Perkuatan Gelar Tempur TNI di Perbatasan dengan Malaysia

4 December 2012 | 6:14 am | Dilihat : 14105

Beredarnya video penghinaan suporter Malaysia di Youtube saat pertandingan bola antara Indonesia-Singapura menunjukkan bahwa sulit menyebut kedua bangsa tetap serumpun, mirip-mirip mungkin. Tetapi semangat kebersamaannya tidak lagi serumpun.  Menjelang pertandingan  hidup mati Tim Garuda versus Harimau Malaya, Sabtu (1/12/2012), video teriakan dan nyanyian oleh suporter Negeri Jiran yang melecehkan dengan menyebut “Indonesia Itu Anjing” marak ditemukan. Walau pada akhirnya Indonesia masuk kotak dikalahkan Malaysia dengan skor 2-0. Bergembiralah Malaysia itu.

Dari data dan statistik situs http://www.youtube.com/watch?v=mibFjZ0Nci4 menunjukkan bahwa video ini di upload, Selasa (27/11) lalu dengan durasi 1 menit 41 detik. Pengunduhnya mengatasnamakan Indosportnews dengan pengunjung hingga  saat tulisan ini dibuat berjumlah  343.351.

Hubungan kedua negara sebenarnya baik-baik secara diplomatik, hanya terdapat beberapa cacat kecil yang kemudian menyudutkan Indonesia dan menempatkan Indonesia sebagai negara yang lebih sering dilecehkan. Banyak budaya kita yang diakui oleh Malaysia, adanya penghinaan terhadap TKI (TKI on Sale) serta perlakuan sewenang-wenang, lepasnya Sipadan Ligitan. Semuanya hanya karena orang Malaysia merasa mereka lebih mampu, lebih kuat dan lebih tinggi dari Indonesia. Sirik, kira-kira istilah itu yang lebih tepat.

Dari pengalaman hubungan antar negara, sebuah negara akan disegani apabila dia mempunyai kekuatan militer yang memadai hingga negara lain tidak berani menyepelekannya. Sebagai contoh, Amerika Serikat bisa memosisikan dirinya seakan-akan sebagai polisi dunia karena mempunyai kekuatan penggempur yang sulit ditandingi negara manapun. Suriah, kini dalam konflik internalnya dibawah tekanan internasional tetap diperhitungkan AS dan sekutunya apabila akan diserbu, karena memiliki pertahanan udara yang terintegrasi dengan sistem yang dibuat oleh Rusia. Indonesia sekitar tahun 1961-1962 sangat ditakuti karena mempunyai kekuatan udara penggempur strategis (baca; Kisah kejayaan Tu-16 AURI, yang membuat Gentar Asia Tenggara dan Australia http://ramalanintelijen.net/?p=5329 ).

Nah, nampaknya para pemimpin di Indonesia mulai menyadari bahwa kita harus memiliki kekuatan gabungan yang memadai khususnya dikawasan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Dari Order of Battle Malaysia, diketahui  negara itu juga menempatkan dua divisi pasukannya kearah Indonesia. Mereka terus bersiap, sebenarnya khawatir dan takut  apabila kembali  terjadi konflik dengan Indonesia sewaktu-waktu, mengingat sejarah Operasi Dwikora. Walau pada saat itu konflik bersenjata di kawasan hutan Kalimantan Utara sebenarnya lebih banyak terjadi antara pasukan Australia dengan Indonesia, karena Malaysia bersembunyi dibalik pakta FPDA (Five Power Defence Arrangements). Malaysia akan dilindungi oleh Inggris, Australia dan Selandia Baru apabila mendapat serangan.

 

Pengembangan Kekuatan Udara di Pekanbaru

 

Kita ketahui bahwa di kawasan Barat, terdapat Pangkalan Udara Pekanbaru yang merupakan pangkalan pesawat tempur TNI AU. Pangkalan yang dihuni oleh pesawat tempur Hawk 100/200 kini statusnya telah ditingkatkan oleh TNI AU menjadi Lanud kelas A. Lanud Pekanbaru kini oleh Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal Imam Sufaat telah diganti namanya menjadi Lanud Roesmin Nuryadin. Pak Rusmin Alm adalah penerbang tempur pertama AURI.

Kasau menegaskan , "Saya ingin secara bertahap AURI menjadi the first class air force," katanya  saat peresmian pergantian nama Lapangan Udara (Lanud) Pekanbaru menjadi Roesmin Noerjadin, di Pekanbaru, Jumat (28/9). Untuk mencapai rencana tersebut, Kasau mengatakan, pada awal 2014  TNI AU akan menambah 24 pesawat F-16, dan 16 pesawat di antaranya akan ditempatkan di Lanud Roesmin Noerjadin tersebut. Dengan demikian, maka Lanud Roesmin Noerjadin akan mempunyai dua skadron tempur yang dipimpin perwira bintang satu (saat ini setingkat Kolonel). Ke-24 F-16 tersebut akan di upgrade dengan biaya US$750 juta.

 

Selain itu, Kasau mengatakan TNI AU kini juga sedang bekerja sama dengan Korea Selatan dalam membuat pesawat tempur generasi 4,5 (KFX). Pesawat itu diakuinya merupakan alutsista tempur di atas generasi Sukhoi buatan Rusia. Direncanakan pada tahun 2022, TNI AU akan memiliki sekitar 50 pesawat tersebut. KFX adalah project pesawat tempur canggih Korean Fighter eXperimental, dengan kemampuan anti radar.

Pada saat peresmian nama Lanud Roessmin Nurjadin tersebut , Kasau menilai rencana penempatan 16 pesawat F-16 di Pekanbaru pada 2014 nilainya sangat strategis. Pasalnya lokasi Pekanbaru strategis sebagai benteng pertahanan, dan jaraknya cukup dekat dengan negara tetangga Malaysia ataupun Singapura. "Angkatan Udara harus kuat untuk menjamin harga diri bangsa di udara NKRI," katanya.

 

Pengembangan Kekuatan di Kalimantan Barat

 

TNI AL baru-baru ini mengumumkan rencana memutakhirkan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak menjadi pangkalan utama (Lantamal) di perbatasan dan mendirikan pos-pos tambahan di sepanjang rentang batas Malaysia. Tiga markas AL sedang dibangun, termasuk markas di Teluk Batang. Pangkalan angkatan laut adalah salah satu komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang mendukung sistem persenjataan lainnya seperti kapal, pesawat tempur, dan marinir.

Lanal Teluk Batang akan diposisikan sebagai pendukung utama untuk keperluan administrasi dan logistik TNI-AL untuk melayani kapal, pesawat, dan personil kelautan. Pangkalan ini, sebagai pusat logistik untuk keamanan maritim di wilayah tersebut, akan menggunakan infrastrukturnya untuk memaksimalkan potensi maritim bersama organisasi AL lainnya.

Selain itu di perbatasan dengan Malaysia, Komando Daerah Militer XII Tanjungpura di Kalimantan Barat berencana menempatkan lebih banyak prajurit dan mendirikan pos perbatasan lebih banyak di sepanjang perbatasan sejauh 966 kilometer antara Provinsi Kalbar dan Sarawak, Malaysia. Jumlah pos perbatasan akan ditambah dari yang saat ini 33 menjadi 42. Personil TNI akan berjaga di pos-pos tersebut, yang didukung oleh pesawat pengintai tak berawak. Kodam XII/Tanjungpura bertugas mengamankan wilayah Kalimantan Barat dan Tengah.

Konflik masalah perbatasan Indonesia dengan Malaysia merupakan yang paling sensitif. Indonesia dan Malaysia menetapkan perbatasan darat di Borneo berdasarkan kesepakatan lama antara Inggris dan Belanda. Wilayah Indonesia diwarisi dari Belanda dan Malaysia memiliki bekas wilayah Inggris. Setelah berselisih selama tahunan dengan Malaysia atas Pulau Sipadan dan Ligitan, Indonesia akhirnya kehilangan haknya atas kedua pulau itu pada tahun 2002.

Indonesia selama ini telah kehilangan wilayah seluas 1.499 hektar di Camar Bulan dan 800 meter di lepas pantai Tanjung Datu, bersamaan dengan itu sumber daya berpotensi seperti minyak bumi, timah, dan gas. Infrastruktur yang buruk di wilayah perbatasan yang berbeda dengan wilayah Malaysia menyebabkan pendudukan Kalbar lebih banyak yang bepergian ke Serawak.

Kodam XII/Tanjungpura akan dilengkapi satu Batalyon Altileri Medan dengan mengusung sekitar 30 meriam 155mm Caesar.  Meriam 155mm Caesar adalah self-propelled howitzer bergerak, dapat diangkut dengan pesawat Hercules, yang dipasang di atas truk Unimog 6×6. Dengan pengisian proyektil otomatis, meriam 155mm ini siap menembakkan 18 munisi dalam hitungan menit. Meriam otomatis ini memiliki jarak tembak 42 km (munisi ERFB) atau 50 km untuk munisi roket. Yon Armed Caesar  155mm ini, dipersiapkan  bertugas sebagai supporting Batalyon Kavaleri yang membawa MBT Leopard 2A6.

Sementara itu Kodam VI/Mulawarman menjaga wilayah Kalimantan Timur dan Selatan. Direncanakan Kodam Mulawarman  akan disuport satuan Skuadron Helikopter Serbu. Kemungkinan besar, Skuadron ini akan diisi dengan Helikopter AH 64 Apache. Kodam VI Mulawarman akan dilengkapi peluncur roket multi laras MLRS. Kini Kodam Mulawarman sedang membangun pangkalan MLRS di wilayah Berau Kalimantan Timur. MLRS yang akan mereka gunakan kemungkinan HIMARS dan Roket Pindad.

 

Rencana Penguatan Alutsista TNI AD

 

TNI AD mempunyai kesempatan memiliki alutsista baru yang canggih, yaitu tank serta heli serbu.  Peluang pembelian helikopter serang AH-64/D Apache menjadi agak jelas setelah  Menlu AS Hillary Clinton pada 20 September mengumumkan kepastiannya untuk menawarkan delapan heli ini kepada Indonesia, melalui Menlu RI Marty Natalegawa, dalam Joint Commision Meeting di Washington, AS.

Kongres AS yang semula menolak, akhirnya menyetujui, setelah pemerintahan Presiden AS Barack Obama menjelaskan bahwa dukungan persenjataan ini penting bagi hubungan kedua negara dan akan memperkuat keamanan di negara Muslim terbesar di dunia ini. "Kesepakatan ini diharapkan bisa memperkuat persahabatan komprehensif kedua negara dan membantu memperkuat keamanan di wilayah Asia Pasifik," ujar Menlu Hillary Clinton (Reuters).

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, harganya diperkirakan USD 40 juta per unit. "Itu harga belum termasuk senjatanya. Kalau lengkap dipersenjatai, harganya bisa meningkat jadi USD 60 juta per unit,"katanya. Jika pemerintah hendak membeli 10 unit Apache beserta persenjataannya, maka diperkirakan keluar uang negara USD 600 juta.

 

Selain rencana pembelian Heli serbu Apache, TNI AD juga akan membeli Main Battle Tank (MBT) Leopard yang semula direncanakan dari Belanda. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin akhirnya menyatakan Indonesia akan membeli Main Battle Tank (MBT) Leopard langsung dari Jerman. Keputusan tersebut dilakukan menyusul proses pembelian dari Belanda dihentikan karena tidak ada kepastian dari pemerintah setempat.

Menurutnya kebijakan pembelian tank Leopard itu merupakan bagian dari modernisasi peralatan militer sesuai Rencana Strategi (Renstra) periode 2010-2014. Anggaran yang diperlukan untuk membeli peralatan militer MBT ini sebesar US$ 280 juta, dengan skema pinjaman luar negeri, yang diproses sesuai blue print Bappenas dan Kementerian Keuangan.

Perbedaan pendapat terjadi antara TNI AD sebagai pengguna dengan DPR RI, menurut DPR, pada 16 Agustus lalu menyetujui pembelian tank Leopard dengan bobot 40 ton atau tank medium. Kebutuhan TNI Angkatan Darat, yaitu tank besar berbobot 60 ton. Semestinya DPR menyadari bahwa kebutuhan MBT adalah untuk mengimbangi negara-negara tetangga seperti Malaysia yang juga memiliki MBT. (Baca artikel penulis "Arti Penting Tank Leopard bagi TNI AD" http://ramalanintelijen.net/?p=4794 )

 

Analisis Perkembangan Kondisi Wilayah

 

Pengembangan kekuatan pertahanan Indonesia jelas tidak terlepas dari perkembangan serta langkah strategis Amerika Serikat di Asia Tenggara dan Kawasan Laut China Selatan.  Dukungan dan kerjasama pertahanan ini juga digencarkan AS dalam rangka refocuses perhatian ke wilayah Asia-Pasifik setelah bertahun-tahun terlibat dalam konflik yang melelahkan di Irak dan Afghanistan. (Angkasa).

Menlu AS Hillary Clinton mengakui bahwa Pemerintah AS sedang berusaha meningkatkan kerjasama militer dengan sejumlah sekutu tradisionalnya, seperti Filipina dan Australia. Hal ini dilakukan untuk menekan China agar mau menerima kesepakatan bersama untuk memecahkan konflik teritorial di Laut China Selatan.

Dalam mengantisipasi perkembangan kawasan Laut China Selatan, memang sudah sepatutnya TNI meningkatkan kemampuan pertahanan serta gelar tempurnya di kawasan Barat. Seperti istilah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan memperkuat pertahanan di kawasan Barat, selain mengantisipasi kemungkinan konflik antara China dengan AS dan sekutunya,  kita juga mengantisipasi dan meningkatkan bargaining position terhadap Malaysia.

Sebenarnya Malaysia bukan masalah besar bagi Indonesia, tetapi tetap merupakan duri dalam daging yang bisa menyebabkan infeksi dan rasa tidak nyaman saja. Bangsa ini  hanya kalah cerdik dan berani saja sama mereka, nah kini TNI mulai menjawab dan mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di kawasan pada beberapa tahun mendatang. Bravo TNI.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : tni-au.mil.id

 

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.