MISTERI COVID-19 SANG PEMBASMI

3 February 2021 | 8:21 pm | Dilihat : 248

Penulis me-refresh artikel yang pernah ditulis dengan judul PERAN INTELIJEN DALAM "CORONA WAR" (Agar kita tersadarkan), dimana kesimpulannya bahwa kasus pandemi Covid-19 masih merupakan "misteri". Pelbagai fihak tidak terbuka, baik China (RRT) maupun AS dan negara-negara maju tidak terbuka atau bahkan mungkin sedikit yang diketahui tentang virus ini secara utuh . Covid terus menekan manusia yang tidak bisa bebas seperti semula. Begitu manusia agak mampu meredamnya, muncul varian baru hasil mutasi seperti munculnya virus baru di Inggris.

Padahal kalau dipikir menurut Juru Bicara/Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mahluk Allah ini (SARS-CoV-2) seperti virus lain tidak kasat mata, besarnya hanya berukuran 0,1 mikron, tapi ancamannya sangat berbahaya. Menurut para ahli, virus ini kini semakin cerdik, mampu menyesuaikan dan mengatasi hambatan dan makin mematikan.

Para virolog kini sudah mulai agak mampu membaca covid-19, baik karakter maupun bahayanya yang terselubung, tetapi mereka tidak secara pasti pernah menyebut asal muasalnya, ini mahluk alam atau hasil rekayasa manusia, tetap saja misteri. Walau manusia mampu menciptakan vaksin, tidak serta merta covid-19 tertaklukan, masih dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengatasi pandemi ini.

Covid sejak awal mampu menembus pertahanan manusia dan menyerang titik rawan, menyasar siapapun, korban terbanyak mereka yang rentan dimanapun. Bila semakin banyak yang tertular, maka sebuah negara membutuhkan lebih banyak ruang kesehatan, tempat isolasi, ICU dan tempat pemakaman. Khusus Indonesia, Wiku mengingatkan bila kondisi tetap tidak terkendali, fasilitas kesehatan bisa lumpuh, jelas korban akan semakin banyak karena tidak tertangani termasuk penyakit berat lainnya. Early warning ini nampaknya sulit terealisasikan, terlihat kasus terus meningkat.

 

Covid Sebagai Sarana Pembasmi

 

Inilah sesuatu hal yang menurut penulis terkait dengan 'misteri', titik awal masalah yang harusnya perlu kita sadari. Corona virus covid-19 hanyalah sarana alam yang melakukan semacam infantisida/infanticide, yaitu tindakan pembunuhan bayi yang disebabkan oleh konflik seksual, memiliki tema umum tentang pembunuh (seringkali laki-laki) untuk terciptanya keseimbangan. Pada hewan, instink pembunuhan bayi melibatkan pembunuhan keturunan muda oleh hewan dewasa untuk mendapat keturunan yang lebih kuat.

Nah, bila kita perhatikan, covid-19 ini melakukan tugasnya semacam infanticide, tetapi dalam kasus ini bukan keturunan yang diseleksi (dibasmi), Covid melakukan pembasmian manusia yang lemah, dan akan meneruskan penuntasan perannya sebagai "cide" terhadap korbannya, yaitu mereka yang rentan, imunitas rendah, lansia, terutama jenis kelamin pria, serta mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Kelompok ini bila tidak waspada dan tertular tanpa disadari akan tersergap menjadi korbannya dan fatal. Inilah tindakan alam yang mulai menyeleksi manusia karena dunia ukurannya tidak berubah, jumlah manusia terus bertambah, sumber daya alam terbatas, sumber pangan juga terbatas, kondisi alam mulai buruk, manusia bersaing untuk ruang hidup dengan segala cara yang merusak, maka alam akan menyelaraskan, menyeimbangkannya.

Karena pengetahuan ini terbatas  diketahui masyarakat, maka sehebat apapun upaya pemerintah, penularan terus semakin meninggi, korban meninggal terus bertambah. Hingga Rabu (3/2/2021) jam 05:19:48, jumlah yang terinfeksi virus corona di Dunia telah mencapai 104.330.251, yang meninggal dunia 2.260.860 orang, dan sebanyak 25.700.949 orang masih dirawat (positif aktif), tetapi ada 76.368.442 pasien dinyatakan sembuh.

Dari data WHO, terlihat negara-negara besar kini tidak berdaya di penetrasi covid. Sebagai contoh Amerika Serikat sebagai negara super power, maju dan modern, hingga kini masih terjerumus paling dalam selama setahun. AS kini menjadi negara dengan jumlah terkonfirmasi tertinggi di Dunia, 27.000.940 kasus, sebanyak 457.124 yang meninggal dunia. Kasus baru (2/2) 89.565, total meninggal 457.124 jiwa (Lebih banyak dari jumlah korban warga AS saat PD-1, PD-2 dan perang Vietnam). Khusus Indonesia berada di urutan ke 19 dengan 1.099.687kasus, 30.581 orang meninggal, dan 896.530 orang sembuh.

 

Bilakah Penuntasan Selesai?

 

Menangani Covid-19, seperti menangani virus-virus lain, diantaranya Influenza, demam, SARS, MERS-CoV, Campak, Herpes, Ebola, Polio, Hepatitis, Cacar, AIDS, Gondong, Flu burung, dan lain-lain. Covid-19 juga tidak bisa dilenyapkan 100 persen . Bagian pentingnya, bagaimana membuat imunitas tubuh tetap tinggi, mampu memanfaatkan vaksin dengan maksimal untuk membatasi ruang gerak covid dengan teori herd immunity, dan menerapkan pola hidup new normal.

Sebagai penutup, bagi kelompok rentan yang telah disebutkan diatas, termasuk mereka yang berada di area peredaran maksimal (RS) virus ini memang harus benar-benar waspada, korban nakes sudah melebihi 600 orang, memprihatinkan, terbukti  sang pembasmi tanpa belas kasihan akan mampu menerkam setiap saat.

Sebagai pengingat, kurang ketat, kurang disiplin dan kurang fahamnya apa Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo, toh bisa tertular oleh OTG. Lantas bagi yang kurang faham dan tidak waspada, bahkan 'easy going', mampukah menghindar? Sang pembasmi bisa ada dimana-mana, memanfaatkan manusia yang sering tidak tahu kalau dia ditumpangi tubuhnya menjadi inang. 

Nah, kita mesti sadar, bahwa manusia memang sudah ditakdirkan harus terus hidup berdampingan dengan covid-19, serta virus-virus lain yang sudah ada. Kita akan selamat karena bisa berfikir, cerdas dan cerdik, terutama waspada. Kita harus positive thinking terhadap pemerintah dan Presiden Jokowi yang menangani strategi pada masalah strategis, sementara masalah taktis mengamankan diri menjadi tanggung jawab masing-masing pribadi dan keluarga. Alangkah eloknya apabila target kekebalan bersama (70 persen) dan divaksinasinya kelompok rentan bisa paralel dilaksanakan. Pesebaran virus terbatasi dan jumlah yang meninggal akan menurun.  Semoga bermanfaat, Pray Old Soldier.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan,
Pengamat Intelijen. www.ramalanintelijen.net

Jakarta, 3 Februari 2021

 

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.