Situasi Irak Setelah Amerika Menarik Diri

21 February 2012 | 8:55 am | Dilihat : 610

Pendudukan sebuah negara terhadap negara lain jelas akan membawa dampak tersendiri dan dibutuhkan waktu cukup lama bagi bangsa yang diduduki untuk menata dirinya kembali. Terlepas dari alasan mengapa terjadi pendudukan Amerika Serikat di Irak, penulis coba mengulas situasi dan kondisi setelah pasukan Amerika ditarik mundur. Perseteruan dan penderitaan diantara rakyat Irak terus terjadi dan semakin menakutkan.

Pembunuhan demi pembunuhan dan serangan bom makin kerap terdengar dari negeri yang dahulu dipimpin oleh Saddam Husein itu. Pada hari minggu (19/2/2012) sore terjadi sebuah serangan bom bunuh diri dimuka gerbang Akademi Kepolisian Baghdad. Akibat serangan, sekitar 15 orang telah tewas, dan 21 lainnya mengalami luka-luka. Menurut penjelasan Kementerian Dalam Negeri, beberapa yang tewas adalah siswa Akademi Kepolisian tersebut, yang nampaknya memang  menjadi target utama serangan. Kantor berita AP melaporkan bahkan yang tewas mencapai 20 orang dan 28 luka-luka.

Serangan terakhir terjadi pada akhir bulan Januari, ketika seorang pembom mobil meledakkan bom saat prosesi pemakaman di lingkungan Syiah di Baghdad. Serangan telah menewaskan 31 orang, termasuk 8 perwira polisi. Di tempat lain di Baghdad, seorang anak muda tewas dalam sebuah ledakan di dekat lapangan sepak bola. Serangan sebelumnya  terjadi  pada akhir Desember yang menewaskan lebih dari 60 orang. Serangan bom meningkat secara tajam setelah kepergian pasukan AS pada bulan Desember 2011. Menurut statistik yang dikumpulkan oleh PBB, 500 orang telah tewas dalam serangan pada bulan Januari.

Beberapa pemerhati intelijen dan  isu keamanan mengatakan, tanpa bantuan pasukan Amerika dengan operasi khusus militer, pasukan penjaga keamanan dan  polisi Irak dinilai  tidak dapat menjaga, mengantisipasi dan menetralisir serangan terhadap para peziarah beragama, warga sipil dan petugas keamanan itu sendiri.

Konflik kekerasan di Irak terjadi baik di internal pemerintahan maupun antara pemerintah yang kini berkuasa dengan kelompok Al-Qaeda yang dicurigai mulai memainkan peran penting serta menancapkan pengaruhnya di Irak. Perdana Menteri Irak Nuri Kamal al-Maliki mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Wakil Presiden Tariq al-Hashimi, atas tuduhan memerintahkan pengawalnya untuk melakukan pembunuhan terhadap para pejabat dan melakukan serangan bom mobil. Untuk menghindari penangkapan, Wapres Hashimi kemudian  melarikan Diri Ke wilayah Kurdi di wilayah Utara dimana dia dahulu berasal.

Menurut statistik yang dikumpulkan oleh Departemen Dalam Negeri, tingkat kematian selama bulan Januari tercatat lebih tinggi dibandingkan pada bulan sebelumnya. Korban yang tewas perhari rata-rata berjumlah 11 orang, pada tahun lalu korban tewas rata-rata perhari adalah sembilan orang.

Fakta terjadinya benturan politik yang terjadi di Irak nampaknya akan memorak porandakan stabilitas di negeri itu. Konflik serius terjadi antara pengikut Sunni dengan Syiah. Benturan serius terlihat dari apa yang disampaikan  seorang gubernur Syiah yang mengancam akan memblokade jalan arteri penting komersial dari Baghdad ke wilayah semi-otonomi Kurdi di Utara Irak. Ancaman akan dilaksanakan  jika mereka tidak menyerahkan Wakil Presiden Tariq al-Hashimi kepada otoritas pemerintah. Pemerintah Syiah pimpinan nasional menuduh Mr Hashimi, seorang Sunni.

Dalam kemelut politik tersebut, Al-Qaeda berusaha meningkatkan pengaruh Iran di Irak. Dalam releasenya, Al Qaeda menyatakan "Penarikan militer Amerika adalah kekalahan dalam setiap arti kata, tetapi perang belumlah selesai karena Iran sedang mencoba untuk mendirikan zona penyangga Syiah di Irak dan memperluas revolusi Islam ke Madinah dan Mekkah." Al-Qaida mengatakan pemerintah Iran, yang melatih dan membiayai milisi di Irak telah terlibat dalam kekerasan sektarian dan serangan terhadap tentara Amerika, membantu menghancurkan Irak dengan "membunuh keluarga terbaik, para elit, dan mereka yang berpendidikan."

Perseteruan yang terjadi di Irak juga merembet ke Turki, dimana PM Maliki menyatakan kemarahannya kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan yang dikatakannya sebagai Sunni dan ikut campur dalam masalah dalam negeri Irak. Wakil Presiden AS, Joseph R. Biden Jr menyatakan keprihatinannya tentang ketegangan diantara Syiah dan Sunni di Irak. Joe Biden memperingatkan bahwa krisis yang terjadi  dapat menyebabkan perang sektarian.

Kekhawatiran stabilitas politik yang terus meluas ke stabilitas keamanan seperti yang dikatakan seorang dokter Dr Basam Edis, 45, dari kota utara Mosul. "Sekarang orang bertanya-tanya apakah milisi akan mengambil alih kota-kota lagi. Hal ini terjadi karena semua politisi kita saat ini berjuang untuk sepotong lebih besar dari sebuah kue." Ditambahkannya, "politisi kami telah menjadi vampir yang tidak peduli tentang kita."

Demikian situasi sulit di Irak setelah ditinggalkan oleh pasukan Amerika. Seperti yang dikhawatirkan Wapres J Bidden, perang sektarian antara Sunni dan Syiah sudah mulai terjadi. Apa pelajaran yang dapat kita petik? Beberapa konflik antara Sunni dan Syiah walau masih dalam skala kecil sudah terjadi di negeri kita. Perlu kewaspadaan pejabat dan mereka yang terkait, agak setiap konflik sebaiknya diselesaikan, terlebih konflik yang menyangkut soal agama dan kepercayaan. Konflik yang berlarut akan menimbulkan sakit hati, dendam dan dapat menumbuhkan mereka yang siap mengobarkan perang dan mau melakukan tindakan anarkis dan teror.

Yang terpenting, negara kita masih berdaulat, ini yang harus dipertahankan. Kisruh politik biasanya memang terjadi terutama dinegara-negara yang menerapkan demokrasi liberal. Para politisi menjadi orang yang sangat bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas politik dan dapat sewaktu-waktu berimbas ke keamanan. Irak adalah contoh gamblang, tidak bisa kita  membayangkan, setiap hari rata-rata ada sebelas orang yang meninggal karena konflik. Semoga Allah Swt selalu melindungi bangsa kita.Amin. Prayitno Ramelan (www.ramalanintelijen.net )

 

Share
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.