Penghentian Evakuasi, Pencarian FDR dan Perlakuan Jenazah Korban Sukhoi

19 May 2012 | 12:50 pm | Dilihat : 460

Bagian yang tersulit didalam hidup adalah pengambilan keputusan, terlebih apabila keputusan menyangkut soal hidup, mati, keluarga, uang, jabatan, masa depan, jodoh dan banyak lagi. Nah dalam menangani sebuah kecelakaan pesawat terbang, terlebih pesawat komersial dengan penumpang yang banyak, jelas dibutuhkan kehati-hatian ekstra, karena menyangkut emosional keluarga yang ditinggalkan.

Setelah sembilan hari sejak jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100,  mulai Jumat sore, kegiatan evakuasi korban Sukhoi SuperJet 100 di Gunung Salak, Bogor, telah  dihentikan. Posko di Bandara Halim Perdanakusumah secara  resmi ditutup oleh Kabasarnas. "Karena operasi evakuasi korban pesawat SSJ 100 sudah dihentikan maka posko yang berada di Halim Perdana Kusumah ditutup," kata Kepala Basarnas, Marsdya TNI Daryatmo, di Media Center Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (18/5/2012). Walaupun demikian, posko Sukhoi di Cijeruk dan Lanud Atang Sendjaja di Bogor, serta di RS Polri Kramatjati tetap dibuka. Di posko itu, bagi yang memburuhkan  informasi terkait kecelakaan Sukhoi SuperJet 100 akan diberikan.

Dari sisi tehnis team ahli Rusia tetap diberikan kesempatan tiga hari untuk mencari FDR (Flight Data Recorder) yang belum ditemukan. Mereka dibantu oleh aparat kewilayahan dari Korem 061 Surya Kencana, pihak Lanud Atang Sendjaja dan jajaran, serta SAR setempat. Kabasarnas telah memerintahkan kepada pengendali lapangan, rescuer TNI dan Polri untuk melanjutkan pencarian.

CVR dan FDR adalah sebuah alat, berupa kesatuan yang disebut black box (walau pembungkus/cangkangnya berwarna oranye). FDR gunanya untuk merekam dan membaca sensor pesawat, kecepatan dan ketinggiannya, sedang CVR yang sudah ditemukan dan sedang diusahakan dibuka oleh KNKT berfungsi untuk merekan suara baik di cockpit maupun dengan ATC. Pihak Rusia mengatakan yakin akan dapat menemukan FDR tersebut, karena mereka mengatakan membawa peralatan yang cukup canggih.

Nah, selain upaya pencarian fakta akurat sebagai penyebab kecelakaan tersebut, ada hal lain yang sangat penting dan harus disikapi bijak serta diputuskan dengan sebuah kesepakatan bersama. Masalah berat tersebut adalah perlakuan terhadap jenazah. Dari data yang dikeluarkan oleh pihak Rusia (Sukhoi), mereka mengeluarkan daftar crew dan penumpang. Dari 45 yang berada dalam pesawat, tercatat jumlah crew dan warga negara Rusia  8 orang, sedangkan dari 37 penumpang, 35 berkewarga negaraan Indonesia, satu warga negara Amerika dan satu warga negara Perancis.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia menyatakan telah mengidentifikasi 15 jenazah korban kecelakaan Sukhoi Super Jet 100 tersebut. Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Pol Agus Prayitno mengatakan, ke-15 korban teridentifikasi hanya dari potongan tubuh tertentu. Karena itu, jenazah belum bisa dikembalikan kepada keluarga. Tim masih memeriksa dan menyocokkan potongan-potongan tubuh lain agar identifikasi maksimal. "Identifikasi berdasarkan salah satu bodypart (potongan tubuh) di TKP. Untuk membawa pulang jenazah, menunggu bodypart lainnya diperiksa atau ditemukan. Kami berharap kesabaran pihak keluarga untuk mengerti bahwa kami memerlukan waktu untuk pemeriksaan sebelum tahap matching," kata Agus, Jumat (18/5).

Dari 15 potongan tubuh yang telah teridentifikasi tersebut, diketahui 13 jenazah warga negara Indonesia dan 2 warga negara asing. Jasad terdiri dari 10 pria dan 5 wanita. Nama-nama korban telah disampaikan ke keluarga masing-masing. Namun, keluarga sepakat tidak memublikasikan dahulu hingga saat penyerahan jenazah. Kemungkinan jumlah yang teridentifikasi jumlahnya meningkat masih sangat mungkin, karena mereka terus bekerja.

Terus pertanyaannya, bagaimana dengan korban yang belum teridentifikasi? Tercatat 32 korban lain jenazahnya belum dapat diidentifikasi. Disinilah  tugas berat pimpinan RS Polri. Menurut penjelasannya, korban yang teridentifikasi hanya dari penyocokan tubuh tertentu. Yang jelas korban lainnya bukan bagian yang mudah di kenali. Penulis menyarankan penyelesaian penanganan korban di gabungkan menjadi satu, berupa pertemuan keputusan penyerahan jenazah teridentifikasi, permohonan kerelaan dimakamkannya bersama bagian tubuh yang tidak teridentifikasi serta penyerahan asuransi.

Dari pengalaman saat kecelakaan pesawat A-1324 Hercules di condet, oleh karena kondisi jenazah penumpang pesawat (132) yang tidak dapat diidentifikasi akhirnya dimakamkan secara masal. Hal serupa juga dilakukan terhadap korban,  saat terjadinya Tsunami di Aceh. Masalahnya, kali ini kaitan emosionalnya lebih kental, karena pemberitaan yang setiap hari ditayangkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa lebih ikhlas. Kepada para petugas ataupun pejabat, dalam mengakhiri penanganan jenazah mohon lebih hati-hati, khususnya dalam membuat statement.

Kita, Bangsa Indonesia mendoakan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa para korban tersebut, dan semuanya dimasukkan kedalam surga. Amin.

Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

Ilustrasi Gambar : skalanews.com

 

 

This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.