Peluang Prabowo Jadi Presiden 2014 Semakin Besar

3 April 2012 | 8:57 am | Dilihat : 1028

Setelah Pilpres 2009 usai, banyak yang mengatakan bahwa Prabowo sudah selesai, maksudnya tidak akan berkiprah lagi pada pilpres 2014 karena Partainya hanya Parpol kelas bawah dan uangnya sudah menipis. Benarkah begitu? Ternyata tidak, Prabowo secara perlahan tetapi konsisten nampaknya semakin bersinar menuju ke persaingan 2014.

Peneliti Utama Lembaga Survei Indonesia (LSI), Syaiful Mujani berdasarkan survei LSI, menyatakan jika pemilihan presiden dilakukan sekarang, capres dari Partai Gerindra Prabowo Subianto berpotensi menang. “Prabowo punya kemampuan menarik pemilih dibanding calon lain,” katanya pada hari Kamis, 23 Februari 2012.

Hasil survey LSI yang dilaksanakan pada  1-12 Februari 2012, menunjukkan,  dari 2.050 responden di 33 provinsi, LSI menjaring 10 nama calon presiden. Nama ini terseleksi dari 24 nama hasil pilihan LSI dan responden. Mereka  adalah Aburizal Bakrie, Anas Urbaningrum, Dahlan Iskan, Djoko Suyanto, Hatta Rajasa, Mahfud MD, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Sri Mulyani Indrawati, dan Wiranto.

Dari sepuluh nama tersebut, didapat hasil, suara tertinggi Megawati dengan 22,2 persen suara, Prabowo Subianto 16,8 persen, Aburizal Bakrie, 10,9 persen, Wiranto 10,9 persen, dan Hatta Rajasa 5,4 persen. Sedangkan lima nama lainnya belum mendapat suara, kurang dari lima persen.

Naiknya elektabilitas Prabowo ternyata tidak diikuti  partainya (Gerindra), yang pada pemilu 2009 mendapat dukungan 4,46 persen, tetapi justru dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilaksanakan pada 25 Maret-5 Pebruari 2012 hanya berada di posisi delapan, mendapat apresiasi masyarakat 3,7  persen. Persepsi publik tetap mendudukan Partai Golkar pada posisi teratas dengan 17,7% suara. PDIP, 13,6%, Partai Demokrat di posisi ketiga,13,4%, NasDem 5,9 persen, PKB 5,3 persen, PPP 5,3 persen, PKS 4,2 persen dan baru Gerindra 3,7 persen. Sementara PAN 2,7 persen dan Hanura 0,9 persen.

Disitulah terlihat betapa besarnya pengaruh media terhadap popularitas dan elektabilitas calon dan parpol peserta pemilu. Nasdem mendadak bertengger di empat besar, karena di back-up dua raja media, Surya Paloh dan Hary Tanoe. Posisi Prabowo kini kondisinya mirip dengan  SBY saat pilpres 2004, SBY secara perlahan melejit elektabilitasnya   dan menjadi presiden, tetapi Partai Demokrat hanya berada dikisaran 7,45 persen.

Nah, bagaimana dengan peluang Prabowo? Ada dua jalan yang bisa ditempuhnya pada 2014 nanti. Pertama, seperti pada pilpres tahun 2009, pada 2014 nanti Prabowo mengalah, membangun kembali MegaPro, mau menjadi cawapresnya Megawati. Penulis perkirakan apabila keduanya bergabung, tanpa mendahului kehendak Allah, secara perhitungan politik dan hasil survei, keduanya akan sulit ditandingi oleh calon manapun. Pada pilpres 2009 saja, Megapro yang hanya didukung PDIP, Gerindra dan empat partai gurem lainnya mampu mendapat dukungan 32.548.105 suara (26,79 persen).

Lawan dari MegaPro pada 2014 diperkirakan yang terkuat hanya Aburizal Bakrie. Keputusan dibentuknya MegaPro ini adalah keputusan realistis, mengingat dalam dua tahun yang tersisa sulit bagi Prabowo mengangkat Gerindra menjadi parpol papan atas, menjadi papan tengahpun nampaknya juga sulit. Persoalannya maukah Prabowo kembali menjadi wakil Presiden yang didalam jabatan militer, jabatan wakil  biasa disebut "korps leher?."

Jalan Prabowo kedua yang bisa diharapkan adalah apabila dia diajukan sebagai capres oleh Partai Demokrat. Kesamaan korps sebagai sesama mantan TNI bisa menjadi salah satu perekat antara SBY dan Prabowo. Dan keduanya pernah bersama-sama di pendidikan Akabri di Gunung Tidar. Partai Demokrat sebagai parpol papan atas hingga saat ini belum mempunyai capres yang elektabilitasnya tinggi, walaupun beberapa calon sudah mulai terbaca. Dalam peluang ini, Prabowo hanya harus meyakinkan SBY bahwa dia bisa menjadi pemimpin masa depan yang bisa dipercaya dan diharapkan. Mau melanjutkan dan memperkuat apa yang telah dikerjakan oleh SBY.

Dari sejarah perjalanan bangsa ini, setelah seorang presiden turun dari jabatannya, dua kemungkinan yang bisa ditempuhnya, mendapat perlindungan dari orang kuat atau mengungsi ke luar negeri. Bila tetap duduk manis saja maka dia harus siap-siap diserang mereka-mereka yang sakit hati atau lawan politiknya. Pengalaman pahit terjadi pada dua mantan presiden terdahulu. Bung Karno  yang demikian menderita  tekanan dalam menapaki sisa hidupnya, dan Pak Harto yang terus di demo dan dibongkar masalah-masalahnya, bahkan sempat di periksa di gedung bundar Kejagung, sementara Pak Habibie terus tinggal di Jerman setelah tidak menjabat.

Kasus ketiganya sangat perlu dijadikan pertimbangan bertapa kerasnya tantangan yang harus dihadapi mantan Presiden RI. Gus Dur dan Mega termasuk pengecualian, karena keduanya mempunyai basis massa kuat dan dianggap tidak mempunyai dosa terhadap rakyat, sehingga aman-aman saja setelah turun.

Bagaimana dengan Pak SBY? Kini mereka yang anti kepada Pak SBY terdiri dari beberapa lapisan baik kelompok elit, middle class dan rakyat bawah. Nah, apabila diukur dari sisi pengamanan, bisa saja terjadi setelah turun nanti akan banyak yang mencari kesalahan-kesalahan beliau. Mencari kesalahan jelas sangat mudah, walau Pak SBY penulis yakini  telah berusaha menjadi orang bersih. Tanpa adanya strategi pengamanan, maka kita akan prihatin sekali apabila SBY sebagai mantan presiden nantinya akan  bernasib seperti Bung Karno atau Pak Harto.

Terlebih kini banyak rakyat dan elit yang terpengaruh dengan euforia kebebasan demokrasi. Makin besar dan ganaslah kemungkinan ancaman tersebut. Kita dapat melihat  gambaran pada saat demo, demikian besar dan sadis  penghinaan terhadap kepala negara yang entah mengapa demikian benci mereka gambarkan.

Nah, kini kita akan melihat dan mengikuti salah satu calon pemimpin masa depan, kemana dia akan membuang sauhnya. Apabila bersama Mega, penulis perkirakan Prabowo peluangnya diatas 80 persen. Apabila Prabowo berada di Demokrat maka peluangnya sekitar 40 dibanding 60 persen melawan Mega. Jelas agak berat  melawan Mega. Prabowo harus menghitung benar, karena kini Mega satu-satunya patron terkuat di Indonesia. Sementara Prabowo belum menjadi patron, baru tahap populer dan diharapkan. Disamping itu, pada saatnya nanti konstituen akan bisa kembali membongkar masalah-masalahnya yang dianggap mencederai rakyat. Penyerang akan fokus menyerang capres, bukan cawapres itu kira-kira  rumus pengamanannya.

Demikian sedikit ulasan ringan dan sederhana terhadap Prabowo yang walaupun perlahan terlihat  semakin  bersinar. PDIP dan Partai Demokrat harus semakin jeli mengawasi pergerakan elektabilitas Prabowo, karena suka atau tidak suka Prabowo memang sudah menjadi sosok yang harus diperhitungkan. Apakah ulasan ini benar? Terserah pembaca, karena blog ini hanyalah sebuah ramalan dari seorang Old Soldier. Salam, Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

 

 

Share
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.