Antara CIA, Intelijen dan Citra BIN

1 January 2012 | 9:48 am | Dilihat : 1827

Kita semua tentu pernah mendengar CIA (Central Intelligence Agency), yang namanya terus berkibar dalam dunia tidak transparan yaitu dunia intelijen. Dalam kehidupan manusia di dunia, intelijen adalah dunia penuh misteri, yang penuh dengan kerahasiaan. Di negara maju, intelijen adalah sebuah organisasi utama penyokong atau penyuplai informasi pemimpin sebuah  negara sebelum keputusan penting diambil. Dengan dasar loyalitas yang diutamakan serta ketepatan waktunya, intelijen adalah bagian terpenting yang sering jasanya tidak pernah dibicarakan.

Di Indonesia kita mempunyai beberapa badan intelijen seperti BIN (Badan Intelijen Negara), Bais TNI (Badan Intelijen Strategis TNI) serta beberapa organisasi intelijen yang berkedudukan dibawah organisasi sipil  pemerintah serta TNI dan Polri. Dalam beberapa talk show, penulis sering mendengar ucapan langsung dari beberapa pakar bahwa intelijen di Indonesia tidak mampu memberikan sumbangsihnya pada kondisi kerusuhan serta carut marut bangsa.

Intelijen dalam bekerja tidak pernah menonjolkan diri, jarang dan bahkan dilarang banyak menyampaikan hasil kerjanya ke publik. Rasanya aneh pada saat seorang narasumber, seorang tokoh ilmuwan yang bergelar doktor menyatakan bahwa intelijen kita tidak pernah melakukan riset. Penulis tidak dalam posisi membela baik BIN atau badan intel lainnya, karena penulis tidak dalam posisi di organisasi itu.

Tetapi, sebagai salah satu pengamat intelijen, penulis  hanya ingin mendudukan pernyataan narsum tersebut, ditengah rasa ketidak tahuannya mungkin. Berbicara intelijen bukan soal yang sederhana, tetapi penuh dengan lika liku yang sering sulit difahami, karena intelijen juga menganut faham kompartmentasi, tidak semua agen saling mengenal, tidak semua informasi dibuka keseluruh anggota organisasi. Terlebih dibuka ke masyarakat luas. Terbatas, clandestine, tertutup, konfidensial, rahasia, sangat rahasia adalah kata-kata yang sangat difahami hanya oleh insan intelijen yang terdidik dan berpengalaman.

Dalam pengertiannya Intelijen baik sebagai organisasi, pengetahuan, juga sebagai sebuah kegiatan. Pekerjaannya intelijen diantaranya mengumpulkan informasi baik dari sumber terbuka maupun tertutup. Kemudian bahan keterangan (Baket) tadi diolah baik sumber ataupun isi informasinya, dikonfirmasikan dan apabila valid akan menjadi baket ternilai yang disebut intelijen. Nah, intelijen ini yang disampaikan kepada user (pengguna) atau atasan si organisasi dan akan diteruskan kepada end user (pimpinan tertingggi, presiden misalnya). Selain pekerjaan tadi, intelijen juga melaksanakan fungsinya yaitu penyelidikan, pengamanan dan penggalangan.

Informasi yang dikumpulkan berupa kejadian pada masa lalu (the past) yang juga disebut sebagai basic descriptive intelligence, informasi masa kini yang diperkirakan terkait (the present). Dengan kemampuan dan pengalamannya, maka kedua informasi intelijen tadi diolah dan dijadikan sebuah ramalan intelijen untuk masa depan (the future).

Intelijen di Indonesia hingga hari ini masih memiliki sejumlah fungsi yang sama dengan negara lainnya. Yang berbeda adalah kedudukan serta ruang lingkup penugasan dan  tanggung jawab yang diembannya. Sebagai contoh, Badan intelijen terkemuka Amerika Serikat CIA, adalah penerus dari Office of Strategic Services (OSS) yang terbentuk selama Perang Dunia II untuk mengkoordinasikan spionase kegiatan terhadap Axis Powers untuk cabang dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat .  CIA secara resmi didirikan pada Tahun 1947 (seumur dengan penulis), berdasarkan The National Security Act.

Sebelum bulan Desember 2004, CIA adalah organisasi intelijen utama pemerintah AS, yang mempunyai tanggung jawab mengoordinasikan kegiatan-kegiatan Komunitas Intelijen AS (IC) secara keseluruhan. Pada tahun 2004 terjadi titik balik, dimana pemerintah AS setelah penyerangan teroris pada peristiwa 911 mengadakan reformasi intelijen.  Pemerintah mengeluarkan "The Intelligence Reform and Terrorism Prevention Act of 2004"  dengan  menciptakan kantor Director of National Intelligence (DNI), Direktur Intelijen Nasional  yang mengambil alih manajemen dan kepemimpinan dari Intelligence Comunnity, Komunitas Intelijen.

CIA menjadi pelaksana dan yang sangat penting kini CIA mengendalikan monitoring kemungkinan ancaman terhadap AS dengan diberi perlengkapan teknologi tinggi. CIA adalah pemegang hak operasional pesawat-pesawat intelijen tanpa awak, baik dalam mencari informasi masalah terorisme, senjata nuklir maupun kegiatan musuh atau calon musuh dimanapun mereka berada. Anggaran CIA tidak banyak diketahui oleh umum, hanya dalam laporan yang sudah dapat dibuka kepada publik, pada tahun 1963 adalah US$550 juta. Apabila dihitung dengan inflasi yang terjadi, maka pada tahun 2011 anggaran menjadi US$3,9 miliar. Apabila kurs dollar sama dengan Rp.9000, maka anggaran tadi setara dengan Rp 45,1 triliun. Bandingkan dengan anggaran BIN yang baru dinaikkan, kini menjadi Rp.1,4 triliun.

Nah, itulah sekilas kita mengenal CIA dan khususnya BIN serta kegiatan intelijen di Indonesia. Semoga pembaca menjadi sedikit tercerahkan dan tidak terpengaruh dengan pernyataan-pernyataan beberapa yang katanya pakar tetapi tidak memahami betapa rumitnya kehidupan di dunia intelijen. Karena intelijen adalah pahlawan tanpa tanda jasa, maka dia akan diam saja saat dikatakan tidak pernah berfungsi maksimal.

Jangan kita banyak berbicara bidang yang tidak kita ketahui dan kuasai, nanti akan ditertawakan mereka yang sangat faham. Membicarakan intelijen tanpa pernah mengikuti pendidikan dan tanpa pengalaman, seperti orang awam yang membahas soal akhirat, dimana rahasia tersebut hanya dikuasai oleh para ulama besar yang memang menekuninya. Marilah kita sayangi organisasi intelijen dan para pejabat intelijen itu.

Penulis yakin mereka terus berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Melindungi tanah tumpah darah Indonesia dengan selalu siap berkorban. Memang sih ada juga kelas intel melayu disini. Walaupun kerja BIN tidak ditonjolkan, citranya harus tetap dipertahankan. Selamat Tahun Baru 2012, salam penulis bagi segenap insan dan komuniti intelijen yang sangat penulis hormati dan hargai dimanapun anda berada. Semoga anda sukses dalam mengemban tugas berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara serta rakyat tercinta kita. Bravo intelijen. Prayitno Ramelan.

Share
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.