Korsel meninjau ulang Proyek KFX (Fighter) dengan Indonesia

26 December 2012 | 12:58 pm | Dilihat : 5809

Memiliki sebuah pesawat tempur canggih terkemuka pada suatu jaman merupakan kebutuhan sebuah Angkatan Udara dalam mempertahankan kedaulatan negara di Udara. Indonesia kini memiliki pesawat tempur Sukhoi 27SKM dan Sukhoi 30-MK2 yang cukup bergengsi dan jelas disegani di negara tetangga. Walaupun masih termasuk pesawat tempur generasi empat, Sukhoi TNI AU dalam latihan bersama bersama lima negara lainnya (AS, Australia, New Zealand, Singapura dan Thailand)  di Tindale (Pitch Black 2012), pada bulan Juli 2012 lalu mampu menaklukkan F/A-18F Super Hornet, RAAF, khususnya dalam tehnologi radar dan persenjataan.

Dalam dua tahun terakhir, pemerintah Indonesia semakin menyadari bahwa memiliki kekuatan pertahanan yang setara dengan negara tetangga adalah sebuah diplomasi ampuh agar tidak dipandang sebelah mata. Upaya untuk mencapai kekuatan pokok minimum MEF (Minimum Essential Force) pertahanan masih menjadi fokus kebijakan pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI ke depan. Dalam membangun kekuatan udara yang lebih maju, Indonesia sudah menandatangani kerjasama dengan Korea Selatan, berpartisipasi membangun pesawat tempur generasi 4,5 KFX/IFX(Korean-Indonesian Fighter Xperimental), Boramae, yang dalam rencana awalnya TNI AU akan memiliki sebanyak 50 buah pada tahun 2020.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyampaikan, bahwa  kekuatan pertahanan dikatakan cukup bila mampu mengemban tugas-tugas operasional yang sedang dan akan diemban di masa depan, serta setiap saat dapat dikembangkan bila diperlukan. ”Tidak berlebihan di tengah keterbatasan anggaran dan tidak ketinggalan di tengah kemajuan teknologi militer, sehingga disegani oleh kawan atau lawan,” katanya.

Presiden SBY sudah berkomitmen untuk mengucurkan dana Rp156 triliun hingga 2014 di luar pos APBN. Program MEF masih tetap berjalan sesuai pada perencanaan strategis 2024, sekalipun ada beberapa percepatan pengadaan. Daftar belanja tahun 2013 baru akan diumumkan setelah rapat pimpinan Kemhan denganTNI pada Januari mendatang. Untuk periode 2012 hingga 2014, sebagian besar daftar belanja alutsista sudah disetujui DPR, hanya tinggal menentukan pemilihan spesifikasi yang lebih teknis.

 

Kebutuhan Pespur Modern dan Program KFX/IFX

 

Sistem pertahanan udara adalah sebuah gabungan antara radar, peluru kendali, pesawat tempur sergap, dan meriam. Gabungan pertahanan yang saling berkaitan (terintegrasi) akan menghambat dan menggagalkan niat pesawat penyerang musuh melakukan serangan kejantung negara. Perkembangan tehnologi pada masa kini khususnya pesawat tempur berada pada generasi keempat hingga lima. Yang terus dikembangkan adalah kemampuan dari radar pesawat tempur (pespur) serta jarak jangkau serta akurasi  peluru kendali  yang dibawanya.

Dalam pertempuran udara, faktor paling dominan yang kelihatannya akan mengakhiri taktik pertempuran udara jarak dekat adalah kemajuan tehnologi radar dan  rudal.   Dengan jarak jangkau yang semakin jauh dan akurasi perkenaan yang hampir 100 %, akan sangat sulit bagi pesawat musuh untuk lolos dari sergapan.

Pada latihan bersama Pitch Black 2012, pemerintah Australia, khususnya RAAF merasakan kegundahan dan keterkejutan, dimana Su-30 TNI AU ternyata lebih unggul dibandingkan F-18F Super Hornet hampir disemua lini. Pengamat militer di Australia mengatakan Jika Flanker (Sukhoi) dibandingkan Super Hornet, tampak jelas kehebatan dari firepower, kecepatan, jarak tempuh, dan performa manuver pesawat dimiliki oleh Sukhoi. Dengan dukungan C-130 tanker, kemampuan air refuelling (pengisian bahan bakar di udara), Sukhoi 27/30 mampu menempuh jarak jelajah hingga 5.400 km.

Dalam melihat kebutuhan pertahanan udara jangka panjang, Indonesia kemudian bekerjasama dengan Korea Selatan dalam upaya membangun pesawat tempur generasi 4,5 yaitu KFX/IFX(Boramae). Sekjen Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Erris Heriyanto, mengatakan kesepakatan pengembangan bersama pesawat tempur KFX disepakati pada 15 Juli 2010 di Seoul, Korsel. Pesawat jet tempur KFX sendiri sebetulnya merupakan proyek lama Republic of Korea Air Force (ROKAF) yang baru bisa terlaksana sekarang.  Proyek ini digagas Presiden Korea, Kim Dae Jung, pada bulan Maret 2001 untuk menggantikan pesawat-pesawat yang lebih tua, seperti F-4D/E Phantom II dan F-5- E/F milik Korea Selatan. KFX diproyeksikan memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistem avionic yang lebih baik, serta kemampuan antiradar.

Dalam perjalanannya, diberitakan bahwa pemerintah Korea akan memotong anggaran pengembangan KFX untuk tahun 2013 atas pertimbangan perkembangan ancaman dan keamanan regional. Selain itu pembatalan keikutsertaan Turki dalam proyek ini, dimana Korea Selatan merasa keberatan apabila harus menanggung biaya yang 80 persen. Di lain pihak, Korsel juga menghitung China dan Jepang telah sama-sama membuat jet tempur generasi ke-5. Pemerintah Korsel kini menjadi lebih tertarik pada pesawat tempur setingkat yang telah lama ditawarkan perusahaan Boeing,  yakni F-15 Silent Eagle. Pengalihan perhatian ini dikuatirkan akan menyedot anggaran yang tak kecil dan akan mengganggu proyek KFX/IFX yang sedang berjalan. Korsel kini membutuhkan segera sekitar 60 pesawat tempur modern dengan teknologi stealth.

Perkembangan terakhir dengan rencana pembatasan anggaran dari parlemen Korea Selatan, memang belum ditanggapi pejabat terkait. Belum ada pembicaraan lanjutan, kecuali yang disampaikan oleh Kabalitbang Kemenhan Prof. Dr. Eddy S. Siradj dalam Lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI yang berlangsung Kamis (20/12) di Gedung BPPT, Jakarta. Dikatakannya, “Ya itu, memang masalah itu pula yang tengah merundung teman-teman enginer KFX/IFX di sana. Kini di Korea, untuk penggarapan proyek ini, ada 140 engenir, 30 persen di antaranya dari Indonesia. Mereka masih sama-sama menunggu keputusan yang akan dibuat Parlemen Korea. Keputusan itu belum ada karena Korea baru akan membentuk parlemen yang baru usai terpilihnya Park Geun-hye sebagai presiden belum lama ini. Kini, kelangsungan KFX/IFX memang praktis tergantung pada situasi politik di sana,” katanya.

 

Kebijakan Realistis Pengadaan Pespur Jangka Panjang

 

Sekjen Kemenhan, Marsdya Eris Haryanto menyatakan bahwa Indonesia tidak akan lagi membeli jet tempur Sukhoi dari Rusia, fokus kedepan hanya untuk F-16 dari AS. TNI AU saat ini memiliki 10 unit Sukhoi yang terdiri dari Su-30 dan Su-27 dengan enam Sukhoi tambahan yang saat ini tengah dalam proses. Anggaran modernisasi alutsista TNI untuk saat ini khusus untuk pesawat adalah untuk mempercepat perbaikan dari armada 15 pesawat Hercules C-130 Lockheed Martin, serta membeli empat Hercules C-130HS dari Australia dan meng-upgrade mereka, dan membeli lebih banyak pesawat CN-295 dari PT DI.

Dikatakannya TNI tengah menunggu kiriman 24 jet tempur F-16 dari Amerika Serikat. TNI AU  akan memiliki pesawat tempur yang setidaknya cukup untuk persediaan 20 tahun ke depan. "Dan itu berarti kami telah memiliki cukup Sukhoi untuk saat ini," katanya. "Indonesia juga menanamkan investasi dalam program K-FX bersama Korea Selatan, yang nantinya akan menghasilkan jet fighter yang ditujukan untuk menggantikan pesawat seperti (Northrop) F-5 dan F-16. Kami akan membeli jet tempur fighter KFX sebanyak 3 skadron, masing-masing 16-22 pesawat. Itu akan memenuhi program jangka panjang,"demikian ditegaskan oleh Sekjen Kemenhan.

Pemerintah Indonesia nampaknya perlu segera mengantisipasi kemungkinan gagal ataupun terundanya proyek KFX/IFX tersebut. Kini TNI AU sudah dilengkapi dengan pesawat tempur yang mampu menggentarkan negara-negara tetangga terutana Australia. Untuk waktu mendatang, Australia sudah memesan pesawat tempur canggih F-35 Lightning-II yang berkemampuan stealth (anti radar), walaupun dikabarkan pemesanan mundur dua tahun. Indonesia paling tidak memilih pesawat tempur generasi 4,5 sekelas KFX untuk jangka panjang, salah satu pilihan terrealistis adalah Sukhoi-35. Kini kita lihat perbandingan Sukhoi (Flanker Family).

Sukhoi Su-27 (kode NATO: Flanker) adalah pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat (yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet). Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 mirip.  Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat.

Indonesia (TNI-AU) mulai menggunakan keluarga Sukhoi-27 pada tahun 2003 setelah batalnya kontrak pembelian 12 unit Su-30MKI pada 1996. Kontrak tahun 2003 mencakup pembelian 2 unit Sukhoi-27SK dan 2 unit Sukhoi-30MK senilai 192 juta dolar AS tanpa paket senjata. Empat tahun kemudian pada acara MAKS 2007 di Moskow Departemen Pertahanan mengumumkan kontrak unruk pembelian 3 unit Sukhoi-27SKM dan 3 unit Sukhoi-30MK2 senilai 350 juta dolar AS. Kini TNI AU sudah memiliki 10 Sukhoi dan masih menunggu pesanan enam pesawat lagi hingga lengkap satu skadron.

Sukhoi Su-30 (kode NATO: Flanker-C) adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multi-peran, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15E Strike Eagle Amerika Serikat.  Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KNAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KNAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada China. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK seperti yang dimiliki Indonesia buatan Irkut. Antara lain Su-30MKI, yang merupakan pesawat yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Udara India, serta MKM untuk Malaysia dan MKA untuk Aljazair.

Pesawat Sukhoi Su-30MKM milik Malaysia dibuat oleh IAPO, seperti yang dipesan India. Terdapat perbedaan antara pesawat Sukhoi Su-30MKI dan Su-30MKM yang sama-sama diproduksi oleh IAPO. Perbedaan itu terletak pada sistem avioniknya di mana India menggunakan sistem avionik buatan Israel dan Perancis, sementara Malaysia menggunakan sistem avionik buatan Perancis dan Afrika Selatan. Kolonel Penerbang Rusia (pensiun) Grigoriy "Grisha" Medved yang suka menulis di situs Air Power Australia memuji kualitas sistem avionik buatan Israel, sementara Malaysia rupanya demikian alergi untuk menggunakan produk-produk Israel (Felino's Site).

Sukhoi Su-35 (kode NATO: Flanker-E) adalah pesawat tempur multiperan, kelas berat, berjelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal asal Rusia. Pesawat ini dikembangkan dari Su-27, dan awalnya diberi nama Su-27M. Pesawat ini sendiri merupakan seri flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5.

Su-35 yang dimodernisasi akan menjadi desain antara hingga Sukhoi PAK FA generasi kelima dapat digunakan. Su-35 yang dimodernisasi disebut "Su-35BM" (Bolshaya Modernizatsiya /Modernisasi Besar) oleh beberapa sumber, tetapi Sukhoi menyebut pesawat ini hanya sebagai "Su-35". Su-35 yang dimodernisasi ini dianggap sebagai generasi 4++ oleh Sukhoi. Pesawat ini diperlengkapi oleh banyak perbaruan pada sistem kelistrikan dan avionik, termasuk fly-by-wire digital dan sebuah radar untuk mendeteksi sinyal dari belakang untuk menembakkan peluru kendali SARH.

SU-35 dilengkapi dengan radar Tikhomirov NIIP Irbis-E ESA (turunan BARS radar) yang mampu menjejak 30 sasaran terpisah dalam keadaan tetap mempertahankan pelacakan dari udara secara terus menerus (track-while-scan mode). Su-35 seperti keluarga flanker, lebih dipersiapkan untuk pertempuran diluar batas pandang (BVR – Beyond Visual Range) dengan adanya peningkatan kemampuan jarak jelajah dan ketahanan terhadap gangguan ECM (Electronics Counter Measures).

Su-35 menggunakan mesin 117S yang baru dengan pipa-pipa vektor pendorong yang selalu berputar (3D thrust vectoring) yang mampu membuat manuver pagutan cobra apabila terlibat dalam dog fight. Pada bulan Juli 2008, Rusia telah menawarkan Su-35 untuk dijual kepada India, Malaysia, dan Aljazair.

Kelebihan Flanker Family dapat dilengkapi dengan misil Ramjet Vympel R-77M1 (kode NATO: AA-12 Adder) dengan jangkauan 175 km. Jangkauannya melebihi jangkauan misil buatan AS AIM-120D AMRAAM yang hanya 165 km (data ini masih perlu diuji kebenarannya dimasa depan), dimana karena misil AIM-120C AMRAAM yang ada sekarang ini hanya memiliki jangkauan 105 km.

 

Penutup

 

Cepat atau lambat, pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan dan TNI harus memutuskan, melanjutkan proyek KFX/IFX dengan kemungkinan tertunda pelaksanaannya atau memutuskan segera mengalihkan anggaran yang tersedia untuk pengadaan alutsista (alat utama sistem senjata) khususnya pesawat tempur terbaru.

Beberapa pengamat militer menyatakan sulit apabila mengandalkan produsen pesawat terbang yang belum berpengalaman seperti Korea Selatan dalam membangun pesawat tempur sekelas generasi 4,5. Kemampuan tehnis  para ahli pembuat pesawat di Korea Selatan diperkirakan hanya berkisar 63 persen, sisanya jelas mengadopsi dari produsen pabrik lainnya. Kini nampaknya perlu bagi Indonesia untuk mulai menimbang pesawat lain sekelas KFX yaitu generasi 4,5. Pilihan paling realistis adalah Sukhoi-35, yang tidak terlalu rumit dalam pemeliharaan, karena TNI AU sudah memiliki keluarga flanker pendahulunya. Dengan Su-35 maka kemampuan Indonesia akan sejajar dengan Malaysia dan masih berimbang dan bahkan lebih unggul  apabila Australia juga memiliki F-35.

Paling tidak, kita boleh berbangga kepada pimpinan nasional dan Kasau yang sudah berani mengirimkan Sukhoi dalam mengikuti latihan Pitch Black 2012, Indonesia tidak akan dipandang sebagai negara lemah. Sukhoi yang diterbangkan para penerbang muda TNI AU telah menjawabnya. Bravo TNI AU, Swa Bhuwana Paksa.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

 

Share
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.