Antara Penulis dan Pesawat Tempur Sergap MIG-21 Fishbed

26 December 2012 | 10:20 pm | Dilihat : 4768

Penulis sejak berusia tiga bulan tinggal di Kemayoran, sangat dekat dengan lapangan terbang Kemayoran. Pada usia sekitar 15 tahun penulis pada saat senggang menuju ke daerah sekitar landasan Kemayoran untuk melihat pesawat-pesawat tempur AURI yang tinggal landas dan mendarat. Bertapa hebat perasaan hati yang ikut bergemuruh seperti gemuruh mesin jet MIG buatan Uni Soviet itu.  Karena demikian sukanya hingga penulis hafal, mana yang MIG-15, 17, 19 dan MIG-21.

Mimpi yang kemudian membentuk cita-cita, aku ingin duduk didalam cockpit MIG-21 (yang terhebat di keluarga MIG). Semangat sekolah terus dibayangi keinginan menjadi tentara AURI, penerbang handal. Waktu terus berjalan, hingga pada tahun 1967 penulis diterima menjadi Taruna Akabri Udara. Setelah menjalani pendidikan selama setahun bersama-sama taruna Angkatan Darat, Laut dan Kepolisian, penulis dengan pangkat Sersan taruna pindah ke Lapangan Maguwo, untuk melanjutkan pendidikan di Akabri Bagian Udara selama tiga tahun.

Pada tingkat dua penulis mengikuti pendidikan sekolah para (penerjun) di Margahayu Bandung dan pada tingkat tiga mengikuti pendidikan Introduction Latihan Komando (Inlatko) selama sebulan. Pendidikan dasar Komando demikian berat dalam sebulan berat badan terkuras 11 kilo, terus mengalami siksaan dan tekanan psikologis dari para pelatih Kopasgat (Paskhas AU). Saat itu penulis mengalami kecelakaan mengalami luka pecahan batu didekat mata karena ditembak pelatih. Selain itu, hidung sempat mengalami luka memar karena mendapat pukulan popor senjata dari pelatih. Alhamdulillah neraka itu berlalu sudah.

Pada tingkat empat, penulis dan teman satu angkatan (Akabri nomor akademi 670) mengikuti tes penerbang. Ternyata penulis dinyatakan tidak lulus karena tekanan saluran udara hidung kiri dan kanan tidak sama, mungkin karena pernah dipopor pelatih. Dengan rasa sedih dan putus asa, pada saat cuti kerumah, penulis bertemu Ayah dan pernah menyatakan hilang semangat karena tidak menjadi penerbang. Cita-cita menjadi penerbang MIG pupus sudah.

Ayah hanya mengatakan, bahwa hidup itu sudah ada takdirnya, suatu yang buruk belum tentu buruk, pasti ada hikmahnya. Sudah dilanjutkan saja pendidikan Akabri, berbuat yang terbaik, jujur dan selalu bersemangat dalam menjalankan tugas negara, pilihan menjadi tentara sudah diambil, sekali kita sudah dalam perahu, jangan hanya karena ada ombak lantas kita loncat, bertahan dan dayung perahu menuju arah tujuan, itu pesan ayah (almarhum).

Penulis kembali ke pendidikan, dan banyak membaca dan mendengar kisah tentang kehebatan para penerbang tempur AURI. Pada waktu bersamaan, yang menjadi Gubernur Akabri Udara adalah Marsda TNI Roesman (adik Marsekal Rusmin Nuryadin,Alm) yang merupakan penerbang MIG-21. Juga Komandan Taruna dari penulis adalah Letkol Pnb Jahman yang juga penerbang tempur MIG-21. Penulis sering mendengar kisah heroik beliau dan membaca kisah pada saat operasi udara.

Pesawat MIG-21 adalah pesawat tempur buatan Uni Soviet, dimana NATO memberi nama sandi Fisbed C yang merupakan pesawat tempur sergap paling ditakuti negara-negara Barat waktu itu. Pak Jahman menuturkan, Ketika Presiden Soekarno menyatakan perang terbuka dengan Belanda awal tahun 1960, semua unsur kekuatan disiagakan. Di Morotai AURI sudah menyiagakan sekitar 24 pesawat tempur MIG-17, sementara MIG-21 disiagakan di Lanud Iswahyudi Madiun.

Menurut Marsda (Pur) Jahman, Indonesia membeli MiG-21 sebagai tindakan bela diri andaikata Belanda mendatangkan pesawat-pesawat yang lebih modern. Ketika kampanye Trikora dicanangkan, AU Belanda memiliki satu skadron pesawat Hawker Hunter F.6 buatan Inggris tahun 1954. Disejajarkan dengan MiG-21, pesawat ini jelas bukan tandingan. Kecepatan maksimumnya hanya 1.117 km/jam, daya capai ketinggian 14.325 meter dengan jangkauan 690 kilometer. Kalau terbang rendah, pemakaian bahan bakarnya akan bertambah boros. Sementara MiG-21, dengan kecepatan Mach-2,1 mampu mencegat pembom pada ketinggian 20 kilometer pada jarak 1.800 kilometer. USAF (Angkatan Udara AS) saat itu saja masih ragu dengan kemampuan pesawat tempurnya F-4E Phantom yang sudah di modifikasi apabila dihadapkan dengan MIG-21.

Pada awalnya, AURI menyiapkan beberapa penerbang untuk mengikuti pendidikan, pertama di Rusia, dimana dikirimkan Kapten Udara Sukardi, Letnan Udara I Jahman, Letnan Udara II Igon Suganda, dan Letnan Udara II Mundung dua penerbang terakhir di-grounded setibanya di Rusia. Mundung didera sakit, sedangkan Suganda terlalu kecil. Pressure suit nomor kecilpun, masih terlalu besar untuknya. Karena itu kemudian diganti dengan Letnan Udara I Sobirin Misbach dan Letnan Udara I Saputro.

Sementara pendidikan di dalam negeri, Mayor Udara Roesman ditunjuk Komodor Udara Leo Wattimena untuk mendapatkan pelatihan langsung dari instruktur yang sengaja didatangkan dari Rusia. “Jadi kita dilatih hampir bersamaan. Hanya beda tempat,” tutur Marsda (Pur) Roesman.

Setibanya di Indonesia, pesawat MiG-21 langsung dirakit. Para teknisi Rusia segera membimbing teknisi Indonesia. Roesman pun mulai mempersiapkan diri. Perang yang tidak ketahuan kapan akan berkecamuk di Papua Barat, terpaksa ditinggalkannya. Rencananya, tentu Roesman akan dikembalikan ke medan perang seandainya Belanda benar-benar serius untuk perang.

Disamping perwira senior di skadron fighter, Roesman juga menjabat perwira operasi Skadron Udara 11 DH-115 Vampire, jet latih pertama Indonesia. Tak salah, melihat keseniorannya, Leo mempercayainya sebagai orang pertama yang menerbangkan MiG-21 di dalam negeri. Kebetulan, Leo juga harus ke luar negeri. Roesman tidak terlalu kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan MiG-21, mengingat ratusan jam terbang sudah dikantonginya dari MiG-15 dan MiG-17. “Pada dasarnya tidak jauh beda dengan MiG-17,” kata Roesman perihal pesawat bersayap delta ini.

Program kilat dimulai. Buku manual MiG-21 dilahapnya, para instruktur Rusia dengan tekun menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Pesawat rampung dirakit teknisi dan dinyatakan ready to fly. Tibalah Roesman pada saat yang menentukan, yaitu menerbangkan pesawat yang disebut sebagai roket terbang di hadapan beberapa pejabat penting yang, katanya, mau hadir. “Secara teoritis saya sudah paham,” aku Roesman, walaupun diakui dia harus memberi label bahasa Inggris, karena semua dalam bahasa Rusia.

Pada bulan Juli 1962 dilakukan penerbangan perdana oleh Mayor Roesman, yang disaksikan KSAU Laksamana Suryadarma. Di ujung landasan, gemuruh mesin jet berdaya dorong 5.950 kilogram meninggi. Itulah tenaga penuh karya spektakuler biro disain Mikoyan-Gurevich. Roesman mencelat meninggalkan tanah, menanjak, meninggalkan hadirin dengan tepuk tangannya yang riuh rendah. Menurut rute yang di-plot, pesawat akan belok ke kiri. Roesman menyentakkan tangkai kemudi (handle) ke kiri. Astaga, dia kaget, pesawat melintir kencang. Tak dikiranya akan begitu sensitif. Tapi kesadarannya cepat muncul. “Ya sudah, saya putar saja sekalian sampai empat kali,” katanya tertawa. Setelah mendarat, didapatinya ucapan selamat dan decak kagum. Hadirin takjub melihat Roesman yang sanggup membuat roll sampai beberapa kali. “Mereka nggak tahu kagetnya saya.”

Beberapa hari kemudian, jelas Roesman, Skadron 14 berkekuatan 20 MiG-21 yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, Madiun, diresmikan KSAU di Bandara Kemayoran. Roesman langsung ditunjuk sebagai komandan. Sebelumnya sudah diresmikan Skadron 11 MiG-15/17. Sedangkan Skadron 12 MiG-19, justru dibentuk belakangan. Kemudian dibentuk pula Wing 300, induk skadron-skadron tempur yang bermarkas di Kemayoran. Roesman ditunjuk sebagai komandan Wing 300 dari tahun 1963 sampai 1966. Skadron 14 setelah MIG-21 tidak terbang selanjutnya digantikan oleh pesawat F-86 Sabre dan kini skadron 14 dihuni pesawat F-5E Tiger.

MIG-21 dikenal sebagai roket terbang, dimana dengan kecepatannya yang tinggi, pesawat ini diunggulkan Soviet untuk menahan laju pembom B-52 Stratofortress AU AS yang kecepatannya mendekati Mach-1. Bagi Indonesia hampir serupa. Menahan ancaman pembom negara-negara musuh menjadi tugas utama MiG-21. “Kita harus sanggup mengintersep pada titik dimana mereka bisa merilis bom,” jelas Jahman, mantan Danlanud Iswahyudi itu.

Ketika konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan kampanye Dwikora, Indonesia menyiagakan pembom Tu-16 dan MiG-21. Karena jangkauannya yang kecil, pesawat harus ditempatkan di Palembang dan Medan. Selama pengabdiannya di AURI, memang tidak ada pengalaman perang udara hebat yang ditinggalkan MiG-21 bagi generasi berikutnya. Selama Dwikorapun, hanya beberapa kali berpapasan dengan pesawat Hawker Hunter atau HS Buccaneer Inggris saat mengawal Tu-16. Tetapi paling tidak saat itu Indonesia mempunyai deterrent power yang sangat besar.

Leo Wattimena sendiri memang tidak menghendaki adanya duel udara di antara kedua belah pihak. “Kecuali ditembak,” perintah Leo. Namun begitu, dua rudal K-13A atau NATO menyebutnya AA-2 Atoll dan kanon 30 mm, tetap disiagakan. Biarpun dilarang bertindak provokasi, ada saja beberapa penerbang yang berbuat iseng. Maksudnya hanya ingin melihat dan menguji  kesiapan radar lawan.

Dengan airborne dari Medan, pesawat terbang low level menyusuri selat Malaka. Begitu menjelang perbatasan, tower akan berteriak memberitahu ada pesawat naik dari Butterworth. “Kita langsung pull up, kabur,” jelas Jahman yang menjabat komandan Skadron 14 setelah Roesman. Saat pesawat Inggris tiba di perbatasan, MiG-21 AURI sudah terbang jauh. “Kita (MiG-21) memang tidak pernah perang. Sebagai pencegat, kita hanya menunggu lawan yang tidak pernah jelas. Itulah tugas kita, menunggu dan menunggu,” tutur Jahman yang menerbangkan MiG-21 nomor 2164, sementara Pak Roesman dengan tail number 2160.

Bagi Roesman maupun Jahman, agak kelam nasib MiG-21 pasca “pemberontakan yang gagal” oleh komunis Indonesia. Kedua penerbang MiG generasi pertama ini, kurang begitu tahu apakah betul MiG-21 di jual. Lain halnya dengan MiG-19. “Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,” aku Rusman. Soal pembelian MiG-19, ditambahkan Jahman, terpaksa dibeli Indonesia ulah politik dagang Rusia. Soalnya, sepengetahuan Jahman, Rusia hanya bersedia melepas MiG-21 asalkan MiG-19-nya juga dibeli. Keduanya juga tidak mengetahui dikamanakan MIG-21 setelah tidak diterbangkan.

Tetapi paling tidak ada sebuah kisah dimana jaman keemasan TNI AU (AURI) yang pernah memiliki pesawat tempur terhandal dan sangat ditakuti pada jamannya. Yang patut kita puji adalah kemampuan diplomasi pemerintah karena di masa sulit mampu mendatangkan pesawat-pesawat tempur dan pembom terbaik di dunia. Walau penulis tidak berhasil menjadi penerbang MIG-21, pengabdian selama 33 tahun di TNI AU penulis syukuri karena pernah mengabdikan diri dalam melaksanakan tugas dan peran dibidang intelijen udara sebagai dasar bagi Angkatan Udara sebelum melaksanakan sebuah operasi udara.

Penulis bersyukur dan terus mengingat petuah ayahanda tercinta, bahwa memang manusia harus percaya kepada takdirnya. Walau cita-cita menjadi penerbang tidak tercapai, Allah menganugerahi penulis pangkat dan jabatan yang tinggi, dan hingga kini di usia senja masih bisa terus mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Indonesia, aku mencintaimu, aku selalu rela mengorbankan jiwa ragaku untukmu.

Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Sumber : angkasa-online, gambar ; indomiliter.com

This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.