Dengan Memiliki Super Flanker Su-35, Indonesia Jelas Makin Disegani

15 February 2016 | 3:18 pm | Dilihat : 2983

su-35

Sukhoi (Su-35) dengan persenjataan penuh (Foto : Siasat.pk)

Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia merasa prihatin dengan jatuhnya sebuah pesawat tempur ringan jenis Super Tucano yang menewaskan dua crew yaitu Mayor Pnb Ivi Safatilah (36) serta Serma Syaiful Arief Rakhman (37). Sebelumnya juga terjadi accident pesawat latih/tempur ringan TNI AU,  T-50i Golden Eagle di Jogjakarta yang juga menewaskan dua penerbangnya.

Jatuhnya dua pesawat tersebut jelas tidak menyurutkan tekad pengabdian para personil TNI AU dalam menjaga serta mempertahankan kedaulatan negara di udara. Permintaan baik para wakil rakyat maupun pimpinan negara untuk dilakukannya evaluasi terhadap kecelakaan jelas telah dan sedang dilakukan oleh para pejabat di TNI AU.

Sementara itu terpetik berita menggembirakan tentang kepastian penambahan kekuatan alutsista TNI AU berupa keputusan pembelian pesawat tempur mutakhir untuk menggantikan pesawat tempur legendaris F-5E TigerII yang habis usia pakainya. Menteri Pertahanan Jendral (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan dirinya pada Maret akan berkunjung ke Rusia untuk menjadi pembicara di Satuan Pertahanan Rusia. Selain itu, kunjungan itu dalam rangka penanda tanganan pembelian 10   pesawat tempur Sukhoi (Su-35).

Ryamizard mengatakan selain membeli, Indonesia dan Rusia juga menjalin kerja sama transfer of knowledge yaitu transfer pengetahuan dengan mengirimkan beberapa anggota TNI untuk sekolah di Rusia. Harapannya, dengan bersekolah di Rusia, mereka bisa menyerap ilmu dan membawa ke Indonesia.

1721553Su-35-cutaway780x390 (1)

Sukhoi Su-35 lengkap dengan senjata yang dapat diangkut (Foto: tekno.kompas)

Pada hari yang sama, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Rusia Nikolai Patrushev berkunjung ke Kantor Menkopolhukam, Selasa (9/2). Sejumlah isu dibahas pada rapat tertutup tersebut, diantaranya isu pertahanan, narkoba serta kerjasama intelijen dalam penanganan  terorisme.  Selain Menko Luhut Panjaitan, juga hadir Ryamizard, Kepala Bakamla, Kepala BNN, Kepala BIN, serta Kabais TNI.

Antara Sukhoi-35 TNI AU dan Daya Gentar

Su-35 diputuskan oleh Kemhan serta instansi terkait untuk menggantikan  pesawat tempur F-5E Tiger II yang telah bertugas selama 33 tahun.  Pemilihan pesawat sebagai kandidat pengganti F-5E TNI AU dimulai dengan menilai berbagai jenis pesawat tempur modern, diantaranya pesawat tempur Sukhoi Su-30 MKI, F-15 SE Silent Eagle, Eurofighter Typhoon, F-16 E/F Block 60/62, Rafale-B, F-18 E/F Super Hornet, Sukhoi SU-35 Flanker dan JAS-39 Gripen NG.

Semuanya adalah pesawat tempur modern generasi terbaru generasi 4.5 yang secara kasar diperkirakan memenuhi kriteria sebagai pesawat tempur strategis TNI AU, baik karakteristik umum pesawat, performance, persenjataan, dan avionics pesawat tersebut. Semuanya melalui analisa mendalam terkait dengan aspek operasi, tehnis dan non tehnis.

alutsista-e1454736101776

Peluru kendali  R-73 Vympel dan KH-31 Krypton yang dapat dipakai oleh jenis SU-27/30 dan juga SU-35BM         (Foto: Jakarta greater)

Kemudian dilakukan perbandingan kemampuan pesawat yang menjadi kandidat pesawat tempur strategis. Semuanya calon diukur, apakah memenuhi kriteria penilaian yaitu, pesawat jenis multi roleminimal generasi 4.5, mampu menjangkau sasaran strategis dengan radius of action jauh, baik sasaran permukaan dan bawah permukaan, mampu melaksanakan misi pertempuran siang dan malam hari segala cuaca, memiliki radar modern dengan jangkauan jauh, mampu melaksanakan network centric warfare, perawatan mudah, peralatan avionic, navigasi dan komunikasi modern yang tersandi, peralatan perang elektronika pasif dan aktif serta memiliki kemampuan meluncurkan senjata konvensional, senjata pintar dan senjata pertempuran udara jarak sedang atau beyond visual range.

Juga dibandingkan kemampuan kandidat dalam hal kecepatan, ketinggian operasional, kemampuan tinggal landas, kemampuan jangkauan radar, kemampuan combat radius of action dan kemampuan agility pesawat (tingkat kelincahan manuver dan kecepatan reaksi pesawat untuk bertindak menyerang dan bertahan terhadap situasi baru tanpa penundaan waktu). Juga dilakukan analisa aspek aeronautic yang meliputi enam katagori yaitu ; usia perawatan air frame, engine, biaya perawatan, biaya operasi, dan perbandingan usia pakai.

Dalam bidang avionic, konfigurasi yang human machine interface, ketersediaan dukungan suku cadang, tingkat kegagalan, publikasi pemeliharaan dan operasional, kehandalan, teknologi, populasi dan kemudahan pemeliharaan. Dari sisi aspek non tehnis meliputi : tinjauan politis terkait kebijakan pemerintah, transfer teknologi, tingkat ekonomis, perbandingan dengan kemampuan pesawat yang berpotensi menjadi calon lawan, perkiraan biaya operasional nyata, kesulitan dan kemudahan pengadaan serta yang terpenting kemampuan menghasilkan efek detterent atau penggentar.

TNI AU mengajukan ke Mabes TNI dan kemudian pembahasan selanjutnya serta keputusan penentuan tentang pesawat yang dipilih masih berada di pihak pemerintah yang diwakili Kementerian Pertahanan.  Dari beberapa jenis pesawat, kini sudah diputuskan pemerintah Indonesia aakan membeli Sukhoi-35BM.

Lockheed_F35_Australia

Pesawat F-35 pesanan Australia (RAAF) saat seremoni rolled out, bersama Chief of Royal Australian Air Force,  Air Marshal Geoff Brown di Lockheed (Foto:Lockheed Martin)

Australia sebagai tetangga terdekat Indonesia jelas kembali akan gundah, walaupun pemerintahnya sudah memutuskan akan membeli pesawat 58 buah pesawat tempur canggih  F-35 JSF (Joint Strike Fighter).  Kegundahan Australia terlihat dari pernyataan the Business Spectator di Australia yang pernah menyatakan, "Indonesia merencanakan akan membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia/India yaitu  Su-35S atau selanjutnya PAK-FA T-50. Jadi pertanyaannya lebih baik (Australia) memilih F-35 daripada Hornet. Apabila Indonesia kemudian dimasa depan ikut memperkuat Angkatan Udaranya dengan SU-35 atau T-50, maka AU Australia akan menjumpai masalah besar, demikian kesimpulannya.

Lebih jauh analis Bisnis Spectator menyatakan, "Sebagai contoh, F-35 JSF (Joint Srike Fighter) dapat beroperasi secara efektif hanya untuk ketinggian maksimal sekitar 40.000 kaki (walau masih bisa beroperasi lebih tinggi tetapi kalah di tingkat yang lebih tinggi). Sebaliknya, Sukhoi dapat beroperasi pada kapasitas penuh di tingkat yang jauh lebih tinggi dan dengan kelebihan dan keuntungan, mereka memiliki sistem dan senjata yang bisa meruntuhkan sebuah JSF Australia sebelum mereka (RAAF) memiliki kesempatan menerapkan slogannya (first look, first shoot, first kill’). Ditegaskan oleh BS bahwa tidak ada pertempuran udara yang diperlukan. Pesawat Australia sudah runtuh sebelum bertempur, karena disergap jauh sebelum dia menyadarinya.

Sukhoi dinilai jauh lebih unggul dibandingkan F-35 JSF. Sukhoi-35 memiliki jangkauan efektif sekitar 4.000 km dibandingkan dengan hanya 2.200 km untuk F-35. Ini berarti JSF membutuhkan dukungan pesawat tanker untuk menutup ruang (wilayah Australia) yang lebarnya 4.000km. Selain itu, kecepatan Su-35 adalah Mach 2,4 (hampir dua setengah kali kecepatan suara), sedangkan F-35 terbatas pada Mach 1.6. Menurut Victor M. Chepkin, wakil direktur umum NPO Saturn, mesin AL-41f yang baru akan memungkinkan jet Rusia untuk supercruise (terbang pada kecepatan supersonik untuk jarak jauh.) Dengan tidak harus beralih ke afterburner. Dengan demikian, pesawat dapat mengirit bahan bakarnya. Kesimpulannya baik F-35 maupun F-18 performance-nya berada dibawah SU-35.

RSAF (AU Singapura) juga memutuskan akan membeli pesawat tempur buatan AS yang sama (F-35). Mengenai jumlah Su-35 TNI AU yang tidak genap satu skadron, jelas pemerintah kini realistis menyesuaikan dengan kemampuan keuangan negara. Selain itu kepemilikan Su-35 yang baru tidak akan menyulitkan baik penerbang maupun tehnisi TNI AU yang sudah terlatih dengan pesawat tempur Sukhoi 27 dan 30.

sukhoi 2

Dengan penambahan Su-35, maka komposisi Sukhoi-27, serta Sukhoi-30 akan semakin menggiriskan negara lain (Foto : triasutisna)

Pemilihan Su-35 sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu, akan dimilikinya pesawat berkemampuan multirole combat aircraft atau air superiority. Pertimbangan kedua jelas pertimbangan dari sisi commonality/penyederhanaan, yang dimaksud, pesawat baru sebaiknya tidak terlalu jauh dalam transfer teknologi dikaitkan dengan keberadaan pesawat tempur yang sudah dimiliki. Disinilah nilai tambah Sukhoi-35BM.

Penulis yakin kekurangan enam pesawat Su-35 menjadi penuh satu skadron hanyalah menunggu waktu. Nah, kini dengan keputusan dimana TNI AU akan mendapat perkuatan 10 pesawat Su-35, maka Indonesia semakin memiliki daya gentar penyergap udara yang menggiriskan sertra menjadi negara yang sangat disegani tetangganya. Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Australia akan Membeli 58 Pesawat Tempur F-35 Joint Strike Fighters,  http://ramalanintelijen.net/?p=8319

-Australia makin Gundah dengan Modernisasi Alutsista TNI AU, http://ramalanintelijen.net/?p=6833

This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.