Buku Tulisan Pray “Misteri MH370” Kini Beredar di Gramedia

5 June 2014 | 5:27 pm | Dilihat : 768

[google-translator]

foto buku

Pray dengan buku "Misteri MH370" (Koleksi Pribadi)

Malaysia Airlines Flight Number MH370 yang hilang sejak 8 Maret 2014 dalam penerbangan rute Kuala Lumpur-Beijing hingga kini belum juga ditemukan. Banyak berita yang beredar, baik yang merupakan spekulasi hingga Hoax yang secara perlahan mulai menghilang. Pada akhirnya pihak Australia menyatakan bahwa pencarian dinyatakan gagal. Badan Pusat Koordinasi Bersama (JACC) Australia, Kamis 29 Mei 2014, menyampaikan secara resmi proses pencarian pesawat MAS MH370 berakhir tanpa  hasil.

Pencarian akhir dengan ditemukannya sebuah sinyal yang diperkirakan dari MH370, ternyata berakhir dengan kegagalan. JACC menyatakan, "Pencarian di lokasi dimana ditemukan sinyal ping dianggap telah selesai dan dalam penilaian profesional. Area itu kini tidak lagi dianggap lokasi keberadaan jatuhnya MH370." Wakil Direktur Teknik Kelautan AL AS, Michael Dean, mengatakan sinyal ping itu berasal dari benda buatan manusia tetapi  tidak terkait dengan MH370.

Sebagai kelanjutannya, akhirnya JACC menyatakan bahwa pencarian akan tetap dilanjutkan selama setahun dengan menggunakan jasa kontraktor swasta. CNN, pada hari Rabu 3 Juni 2014 memberitakan, bahwa waktu pencarian disesuaikan dengan luasnya radius lautan di Samudera Hindia, tempat terakhir diduga jatuhnya MH370 yang diyakini oleh AL Australia. Tenggat waktu juga dicantumkan dalam dokumen tender yang diajukan Australia kepada perusahaan-perusahaan.

JACC juga  mengatakan, perusahaan swasta yang terpilih akan mencari di area seluas 60.000 kilometer persegi. Setiap 25 hari, mereka harus menyisir wilayah seluas 5.000 kilometer persegi. Walau tidak disebutkan, anggaran biaya yang dibutuhkan mencapai sekitar US$60 juta atau setara dengan Rp700 miliar. Yang pasti, kontraktor akan berhadapan dengan  ganasnya kondisi alam.

Samudera Hindia bagian Barat Daya Australia itu dikenal terpencil dan memiliki arus serta ombak ganas. Juga belum pernah di petakan. Faktor inilah yang menjadi penghalang beberapa pencarian sebelumnya. Beberapa titik pencarian diukur sangat jauh dan tidak diketahui dengan pasti  kedalamannya. Dalam dokumen tender, disebutkan perusahaan terpilih nantinya akan melakukan penyelaman hingga kedalaman lebih dari 6.000 meter ke bawah laut.

Dalam kondisi tidak adanya kepastian dimana keberadaan MH370, maka yang posisinya paling merugi adalah Malaysia sebagai operator MAS. Malaysia Airlines di awal bulan ini menyatakan hilangnya pesawat jenis Boeing 777-200 ER itu memberikan dampak yang dramatis dalam pemasukan mereka. MAS kini merasakan berat dan ketatnya persaingan dimana mereka terus  merugi, terhimpit dalam persaingan ketat dengan Air Asia sejak tiga tahun lalu. Sebelum kasus MH370, MAS itu telah mengalami kerugian US$1,3 miliar.

Sementara dalam kwartal pertama  2014, kerugiannya  443 juta Ringgit setara dengan Rp1,5 triliun. Ini merupakan kerugian berturut-turut kali kelima dan menjadi yang terburuk sejak kuartal keempat tahun 2011 lalu. Saat itu, tercatat MAS merugi 1,28 miliar Ringgit atau Rp4,5 triliun.

Dalam kondisi "misteri" menghilangnya MH370, mendadak muncul pernyatan mengejutkan dari mantan PM Malaysia Mahathir Muhamad yang legendaris itu. Mahathir menyatakan bahwa CIA (Badan Intelijen AS) mengetahui keberadaan MH370. Dikatakannya organisasi intelijen itu bekerjasama dengan perusahaan Boeing telah mengambil alih kendali MAS MH370 setelah mengetahui dibajak. Kemudian pesawat diterbangkan dari jarak jauh oleh mereka. Dikatakannya bahwa Boeing telah membuat sistem pengambil alihan kendali pesawat dengan sebuah teknologi. Pernyataan Mahathir sama sekali tidak mendapat tanggapan, tetapi ini penulis nilai sebagai upaya mengendurkan tekanan terhadap Malaysia dengan sebuah isu baru. Keberaniannya patut diacungi jempol, walau dasarnya belum dapat dibuktikan.

Disamping itu kemampuan pertahanan militer Malaysia juga dipertanyakan. Pada pertemuan tahunan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) di Qatar. CEO Emirates,  maskapai Uni Emirat Arab,  Tim Clark menemukan kejanggalan dalam peristiwa hilangnya  MH370. Menurutnya, begitu terdeteksi di radar militer dan pesawat terbang tidak sesuai dengan jalur penerbangan, seharusnya ada jet tempur yang dikerahkan untuk mencari. "Saya tidak tahu di mana peranan radar militer dalam peristiwa ini," katanya.

Sebelumnya militer Malaysia menyatakan bahwa mereka sempat mendeteksi MH370, namun mengaku tidak melakukan tindakan apa pun terhadap pesawat itu, karena dianggap bukan objek yang berbahaya. Sementara Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin  mengatakan  akan meninjau kembali prosedur militer setelah kejadian hilangnya MH370.

Buku "Misteri MH370"

Sejak satu hari setelah MH370 dinyatakan hilang, walau dengan beberapa informasi kejanggalan dalam operasi penerbangan, penulis kemudian menyusun sebuah artikel yang menyatakan kemungkinan terjadinya aksi pembajakan terhadap pesawat MAS MH370. Lebih ekstreem lagi indikasinya telah terjadi aksi terorisme. Kemudian dalam perkembangannya demikian banyak berita yang simpang siur. Mulai dari penjelasan pemerintah Malaysia, hingga mereka yang tidak faham dengan soal penerbanganpun juga ikut berkomentar.

Pencarian dan analisis kasus MH370 terbanyak mengarah kepada standard penerbangan, yaitu SAR (Search and Rescue), terus berupaya  menemukan black box untuk mendapatkan data recorder, baik rekaman komunikasi internal maupun external. Nah, dengan status sebagai pengamat intelijen serta pengalaman penulis dalam mengulas kasus-kasus serta isu keamanan, penulis lebih fokus kearah analisis membedah kasus MH370 dengan pisau intelijen.

Mulailah sejak itu day by day penulis melakukan pulbaket (pengumpulan bahan keterangan), kemudian mengkonfirmasi, melakukan penilaian baik sumber maupun isi informasi dan menjadikannya bahan intelijen. Maka tersusunlah dalam analisis beberapa artikel yang di posting di blog ramalanintelijen.net dan kompasiana.com.

Penulis mengamati dengan pisau besar intelijen strategis, dengan menggunakan sembilan komponen intelijen strategis, mengaitkan dengan situasi dan kondisi (sikon) kaitan pembajakan, terorisme, penyadapan, kasus politik, teknologi penerbangan, karakter airman, kepentingan strategis negara khusus dengan MH370 (Malaysia dan AS). Kemudian penulis menggunakan pisau pengerat berupa intelijen taktis dengan judul the art of possible dan the art of impossible.

Semakin dalam dan semakin banyak informasi intelijen terbuka dapat dikumpulkan, maka semakin menjurus arah serta alur kasus menuju ke sebuah tindakan pembajakan oleh pelaku teror yang siap mati demi sebuah alasan khusus.

Nah, semuanya itu penulis jadikan rangkaian artikel apabila dicermati akan menjadikan sebuah mapping bahwa ada yang bermain di internal Malaysia. Yang pasti pelakunya menjadi lebih menjurus kekesimpulan Captain Pilot itu sendiri.

Ternyata artikel penulis,  mendapat lirikan dari Mas Bas (Budiarto Shambazy) wartawan senior Kompas yang saat ditanyakan oleh bagian promosi Phoenix Publishing (Sadan), kemudian mengarahkan ke penulis tentang bahan MH370. Kemudian tanggal 16 April 2014, pembicaraan pertama penerbitan buku dengan judul "Misteri MH370" terjalin dan proses berjalan lancar. Dalam waktu 1,5 bulan buku telah tercetak dan mulai tersebar di toko buku Gramedia. Alhamdulillah.

Walau dengan beberapa kekurangan serta kesalahan editing, tetapi secara utuh buku hasil karya penulis tertayang juga di toko buku bergengsi itu. Tercatat Mas Budiarto Shambazy, dan Marsekal TNI (pur) Chappy Hakim, mantan Kasau memberi kata pengantar. Juga Marsdya TNI (Pur) Ian Santoso, Mantan Kabais TNI memberi apresiasi di sampul belakang. Penulis ucapkan terima kasih kepada beliau-beliau itu. Juga kepada Mas Sadan dan Mas Mehdy Zidane, redaksi penulis ucapkan terima kasih. Penulis akan mengirimkan kepada Pak Dubes RI di Kuala Lumpur, Marsekal TNI (Pur) Herman Prayitno buku ini, minta tolong barangkali ada penerbit di Malaysia  yang berminat. 

Juga akan penulis sampaikan kepada pakar politik Australia Prof. Harold Crouch yang penulis kenal baik, untuk dibawa ke Australia. Juga barangkali ada penerbit di Cina (Tiongkok) yang mau menerbitkan dalam bahasa Cina. Penulis mengakui bukan buku ini hebat, tetapi penulis mencoba memberi masukan dan informasi balam mencari MH370, ada sudut pandang dari sisi intelijen, khususnya keterkaitan tangan teroris dalam kasus ini. Diakui memang banyak yang masih menampik, tetapi dengan membaca buku Misteri MH370, mudah-mudahan sudut pandang tersebut ada manfaatnya.

Penulis berharap, barangkali buku "Misteri MH370" menjadi buku best seller di blantika perbukuan di Indonesia, khususnya yang pertama di jaringan Gramedia. Salam penulis.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen

www.ramalanintelijen.net
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.