Mengapa Jepang Memilih Pesawat Tempur F-35

22 December 2011 | 11:02 am | Dilihat : 8902

Jepang akhirnya memilih pesawat tempur canggih generasi kelima F-35 Lightning II,  Joint Srike Fighter buatan Loockheed Martin untuk mengganti pesawat tempur tuanya F-4 Phantom. Keputusan JASD yang diumumkan Selasa (20/12) juga  sebagai bagian upaya untuk meningkatkan pertahanan ditengah ketidak pastian situasi kawasan. F-35 sebagai pesawat tempur multirole fighter (light bomber) juga merupakan pesawat tempur siluman (stealth).

Menteri Pertahanan Jepang Yashuo Ichikawa menyatakan, “Our decision on the next-generation fighters was an extremely important one for our national security, and we wanted to acquire fighters with solid capability.” Pengumuman Jepang tersebut mempunyai dua sisi kepentingan, yaitu  stabilitas kawasan (balance of power) serta counter psikologis menghadapi kemungkinan ancaman  perkembangan politik dan pertahanan di Korea Utara dan China.

Pengumuman itu datang bersamaan  di tengah kekhawatiran baru tentang stabilitas regional menyusul kematian pemimpin Korea Utara Kim Jong Il. Negara yang miskin dengan kemampuan nuklir jelas membuat khawatir tetangganya, khususnya terhadap dampak potensial dari manuver politik yang berkembang di Korea Utara.

Keputusan pembelian F-35 jelas tidak lepas dari pengaruh AS sebagai sekutunya dan kepentingan bisnis Lockheed Martin sebagai perusahaan AS. Hal itu terlihat dari apa yang diungkapkan oleh Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, pada saat kunjungannya ke China pada bulan Januari 2011. Gates  menyerukan agar Jepang, sebagai saingan China yang paling kuat, untuk memajukan teknologi militernya dengan membeli jet tempur  F-35. Saran pembelian F-35 tersebut sebagai upaya AS menciptakan balance of power di kawasan Asia Pasifik, dimana China saat kunjungan  itu melakukan peluncuran pesawat tempur siluman Chengdu J-20, serta menjelaskan kepada Gates di pusat komando nuklirnya.

Jepang telah bergulat selama bertahun-tahun untuk penentuan pengadaan pesawat tempur generasi kelima, diantara beberapa pilihan yaitu  F-35, Boeing F-18 atau Eurofighter Typhoon, yang dibuat oleh sebuah konsorsium perusahaan-perusahaan Eropa.

Dengan keputusannya membeli F-35, secara keseluruhan Jepang akan membeli 42 pesawat  dalam beberapa tahun. Departemen Pertahanan Jepang mengajukan anggaran sebesar ¥ 55.100.000.000 (US$ 706.900.000), untuk empat pesawat  pertamanya yang akan diterima pada awal April 2012.

Pertimbangan lain penentuan F-35 diantaranya adalah standarisasi alutsista (Alat Utama Sistim Senjata) antara  Jepang dan AS, sebagai sekutu. Program pengadaan F-35 kini merupakan pengadaan terbesar AS dalam pembelian alutsista, untuk melengkapi Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Marinir. Pemerintah AS mengeluarkan anggaran sebesar US$ 238.000.000.000.

Dalam proses pengadaan pesawat, Lockheed Martin akan melibatkan beberapa perusahaan manufaktur Jepang dalam pengadaan ke-42 pesawat tersebut. Kemenangan kontrak pembelian F-35 disatu sisi adalah keberhasilan Lockheed Martin dalam meyakinkan program F-35 yang sangat  mahal. Dilain sisi, dengan akan dimilikinya F-35 oleh Jepang akan memberikan dampak keamanan di kawasan. Kedua saingan Jepang, China dan Rusia harus berfikir ulang tentang Jepang, karena F-35 Joint Strike Fighter dengan teknologi stealth (anti radar) adalah pesawat yang mampu menyusup jauh kebelakang garis pertahanan. Disamping kemampuannya mengangkut senjata penghancur sesuai dengan fungsinya sebagai pesawat tempur serba guna.

Selain Jepang, Angkatan Udara Israel (IAF) menyatakan pada tahun 2006 bahwa F-35 adalah bagian kunci dari rencana rekapitalisasi Israel Air Force. Israel berniat untuk membeli lebih dari 100 F-35A  untuk mengganti pesawat tempur  F-16. Israel adalah negara pertama di kawasan Timur Tengah yang memiliki F-35. Kehebatan F-35 seperti yang dinyatakan Menhan Israel, "F-35 adalah pesawat tempur masa depan yang akan memungkinkan Israel untuk mempertahankan keunggulan udara dan keunggulan teknologi di kawasan itu. F-35 akan memberikan kemampuan yang lebih baik bagi Israeli Air Force (IAF), baik dalam waktu dekat maupun masa mendatang, dan mampu membantu memperkuat keamanan nasional Israel.

Selain F-35, pesawat siluman lainnya adalah F-22, yang disebut Air Superiority Fighter,  juga termasuk pesawat siluman, yang  sangat diminati Jepang. F-22 untuk mempertahankan superioritas di udara, sementara F-35 untuk menghancurkan musuh di permukaan. Hanya pemerintah AS hingga kini tidak mengijinkan F-22 dijual ke negara lain, karena F-22 justru dinilai dapat menjadi ancaman ke negaranya sendiri.

F-35 adalah sebuah proyek raksasa bersama yang dikerjakan oleh beberapa negara, dimana AS menjadi pembeli utama. Beberapa negara berpartisipasi dalam pembuatan dan pengembangan F-35, diantaranya Inggris, Itali, Belanda, Kanada, Turki, Australia, Norwegia dan Denmark yang menyumbangkan US$ 4.375.000.000, dari jumlah pengembangan sebesar US$40 miliar yang ditanggung oleh AS. Ke sembilan negara mitra utama, termasuk Amerika Serikat, berencana untuk memiliki lebih dari 3.100 F-35 hingga tahun 2035, hingga F-35 adalah pesawat tempur terbanyak yang diproduksi.

Kelebihan F-35 dibandingkan pesawat tempur lainnya adalah dalam kecanggihan sistem pendukung pertempuran. Beberapa sistem untuk F-35  diambil langsung dari F-22, kemudian dimodifikasi dan ditingkatkan. Sistem modifikasi dan perbaikan pada akhirnya akan dikembalikan untuk meng-upgrade F-22. F-35 dilengkapi dengan radar buatan Northrop Grumman Electronic Systems yang mengembangkan Multy Mission  Multi-Array elektronik Scanned Aktif (AESA) Radar. Inilah  radar multi-fungsi canggih yang telah melalui proses penelitian jangka lama.

Bekerjasama dengan Lockheed Martin tentang sistem penembakan Missiles, Northrop Grumman Electronic Systems akan memberikan sensor elektronik kunci untuk F-35 yang meliputi ujung tombak bekerja pada the Electro-Optical Distributed Aperture System (DAS). Sistem ini akan melengkapi pilot dengan bola pelindung yang unik di sekitar pesawat untuk tetap waspada terhadap   peringatan misil,  warning adanya pesawat lain, siang dan malam hari, serta kemampuan pengendalian kebakaran. Menunjuk AN/AAQ-37, dan terdiri dari enam sensor elektro-optik, EO penuh DAS akan meningkatkan efektivitas survivabilitas F-35 dan operasional dengan memperingatkan pilot pesawat terhadap  ancaman rudal lawan.

EOSS (Electro-Optical Sensor JSFTM)  terdiri dari EOTS, dibuat oleh Lockheed Martin dengan BAE SYSTEMS, serta Sistem Terdistribusi Aperture, yang mampu mengamati lingungan 360 derajat. Sebuah kemampuan deteksi yang sangat maju , dimana EOSS mendukung  juga pengenalan target, serta lebih presisi dalam menghancurkan sasaran.

F-35 dilengkapi dengan berbagai senjata buatan AS dan negara sekutunya, baik peluru kendali  (rudal) Sidewinders dan Storm Shadow buatan Inggris. F-35 telah dirancang untuk membawa baik secara internal maupun eksternal pod pembawa senjata. Tujuh dudukan eksternal dipergunakan untuk  berbagai macam rudal udara ke udara dan udara ke darat. F-35 mampu membawa bom cerdas  seberat  2000 pon (satu ton)  yang dipandu GPS, dan rudal AMRAAM. Juga dilengkapi dengan  senjata termasuk rudal udara ke udara rudal seperti AIM-120 dan AIM-132.

Spesifikasi F-35,  Power Plant (Engine) Pratt & Whitney (turbofan dengan afterburning) JSF119-611 turunan dari F119, yang  dipasang pada F-22. Jumlah Engine 1, Mesin Thrust £ 37.200 (164,6 kN). Lift Fan  Thrust, Rolls Royce / Allison £ 18.000 (80 kN). Wing Span F-35A = 35,10 ft (10,70 m).  F-35C = 35,10 ft (10,70 m).  F-35B = 43,50 ft (13,26 m) = 29,83 ft bila dilipat (9.10 m). Panjang F-35A = 50,75 ft (15,47 m).  F-35C = 50,75 ft (15,47 m) . F-35B = 51,25 ft (15,62 m). Kecepatan (maks) 1,8 Mach. Radius of Action F-35A & P = 1.080 nm (2.000 km),    F-35B = 1.620 nm (3.000 km). Berat lepas landas £ 50.000 (22.680 kg). Kapasitas bahan bakar F-35A & P = £ 15.000 (6.805 kg), F-35B = £ 16.000 (7.255 kg). Crew (penerbang=1).

Demikian sedikit informasi perkembangan antara politik dan pertahanan di kawasan Asia Pasifik. Jepang adalah salah satu negara dengan kekuatan tempur udara yang sangat kuat di kawasan, dengan 362 pesawat pesawat yang terdiri dari F-15, F4s dan F-2s.  Washington adalah sekutu utama Tokyo, hingga kini masih terdapat sekitar 50.000 personil militer  AS yang ditempatkan di Jepang di bawah perjanjian keamanan kedua negara.

Sementara itu, Indonesia karena belum mempunyai kemampuan membeli pesawat sekelas F-35, harus cukup puas menerima 24 F-16  gratis dari AS, dan itupun dari seri lama yang jelas membutuhkan upgrade dengan biaya yang cukup besar. Beruntung kita sudah memiliki Sukhoi yang cukup ada kelasnya. Semoga bermanfaat. Prayitno Ramelan (http://ramalanintelijen.net )

 

 

 

 Share
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.