Dislokasi Pesawat Intai RQ-4 Global Hawk di Cocos Island

7 May 2012 | 12:14 pm | Dilihat : 1961

 

 

Perkembangan Situasi Kawasan Laut China Selatan

 

Sebagai kelanjutan pertemuan antara Presiden AS,  Barack Obama dengan PM Australia, Julia Gillard pada bulan Desember 2011, tentang rencana penempatan 2.500 Marinir AS di Darwin, yang akan melakukan latihan di Australian Defence Force Bradshaw dan pusat latihan di Gunung Bundy, Northern Territory. Selain itu, ekspansi besar lainnya adalah rencana penggunaan Pulau Karang (Atol) Cocos Island untuk dislokasi pesawat intai tak berawak (UAV) AS.

Rencana pembangunan pangkalan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) tersebut merupakan bagian strategi Global AS di kawasan Asia Tenggara dan Laut China Selatan. Untuk tingkat hubungan dan kerjasama militer yang tinggi AS mengadakan kerjasama dengan Singapura, Filipina dan Australia. Sementara untuk tingkat yang lebih rendah, Pentagon juga berusaha meningkatkan hubungan militer dengan Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia dan Brunei.

Walaupun AS tidak secara tegas menyatakan pengerahan kekuatan dan kerjasama pertahanan dengan beberapa negara di Asia Tenggara ditujukan untuk sebuah tindakan preventif dari ancaman, nampaknya semakin jelas semuanya ditujukan untuk mengantisipasi gejolak serta ambisi baru dari China. Negar tirai bambu ini meresmikan sebuah ajungan minyak di Laut China Selatan seharga US$1 milyar, berjarak 1.500 km dari Shanghai, pada pertengahan tahun lalu, mulai menimbulkan kekhawatiran negara-negara di kawasan, termasuk AS.

China mereka perkirakan akan melakukan ekspansi ke Selatan, untuk menguasai ladang minyak dan gas, untuk memenuhi kebutuhannya yang kini setengahnya di impor dari luar. Dengan konsumsi yang terus bertambah dan harga impor minyak terus naik, China sangat membutuhkan sumber-sumber baru untuk meningkatkan cadangannya. Nah, Spratly merupakan kawasan yang diperkirakan mempunyai kandungan besar. Itulah sumber masalah di kawasan, disamping penguasaan atas Spratley China dengan kekuatan militer yang semakin kuat dapat mengontrol jalur laut internasional disekitarnya.

Laksamana Pur William J. Fallon , mantan Panglima  Komando Pasifik AS dari tahun 2005 sampai 2007 menegaskan “The potential for what lies beneath the sea is clearly a big motivator”, potensi  yang ada di bawah laut disekitar kepulauan Spratly  jelas merupakan motivator yang besar China untuk menguasai kawasan, demikian pendapatnya.

Dengan dasar pemikiran dan kekhawatiran tersebut, beberapa negara mulai mendekati dan didekati Amerika yang mempunyai kepentingan di kawasan, jauh lebih besar dibandingkan masalah di Irak dan Afghanistan yang dinilainya selesai. Presiden Obama kini lebih memainkan kartu intelijen, khususnya air intelligence, dimana alutsista yang dipakai adalah pesawat tanpa awak RQ-4 Global Hawk, yang akan dikombinasikan dengan pemantauan satelit serta Pesawat intai maritim P-8A Poseidon. Mari kita bahas sepintas alutsista yang akan di dislokasikan di Cocos Island.

 

Cocos (Keeling) Island

 

Pulau ini  disebut juga sebagai Kepulauan Cocos dan Kepulauan Keeling , merupakan wilayah negara Australia. Terletak di Samudra Hindia , sebelah Barat Daya Pulau Christmas dan ditengah-tengah tengah antara Australia dan Sri Lanka .Wilayah ini terdiri dari dua pulau karang dan 27 pulau-pulau karang lainnya. Yaitu West Island dan Pulau Depan , dihuni oleh sekitar 600 penduduk. Kepulauan Cocos (Keeling) terdiri dari dua pulau, yaitu dataran rendah atol karang dengan luas 14,2 kilometer persegi,  mempunyai garis pantai sepanjang 26 kilometer, dipenuhi dengan dengan pohon kelapa dan vegetasi lainnya. Iklimnya adalah tropis menyenangkan.

Pulau Keeling Selatan, merupakan atol yang terdiri dari 24 pulau yang membentuk cincin atol, dengan luas daratan total 13,1 kilometer persegi. Hanya Pulau Depan  dan Pulau Barat yang dihuni.  Pada pulau-pulau besar dihuni oleh warga keturunan Melayu Cocos (500) di Pulau Depan dan sekitar 100 etnis Eropa mendiami Pulau Barat (West Island).

Di Cocos island sudah terdapat lapangan terbang yang dapat didarati oleh pesawat Embraer E190, yang melakukan penerbangan rutin dari Perth seminggu tiga kali. Juga terdapat penerbangan ke Christmas Island dan dari Kuala Lumpur ke Cocos Island. Kepulauan Cocos merupakan salah satu tujuan wisata karena memiliki garis pantai yang indah dan tempat rekreasi yang bagus, seperti snorkeling, surfing, memancing, berkano dan banyak kegiatan yang sangat tenang.

Itulah sedikit gambaran Cocos yang akan dijadikan pangkalan dari pesawat intai Global Hawk dan P-8A Poseidon pada masa mendatang.

 

Pesawat Intai Tanpa Awak RQ-4 Global Hawk

 

Global Hawk adalah pesawat udara tanpa awak (UAV) yang dipergunakan oleh Angkatan Udara AS (USAF) dan Angkatan Laut (US Navy) sebagai pesawat intai. Pesawat ini dibuat oleh pabrik Northtrop Grumman mulai bulan Pebruari 1998. Versi produksi pertama Hawk generasi Global, dijuluki Blok 20, diresmikan pada bulan Agustus 2006 di perusahaan Antelope Valley Manufaktur Center di Palmdale.

Pada Maret 2007, Blok 20 Global Hawk pertama,  berhasil melakukan uji penerbangan pertamanya dari  Palmdale ke Pusat Uji Terbang Birk di Edwards Air Force Base, California. Northrop Grumman berhasil membangun tujuh pesawat  pertama. Sembilan Blok 10 pesawat telah diproduksi, termasuk dua pesawat pendukung perang untuk melawan terorisme, termasuk dua pesawat Angkatan Laut AS yang dioperasikan di bawah program Maritim Elang Demonstrasi Global.

Dalam melaksanakan peran dan desain operasionalnya, Global Hawk dibuat mirip dengan pesawat mata-mata yang dibuat oleh Lockheed U-2 yang dioperasikan AU Amerika pada tahun 1950-an. Global Hawk dipergunakan oleh komandan lapangan dalam memberikan gambaran yang luas dan pengawasan target secara  sistematis. Global Hawk mampu memberikan Aperture Radar Synthetic (Synthetic Aperture Radar) resolusi tinggi-yang dapat menembus hambatan awan dan badai pasir.  Serta Electro-Optical/Infrared (EO/IR) imagery. Pesawat dapat melakukan pengintaian (survei) kawasan seluas 40.000 mil persegi (103.600 kilometer persegi) dalam sehari.

RQ-4 ini didukung oleh engine buatan Rolls-Royce Allison AE3007H turbofan, dengan 7.050 lbf (31,4 kN) daya dorong, dan mampu membawa muatan sebanyak 2.000 pon (900 kilogram). Badan pesawat utama adalah aluminium, standar semi-monocoque konstruksi, sementara sayap terbuat dari ringan, bahan kekuatan tinggi komposit.

Global Hawk adalah alutsista yang dapat di operasikan secara mandiri dan "untethered" dengan menggunakan link data satelit (baik Ku atau UHF) untuk mengirimkan data sensor dari pesawat ke MCE (Mission Control Element). Link data umum juga dapat digunakan untuk down link langsung dari citra ketika UAV beroperasi dalamline of sight stasiun bumi yang kompatibel. Segmen tanah terdiri dari Elemen Mission Control (MCE) dan Launch and Recovery Element (LRE), yang dibuat oleh Raytheon.

MCE digunakan untuk perencanaan misi, komando dan kontrol, dan pengolahan citra dan penyebaran, sebuah LRE untuk mengendalikan peluncuran dan pemulihan; dan peralatan tanah dukungan terkait. (LRE memberikan presisi koreksi diferensial global positioning system untuk akurasi navigasi saat lepas landas dan pendaratan, sementara presisi GPS dikodekan dilengkapi dengan sistem navigasi inersia digunakan selama eksekusi misi.)

Dengan memiliki unsur terpisah di segmen tanah, MCE dan LRE dapat beroperasi di lokasi geografis yang terpisah, dan MCE dapat digunakan dengan situs utama eksploitasi perintah didukung itu. Kedua segmen tanah yang terkandung di tempat penampungan militer dengan antena eksternal untuk line-of-sight dan satelit komunikasi dengan kendaraan udara.

Spesifikasi Global Hawk RQ-40. Crew: 0, Length: 44 ft 5 in (13.54 m), Wingspan: 116 ft 2 in (35.41 m), Height: 15 ft 2 in (4.62 m), Empty weight: 8,490 lb (3,851 kg), Gross weight: 22,900 lb (10,387 kg), Powerplant: 1 × Allison Rolls-Royce AE3007H turbofan engine, 7,050 lbf (31.4 kN) thrust, PerformanceMaximum speed: 497.1 mph (800 km/h; 432 kn), Cruise speed: 404 mph (351 kn; 650 km/h), Range: 15,525 mi (13,491 nmi; 24,985 km), Endurance: 36 hours, Service ceiling: 65,000 ft (19,812 m).

Dalam pengoperasiannya kini dibentuk kombinasi pengintaian antara pesawat P-8A Poseidon dengan Global Hawk, disebut Bams UAS (Broad Area Maritime Survelillance UAS. Bams UAS akan memberikan informasi tempur kepada Expeditionary Strike Group (ESG), Carrier Strike Group (CSG) and the Joint Forces Maritime Component Commander (JFMCC). Informasi intelijen tersebut akan terus menerus disampaikan kepada ruang kontrol pusat operasi maritim.

 

Kesimpulan

 

Rencana dislokasi pesawat intai Global Hawk di Cocos Island jelas untuk kepentingan AS dan Australia dalam memonitor dan mengawasi kawasan Asia Tenggara dan Laut China Selatan. Dengan kemampuan teknologi yang demikian tinggi, maka rahasia kawasan menjadi lebih terbuka, dalam aspek apapun. Seperti pengoperasian pesawat tanpa awak jenis lainnya, Global Hawk akan mampu memonitor sebuah pembicaraan telpon, menyadap komunikasi lainnya serta memonitor banyak hal yang mereka diperlukan. Harga pesawat yang semula USD 35 juta dan kemudian meningkat menjadi USD 218 juta menunjukkan bahwa perlengkapan teknologi di pesawat tersebut semakin canggih.

Memang Global Hawk menurut kedua negara itu bukan untuk memata-matai Indonesia, dan hal ini pernah ditanyakan oleh Menlu RI Marty Natalegawa, akan tetapi sulit bagi para pejabat, pemegang amanah, militer dan intelijen Indonesia untuk mempertahankan kerahasiaan, karena memang kemampuan kita masih jauh tertinggal dibandingkan kemampuan pesawat tersebut. Yang diperlukan adalah kesadaran bagaimana menjaga kerahasiaan negara. Semoga bermanfaat.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Share
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.