Sayang PKS, Didik Jumawa dan Salah Arah

24 March 2012 | 9:41 am | Dilihat : 751

Pagi ini penulis merasa agak prihatin membaca detik.com, khususnya artikel tentang Pemilu Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Judul artikelnya "Didik Rachbini: Foke Biasa Saja, Calon Independen Enteng!." Judul tersebut menggelitik penulis, karena disampaikan oleh cawagub dari Pak Hidayat Nur Wahid (Dr. Haji Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A) yang diusung PKS sebagai Cagub DKI Jakarta 2012. Didik (Prof. Dr. Didik Junaidi Rachbini) adalah politisi asal Partai Amanat Nasional yang diambil oleh PKS untuk mendampingi HNW.

Pada Detik, Didik mengatakan "(Foke) biasa-biasa saja. Tidak berat dan tidak ringan," kata Didik kepada wartawan di Apartemen Park Royal, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (23/3/2012). Didik juga menganggap dua pasang calon independen Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria lebih mudah ditaklukan di pertarungan perebutan kursi nomer satu di Balai Kota Jakarta ini. "Lebih ringanlah, tidak menjadi hambatan saya," pungkasnya (Detik.com 23/3).

Pada artikel lainnya, Didik memberikan resep dengan judul "9 Jurus Didik Rachbini Atasi Kemacetan DKI." Pada saat bertemu wartawan di Apartemen Park Royal Jakarta, Jumat (23/3/2012), Didik juga menyampaikan 9 poin yang jadi andalannya bila terpilih nanti. Mulai dari pembangunan MRT sampai perbaikan angkutan umum kecil. Secara teori ya sah-sah saja para calon menyampaikan idenya, tetapi kalau kita membaca tanggapan artikel tersebut, lebih 90 persen pembaca memberikan tanggapan negative, bahkan mencemohkan dan menyebut Didik sebagai calon yang banyak bicara, Omdo (Omong Doang).

Nah, dari situ saja mestinya PKS melakukan evaluasi terhadap pendamping yang sangat jumawa itu, berbeda dengan HNW yang walau tetap keras tapi sederhana, merakyat, terkenal adil dan santun. Didik menurut penulis terlalu jumawa (sombong), mengecilkan incumbent dan sangat merendahkan calon independen, "Calon independen enteng! katanya." Sebaiknya sebagai seorang ilmuwan (Profesor pula) dan dari partai berbasis Islam (PAN), Didik tidak sepantasnya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Bukankah Islam mengajarkan bahwa salah satu yang dibenci Allah adalah kesombongan?

Mestinya sebelum terlambat, Didik segera melakukan introspeksi bagaimana sebenarnya kampanye menuju ke kursi DKI itu. Mengecilkan arti icalon independen menunjukkan kurang difahaminya kondisi psikologis masyarakat Jakarta yang jenuh dan tidak percaya terhadap parpol. Posisi Didik hanyalah sebagai personal yang ditunjuk mendamping HNW dan PKS, tanpa membawa suara atau pendukung. Partainya (PAN) secara resmi mendukung Foke. Jadi keberadaannya hanya mengandalkan PKS belaka, tanpa grassroot.

Kini cawagub memang masih merupakan calon yang diikutkan bertanding dalam Pilkada, tetapi apabila UU Pemilu yang diajukan Kemendagri sudah selesai digodog DPR, cawagub tidak ada  arti apa-apanya, Bahkan tidak ikut pemilihan, dipilih oleh Gubernur pemenang dari birokrat karier.

Didik menurut penulis terlalu banyak berbicara dengan gaya politisi abangan, yang kurang faham dengan teori kampanye. Mengukur sukses tidaknya seseorang berkampanye cukup dengan melihat tanggapan atau reaksi masyarakat yang memberikan pendapat. Lihat saja prosentasenya, dengan demikian banyak yang mencerca, itu menunjukkan bahwa si komunikator salah dalam kampanyenya. Berkampanye adalah membangun brand image, citra, sebaiknya disukai dan bahkan kalau bisa dicintai komunikan. Kalau belum apa-apa sudah tidak disukai calon pemilihnya, alangkah sayangnya parpol yang mengusungnya. Membuang peluang percuma.

Gaya negative campaign rupanya menjadi trend para kandidat di DKI masa kini, dan pada saatnya nanti  bisa saja bergeser menjadi black campaign. Tetapi apakah harus selalu ditiru? Publik Jakarta butuh pemimpin yang santun tetapi tegas, buka yang arogan.

Kembali ke pasangan yang diusung Partai Keadilan dan Sejahtera ini, cawagubnya lebih banyak berisiknya dibandingkan cagubnya. Penulis mempunyai pengalaman bertemu Pak HNW satu hari (18/3) sebelum PKS mendaftarkan  cagub DKI  ke KPUD (19/3). Penulis berdiskusi dengan beliau tentang pilkada DKI. Dalam pertemuan yang pertama itu, penulis mendapat kesan HNW seorang ilmuwan, santun dan menguasai ilmu Islam dengan sangat baik.

Beliau menyampaikan bahwa manusia jauh sebelumnya dengan takdirnya akan berkumpul sesuai dengan kehendakNya. Penulis khawatir pasangan ini akan bisa pecah sewaktu-waktu apabila menang nantinya. Wakil tidak perlu berebut popularitas dengan calon utama, tapi ya kita maklumi, mungkin Didik ingin menaikkan popularitas dirinya karena hanya itulah modalnya dalam mendampingi HNW.

Dengan gelar doktor yang didapat dari kota Madinah, penulis mendapat tambahan dari HNW, pengetahuan tentang berbagai hal, dan HNW menyatakan bahwa beliau bukanlah Wahabi. HNW, adalah sosok yang menarik, menurut teman penulis yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, HNW adalah orang yang sederhana, dari kelompok Keadilan dalam PKS, berbeda dengan kelompok Sejahtera.

Penulis menyampaikan bahwa kemungkinan besar beliau mempunyai peluang untuk maju ke putaran kedua, mengingat pada pilkada 2007, pasangan yang diusung PKS Adang-Dani Anwar mendapat 1.535.555 suara (42,13%), sedang Fauzi Bowo-Prijanto (diusung 20 Parpol) mendapat 2.109.511 suara (57,87%). Inilah bukti solidnya suara PKS di Jakarta.

Jadi, peluang besar bagi PKS adalah bekal kekuatan pendukung masifnya yang akan melihat HNW menjadi Gubernur DKI. Menurut penulis, apa yang dikerjakan Didik terlalu jauh kedepan, dan berbahaya, akan memasukkan pasangan ini ke killing ground dan menjadi sasaran tembak calon-calon lainnya. Yang lebih parah, keduanya akan tidak disukai konstituen karena faktor Didik.

Inilah sebuah pembelajaran dalam menuju kursi DKI-1. Penulis menyayangkan apabila HNW runtuh karena tidak disadarinya perusakan terjadi karena faktor arogansi pasangannya. Walau PKS adalah partai yang keras dan sering melawan arus, bagaimanapun ini adalah bagian dari realita politik di Indonesia. PKS memiliki 18 kursi dan bisa mengajukan cagubnya sendiri. Penulis bukan pendukung PKS, penulis adalah Indie Blogger, tetapi menulis dan memberi apresiasi kepada PKS sebagai salah satu partai kader yang tetap konsisten. Semoga Didik segera kembali kejalan yang benar. Selamat berjunag pak Hidayat, semoga sukses.

Inilah sebagian artikel penulis tentang PKS, "PKS Yang Tidak Biasa-Biasa" (http://ramalanintelijen.net/?p=1522), "SBY Masih Kuat tapi PKS Khawatir" ( http://ramalanintelijen.net/?p=1482 ). "PKS mengancam Tapi SBY Tetap Bergeming" ( http://ramalanintelijen.net/?p=1476 ). Selamat membaca. Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

 

Share
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.