Prediksi Intelijen Putaran Kedua, Ahok-Djarot VS Anies Sandi

17 March 2017 | 8:25 am | Dilihat : 1812

????????????????????????????????

Dua paslon yang akan bersaing di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, Ahok-Djarot VS Anies-Sandi tetap dengan nomor urutnya (Foto :okezone)

Terkait dengan Pilkada putaran kedua, penulis sore ini mendapat pertanyaan dari seorang wartawan Reuter di Indonesia, yang mengaku sebagai pembaca setia artikel penulis di blog ramalanintelijen.net. Dia mengatakan sebagai pembaca tetap website penulis, dengan pernyataannya, "tingkat akurasi analisisnya luar biasa." Kemudian bung wartawan tadi mengajak diskusi, sifatnya lebih meminta pendapat penulis tentang pilkada DKI putaran kedua. Wah, rupanya Reuter tertarik juga dengan gonjang-ganjing di Jakarta .

Baiklah, karena kondisi sedang enak, mood baik, penulis mencoba menyampaikan analisis tentang Pilkada DKI Jakarta yang kemarin sore juga dibahas pada Program Benang Merah TVOne dengan judul "Perang Terbuka Putaran Kedua," live sore tadi dengan host mas Aryo Widyardi yang beberapa kali mengundang penulis sebagai nara sumber di Benang Merah dan juga Telusur.

Kegiatan Pilkada di beberapa daerah di Indonesia ini kalau diibaratkan dari versi militer merupakan sebuah pertempuran dimana perangnya nanti akan dilangsungkan saat pilpres tahun 2019. Nah, untuk peran intelijen yang pas dimainkan dalam sebuah Pilkada adalah kegiatan intelijen taktis, sedang untuk pilpres dibutuhkan ilmu intelijen strategis (intelstrat). Intel taktis, hanya mengukur dari sisi kekuatan, kemampuan dan kerawanan, sedang intelstrat mengukur dari sembilan komponen (Ipoleksisbudmilkam, biografi, demografi dan sejarah).

Penulis hanya akan menganalisis pilkada, karena pilpres baru akan dilaksanakan beberapa tahun lagi. Dari seluruh pilkada serentak pada tahun 2017, maka bintangnya adalah Pilkada di DKI Jakarta, dimana semua parpol dan perhatian public tertuju ke kota Betawi ini. Dari putaran pertama yang dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017, KPU DKI Jakarta pada hari Sabtu (4/3/2017) mengeluarakan surat keputusan nomor 48/KPTS/KPU Prov 010/2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 . Dimana hasil pleno rekapitulasi penghitungan suara , Agus Harimurti Yudhoyono-Sylvina Murni memperoleh 937.955 suara atau 17.07 persen. Pasangan Ahok-Djarot memperoleh 2.364.577 suara atau 42,99 persen dan pasangan Anies-Sandiaga memperoleh suara 2.197.333 atau 39,95 persen.

hasil suara

Hasil Repitulasi suara Pilkada DKI Jakarta Putaran Pertama (Foto :liputan6)

Dari keputusan tersebut, maka yang akan bertanding dan bersaing di putaran kedua adalah pasangan Ahok-Djarot melawan Anies-Sandi dan pencoblosan akan dilaksanakan tanggal 19 April 2017. Penulis mencoba menganalisis putaran kedua dari sudut pandang intelijen. Pilkada adalah kegiatan politik, yang dinilai sebagai implementasi demokrasi, sementara dilain sisi ada kegiatan tertutup sebagai jalur kotor clandestine. Pakem Intel taktis mengukur dari sisi kekuatan, kemampuan dan kerawanan baik diri sendiri maupun lawan.

Kekuatan disini intinya adalah ukuran banyaknya/jumlah parpol pengusung dan pendukung, jaringan konstituen, dukungan dana dan logistik lainnya . Kemampuan lebih kepada seberapa besar kemampuan pasangan serta tim pendukung dan pengusung memengaruhi konstituen dan bersaing soal citra dan kepantasan. Kerawanan lebih kepada titik lemah yang ada pada diri sendiri dan juga lawan, yang apabila di eksploitasi akan menyebabkan kelumpuhan, bahkan kelumpuhan permanen. Ini yang paling berbahaya, karena sebagai contoh, Ahok akan lumpuh total apabila pada saatnya nanti menjadi terpidana, walaupun dia menang dan Djarot sangat berpeluang menggantikannya. Apabila kalah, Ahok disebut sebagai korban dari resiko jabatan, inilah dunia politik yang menggiriskan dan tidak kenal ampun.

Pada putaran pertama penulis mengukur keberhasilan dengan menggunakan hasil survei beberapa lembaga. Dari survey antara 12 Januari-26 Januari, dimana rentang elektabilitas paslon : Agus-Sylvi prosentase elektabilitasnya (22,5-26,8), Ahok-Djarot (25,8-38,2), Anies-Sandi (23,8-28,5). Kemudian hasil survei antara tanggal 28 Januari -9 Februari, prosentase elektabilitas : Agus-Sylvi diantara (20,1- 30,9), Ahok-Djarot (30,7-38,3), Anies-Sandi (29,9-32,6). Nah, dari hasil tersebut penulis menyimpulkan dan menulis artikel, paslon dua dan tiga yang berpeluang maju ke putaran kedua. Kesimpulannya valid.

Pukulan Terhadap Kerawanan

Walau proses pilkada demokratis, tetapi upaya pukulan terhadap kerawanan tetap dimungkinkan berupa operasi tertutup (tujuan tidak eksplisit dinyatakan, pola dan modus terbaca). Kita melihat satu hari sebelum pencoblosan, Pak SBY tanpa sadar dimasukkan ke dalam "killing ground”, dimana mantan Ketua KPK Antasari Azhar (AA) mengeluarkan pernyataan keterlibatan SBY saat menjadi presiden ikut merekayasa masuknya AA dalam penjara. AA bersikeras bahwa itu adalah rekayasa kasus yang terkait dengan penangkapan Aulia Pohan, besan SBY. Antasari menyebut nama SBY dan pengusaha Hary Tanoe sebagai utusannya.

antarsari vs sby

Antasari Azhar berbicara sehari sebelum pencoblosan, itu cluster bomb yang menggerus suara AHY-Sylvy, SBY masuk dalam jebakan killing ground (Foto : infomenia)

"Ada orang malam-malam ke rumah saya. Orang itu, Hary Tanoesoedibjo (HT). Dia diutus Cikeas, siapa orang Cikeas? Dia diminta untuk bilang ke saya tak menahan Aulia Pohan," kata Antasari di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (14/2/2017). Sementara HT menanggapi, "Jawabannya cuma satu ya fitnah kok ditanggapi. Sudah ya. Semua jangan ditanggapi kita kerja produktif," katanya dengan wajah merah dan nada tinggi sambil meninggalkan wartawan di DPP Partai Perindo, Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat, Rabu (15/2/2017).

Itulah penggal hancurnya elektabilitas AHY, disamping hingga 9 Februari rentang elektabilitasnya yang memang sudah dibawah paslon dua dan tiga. Kemudian dari hasil pilkada terlihat AHY -Sylvy hanya berhasil mengumpulkan 17,07 persen, jauh dibawah Ahok-Djarot 42,99 persen dan Anies-Sandi, 39,95 persen. Itulah pukulan kerawanan (titik mati) AHY yang dieksploitasi lawan politiknya. Counter dari conditioning kubu paslon satu tidak tepat, analisis intel taktis mampu menilai reaksi SBY yang over hingga berdampak negative itu yang diharapkan. Pukulan satu hari sebelum pencoblosan tidak member ruang counter yang tepat.

Nah bagaimana dengan putaran kedua terkait dengan kerawanan? Pasangan Ahok-Djarot sejak awal titik rawan (titik matinya) berada pada Ahok yang telah membuat aparat keamanan pusing, termasuk presiden juga pusing dengan digelontorkannya isu agama dalam pilkada. Solidaritas Islam terbentuk dan dikemas dalam isu penistaan agama, sukses dalam pengertian citra Ahok. Tetapi dari data survey, Ahok kemudian tertolong karena memiliki strong voter yang menurut hasil survei Cyrus Network (Eko David), Rabu (11/11/2016) sangat kuat. Dikatakannya, " Sulit melawan loyalis Ahok yang sudah sampai 40 persen," kata David.

Oleh karena itu walaupun Ahok terus dihajar dengan masalah penistaan agama bahkan hingga ke pengadilan yang belum juga usai hingga kini, titik kritis rawannya sudah terlampaui. Terbukti bahwa paslon dua ini mampu maju ke putaran kedua dengan perolehan hampir 42,99 persen. Disinilah strong voter-nya tidak goyah menghadapi gempuran. Pemilih Jakarta adalah mereka yang cukup faham menangkap kinerja Ahok dinilai bagus, serta grass root sangat mendukung bantuan sekolah untuk anak-anak mereka.

PGRI (1)

Salah satu contoh titik rawan Anies tentang Tunjangan Profesi Guru yang salah hitung, hal-hal sensitif dan berbahaya (foto : IndoHeadline)

Nah, bagaimana dengan pasangan Anies-Sandi? Menurut hasil survei hingga 9 Februari 2017, rentang elektabilitasnya antara 29,9-32,6, dan pada pencoblosan pasangan ini mendapat tambahan suara dari konstituen AHY sekitar 7,3 persen hingga menjadi 39,95 persen. Pasangan ini pada putaran pertama dapat dikatakan lebih kepada perilaku damai tidak berkonflik, menunggu durian runtuh. Yang bertempur dari tingkat elit, hingga grass root hanya paslon satu dan dua. Menurut penulis, tim sukses paslon dua lebih suka apabila terjadi dua putaran, memilih berhadapan dengan paslon tiga. Pertimbangannya, pada paslon satu ada tiga parpol koalisi pemerintah (PKB, PAN dan PPP) yang lebih mudah diajak bergabung dibandingkan Gerindra dan PKS. Itulah strateginya.

Berbicara tentang kerawanan dari pasangan Anies-Sandi, titik lemah pasangan ini berada pada Anies Baswedan. Mengapa? Anies adalah mantan Menteri Pendidikan yang kemudian mendadak diberhentikan. Anies menilai pencopotan dirinya lebih karena faktor politis. Lantaran jabatan menteri adalah jabatan politis bukan professional. Dia menyatakan diberhentikan Presiden Jokowi tidak dengan ukuran kinerja profesional tetapi lebih kepada pertimbangan politis. Tim Anies-Sandi sebaiknya waspada, karena ada residu masalah anggaran Negara yang disebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI).

Dia menyatakan pada APBN-P 2016, total dana anggaran tunjangan profesi guru sebesar Rp 69,7 triliun. Namun, setelah ditelusuri, Rp 23,3 triliun merupakan dana yang over budget atau berlebih. Sebab, dana anggaran guru yang tersertifikasi ternyata tidak sebanyak itu. Kasus tersebut terjadi saat Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Hal-hal seperti ini bisa menjadi masalah serius bagi citra Anies, ukuran antara ilmuwan dengan leadership atau kepemimpinan.

Setelah berhenti menjadi menteri memang Anies tidak menjumpai masalah karena tidak ada bukti korupsi, tetapi dalam sebuah pertempuran terakhir di DKI, setitik saja celah titik rawan akan bisa dijadikan isu besar yang menggerus citra. Ini hanyalah sebuah gambaran peningkatan kewaspadaan dan pengamanan intelijen berupa counter. Bukan tidak mungkin ada celah lain yang perlu diwaspadai.

Analisis

Pilkada putaran kedua masih sekitar satu bulan lagi, sementara suasana politik jauh lebih dingin dibandingkan putaran pertama, walaupun sudah memasuki masa kampanye. Nah, pada putaran kedua ini penulis belum memiliki data-data hasil survei, dimana data yang ada adalah dari putaran pertama. Sementara yang jelas akan diperebutkan adalah suara pendukung AHY-Sylvy.

sudut-pandang-djarot-saiful-hidayat_20160405_202435 (1)

Djarot mendapat tugas mencari 10 persen suara konstituen, kalau berhasil bukan tidak mungkin dia berpeluang menjadi DKI-1, begitu? (Foto: Tribunnews)

Kubu Ahok-Djarot nampaknya memainkan Djarot sebagai juru kampanye, sementara Ahok tidak terlalu dimunculkan, lebih fokus menghadapi pengadilan. Apabila melihat modal strong voter Ahok sekitar 40 persen, dan hasil putaran pertama yang 42,99 persen, maka kini tugas Djarot adalah bergerilya mengumpulkan sekitar 10 persen suara apabila pasangan ini ingin menang. Tim sukses ini jelas akan melakukan upaya menarik pulang ke kubunya tiga parpol eks pendukung AHY (PPP, PAN dan PKB), dengan demikian maka peluang pasangan ini berpeluang kuat untuk mencapai hasil diatas 50 persen.

Bagaimana dengan paangan Anies-Sandi, pasangan ini memang menjadi lebih kuat karena pada putaran pertama sebagian kaum Nahdliyin yang kecewa kepada SBY serta para kaum muslim yang tertarik dengan sentuhan solidaritas penistaan agama Islam, lebih memilih bergabung ke Anies-Sandi. Kini tersebar di media social, bahwa para tokoh pendukung Anies-Sandi selain Prabowo, Ketua Umum PKS, juga muncul Ketua Umum Perindo Hary Tanoe (HT) dan juga jelas Habib Riziek. Apakah kemudian pasangan ini menjadi kuat? Menurut penulis, justru masuknya HT bisa berdampak kurang baik. Selain Gerindra sebagai parpol nasionalis, Anies-Sandi selama ini lebih mengesankan sebagai kekuatan kaum muslim, selalu berpeci, Anies yang keturunan Arab banyak mengunjungi tokoh dan ormas Islam.

Menurut penulis kini paslon ini justru membuat blunder, karena HT bisa dijadikan target conditioning lawan politik, pernah terlibat kasus seperti yang dinyatakan oleh Antasari. Ini kemudian akan menjadi masalah tersendiri. Tetapi dengan kekuatan dana serta mungkin dengan pertimbangan memiliki kader simpatisan Perindo, maka HT akan dijadikan ikon. Kita akan lihat dari hasil survey seberapa besar pengaruh masuknya HT. Nampaknya ada kebutuhan dana yang tidak dapat diatasi oleh Prabowo CS, sehingga mengorbankan strategi demi untuk maju. Kesimpulannya kekuatan paslon Anies-Sandi merasa lebih lemah dibandingkan Ahok-Djarot dari sisi logistic.

Melihat perolehan suara Paslon Anies-Sandi pada putaran pertama sebesar 39,95 persen, menurut penulis yang lebih banyak bergerak ke lapisan bawah adalah Sandiaga Uno, karena lebih lama melakukan operasi citra dengan mengorbankan sekian puluh miliar uangnya. Oleh karena itu, tim sukses pasangan ini benar-benar harus waspada apabila terjadi serangan terhadap Anies Baswedan, dan kini Hary Tanoe, maka nasib keduanya bisa seperti AHY-Silvy, bisa-bisa hanya akan tersisa 20 persen saja.

Apakah analisis ini benar? Penulis selalu teringat apa yang dikatakan juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest di era kepemimpinan Presiden Barack Obama menanggapi kritik Obama saat berbeda pendapat dengan Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper. Ia mengatakan, Senin (29/9/2014) bahwa "Analisis Intelijen adalah bisnis yang sulit, dan pada akhirnya, akan menjadi prediksi," katanya. Kemudian terbukti bahwa Direktur tersebut yang purnawirawan AU yang benar prediksinya, yang mengalahkan ISIS di Irak adalah militer Irak yang dilatih AS. Oleh karena itu, analisis intelijen yang penulis buat kini menurut penulis merupakan sebuah prediksi, yang walaupun prediksi,  pada artikel terdahulu prediksi tersebut valid.

Prediksinya, setelah melalui analisis diatas, pasangan Ahok-Djarot sementara ini masih lebih kuat potensi menangnya dibandingkan pasangan Anies-Sandi . Dilain sisi dinamika politik bergerak sangat cepat, karena itu masih memungkinkan dengan kecerdasan serta pengamanan ekstra terhadap citra, pasangan Anies-Sandi untuk menang, waktu masih cukup untuk berbuat sesuatu. Waspadai gempuran penghancuran citra khususnya terhadap Anies, karena titik rawannya terpusat disitu. Semoga bermanfaat. PRAY.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.