Mangga Seberat Sekilo Seperempat

8 November 2008 | 2:54 pm | Dilihat : 101

Oleh: Prayitno Ramelan

Ditayangkan di Kompasiana.com tgl. 9 November 2008

Hari minggu pagi ini, begitu menghidupkan Televisi, miris rasanya melihat berita utama. Tadi pagi rata-rata stasiun yang biasanya kalau minggu pagi menyiarkan berita enteng tentang kuliner, olahraga, kartun, mendadak ramai memberitakan eksekusi terhadap Amrozi dkk. Riuh rendah, berbondong-bondong reaksi muncul, nampak solidaritas muncul, kini yang dimusuhi ya pemerintah itu.

Para presenter dengan bangga, bersemangat, hingga terengah-engah memberitakannya. Ini berita besar, hebat, pada minggu pagi.

Pada minggu ini otak kita pagi-pagi sudah diisi berita menyeramkan, minggu yang harusnya rileks jadi tegang. Kenapa sih eksekusi dilaksanakan minggu pagi, kok tidak senin pagi dimana kita siap menghadapi stres, ya macet, ya copet, pengemis, ya kemungkinan banjir. Tapi sudahlah itu urusan pemerintah yang berwenang, biarkan beliau-beliau melaksanakan tugasnya. Dan biarkan media elektronik sesukanya memberitakan sesuai dengan keinginannya.

Agar kita rileks, saya mau bertanya apakah ada diantar blogger atau pembaca yang pernah mengetahui ada mangga dengan berat sekilo seperempat, kalaupun ada paling hanya ada satu dua saya kira. Nah saya pernah melihatnya sekali dirumah Saya punya empat pohon mangga, oleh-oleh saat mengikuti latihan di Thailand dulu waktu aktif bertugas. Mangga kecil itu saya tanam secara tabulampot (tanaman buah dalam pot), dalam drum dipotong dua. Maksudnya agar tidak besar.

Saya tanya katanya Mau Den Kauw (mungkin ejaan salah, bahasa Thailand kan susah). Walau pohon membesar, sudah setinggi tiga meter, si Mau tetap belum menunjukkan akan berbuah. Tiap pagi saya dekati mereka, saya ajak bicara, ayo Mau?, berbuahlah, bapak ingin sekali lihat buahmu. Dia tetap diam membisu, cuek, acuh. Katanya pohon harus disayang, dipelihara, diberi pupuk, diajak bicara. Eh, si Mau ini kok ?ndablek? tetap tidak mau berbuah. Sedangkan pohon lainnya yang saya bawa sama-sama si Mau seperti lengkeng, jambu air Thab Tim Can (ejaan mungkin juga salah nij), jeruk sudah pada berbuah, lebat dan manis.

Akhirnya saya merubah strategi, saya pakai cara doa setiap selesai sholat, ?Ya Allah aku mohon ampunanmu, mohon ridhomu, kebesaranmu, kasih sayangmu, aku mohon pohon manggaku si Mau ini berbuah, aku ingin melihat buahnya, aku sudah beberapa tahun aku menunggu, walaupun sebuah ya Allah tunjukkanlah kepadaku, Amin?.

Tahukah pembaca, kira-kira seminggu kemudian, muncul ditiga pucuk, tanda-tanda putik bunga, Alhamdulillah, ternyata doaku dikabulkan Allah. Mulai hari itu semakin intensif pengawasan, bunga saya semprot dengan ?atonic? biar kuat. Ketiganya mulai jadi buah yang sangat kecil. Eh, satu demi satu putiknya berguguran, ternyata yang jadi buah hanya satu. Dengan rasa khawatir, anak Mau kecil tadi terus dipelihara, dan tidak lupa didoakan. Dengan kebesaran Allah maka keturunan Mau yang semata wayang akhirnya besar. Masya Allah pembaca, besarnya seperti pepaya, warnanya hijau, bentuknya seperti mangga biasa manalagi. Proses kematangannya lama sekitar lima bulan, ujungnya kuning sedikit.

Setelah melalui proses diskusi dengan si nenek, maksudnya istri, buah Mau yang hebat tadi dipetik, ditimbang, ada rasa tidak percaya, beratnya Guys, sekilo seperempat. Saya berfoto, juga cucu saya Dewo yang baru berumur 2 tahun. Ukuran besarnya hampir sebesar kepala cucu saya itu.

Kembali diskusi dengan istri, akhirnya si Mau dikupas, warna dagingnya kuning muda, tapi makin kedalam makin kuning. Pada saat dicicipi, bukan main itu mangga rasanya seperti campuran manalagi, indramayu dan ada rasa tepungnya. Belum pernah saya makan mangga seenak itu. Alhamdullilah perjuangan beberapa tahun akhirnya tercapai. Apa pelajaran yang dapat kita petik?. Ternyata apapun keinginan kita, kalau mau memohon dengan tekat dan niat, insyaallah akan dikabulkanNya. Dan kalau doa jangan sampai salah, saya berdoa mohon diberi satu, ya diberi satu. Tapi bukan penyesalan, saya syukuri nikmat yang sudah diberikan Allah itu. Karena biasanya manusia itu suka lupa bersyukur, yang keluar hanya mengeluh saja.

Sekarang si Mau saya tanam dalam drum dipendam ditanah, sudah makin besar. Masih saya ajak bicara, kadang saya marahi, mungkin dia senyum-senyum saja. Dia tidak tahu kalau saya kembali berdoa, kali ini mohon agar si Mau berbuah yang lebat. Nanti kalau berbuah lebat, saya mau juga mengundang pengelola kompasiana, teman-teman blogger di Kompasiana untuk mencicipi, walaupun tidak tahu kapan. Tapi silahkan lho kalau sudah ada yangmau mendaftar dari sekarang?..Syaratnya ya membantu saya berdoa.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2008/11/09/mangga-seberat-sekilo-seperempat/ (Dibaca: 1952 kali)

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.