Teroris Senang, Bom Solo Menyengat Kita

28 September 2011 | 11:10 am | Dilihat : 235

Beberapa hari terakhir menjadi saat yang sangat sibuk bagi penulis. Berbagai media elektronik mengundang untuk  acara talk show membahas serangan teror terhadap gereja Kepunton di Solo. Walaupun bila dinilai dari segi kualitas serangan berada  jauh dibawah kebesaran beberapa bom terdahulu, tetapi gelegar beritanya terasa mengimbangi berita saat gunung  Merapi meletus.

Pertanyaannya, mengapa? Jawabannya sederhana, karena yang diserang para teroris itu adalah sisi psikologis dari masyarakat. Sebelum serangan bom di Kepunton, tercatat ada enam ancaman bom (kelas molotov) terhadap Gereja di Klaten dan Sukoharjo pada awal Desember 2010. Bersamaan itu juga terjadi empat buahancaman  serangan bom molotov terhadap pos/kantor polisi di sekitar Klaten dan Sukoharjo.

Dengan demikian sebetulnya dapat diperkirakan bahwa tempat-tempat ibadah khususnya mesjid dan gereja serta yang berhubungan dengan polisi telah mereka tetapkan menjadi target serangan. Sebuah serangan bom, sekecil apapun merupakan berita yang mahal bagi media, khususnya media elektronik. Begitu terjadi sebuah ledakan maka bak semut beriring, para crew TV berebut saling mendahului untuk mencapai lokasi serta menayangkannya. Berita-demi berita dan analisa bermacam-macam kemudian semakin membuat gurih dan nikmat tayangan accident bom yang terjadi.

Penulis, diusia senja ini dipercaya oleh Menkopolhukkam untuk membantu di BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) sebagai salah satu anggota kelompok ahli. Kemunculan penulis di media elektonik pertama di TV One, kemudian disusul di Metro TV untuk membahas setiap serangan teror. Pada masa lalu penulis dikenal sebagai pemerhati intelijen. Setelah bom Solo, penulis dipercaya oleh BNPT untuk menyampaikan pandangan atas kejadian teror. Dalam hal ini kapasitas penulis sebagai kelompok ahli.

Rasa prihatin penulis demikian mendalam, mengingat demikian banyak mereka yang menyampaikan pandangannya dari sisi serta kapasitas masing-masing. Di era  demokrasi kebebasan memang boleh saja orang menyampaikan pendapatnya, hanya yang perlu diingat bahwa apa yang disampaikan dilihat oleh demikian banyak pemirsa yang tingkat pendidikannya dari atas hingga bawah. Menyiarkan sebuah berita jelas diperbolehkan, hanya mesti disadari bahwa masyarakat sangat mudah terpengaruh dengan berita provokasi.

Karena itu perlu kita ketahui bersama bahwa perancang serangan teror selalu mencari target yang sensasional dengan tujuan media akan datang dan menyiarkannya. Nah, serangan bom di gereja Kepunton Solo adalah berita sensasional, pertama pelaku melakukan serang bunuh diri, kedua dengan bom dan ketiga bom diledakkan di Gereja. Gabungan ketiganya kemudian mengejutkan masyarakat dan bahkan pemerintah.

Panik dikalangan masyarakat, itulah yang diharapkan perencana, sukses akan lebih mereka raih apabila pemerintah terlihat panik. Oleh karena itu bom gendong ini walau kecil sengatannya sangat terasa. Selain kepanikan, maka sebuah serangan teror ditujukan untuk menurunkan derajat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya, berita yang tersebar atau disebarkan “kecolongan.” Baik polisi maupun intelijen mereka katakan kecolongan, mediapun memperkuat berita negatif tersebut.

Tanpa disadari media kemudian menjadi humas dari teroris, tiap saat memberitakannya, mulai dari pelaku, korban, latar belakang dan bahkan hingga keluarga dan kebijakan-kebijakan lainnya. Semuanya seperti ayam bertelur yang berkotek-kotek semakin ramai. Nilai berita serta rating semakin tinggi. Penulispun semakin sering diundang berbagai media, setelah dua stasiun TV anker berita, dilanjut dengan MNC News, Global TV, Berita Satu, Kompas TV dan bahkan dua TV belum dapat dipenuhi yaitu JAK TV dan Alif TV.

BNPT memberi pesan, alur kejadian dan latar belakang kasus, mendudukkan kasus bom Solo dengan posisi yang realistis dan menenteramkan publik, untuk mengounter berita yang provokatif walau ada yang melakukan secara halus. Penulis selalu berusaha menjaga kredibilitas polisi dan intelijen (BIN) dari degradasi citra di publik, karena faham bahwa serangan diarahkan kesitu, yang jelas pada akhirnya akan menjurus kearah pimpinan nasional.

Jadi, apabila kita tidak faham dengan strategi perancang bom, maka mereka kini sedang bertepuk tangan dengan rasa senang, karena hanya dengan bom sekelas beberapa ratus ribu dan kesediaan orang yang mau menjadi martir  karena percaya akan masuk surga, republik ini telah bergetar. Dimasa mendatang, tiga sasaran sebaiknya tetap menjadi prioritas pengamanan, polisi, masjid dan gereja. Disarankan sebaiknya pengurus tempat ibadah melakukan pengamanan internal dengan menggiatkan organisasi pemuda jamaah masing-masing, jangan hanya bersandar ke polisi.

Demikian sedikit pendapat penulis disamping kegiatan lainnya sebagai narsum (nara sumber) dibeberapa media. Penulis percaya bahwa yang dilakukan hanyalah bagian dari ibadah, karena sedikit apapun pencerahan yang disampaikan kepada masyarakat dengan hati yang bersih akan ada manfaatnya nanti, hingga di akhiratpun. Bukan begitu my friends? Prayitno Ramelan (lihat artikel lainnya di blog pribadi http://ramalanintelijen.net )

Sumber : Kompasiana.Com

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.