Menakar Capres Survei LSI, Mahfud, JK, Dahlan dan SMI

29 November 2012 | 12:04 pm | Dilihat : 730

Pada hari ini media banyak menuliskan calon presiden alternatif menurut versi Lembaga Survei Indonesia. LSI mengumumkan hasilnya Rabu, 28 November 2012, dimana jumlah responden (opinion leader) sebanyak 223, 178 orang bersedia dipublikasikan namanya sebagai responden atau penilai. Survei lebih ditujukan dan berkaitan dengan kualitas personal capres 2014. Setiap tokoh yang disurvei dinilai dengan sejumlah ukuran kualitas personal. Penilaian tiap item dengan skor antara 1-100.

Direktur Eksekutif LSI, Kuskridho Ambardi, saat membacakan hasil surveinya kepada pers di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Selatan, mengatakan, "Opinion leader menilai kualitas personal penting untuk capres. Konsep kami tentang kualitas personal untuk pejabat publik seperti presiden yang terdiri dari tiga dimensi (kapabilitas, integritas, dan akseptabilitas)."

Para tokoh nasional diukur dari faktor ; Bisa dipercaya, satu dalam kata dan perbuatan; tidak pernah melakukan atau diopinikan pernah melakukan KKN; tidak pernah melakukan atau diopinikan melakukan tindakan kriminal; diyakini mampu memimpin negara dan pemerintahan; dan dapat dipercaya mampu berdiri di atas semua kelompok atau golongan yang berbeda.

Responden survei LSI ini berjumlah 223 orang, di mana 194 orang di antaranya bersedia dipublikasikan namanya sebagai penilai. Mereka terdiri dari dosen, pengacara wartawan, pemimpin bisnis, tokoh LSM dan organisasi kemasyarakatan, dan lainnya. Di antaranya yang bersedia dipublikasikan namanya adalah Pemimpin Redaksi TV One Karni Ilyas, Pemimpin Umum Tempo Group Bambang Harimurti, pengacara Todung Mulya Lubis, dan mantan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Syafii Maarif.

Total skor kualitas personal  menurut para opinion leader, (urutan nilai 0-100), para tokoh mendapat nilai :

1. Mahfud MD (79) 2. Jusuf Kalla (77) 3. Dahlan Iskan (76) 4. Sri Mulyani (72) 5. Hidayat Nurwahid (71) 6. Agus Martowardojo (68) 7. Megawati Soekarnoputri (68) 8. Djoko Suyanto (67) 9. Gita Wirjawan (66) 10. Chairul Tanjung (66) 11. Endriartono Sutarto (66) 12. Hatta Rajasa (66) 13. Surya Paloh (64) 14. Pramono Edhie Wibowo (64) 15. Sukarwo (63) 16. Prabowo Subianto (61) 17. Puan Maharani (61) 18. Ani Yudhoyono (60)

Melihat data responden, maka hasil survei nampaknya lebih kepada siapa calon alternatif ataupun calon parpol yang dipandang pantas untuk menjadi capres dan cawapres pada pilpres 2014 nanti. Oleh karena itu karena penilai adalah mereka yang dinilai 'pintar' maka survei lebih fokus kepada kapabilitas, integritas, dan akseptabilitas. Berbeda dalam pemilihan umum (pilpres) yang lebih kepada popularitas dan elektabilitas (keterpilihan).

Walaupun demikian data LSI ini menjadi penting, agar kita bisa mengukur para capres alternatif 2014. Hasil survei menunjukkan bahwa sejumlah tokoh nasional dipersepsikan tak layak untuk menjadi presiden. Tokoh tersebut adalah  Aburizal Bakrie, Anas Urbanigrum,  Wiranto,  Suryadarma Ali,  Sutiyoso, dan  Muhaimin Iskandar. Karena nilainya dibawah angka standard yang ditetapkan (60).

Sementara beberapa tokoh alternatif  yang dipersepsikan layak menjadi presiden atau wakil presiden. Sepuluh besar dari mereka  adalah,  Ketua MK Mahfud MD, politikus senior Partai Golkar Jusuf Kalla, Menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, politikus senior PKS Hidayat Nurwahid, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri, Menko Polhukam Djoko Suyanto, dan Menteri Perdagangan Gita Irawan Wirjawan dan pengusaha Chaerul Tanjung.

Tokoh lainnya yang angka keterpilihannya lebih rendah tetapi juga dinilai layak diajukan adalah, mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto, Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa, pendiri Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, KSAD Pramono Edhie Wibowo, Gubernur Jatim Sukarwo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, politikus PDI-P Puan Maharani,  serta Ibu Negara Ny Kristiani Herawati Yudhoyono.

Hasil survei tersebut jelas berbeda dengan hasil survei yang selama ini dilakukan untuk mengukur popularitas dan  elektabilitas tokoh politik/nasional. Sangat menarik bahwa, the Wall Street Journal, mulai bulan Oktober 2012 mulai menggelar survei, siapa calon presiden paling pantas untuk memimpin Indonesia kedepannya. Dalam setahun berjalan hasil survei elektabilitas yang direkam, Megawati masih menempati posisi utama menjadi kandidat capres terkuat Indonesia dengan poling versi Jaringan Suara Indonesia (Agustus), hasilnya15,9 persen , menurut Lingkaran Survei Indonesia (Juni), 18,3 persen  dan menurut Lembaga Survei Indonesia (Februari), hasilnya 15,2 persen.

Prabowo menempati posisi kedua, versi Jaringan Suara Indonesia, hasilnya 12,6 persen (Agustus), Lingkaran Survei Indonesia, hasilnya 18 persen(Juni) dan Lembaga Survei Indonesia, hasilnya 10,6 persen (Februari). Posisi ketiga diduduki oleh Aburizal Bakrie,  survei Jaringan Suara Indonesia (Agustus) hasilnya 9,5 persen  dan Lingkaran Survei Indonesia (Juni) hasilnya 17,5 persen.

Dari hasil-hasil survei tersebut, menurut penulis nilai popularitas dan elektabilitas adalah sebuah kriteria esensial, mutlak dalam sebuah pilpres, karena bagaimana seseorang akan dipilih menjadi presiden/wakil apabila persepsi keterpilihannya rendah? Sedang survei para opinion leader diatas menjadi kriteria tambahan, yang jelas akan sangat berguna bagi bangsa ini apabila akan memilih pimpinan nasional.

Syarat yang lain yang juga sangat penting, partai mana yang akan mengusungnya? Pada pemilu 2014, diperkirakan hanya sekitar 6 parpol yang akan lolos ke Senayan, tersergap ambang batas (parliamentary threshold).  Dari enam parpol, penulis perkirakan hanya tiga parpol papan atas yang berpeluang mengajukan cares, walau mungkin perlu  menggandeng satu parpol menengah. Ketiganya adalah Partai Golkar, PDIP dan Demokrat.

Nah, dari kemunginan tersebut, sementara ini baru Ketua Umum Megawati yang menduduki posisi agak aman, dari kedua macam hasil survei (elektabilitasn dan opinion leader), nama Mega tetap muncul, kuat di posisi elektabilitas, dan masih dipandang baik oleh para pembuat opini (nilai 68, posisi ke-7). Partai yang dipimpinnya merupakan parpol papan atas. Sementara Posisi Prabowo, parpolnya masih dikelas parpol menengah, Gerindra tidak terlalu besar, sehingga perlu lobi-lobi keras lagi, disamping kebutuhan ongkos politik yang jelas akan sangat besar. Para oponion leaderpun kurang mengapresiasi, posisinya ada di 16, dengan nilai 61.

Sementara Aburizal Bakrie (ARB), walau tidak dipilih oleh para opinion leader (nilainya dibawah 60), elektabilitasnya masih masuk tiga besar. Menurut penulis ARB patut tetap harus diperhitungkan oleh para elit politik.

Nah, menurut penulis, nampaknya Megawati hingga kini masih menyimpan kekuatan sebagai petarung pada 2014 nanti. Tanpa banyak iklan ataupun upaya politik yang keras, Mega tetap Mega yang harus diperhitungkan oleh para lawan politiknya. Yang menjadi persoalan, siapa yang kira-kira akan mendampinginya. Penulis lebih cenderung mengambil salah satu wakilnya dari empat besar hasil survei opinion leader, Mahfud, Jusuf Kalla, Dahlan Iskan atau Sri Mulyani. Mreka inilah yang kini terpilih oleh opinion leader sebagai tokoh yang pantas memimpin Indonesia, kata lainnya orang pinter atau hebat.

Nampaknya yang sudah banyak diberitakan adalah pak JK. Pada pilpres 2004 dari Golkar, JK juga menjadi cawapresnya Pak SBY, walau pada pilpres 2009 pecah kongsi. Pak Mahfud, dan SMI bisa menjadi alternatif cawapresnya Mega, dari sisi keilmuwan, keduanya berimbang, tetapi dari sisi jaringan internasional, nampaknya SMI mempunyai jauh kelebihan. Masalahnya SMI masih sering dipermasalahkan dengan kasus Bank Century, apabila persoalan Century bisa selesai, bukan tidak mungkin Indonesia akan dipimpin oleh dua wanita, mengapa tidak?

Mega yang selalu teguh mengatakan setia menjaga Pancasila dan NKRI, didukung oleh Sri Mulyani yang demikian terkenal dan piawai di dunia internasional. Tetapi jelas banyak yang kurang setuju, sebaiknya kita tunggu perjalanan politik Indonesia mendekati 2014, penulis percaya semuanya akan duduk dengan sendirinya, dan tetap meyakini Mega masih yang terkuat dan berpeluang besar untuk menjadi  Presiden pada 2014.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

 

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.