Arti Penting Tank Leopard bagi TNI AD

26 January 2012 | 11:46 am | Dilihat : 6821

Leopard mempunyai dua arti bagi Indonesia, yang pertama 'the Javan Leopard' yaitu macan tutul subspesies khusus yang ada di Pulau Jawa dan yang pada tahun 2008 diklasifikasikan oleh IUCN sebagai hewan yang sangat terancam punah. Kedua, Leopard 2A6 adalah nama Main Battle Tank (MBT)  atau tank tempur utama yang diajukan oleh TNI AD untuk dibeli, tetapi masih menuai kontroversi di DPR. Kedua Leopard tersebut mempunyai kekhususan tersendiri dan jelasnya perlu mendapat perhatian seksama.

Dalam rapat kerja dengan DPR Selasa (25/1), pihak DPR menyetujui rencana pengadaan MBT bagi TNI AD. Namun, jenis MBT yang akan dibeli masih belum disepakati. TNI Angkatan Darat selaku pengguna (user) telah menyiapkan beberapa opsi jenis MBT, salah satunya adalah Leopard 2A6 dari Belanda. Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menerangkan, pembelian MBT sudah sesuai dengan kajian yang dilakukan TNI Angkatan Darat dengan mempertimbangkan berbagai aspek, di antaranya kondisi geografis dan kekuatan angkatan darat negara tetangga. Dari masukan dan evaluasi berbagai sumber dalam dan luar negeri ini, menurut Pramono kemudian muncul opsi untuk membeli MBT Leopard 2A6 dibandingkan opsi lainnya.

Pertimbangan ini didasarkan tank MBT Leopard 2A6 dinilai lebih unggul secara kemampuan dan teknologinya. Begitu pula dari segi transfer teknologi, jaminan suku cadang, serta harga yang relatif lebih murah. Danpusenkav Kodiklat TNI AD, Brigjen TNI Purwadi mengungkapkan, bahwa tank Leopard sudah sesuai dengan kebutuhan prajurit, karena tank ini terbukti tangguh. Selain itu, tank ini memiliki keunggulan dibandingkan alternatif lain seperti dari Amerika Serikat maupun Rusia.“Leopard ini bahan bakar-nya bisa memakai solar, bensin, bisa juga minyak tanah.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan, DPR memang menyetujui adanya penambahan alutsista jenis MBT untuk TNI Angkatan Darat. Hanya pembicaraan belum sampai pada kata sepakat untuk rencana pembelian tank Leopard. Hasanuddin mengingatkan, pembelian MBT harus disesuaikan dengan rencana strategis, ancaman yang ada, serta kemampuan anggaran. Sejauh ini belum ada kesepakatan mengenai berapa jumlah anggaran yang digunakan untuk membeli MBT. Dalam wawancaranya di media, Hasanudin (purn TNI) menyatakan bahwa tank Leopard tidak sesuai dengan kondisi geografis, kekuatan jalan raya, serta beberapa alasan tehnis lainnya.

Nah, dari perdebatan diatas, penulis mencoba mengulas tentang Tank Leopard 2A6 yang diincar TNI AD tersebut, dengan referensi beberapa sumber. Seperti yang dikatakan oleh Kasad Pramono, pembelian MBT sudah memperhitungkan alutsista serupa yang dimiliki negara tetangga. dari penelitian penulis, diketahui Malaysia memiliki 48 buah MBT (PT91M) buatan Polandia dengan meriam kaliber 125 mm. Australia memiliki 59 M1A1SAs (MBT Abrams) yang  dibeli dari Amerika Serikat pada tahun 2006, untuk menggantikan AS1 Leopard pada tahun 2007.

Singapore negara dengan luas pulau yang tidak terlalu besar, memiliki 66 MBT Leopard 2A4 sejak tahun 2008. Leopard tersebut menggantikan jenis MBT SM1s. Menteri Pertahanan Singapura, Mr Teo Chee Hean, saat  mengumumkan pengadaan Leopard 2A4 pada 11 Desember 2006, menyatakan "MINDEF telah mencari untuk menggantikan SM1s dimana tank-tank  akan diperbaharui untuk mendorong unit-unit lapis baja Angkatan Darat menjadi Angkatan dengan alutsista Generasi ketiga yang berteknologi tinggi."

Selanjutnya dikatakan oleh Menhan Chee Hean, "The Leopard 2A4 will bring more punch to our armoured forces by providing greater protection, lethality and mobility." Satu upgrade penting akan dilakukan segera adalah Battlefield Manajemen System yang ketika diinstal, akan memungkinkan tank Leopard tersebut untuk diintegrasikan ke dalam sistem pertempuran pasukan lainnya.

Tank Leopard 2A6 yang diinginkan oleh TNI AD adalah jenis Leopard 2,  merupakan tank tempur utama  yang dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada awal pembuatannya pada tahun 1970 untuk Angkatan Darat Jerman Barat. Tipe Leopard 2 mulai aktif diproduksi sejak tahun 1979. Berbagai versi (hasil modifikasi) telah bertugas di angkatan bersenjata Jerman dan dua belas negara Eropa lainnya, serta beberapa negara non-Eropa. Lebih dari 3.480 Leopard 2S telah diproduksi. Uji tempur yang pertama kali terjadi, dimana Leopard 2 AD Jerman terlibat dalam pertempuran di Kosovo. Leopard juga teruji di medan tempur   di Afghanistan pada tahun 2007, yang dipergunakan pasukan Denmark dan Kanada yang tergabung dalam kekuatan sekutu saat melawan Taliban.

Dalam sebuah serangan pada tanggal 2 November 2007, Leopard 2A6M menabrak sebuah IED dan crew tank selamat tanpa korban. Tank menabrak perangkat peledak improvisasi IED dan membuat sejarah sebagai yang pertama ujian bagi  Leopard 2A6M.  Kepala Staf Gabungan Pertahanan Canada Jenderal Rick Hillier mengatakan, "Taliban telah terlibat pertempuran dengan beberapa tank Leopard 2 di beberapa operasi penyergapan,  sebagai hasilnya, Taliban telah mendapat beberapa pelajaran yang sangat keras dan kalah perang dalam pertempuran yang sangat cepat dan sangat keras."

Sejarah Tank Leopard

Leopard 2 adalah versi seri pertama yang diproduksi, kadang juga diberi nama "A0," untuk membedakannya dari versi yang sudah dimodifikasi. Kendaraan yang diproduksi sejak Oktober 1979 sampai Maret 1982, sebanyak 380 buah. Sejumlah 209 dibuat oleh Krauss Maffei dan 171 oleh MaK. Peralatan dasar yang terdiri dari listrik-hidrolik WNA-H22, sebuah komputer pengendalian kebakaran, pengintai laser, sensor angin, sebuah teleskop tujuan umum EMES 15 , periskop panorama PERI R17, menara tinjau Fero Z18 serta pengujian tangki yang dikendalikan komputer diatur oleh RPP 1-8.  Dalam pengembangannya Leopard 2 dibuat dalam beberapa versi yaitu Leopard 2A1, 2A2, 2A3, 2A4, 2A5, 2A6, 2PSO, 2A7+, 2-140.

Versi yang di bahas oleh team ahli TNI AD adalah Versi Leopard 2A6. Keistimewaan versi ini adalah penambahan senjata meriam kaliber 120 mm Rheinmetall smoothbore L55 dan sejumlah perubahan lain. Semua batalyon tank Jerman dari "the crisis intervention forces" dilengkapi dengan tank A6, seperti juga semua unit operasional AD Belanda. Kemudian diketahui pada tahun 2007, Kanada membeli 20 Leopard 2A6s dari Belanda. Portugal pada tahun yang sama juga membeli 37 Leopard 2A6 dari Belanda dan diterima pada tahun 2008. Tank versi  2A6M Leopard adalah versi dari 2A6 dengan proteksi ranjau yang ditingkatkan di bawah chassis, dan sejumlah perangkat tambahan internal untuk meningkatkan survivabilitas awak. Pada operasi di Afghanistan, tercatat AD Kanada telah meminjam 20 A6Ms dari Jerman  pada akhir musim panas 2007. Tank-tank baru tersebut  semua memiliki turret electric drive.

Tank-tank "loaner" yang dipinjam oleh Kanada dari Jerman dilengkapi dengan senapan mesin Jerman MG3, sementara tank milik Belanda dilengkapi dengan FN MAG. Tank-tank Jerman yang dipinjamkan sekarang akan disimpan oleh Pasukan Kanada dan dapat dimodifikasi lebih jauh. Sementara tankLeopard 2A6 Belanda yang ada telah dimodifikasi dengan spesifikasi Jerman, yaitu Leopard 2A6M. Tank Kanada Leopard 2 yang di operasikan di Afghanistan sejak awal telah dilengkapi dengan unit AC, dan Saab Barracuda yaitu cover  kamuflase yang juga berfungsi untuk mengurangi beban surya sebesar 50 persen.

Data Tehnis Leopard 2A6
Crew : 4 personil
Engine : MTU-12-silinder mesin diesel MB 873-501 Ka, dengan dua knalpot turbocharger.
Power Output : 1.500 PS (1.479 hp, 1.103 kW)
Wading depth without preparation : 1.200 mm
Wading depth with snorkel : 4.000 mm
Climbing ability : 1.000 mm
Empty Weight : 57,6 t A6M 60,2 t
Combat Weight : A6 59,9 t (massa maksimum; 61,7 t), A6M 62,5 t
Maximum Speed : 68 km / jam; mundur 31 km / jam
Fuel Capacity : 1.160 liter (900 liter terbatas ketika tidak dalam pertempuran)
Fuel consumption and operating range : Jalan: ca. 340 l/100 km, ca. 340 km  Terrain: ca. 530 l/100 km, ca. 220 km rata-rata: ca. 410 l/100 km, ca. 280
km pengujian statis : 12,5 l / jam, 72-  93 jam (dengan kapasitas 900-1,160   liter)
Rotation time (360°) : 10 detik
Armament : Rheinmetall 120 mm smoothboregun L/55 dan 2 senapan mesin

Demikian sedikit informasi yang bisa disampaikan. Pemilihan secara tehnis akan kebutuhan alutsista Leopard 2A6 bagi TNI AD adalah pemilihan yang terbaik. Tank jenis ini sudah teruji sebagai peralatan tempur utama pasukan darat. Alasan bahwa berat sebuah tank yang dijadikan alasan penolakan nampaknya kurang tepat, karena pada umumnya tank sejenis sebagai MBT beratnya diatas 60 ton. Bahkan tank unggulan Australia Abrams MiA1 beratnya mencapai 67,6 ton.

Sebuah langkah awal pembicaraan antara TNI AD dengan DPR RI tentang persetujuan pembelian Main Battle Tank sudah merupakan langkah maju. Yang diperlukan adalah titik temu mengenai alokasi anggaran dan kemauan DPR (oposisi) untuk dukungan realistis kebutuhan tersebut. Sisi lain hambatan yang harus dinegosiasikan akan datang dari parlemen Belanda yaitu Partai Groenlinks GL, yang masih keberatan penjualan tank Leopard Belanda kepada Indonesia. Partai Grolinks (GreenLeft) yang dibentuk pada 1 Maret 1989 adalah penggabungan dari empat sayap kiri partai politik : the Communist Party of the Netherlands , Pacifist Socialist Party , the Political Party of Radicals and the Evangelical People's Party.

Apabila Indonesia mampu menembus hambatan baik Parlemen Belanda termasuk loby DPR RI, maka bukan tidak mungkin kekuatan TNI AD akan naik pamor dengan 100 Leopard 2A6, sejajar dengan MBT yang dimiliki negara tetangga baik Singapura, Malaysia maupun Australia. Kunci dari semuanya hanyalah komunikasi, serta perhitungan strategi beberapa tahun mendatang. Penulis seperti pada beberapa artikel terdahulu memperkirakan bahwa kemungkinan konflik akan dapat terjadi di kawasan Laut China Selatan, antara China dengan AS serta sekutunya.

Indonesia sebagai negara berdaulat memang sebaiknya memiliki Alutsista baik di Angkatan Darat, Laut maupun Udara yang menyesuaikan dengan milik negara tetangga. Paling tidak mampu mengimbangi atau setingkat teknologinya dengan alutsista negara tetangga, agar tidak dianggap sebagai negara kurcaci. Mengenai tank Leopard 2A6, apabila semua berjalan lancar, maka tank akan diterima pada 2014 nanti. Saat itulah akan terjadi balance of power kekuatan pasukan lapis baja dikawasan Asia Tenggara. Disinilah arti penting serta peran Leopard A26 tidak hanya bagi TNI AD saja, tetapi bagi TNI dan negara Indonesia. Prayitno Ramelan (http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi gambar : military-today.com

 

 

 

 

 

 

 

Share
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.