Adam Malik Agen CIA?

1 December 2008 | 12:18 am | Dilihat : 569

Setiap berita yang terkait dengan masalah intelijen pasti menarik perhatian karena kisah tentang intelijen mirip dengan kisah alam gaib, banyak yang merasa tahu tapi hanya bisa mengira-ngira. Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita bahwa Adam Malik (alm) salah seorang yang mendapat gelar pahlawan Indonesia disebut-sebut sebagai agen CIA ("Central Intelligence Agency"), badan intelijen Amerika.  Berita bermula dengan diedarkannya  buku berjudul  "Membongkar Kegagalan CIA" Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya. Judul aslinya adalah "The Legacy of Ashes, The History of the CIA", ditulis oleh  Tim Weiner wartawan The New York Times, peraih hadiah Pulitzer. Buku yang dalam versi bahasa Indonesia ini diberi kata pengantar oleh Mas Bas (Budiarto Shambazy) wartawan senior Kompas. Tim Weiner menulis buku setelah mempelajari 50.000 arsip CIA, melakukan wawancara terhadap ratusan agen CIA dan pengakuan sepuluh direkturnya.

Buku tersebut menjadi kontroversial di Indonesia karena didalamnya disebutkan pengakuan mantan pejabat  CIA, Clyde McAvoy (alm) yang pernah menduduki pos CIA di Jakarta antara tahun 1964-1966.

McAvoy yang pernah di wawancarai oleh Tim Weiner pada tahun 2005 menyebutkan "saya merekrut dan mengontrol Adam Malik". Selanjutnya mengatakan bahwa "Adam Malik adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut" (hal. 330). McAvoy menyebutkan juga bahwa dia mengenal Adam  Malik melalui seorang pengusaha Jepang bekas anggota Partai Komunis Jepang, dan dia pernah menyerahkan uang sebesar USD 10.000 kepada Adam Malik sebagai sumbangan AS bagi Komite Aksi Pengganyangan  Gestapu. McAvoy setelah pensiun dari CIA kemudian menetap di Hawaii dan diberitakan meninggal pada bulan Maret 2008 juga di Hawaii.

Sebenarnya buku setebal 832 halaman itu lebih banyak memuat informasi tentang kegiatan CIA mulai pemerintahan Truman (1945-1953) hingga CIA di bawah pemerintahan Clinton dan George W Bush (1993-2007). Tim Weiner menulis buku tersebut setelah melakukan riset panjang terhadap 50,000 arsip dan wawancara sepuluh mantan direktur CIA.  Dia menguraikan banyaknya kegagalan dari CIA, seperti informasi kasus runtuhnya tembok berlin dari siaran televisi, kegagalan intelijen dalam penangkalan serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar World Trade Center, kebohongan laporan intelijen tentang eksistensi senjata nuklir Irak.

Bagi bangsa Indonesia masalah sensitif yang menjadi kontroversi karena disebutkannya keberhasilan perekrutan Adam Malik sebagai agen. Adam Malik di kisahkan sangat dekat dengan pemerintah AS, dekat dengan Dubes AS, Marshall Green di Jakarta. AS banyak mendapat informasi berupa "gambaran yang sangat jelas tentang apa yang dipikirkan Soeharto dan apa yang dipikirkan Malik serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan" buat membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka pimpin, yang disebut Kap-Gestapu (hal. 331). Adam Malik disatu sisi adalah sosok penting di Indonesia, dia  journalis,  Mantan Wakil Presiden,pemerintah memberinya gelar pahlawan atas jasa-jasanya kepada negara.

Kini pertanyaannya, benarkah Adam Malik agen CIA? Sebagai sebuah badan intelijen "kondang" didunia, CIA seperti badan intelijen lainnya bekerja dengan "senyap", kegiatan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) dilakukan  secara terbuka ataupun tertutup. Dalam operasi rahasia ("clandestine") yang dilakukan secara "covert" (tertutup) sebuah badan intelijen akan mencari informasi  baik sumber maupun isi informasinya dengan nilai sangat-sangat bisa dipercaya. Antara tahun 1964-1965, pengaruh komunis bergerak mulai dari Soviet, RRC, menuju ke kawasan Asia Tenggara, dimana AS sebagai negara, "seteru" komunis selalu berusaha menghentikan dan menggagalkan upaya hegemoni lawannya tersebut.

Pada saat itu banyak analis intelijen yang mengeluarkan "teori domino", kawasan Asia Tenggara akan berjatuhan seperti jatuhnya kartu diatas meja ketangan komunis. Vietnam Selatan dipertahankan mati-matian oleh AS agar tidak jatuh, selain itu sel-sel komunis juga tedapat dibeberapa negara seperti Laos, Malaysia, Thailand, Burma. Khusus untuk Indonesia mereka nilai pengaruh sudah demikian berbahaya, Partai Komunis Indonesia (PKI) dinilai telah menjadi kekuatan komunis terbesar ketiga didunia setelah Uni Soviet dan RRC dengan anggotanya sebanyak 3,5 juta orang. Oleh karena itu apa yang ditulis Tim Weiner berdasarkan keterangan McAvoy menjadi relevan, Adam Malik direkrut untuk tujuan penanganan yang lebih efektif dalam rangka penghancuran pengaruh komunis di Indonesia.

Kedua, CIA akan langsung mendapat informasi tangan pertama apa kebijakan pemerintah Indonesia dalam penanganan Komunis musuh utamanya. Didalam sebuah operasi intelijen, perekrutan agen baik itu "agent action" maupun "support agent" adalah hal yang biasa dilakukan, target akan di "spotting" (dipilih) melalui pendekatan jalur kesamaan ideologi, kepercayaan, kesetiaan, paksaan ataupun dibayar atau dibeli. Untuk  kasus spionase biasanya sulit dibuktikan seseorang dituduh menjadi agen mata-mata, kecuali bila tertangkap tangan.

Semua pembinaan, "personal meeting' dilakukan secara detail, terinci dan sudah dalam perhitungan keamanan yang sangat matang. Kini, bagaimana menyikapi kasus yang ditulis didalam buku tersebut?. Keluarga, teman baik atau sahabat Adam Malik apabila memungkinkan membuat bantahan berita tersebut dengan data-data yang dimiliki. Hal serupa juga pernah terjadi kepada Prof Soemitro Djojohadikusumo yang juga dituduh sebagai agen CIA, tetapi sempat dibantahnya saat masih hidup dalam buku yang ditulisnya. Ada juga yang mengusulkan agar pada beberapa alinea yang menyebutkan keterlibatan Adam Malik di hitamkan.

Menurut pendapat penulis, apabila keluarga tidak mempunyai data untuk bantahan, buku tersebut dibiarkan saja. Tim Weiner menulis hanya berdasarkan cerita McAvoy tanpa bukti apapun, berarti isinya hanya sebagai sebuah informasi yang mentah, dalam pandangan intelijen biasanya nilai informasi seperti ini disebut kurang dapat dipercaya. Kadang seorang mantan agen saat setelah berhenti sering mengungkapkan fakta-fakta yang hebat, sehingga dia dianggap hebat saat bertugas atau ada kepentingan lainnya. Pembuktian dan pendalaman terhadap kasus ini akan sangat sulit untuk dibuktikan, karena baik agen perekrut maupun agen yang direkrut  kedua-duanya sudah meninggal dunia. Terlebih pada era demokrasi masa kini, dalam era kebebasan pers, maka kita tidak perlu meributkan informasi mentah tersebut.

Semua kita serahkan saja kepada pemerintah, bagaimana akan mengambil keputusan. Atau kita biarkan ini menjadi misteri yang penting tapi tidak begitu penting karena nilai kebenarannya rendah. Kini, yang jauh lebih penting diambil adalah hikmah karya Tim Wiener tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat baik bagi pejabat atau mereka yang menduduki posisi penting lainnya, agar lebih berhati-hati apabila bergaul dengan orang asing, perlu kewaspadaan tersendiri. Sampai kapanpun  intelijen asing akan terus melakukan kegiatan pengumpulan informasi, karena itu adalah tugasnya. Tujuannya mencari informasi  yang sensitif, berupa perencanaan dan keputusan pemerintah menyangkut masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

Semakin tinggi seorang menduduki jabatan, maka semakin tinggi nilai informasi yang dimilikinya dan semakin disukai oleh agen asing. Setiap pemberian informasi rahasia kepada negara lain dapat disebutkan sebagai kegiatan mata-mata. Maukah disebut sebagai penghianat bangsa?. PRAY.

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2008/12/01/adam-malik-agen-cia/

(Dibaca: 1621 kali)

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.