PENTINGNYA PERAN INTELIJEN DALAM “CORONA WAR”

28 January 2021 | 1:01 pm | Dilihat : 355

presiden-jokowi-menjalani-vaksinasi-ke-2-di-istana

Presiden Joko Widodo melepas jaket dan  memakai singlet saat disuntik vaksinasi kedua. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Sudah 10 bulan lebih kita berperang melawan Corona Virus Covid-19 (corona war) ternyata sulit dan berat memerangi musuh yang tidak kasat mata tersebut. Selain jatuhnya korban manusia, covid membuat perekonomian terganggu di negara manapun, disamping muncul masalah sosial dan bahkan keamanan.

Pada hari Selasa (26/1), kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia dilaporkan tembus satu juta orang (1.012.350),tambahan 13.094 kasus positif dalam satu hari. Menurut Menkes Budi Sadikin ada 600 tenaga kesehatan meninggal, kini tingkat penularan Covid-19 sudah menjangkau lapisan sosial terdekat dari masing-masing individu.

Dari dinamika kasus covid-19, Rencana Operasi counter corona yang sudah dilaksanakan sebaiknya disesuaikan dengan ancaman, dimana memburuknya penularan harus dicarikan jawaban oleh staf presiden (user) terutama intelijen untuk dicari jawabannya. Penentuan tugas oleh user itu berupa masalah-masalah yang dipertanyakan dan dinamakan Esential Elements of Information (EEI) atau Unsur-unsur Utama Keterangan (UUK) yang harus didasarkan fakta-fakta. Penulis mencoba menganalisis kasus mengingat fakta terus bergulir, sebagai random digunakan fakta dari tanggal 17/1/2021 hingga 24/1/2021.

UUK Intelijen Fakta Penduduk dan Kasus Covid

Dari data penduduk dengan jumlah terbanyak di dunia, empat besar pada tahun 2020 adalah ; Pertama China (Tiongkok), 1.394.015.977, kedua India 1.326.093.247, ketiga Amerika Serikat, 329.877.505, keempat Indonesia 267.026.366 orang.

Data ranking negara-negara di dunia dengan kasus covid pada tgl 24/1 yang menarik adalah :

AMERIKA, Ranking (1) 25.566.789 kasus, 427.635 meninggal.

INDIA, Ranking (2), 10.655.435 kasus, 153.376 meninggal.

BRASIL, Ranking (3), 8.844.600 kasus, 217.081 meninggal.

RUSIA, Ranking (4), 3.719.400 kasus, 69.462 meninggal.

INDONESIA,Ranking (19) 907.929 kasus, 27.749 meninggal.

CHINA Ranking (83), 88.991 kasus, 4.635 meninggal.

Dari data tersebut, sebagai gambaran, ada UUK intelijen yang harus dijawab, "Mengapa Amerika sebagai adidaya, modern, ekonomi kuat, sistem dan teknologi kesehatan yang canggih hingga kini tetap terbanyak kasus covid di dunia?"  AS terbukti tidak berdaya diserang covid. Menurut Presiden baru AS, Joe Biden jumlah yang meninggal yang lebih dari 400.000 sangat mengkhawatirkan. Sebuah analisis data yang dikumpulkan oleh Departemen Urusan Veteran AS menunjukkan 400.000 nyawa yang hilang lebih banyak daripada jumlah tentara AS yang tewas dalam pertempuran selama Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Vietnam bila digabungkan. Negara ini memiliki rata-rata lebih dari 200.000 kasus baru dan 3.220 kematian sehari selama seminggu terakhir pertengahan Januari .

Kondisi paparan virus di tiap negara berbeda, karena virus terus bermutasi. Dari kasus di Italia, ternyata, usia memainkan peran penting dalam cepatnya kasus Corona meluas. Mengutip jurnal Universitas Oxford di Demographic Science, Italia memiliki jumlah populasi lansia (di atas 65 tahun) paling besar kedua di dunia. Kurang lebih besarnya 23 persen, sementara AS 16 persen dari populasi karena itu lansia menjadi korban terbanyak.

Nah, kemiripan usia yg rentan adalah kunci yg harus diperhatikan. Di Indonesia, mereka yg terpapar di usia 30-49 tahun 40,16 persen (sembuh 43,34 persen). Terpapar pada usia 50-69 tahun: 34,27 persen (sembuh 32,08 persen). Warga yang usianya 46-59 tahun berpotensi meninggal apabila saat terpapar covid dia menderita penyakit penyerta (komorbid) seperti hipertensi, diabetes maupun jantung (85 persen dari total korban)

UUK kedua, tentang kemampuan China meredam gejolak penyebaran Covid, dimana pada awal tahun 2020 kita terkejut meledaknya jumlah covid yang dimulai dari Wuhan. Tetapi kini China (RRT) ada di ranking 83 dan bahkan mampu memproduksi dan berjualan vaksin. Indonesia sudah jauh melampaui China. Khusus kasus terkonfirmasi di Indonesia, secara perlahan pesebaran kasus semakin tidak dapat ditahan, persoalan baru muncul yaitu ketersediaan fasilitas kesehatan, yang menurut Prof. Wiku, jubir Penanggulangan Covid, kemampuan fasilitas kesehatan bisa lumpuh apabila tidak teratasi.

Peran Intelijen Dalam Peperangan

Sekilas disampaikan wawasan tentang Intelijen (intelligence), dalam pengertian sebagai produk, yaitu informasi yang dikumpulkan oleh badan intelijen untuk komandan/panglima/ kepala negara dalam mengambil keputusan. Intelijen Strategis untuk memenangkan perang dan taktis untuk menang dalam pertempuran. Informasi yang dikumpulkan dianalisis menjadi bahan matang yang disebut intelijen.

Nilai senuah informasi ysng terpenting adalah ketepatan waktu serta relevansinya, bila terlambat info masuk, nilainya akan semakin turun. Informasi yang telah diverifikasi, dinilai, dikonfirmasi baik sumber ataupun baket disebut sebagsi intelijen. Ini merupakan bahan dalam pengambilan keputusan pimpinan. Karena itu dalam "corona war" tidak cukup hanya ahli kesehatan, virologi, epidemiologi , keuangan, logistik dan lain-lainnya, sebaiknya dilengkapi, ada ahli intelijen untuk membaca pergerakan musuh.

Pimpinan nasional jelas membutuhkan saran intelijen (strategis dan taktis) saat ini terkait vaksin, memberi saran tindakan untuk mencapai "herd immunity". Pimpinan perlu masukan distribusi vaksin gratis serta vaksin mandiri dari persepsi intelijen. Apakah covid akan disekat di 34 propinsi atau cukup dibombardier di beberapa propinsi. Tujuan utamanya adalah segera dapat tercapai target 70%-80% masyarakat harus di vaksin dengan dasar perhitungan atau efikasi.

Contoh Analisis dari Fakta yang Berlaku (17 s/ 24 Januari)

Dalam membaca serangan Corona, informasi-informasi  dianalisis tentang penyebaran, baik wilayah yang dicemari, kekuatan lawan (covid menulari), prosentase nilai kenaikan penularan dan tingkat kematian. Berdasarkan data dari kemkes.go.id, covid19.go.id, BNPB, hingga Minggu (17/1/2021), jumlah orang yang positif terinfeksi virus corona di Indonesia telah mencapai 907.929 jiwa, sementara pada Minggu (24/1/2021) jam 06:41:06, jumlah yang positif terinfeksi COVID-19 di seluruh Indonesia telah mencapai 980.502 kasus. Dari fakta, telah terjadi kenaikan yg terpapar covid selama satu minggu adalah 72.573 kasus (7,04%)

Sedangkan yang meninggal akibat COVID-19, di Indonesia tgl 17/1 sebanyak 25.987 orang, tgl 24/1 yang meninggal karena virus corona sebanyak 27.749 orang. Tercatat kenaikan kematian sebanyak 2.762 jiwa (9,9%).

Pasien yg masih dirawat tgl 17/1, 145.482 (positif aktif), tgl 24/1 dirawat 159.177. Hingga tgl 17/1 sebanyak 736.460 orang dinyatakan sembuh. Tgl 24/1 , 795.679 orang dinyatakan sembuh.

Data Pesebaran Wilayah Covid

Sampai tanggal 17/1, angka kasus konfirmasi virus corona tertinggi terjadi di Pulau Jawa yaitu sebanyak 581.276 kasus. Sampai tgl 24/1 jumlah kasus konfirmasi positif virus corona terbanyak terjadi di Pulau Jawa yaitu sebanyak 633.229 kasus. Terdapat kenaikan penularan di pulau Jawa dalam seminggu 41.953 kasus.

Sepuluh provinsi dengan jumlah kasus terkonfirmasi virus corona terbanyak di seluruh Indonesia, serta penambahan ;

Tgl 17/1 Provinsi DKI Jakarta, 227.365 terkonfirmasi, 3.738 meninggal, 201.669 sembuh. Tgl 24/1 DKI Jakarta, 247.202 terkonfirmasi, 3.960 meninggal, 219.960 sembuh. Catatan: Dlm seminggu terdapat kenaikan kasus 19,837 kasus (8,02%).kasus.

17/1 Provinsi Jawa Barat, 112.587 terkonfirmasi, 1.347 meninggal, 91.041 sembuh. 24/1 Provinsi Jawa Barat, 123.543 terkonfirmasi, 1.513 meninggal, 101.085 sembuh. Catatan : Terdapat kenaikan kasus dlm seminggu 10.956. (10,76%)

17/1 Provinsi Jawa Tengah, 102.904 terkonfirmasi, 4.485 meninggal, 67.867 sembuh. 24/1 Provinsi Jawa Tengah, 113.785 terkonfirmasi, 4.908 meninggal, 72.825 sembuh. Catatan: Terdapat kenaikan kasus dlm seminggu 10.881.(9,56%)

17/1 Provinsi Jawa Timur, 99.377 terkonfirmasi, 6.890 meninggal, 84.915 sembuh. 24/1 Provinsi Jawa Timur, 105.511 terkonfirmasi, 7.342 meninggal, 90.232 sembuh. Catatan : Terdapat kenaikan kasus dalam seminggu 6.134.(5,81%)

17/1 Provinsi Sulawesi Selatan, 41.036 terkonfirmasi, 688 meninggal, 35.503 sembuh. 24/1 Provinsi Sulawesi Selatan, 44.530 terkonfirmasi, 705 meninggal, 39.278 sembuh. Catatan : Terdapat kenaikan kasus dlm seminggu 3.494.(7,84%)

17/1 Provinsi Kalimantan Timur, 33.612 terkonfirmasi, 873 meninggal, 27.186 sembuh. Tgl 24/1 Provinsi Kalimantan Timur, 36.823 terkonfirmasi, 934 meninggal, 29.316 sembuh. Catatan: Dalam seminggu Terdapat kenaikan kasus 3.211 (8,72%).

17/1 Provinsi Riau, 27.371 terkonfirmasi, 636 meninggal, 25.175 sembuh. Tgl 24/1 Provinsi Riau, 28.150 terkonfirmasi, 666 meninggal, 26.084 sembuh. Catatan: Dlm seminggu terdapat kenaikan kasus 779.(2,76%)

17/1 Provinsi Sumatera Barat, 25.600 terkonfirmasi, 569 meninggal, 22.016 sembuh. Tgl 24/1 Provinsi Sumatera Barat, 26.357 terkonfirmasi, 588 meninggal, 22.937 sembuh. Catatan : Terdapat kenaiikan kasus dlm seminggu 757 (2,87%).

17/1 Provinsi Banten, 22.110 terkonfirmasi, 497 meninggal, 11.444 sembuh. Tgl  24/1 Provinsi Banten, 23.850 terkonfirmasi, 521 meninggal, 12.150 sembuh. Catatan: Terdapat kenaikan kasus dlm seminggu 1.740.(7,29%)

Provinsi Bali, Tgl 17/1, 21.292 terkonfirmasi, 587 meninggal, 18.346 sembuh. Tgl  24/1Provinsi Bali, 23.389 terkonfirmasi, 625 meninggal, 19.864 sembuh. Catatan : Terdapat kenaikan kasus dlm seminggu 2.097 (8,96%).

Pengaruh Jumlah Penduduk dan Ras dalam Kasus Covid

Dalam perang dunia saat ini melawan covid, yang mungkin lebih tepat disebut biological Warfare (covid-19), semua negara terlibat perang. Untuk mengukur Indonesia kita gunakan data-data saat ini. Dari negara-negara dengan penduduk terbanyak di dunia, posisi Indonesia terbanyak keempat di dunia setelah China, India dan AS. Tetapi bila dilihat kasus covid, AS terbanyak, kedua India. China dengan penduduk terbanyak di dunia justru di ranking 83 dunia. Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak keempat berada ranking 19 dunia dalam kasus.

Berarti ada sebuah celah atau penyebab bahwa jumlah penduduk yang besar di sebuah negara tidak berpengaruh terhadap ledakan kasus covid ( China dan Indonesia). AS di posisi tiga gagal menangkal gempuran virus, terus menduduli ranking satu. Dianggap gagal membatasi kebebasan penduduknya dalam menangkal covid, demikian juga India. Nah, dibandingkan AS dan India, jumlah kasus covid dan kematian di Indonesia dinilai tidak meledak, sebagai bukti, inilah datanya (24/1) :

AS dengan penduduk 329.877.505, terdapat 25.566.789 kasus, 427.635 meninggal.

India dengan penduduk 1.326.093.247, terdapat 10.655.435 kasus, 153.376 meninggal.

Indonesia dengan penduduk 267.026.366, terdapat 907.929 kasus (sepuluh kali China), 27.749 meninggal.

China dengan penduduk 1.394.015.977, terdapat 88.991 kasus, 4.635 meninggal.

Dari data diatas, China dan Indonesia memiliki kekhususan baik kemampuan counter atau faktor positive lain. Muncul teori apakah ada kaitan serangan covid dengan ras sebuah bangsa? Penulis pernah menyusun artikel, berdasarkan teori bahwa ras kulit putih (kauskasian) banyak yang menjadi korban. Di China (RRT) penduduknya adalah ras Mongoloid. Pernah ada penelitian bahwa tipe virus Corona ini di China (RRT) bermutasi, nyaman dengan ras Mongoloid. Tetapi saat virus tipe yang sama menginfeksi kawasan Eropa, berubah sangat ganas dan lebih mematikan bagi ras Kauskasian (ranking atas adalah mereka yang umumnya ras kauskasian). Di India, ras yang mayoritas adalah Ariya ( nomaden dari Eropa, kulit putih, hidung mancung), ras lain Dravida kulit hitam. Di AS dan India ras Kaukasian banyak jatuh korban (kematian).

Sementara di Indonesia tercatat ada empat ras utama yaitu ras Melayu Mongoloid, golongan Weddoid, Negroid dan golongan Papua Melanesoid. Kondisi ini mirip dengan China yang penduduknya adalah ras Mongoloid. Dalam perbandingan ras, karena covid-19 berasal dari Wuhan (China), covid di Indonesia tidak meledak seperti AS, India, Brasil, serta negara-negara di Eropa. Kemungkinan virus ex Wuhan sesuai teori, juga nyaman dgn ras di Indonesia. Beda dengan Indonesia, China lebih mampu mengatasi penularan covid dengan keras dan radikal, dan bahkan mampu meneliti virus yang berasal dari Wuhan dan membuat vaksin. Sementara Indonesia penularan terus terjadi, fasillitas kesehatan mulai terbatas, dan terutama masalah  perilaku serta disiplin masyarakat rendah, mudah termakan hoax. Secara logika semestinya dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, disiplin rendah, pengetahuan kurang, kasus sudah meledak seperti India, Brasil, tapi ini tidak terjadi, inilah intinya UUK atasan yyang harus dijawab.

Perkembangan Covid Dalam Negeri

Dari jumlah penduduk Indonesia 267.026.366, pada tanggal 24/1 penduduk yang terinfeksi 907.929 kasus, dan 27.749 jiwa meninggal. Sementara corona terbanyak terjadi di 4 provinsi di Pulau Jawa, total kasus di pulau Jawa sebanyak 633.229 atau 69,7 % dari kasus nasional. Kasus yang tinggi lainnya ada di dua provinsi diluar Jawa yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, 44.530 terkonfirmasi, 705 meninggal, serta Kalimantan Timur, 36.823 terkonfirmasi, 934 meninggal. Apabila kedua provinsi luar Jawa digabung dengan kasus di pulau Jawa maka jumlahnya pada 24/1, sebsnyak 714.582 kasus (78,7% dari kasus nasional).

Strategi Kebijakan

Strategi kebijakan jelas didasari dari jumlah dan pesebaran kasus serta berapa banyak kematian. Selain itu kini harapan besar penanggulangan berada pada suksesnya upaya vaksinasi. Pemerintah telah menetapkan akan memvaksin gratis rakyat. Presiden Jokowi menargetkan rakyat divaksin paling lambat akhir 2021. Menurut presiden diperhitungkan dari 267,7 juta penduduk sebanyak 67-70% (182 juta) akan di vaksin untuk tercapainya kekebalan bersama (herd immunity).

Nah, dari fakta-fakta diatas disarankan target 70% di prioritaskan di tiga propinsi di pulau Jawa yaitu :

Prioritas pertama, DKI JAKARTA dlm seminggu terdapat kenaikan kasus 19,837 kasus (8,02%), JABAR dlm seminggu terdapat kenaikan kasus 10.956. (10,76%), JATENG, terdapat kenaikan kasus dlm seminggu 10.881.(9,56%).

Prioritas kedua adalah Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, serta Banten dan Jogja. Mengapa memrioritaskan provinsi di Pulau Jawa dua provinsi Sulsel serta Kalsel? Akumulasi kasus di pulau Jawa plus dua provinsi luar Jawa dari data tgl 24/1 maka jumlahnya 714.582 kasus atau 78,7% dari kasus terkonfirmasi nasional.

Setelah disuntik vaksin kedua, Presiden Jokowi menyatakan, "Kita harapkan sehari paling tidak bisa 900 sampai 1 juta yang bisa divaksin," kata Jokowi saat berbincang dengan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Dokter Reisa Broto Asmoro di Istana, Rabu (27/01). Dengan target Presiden Jokowi yang akan memvaksin satu juta penduduk dalam satu hari, maka target 182 juta bisa tercapai dalam 182 hari (6-7 bulan). Bila propinsi-propinsi yang diprioritaskan satu dan dua digarap lebih awal, jelas waktu akan bisa lebih dipetpendek. Secara kasar akan menurunkan kasus paling tidak 70% (dari data random analisis).

Kesimpulan

Dari hasil analisis, Indonesia terselamatkan diantaranya gabungan antara upaya pemerintah, serta kesimpulan dari bukan ras yang ditarget. Menangani virus Corona Covid-19, alternatif terbaik adalah tercapainya target 70-80 % sehingga covid-19 tidak terus liar menyebar, terkendali.  Disinilah perlunya kita gotong royong demi keselamatan bangsa negara dan keluarga yang kini justru menjadi klaster aktif dan paling berbahaya dan mematikan.

Kasus Covid-19 masih merupakan misteri, walau sudah mulai terbaca karakternya serta sisi kerawanan siapa korban terentan di Indonesia. Ini adalah cara alam melakukan semacam infantisida/infanticide, tetapi bukan keturunan yang diseleksi (dibasmi), Covid akan meneruskan penuntasan perannya sebagai "cide", mereka yg tidak waspada bisa menjadi korbannya.

Menangani Covid-19, seperti menangani virus-virus lain, diantaranya Influenza, demam, SARS, MERS-CoV, Campak, Herpes, Ebola, Polio, Hepatitis, Cacar, AIDS, Gondong, Flu burung, dan lain-lain. Covid 19 juga tidak bisa dilenyapkan 100% , Bagian pentingnya, bagaimana membuat imunitas, memanfaatkan vaksin dengan maksimal dan menerapkan hidup  pola new normal.

Sebagai penutup, kita mesti sadar, bahwa manusia memang sudah ditakdirkan harus terus  hidup berdampingan  dengan virus-virus tersebut, kita akan selamat karena bisa berfikir, cerdas dan cerdik dan positive thinking. Semoga bermanfaat, Pray Old Soldier

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

Jakarta, 28 Januari 2021

This entry was posted in Hankam, Umum. Bookmark the permalink.