Ramalan Intelijen dan Ramalan Jayabaya Presiden 2014

15 November 2011 | 7:01 pm | Dilihat : 35404

Jakarta. Ramalan intelijen adalah sebuah forecast yang dibuat berdasarkan fakta-fakta masa lalu yang dijadikan  dasar atau disebut basic descriptive intelligence, dikaitkan dengan fakta-fakta masa kini. Kemudian bisa dibuat sebuah ramalan untuk masa depan yang berbentuk sebuah perkiraan. Keseluruhan informasi tersebut telah melalui sebuah prosedur penilaian atau analisa.

Beberapa waktu lalu, penulis bertemu dan berbincang dengan Ibu Megawati yang akrab dipanggil bu Mega di kediamannya Jl.Tengku Umar. Pertemuan terjadi karena penulis diminta seorang teman yang mempunyai hubungan dekat dengan Ibu Megawati untuk bertemu dengan beliau. Setelah penulis menanyakan inti pertemuan, disampaikan terkait dengan artikel yang penulis buat pada 11 Juni 2011 dengan judul Capres terkuat 2014 ( http://ramalanintelijen.net/?p=1832 ), dimana menurut penulis Megawati masih berpeluang besar menjadi presiden pada 2014.

Ramalan  disusun dengan dasar pemikiran intelijen pada artikel tersebut, dimana penulis melakukan penelitian sejak tahun 2004. Pada pilpres 2004 pasangan yang maju keputaran kedua (20 September 2004) adalah pasangan Megawati-Hasyim Muzadi yang mendapat 39,38% suara, dikalahkan oleh pasangan  SBY-JK yang mendapat dukungan 60,62%. Pada pilpres 2009, hasil dari pilpres langsung, Megawati yang berpasangan dengan Prabowo Subijanto mendapat dukungan 26,79%, dikalahkan oleh pasangan SBY-Boediono yang memperoleh 60,80%.

Dari fakta tersebut, yang terlihat jelas adalah Mega telah dua kali menjadi runner-up capres, sementara SBY menang dua kali. Nah yang sangat  jelas terlihat pada partai  final, kedua calon adalah 'patron' dimana Megawati telah mempunyai pemilih yang solid, sementara SBY mampu menarik konstituen manapun dengan kharismanya. Citra keduanya sebagai patron tidak mampu digoyahkan oleh calon yang masih tanggung ataupun dinilai masyarakat memiliki masalah.

Kemudian penulis membuat beberapa artikel yang berkait dengan pemilu legislatif dan presiden dengan judul ;  Mengintip Sri Mulyani Sebagai Capres 2014:  http://ramalanintelijen.net/?p=2513, Jangan sepelekan Hary Tanoe-Surya Paloh :  http://ramalanintelijen.net/?p=4165, Megawati, Prabowo dan Aburizal Mulai Menguat:  http://ramalanintelijen.net/?p=4189, Kenapa Megawati Dilarang Nyapres? http://ramalanintelijen.net/?p=4235 , Ical for President ( http://ramalanintelijen.net/?p=4251 ) .

Penulis menyampaikan hasil pengamatan/penelitian  tentang pemilu 2014, dengan dasar beberapa artikel diatas serta artikel-artikel politik lainnya. Pilpres menurut penulis hanya akan dimenangkan oleh mereka yang maju dan sudah menjadi patron, karena budaya paternalistik masih sangat kental disini. Siapapun yang bukan patron akan sulit menang dalam persaingan yang semakin ketat. Yang kedua momentum, dimana dengan keteguhan bu Mega, PDIP menjadi partai bebas, tidak terkontaminasi secara organisasi dengan kasus-kasus korupsi. Yang ketiga 'brand image' dimana capres harus sudah dikenal luas oleh konstituen. Mega sudah sangat terkenal baik sebagai putri proklamator Soekarno juga mantan presiden dan Ratu Banteng.

Nah, dari beberapa syarat tersebut, penulis menyampaikan bahwa Ibu Mega kini hanya satu-satunya patron dengan pemilih yang solid, dan dua kali menjadi juara kedua. Beberapa tokoh lainnya sedang berusaha keras agar diakui sebagai patron. Keteguhan Mega dalam jalur oposisi nanti akan menguntungkan PDIP, tidak seperti partai banci yang gayanya oposan tetapi mau menerima jabatan di pemerintah. Keteguhan ini hanya dimiliki Megawati seorang, walau secara internal ada yang ingin menyeberang. Oleh karena itu pada kesimpulan perbincangan, penulis menyampaikan sebaiknya PDIP hanya mengajukan Mega sebagai capres, tidak mengajukan capres lainnya. Pandangan penulis sampaikan sebagai indie blogger yang terus mengikuti perkembangan politik.

Bagaimana kaitan dengan Ramalan Jayabaya?  Ramalan dibuat oleh Prabu Jayabaya, Raja   Kediri sekitar thn-1135 M dalam "Serat Jangka Jayabaya" yang mampu memprediksi kejadian-kejadian jauh melampaui jamannya . Disebut Jangka karena seperti alat jangka yang mampu menarik /mengukur jarak secara tepat , maksudnya waktunya. Tidak hanya bersifat ramalan, tetapi akurasinya terukur.

Ramalan ini dikenal  khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

Ramalannya yang dikaitkan dengan negara dan kepemimpinan di Indonesia adalah  kata  Notonagoro. Noto berarti menata, nagoro berarti negara. Jadi pemimpin Indonesia juga disebut sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk menata negara. Suku kata tersebut ditulis dalam huruf Jawa yaitu honocoroko (ada utusan), dotosowolo (berbeda pendapat), podojoyonyo (sama-sama menang), mogobotongo (sama-sama kalah). Keduapuluh huruf Jawa itu mudah diberi huruf hidup hanya dengan menambahkan tanda. Ditambah tanda di depan atau dibelakang yang disebut ditaling tarung maka huruf A akan berubah menjadi O.

Nah, dikaitkan dengan ramalan Notonegoro, maka ramalan urutan pimpinan nasional yang memenuhi syarat setelah kemerdekaan adalah, No adalah Soekarno, To adalah Suharto, (BJ Habibie, Gus Dur dan Mega dalam urutan  saat itu sebagai presiden tidak memenuhi syarat karena tidak memerintah satu periode penuh atau lebih/lima tahunan), No selanjutnya adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Nah, Go disini diartikan pemimpin dengan akhiran Go atau Ga. Kalau dikaitkan dengan ramalan intelijen yang meramal bu Mega sebagai calon terkuat pada 2014, bisa saja terjadi Mega dengan akhiran Ga, bisa berubah terbaca menjadi Mego. Artinya beliaulah yang akan menggantikan Yudhoyono.

Apakah ramalan tersebut dapat dipercaya? Kini terserah kepada pembaca, sejauh mana kepercayaan terhadap ramalan yang masih menjadi budaya bangsa kita. Yang pasti, persaingan dalam politik masa mendatang akan semakin ketat, tidak bisa seseorang hanya duduk dengan tenang menanti Wahyu Cokroningrat jatuh kepangkuannya. Manusia harus tetap berusaha,  keputusan ada pada Yang Maha Kuasa. Siapa yang akan mendapat kepercayaan memimpin bangsa ini yang secara mental dan kepribadian sedang bergolak mencari identitas diri dalam masa transisi demokrasi.

Memang banyak yang tidak percaya dan menyepelekan bu Mega akan kembali tampil sebagai capres pada 2014 dan mampu menang. Tetapi ada yang dilupakan oleh para elit, bahwa masyarakat kita cara berfikirnya sederhana. Tulisan ini tidak didedikasikan untuk siapapun, hanya penyampaian pemikiran secara independen. Prayitno Ramelan,  http://ramalanintelijen.net

Sumber : detiknews.com (15 November 2011, 17.26 WIB)

Ilustrasi Gambar : bisnis.com

Share
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.