus mengganggu, maka penulis atas informasi dari beberapa pihak kemudian membawanya ke daerah Kuningan, kerumah seorang kiai, seorang tokoh Islam yang bertempat tinggal dilereng gunung Ciremai, dikenal bernama Raden Rasmaya Satria Sakembaran, beliau biasanya dipanggil "Romo".

Menurut Romo, si gadis ini ternyata atas kehendak Allah terbuka mata batinnya hingga mampu melihat dua sisi dunia, dunia biasa dilihat dari matanya, dunia gaib dilihat dari mata batinnya. Kita umumnya hanya mampu melihat dengan mata biasa, tidak mampu melihat dengan mata batin, disebabkan karena batin (qolbu) manusia umumnya kotor, jelas Romo. Penulis mohon bantuan Romo untuk menutup frekwensi yang satunya itu karena dirasa sangat mengganggu kehidupan dan kuliah si gadis tadi. Oleh Romo kemudian dijelaskan bagaimana cara berkomunikasi dengan alam gaib tersebut, yang diperkuat dengan doa dan zikir untuk menguatkan batin, dibutuhkan waktu tiga bulan untuk menutup "pandelengan batin" tersebut jelas Romo. Dikatakannya bahwa si gadis mempunyai nama alam gaib "Ratu Ayu Delifah", ini adalah keturunan ketujuh yang menitis dari sesepuh keraton Yogya. Memang dari silsilahnya nenek moyang si gadis dari pihak ibunya mempunyai garis keturunan dari Sri Sultan Hamengku Buwono Kedua.

Setelah kembali dari Ciremai, maka "Ayu" (nama gaib si gadis) banyak menemui mahluk-mahluk aneh dimana-mana, di tempat pamannya dia selalu ketakutan, katanya ada beberapa mahluk setinggi rumah, giginya panjang, ternyata itulah isi (qodam) dari keris si paman. Beberapa kali dia menjumpai sebuah rumah ada yang menjaga mahluk setinggi tiga meter, berpakaikan prajurit jawa, itulah jin penjaga. Dia suatu saat menolong temannya yang kesurupan, ternyata temannya diikuti oleh mahluk yang kakinya hanya satu tapi menempel terus. Pernah dirumah menemukan dikamar kakaknya ada macan putih yang sangat besar sedang duduk, dan setelah diminta baru si macan pergi. Masih banyak lagi kisah seram alam gaib yang dialami oleh Ayu.

Nah, yang paling penting, Ayu pada suatu hari sekitar jam tujuh malam diperintah datang kerumah salah seorang dosennya dibilangan Rangunan. Dimuka rumah si dosen terdapat pohon kelapa, dia terkejut saat melewati pohon kelapa tersebut, ada mahluk halus sedang duduk menangis, jenisnya wanita, rambutnya terurai dan gembel, mukanya agak berlendir, dan banyak kutil-kutilnya. Ayu tahu ini adalah sebuah wujud arwah penasaran, kemudian saat ditanya kenapa duduk dan menangis disitu? Dijawab ruh penasaran tadi " tolong 'ndoro', saya sakit sekali, saya menderita, saya dingin, saya sengsara sudah lama sekali". Baiklah kata Ayu, dia faham bahwa mahluk tadi tersiksa dan butuh didoakan. Kemudian oleh Ayu dibacakan surat Al-Fatihah, dan didoakan agar Allah mengampuni dosa-dosanya, setelah itu "si ruh" tadi tersenyum, berterima kasih, menyembah Ayu dan masuk kedalam pohon kelapa tadi.

Saat bertemu si dosen dan ditanya apa di pohon kelapa pernah ada kejadian, dosen menjelaskan bahwa dahulu anak sipemilik rumah yang kemudian rumahnya dibeli dosen itu "bunuh diri" di pohon tersebut. Astaghfirullah. Saat ditanyakan kepada Romo tentang ruh penasaran tadi, dijelaskan bahwa ruh orang yang bunuh diri tidak bisa kemana-mana, dia akan tersiksa terus menerus ditempat dia bunuh diri. Pengalaman bertemu dengan ruh penasaran juga terjadi beberapa kali, bahkan ada yang mengikuti wujudnya setengah badan, terbang disamping mobil sambil merintih-rintih minta didoakan.

Setelah tiga bulan Ayu kembali dibawa ke Romo dan di tutup mata batinnya, menurut Romo mata batinnya akan otomatis terbuka pada saat di berumur 26 tahun. Kini, Ayu berumur 25 tahun, sudah menjadi sarjana, dan berkerja di sebuah perusahaan, hatinya lembut, bersih, bahkan agak terlalu halus dan perasa. Kalau mendengar penjelasan Romo maka pada tahun depan mata batinnya kembali akan terbuka. Mudah-mudahan stabilitas mentalnya sudah jauh lebih mapan dalam menerima karunia Allah tersebut.

Kira-kira setahun yang lalu Romo meninggal dunia, dan dua bulan setelah wafat, disuatu malam sekitar jam setengah tiga ruhnya membangunkan Ayu. Ayu sangat terkejut, memeluk kaki Romo dan menangis, menyadari bahwa yang datang adalah ruh suci. Romo yang terlihat sangat bersih, berbau sangat wangi, sewangi parfum arab, berpakaian gamis putih, bersorban dan memakai selendang hijau yang dikalungkan dileher dengan tulisan arab "La ilaaha illallaah" menuntun Ayu untuk sholat tahajud dan berzikir. Beliau memesankan jangan meninggalkan sholat lima waktu, berzikir dan berdoa serta selalu mendengar apa kata orang tua agar mendapatkan ridho, itulah pesannya.

Pembaca, apa hal terpenting? Dari yang disampaikan Agus Mustofa, bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan adalah orang yang sesat. Allah tegas-tegas melarang orang untuk bunuh diri. Dikaitkan dengan pertemuan Ayu dengan "ruh penasaran", jelas bahwa bunuh diri adalah jalan yang salah, jelas dilarang oleh Allah dan akibatnya ruh-nya akan tersiksa menangis terus menerus dengan kondisi rusak, terasa sakit yang amat sangat, menderita berkepanjangan menunggu hingga hari kiamat datang yang entah kapan. Penyesalan selalu berada diakhir tidak pernah berada dimuka. Ini yang perlu kita sadari.

Bagi kita yang masih hidup, diingatkan agar jangan lupa mendoakan orang tua, sanak keluarga dan kerabatnya, karena ternyata ruh-ruh orang yang sudah meninggal selalu membutuhkan dan menanti doa. Semoga tulisan ini bermanfaat, tidak ada maksud apapun, hanya memberikan sebuah penjelasan bagi kita yang masih hidup...agar tidak tergelincir mengambil jalan pintas dan akan merasakan akibatnya, merasakan kesengsaraan dalam waktu yang sangat lama, mungkin bermilyar tahun. Dia sudah ditetapkan Allah sebagai orang yang "sesat". Penulis memohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, karena kekurang tahuan atas segala sesuatu dalam masalah gaib yang memang sangat tertutup itu.

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.