Komjen Budi Gunawan Dapat Menolong Presiden

17 February 2015 | 12:15 am | Dilihat : 1130

The-Decision-Is-Yours_sm

The decesion is Yours (Foto: clarkmemorial.biz)

Senin pagi (16/2/2015) merupakan hari yang ditunggu masyarakat, karena seperti dijanjikan, hakim  memutuskan sidang pra peradilan yang diajukan oleh Komjen Pol Budi Gunawan, dimana KPK menetapkan Budi sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji selama menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan jabatan lainnya di kepolisian.

Hakim Sarpin Rizaldi memutuskan bahwa penetapan tersangka terhadap Komisaris Jenderal Budi Gunawan (BG)  oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak sah. Putusan itu dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (16/2/2015). "Menyatakan penetapan tersangka termohon (Budi Gunawan) oleh pemohon (KPK) adalah tidak sah," kata Sarpin.

Setelah itu gema cukup kuat bergemuruh khususnya media menayangkan, ada pendukung BG yang cukur gundul, ada anggota polisi yang sujud syukur dan nampak kegembiraan dikalangan polisi. Selama beberapa minggu, harga diri serta citra mereka  terusik, karena salah satu jenderalnya BG ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Nampaknya para anggota Polri merasa prihatin justru jenderal yang menjadi tersangka itu adalah  calon tunggal Kapolri.

Nah, kini pertanyaannya, apakah dengan demikian persoalan menjadi selesai? Nampaknya justru baru dimulai perdebatan hukum dan lain-lainnya. Yang menjadi pemegang bola panas adalah Presiden Jokowi, yang sementara ini sedang berkantor di Bogor.

Persoalannya, bila tidak dilantik, maka Komisi -III DPR sudah berteriak akan melakukan langkah politik sesuai dengan konstitusi. Ancaman ketua Komisi sangat serius nampaknya. Demikian juga ada elit PDIP (Trimedia Panjaitan) yang menyatakan agar BG segera dilantik. Sikap politik Fraksi Hanura jelas,  mendesak Presiden agar segera melantik Komjen Budi Gunawan," kata  Sarifuddin Sudding  Senin (16/2) malam.

Apa resiko apabila BG dilantik? Genderang akan segera ditabuh oleh para penggiat anti korupsi dari Kuningan, dimana kantor KPK berada. Mereka masih yakin bahwa BG tidak bersih dan memperkirakan ada permainan pada sidang. Bahkan ada pengamat menyatakan bahwa penetapan itu aneh, walau dikalahkan tetapi korupsinya tetap. Repot kan kalau begitu?

Apabila BG tidak dilantik, maka kemungkinan munculnya langkah impeachment sangat besar di DPR. Mudah saja mereka menggalang dukungan sesama anggota di Senayan itu, karena toh selama ini mayoritas inginnya BG dilantik, termasuk juga elit PDIP. Jokowi dalam posisi ini sebaiknya waspada, yang ada dipermukaan Senayan itu tidak sama dengan yang ada dibawahnya.

Penulis melihat di salah satu media, saat diwawancarai media elektronik siang tadi. Komjen Budi Gunawan menyatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Presiden Jokowi selama sepuluh menit di istana Bogor karena dipanggil menghadap. Dia mendapat ucapan selamat, tetapi BG tidak mengungkapkan hasil pertemuannya tersebut. Penjelasannya lebih banyak menghindar.

Dalam penjelasannya setelah bertemu Presiden Jokowi sekitar pukul 14.30 WIB, penulis tertarik atas ungkapan Budi Gunawan, bahwa jabatan Kapolri bukan segala-galanya bagi dia. Yang penting kemenangan sidang itu, diterimanya pengajuan praperadilan sangat besar artinya bagi BG. Kemenangan itu telah mengembalikan martabatnya, dan namanya dibersihkan sebagai tersangka. Ini merupakan hal terpenting bagi BG.

Banyak awak media yang tidak mengetahui apa pembicaraan antara presiden dengan BG setelah menang. Dalam teori politik serta stabilitas beberapa bidang, bagi para pejabat tinggi dalam menghadapi kasus berat, deal atau perjanjian adalah hal yang lumrah. Karena itu presiden selama ini memberikan kesempatan kepada BG untuk mengajukan praperadilan atas kasusnya. Intinya BG tidak menginginkan nasibnya seperti Irjen Pol Djoko Susilo yang terkena masalah korupsi, belum lagi masalah pencucian uang, juga masalah beristeri lagi, semuanya dibongkar oleh KPK. Bagi seorang Jenderal, harga diri adalah segala-galanya. Disinilah nampaknya terjadi deal antara BG dengan presiden.

Kini Budi Gunawan dikatakan lepas sebagai tersangka korupsi, walau dari sisi hukum, bisa saja KPK mengambil langkah hukum yang lebih tinggi. Menurut penulis dan juga pernah menyarankan dalam beberapa artikel terdahulu, Budi Gunawan jangan menunda lagi, kalau perlu besok kumpulkan awak media, kemudian buat pernyataan pengunduran dirinya sebagai calon Kapolri. Begitu dia membuat pernyataan, maka otomatis gugurlah dia sebagai calon Kapolri. DPR juga tidak bisa berbuat apa-apa dan  presiden bisa mengajukan calon baru.

Nah, apabila langkah ini yang ditempuh BG, maka Presiden Jokowi akan lepas dari semua tekanan dan ancaman serta kepusingan. Jokowi tidak berbohong, benar menyatakan tidak melantik BG sebagai Kapolri, bukan karena dia memberhentikan BG sebagai calon, tetapi karena BG mengundurkan diri. Kalau ini yang terjadi jelas sangat elok.

Kalau boleh, penulis sebagai salah satu senior berpesan kepada Komjen Pol Budi Gunawan, bahwa jabatan adalah seperti kita memakai baju, mudah dipakai tetapi mudah juga dilepaskan. Apabila kita akan memakai baju dan ternyata banyak jarumnya, jelas baju itu tidak akan nyaman kita pakai. Bisa membuat gatal dan bahkan luka-luka. Jadi untuk apa kita pakai, kira-kira begitulah. Kita justru membantu melepaskan jarum itu dan biarlah dipakai yang lainnya.

Selesaikan saja tugas yang tersisa di Polri, rasanya pengabdian anda sudah cukup besar bagi Polri dan bangsa ini. Nikmati masa pensiun apabila sudah datang nanti bersama anak isteri dan keluarga. Bintang tiga sudah cukup tinggi dalam sebuah pengabdian. Pada umumnya sebuah amanah yang diawali dengan masalah biasanya  tidak menjadi barokah. Sudah benar pernyataan tadi yang menyerahkan kepada keputusan presiden. Tetapi tegaskan saja, nyatakan mundur, ini keputusan terbaik anda. Itu saja saran penulis sebagai Old Soldier.

Anda akan dihargai banyak pihak dan itu disebut sebagai sikap seorang negarawan. Keputusan anda  akan menenteramkan bangsa ini. Menggunakan istilah penerbangan, jangan masuk ke cumulonimbus (awan aktif) yang berbahaya, anda bisa dilipat disitu, dibanting dan bahkan dihempaskan. Keputusan anda tersebut yang justru akan menolong Presiden Jokowi bukan oleh para ahli hukum dan politisi yang berbicara tinggi-tinggi tetapi tidak tulus. Semoga saran ini bermanfaat. Salam Pak Budi, yang ikhlas saja, supaya bangsa ini bisa lebih tenang. The decision is yours.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

 
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.