Arah Protes Diam Sondang Hutagalung

14 December 2011 | 6:44 am | Dilihat : 635

Sondang Hutagalung (22) pelaku bakar diri dimuka Istana Merdeka pada hari Rabu (7/12)  sekitar pukul 17.30 WIB, telah  meninggal dunia dalam perawatan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Sabtu (10/12/2011) pukul 17.50 WIB. Sondang yang diketahui sebagai mahasiswa Angkatan 2007 Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Bung Karno, melakukan aksi bakar dirinya tanpa memberikan pesan apapun.

Sondang selain menjadi  mahasiswa UBK juga menjabat sebagai pemimpin dari  Himpunan Advokasi Study Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi) yaitu komunitas sahabat Munir. Sebagai salah satu aktivis Hak Asasi Manusia, Sondang cukup dikenal para aktivis lainnya. Setelah disemayamkan di Universitas Bung Karno, jenazah Sondang dimakamkan di TPU Pondok Kelapa pada Minggu (11/12) siang.

UBK memutuskan memberikan gelar Sarjana Kehormatan kepada Sondang, dimana menurut Ketua Dewan Kurator UBK, Rahmawati Soekarnoputri,  gelar Sarjana Kehormatan  kepada Sondang Hutagalung diberikan sebagai bentuk penghormatan seperti halnya gelar pahlawan. Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan UBK, Daniel Panda, menambahkan bahwa gelar Sarjana Kehormatan diberikan kepada Hutagalung atas masukan dari tokoh-tokoh masyarakat, organisasi, dan lain sebagainya.

"Kami tetap berterima kasih dan mendukung perjuangan Hutagalung. Karenanya, sebagai bentuk penghargaan, kami berikan gelar Sarjana Kehormatan," jelas Pembantu Rektor tersebut. Disisi lain, Daniel Panda  berharap agar aksi seperti yang telah dilakukan Sondang  tidak terulang, karena masih ada pilihan lain untuk melakukan aksi protes sosial. Aksi bakar diri terlalu mahal pengorbanannya.

Ketua Umum PDIP Megawati saat memberikan sambutan pada Rakernas I PDIP di Bandung, Senin (12/12)  mengatakan, "Sondang telah pergi, tapi pesannya terasa keras menampar telinga kita. Kita tidak membutuhkan teguran keras lainnya, hanya untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini." Mega selanjutnya menegaskan bahwa Sondang membakar diri sebagai protes atas pengelolaan politik yang jauh dari gambaran ideal generasi muda bangsa.

Atas perintah Presiden SBY, Menteri Perhubungan EE Mangindaan kemudian mengunjungi rumah Sondang Hutagalung di Pondok Ungu Permai, Bekasi untuk menyampaikan rasa belasungkawa. Dalam penjelasannya, juru bicara presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan bahwa presiden menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya Sondang.

Mengapa kemudian aksi bakar diri Sondang menarik perhatian? Tindakan nekat Sondang oleh beberapa kelompok aktivis disimpulkan sebagai aksi protes terhadap kondisi bangsa. Kemudian mulailah gerakan solidaritas, sebagai bentuk penyaluran protes lanjutan kepada pemerintah. Walau Sondang tidak menyatakan apapun, aksinya kemudian memicu demo dan protes terhadap pemerintahan Presiden SBY, bahkan gambar presidenpun di corat-coret. Terdapat pendapat pro kontra terhadap aksi Sondang tersebut.

Tidak ada seorangpun yang benar-benar mengetahui apa motivasi Sondang membakar diri. Hingga kini belum ada surat wasiat yang ditemukan atas namanya sebelum dia melakukan aksinya.  Yang terjadi kemudian semua menerka-nerka, Sondang memilih jadi martir untuk membuat sebuah perubahan. Demikian kira-kira disimpulkan tujuan protes diam Sondang yang mengorbankan dirinya.

Penulis teringat pada tahun 1966, dimana mahasiswa dan pelajar melakukan aksi demo kepada pemerintahan Presiden Soekarno. Penulis sebagai Ketua Pengerahan Massa dari sebuah SMA di Jakarta menyaksikan penembakan oleh pasukan Cakra Bhirawa dimuka Istana Merdeka, dan mengakibatkan meninggalnya Arief Rahman Hakim. Korban kemudian menjadi martir setelah kemelut empat bulan dalam aksi menurunkan Presiden Soekarno. Akhirnya gerakan mengkristal dan jatuhlah pemerintahan Soekarno.

Nah, kini aksi yang dilakukan sebagai solidaritas terhadap Sondang apakah akan meniru tahun 1966? Rasanya sebuah tindakan revolusi atau apapun namanya tidak akan menyelesaikan masalah yang kini dinilai negatif oleh beberapa kalangan.  Sehebat apapun proses penurunan pemerintah resmi secara inskonstitusional dipastikan akan menimbulkan masalah baru. Mesir, Libya adalah contoh yang kiranya perlu kita renungi bersama. Stabilitas politik, keamanan hingga kini tetap amburadul disana.

Kita semua faham bahwa sejak dilakukannya reformasi pada tahun 1998, kebebasan yang kita setujui bersama bak air bah mengalir dan dapat menghanyutkan siapapun yang menentang arusnya. Maka, borok-borok yang selama ini tertutupi menjadi terbuka. Semua merasa perih, pedih dan prihatin dengan kondisi bangsa yang memang selama ini mental banyak pejabat, elit politiknya dan bahkan masyarakat kemudian terlihat keburukannya.  Penulis menyebutnya, kita sedang berada pada masa transisi demokrasi, dimana tranparansi menjadi sesuatu yang mengemuka.

Kini, saatnya kita semua, mulai dari pimpinan nasional, para pembantunya di Kabinet, pejabat, orang tua, guru, mahasiswa, LSM, aktivis, menyadari bahwa kita bersama-sama memiliki negara ini. Terserah bagaimana kita masing-masing berjuang dengan kebersihan hati, keikhlasan, saling menghargai dan menghormati dalam mengelola kehidupan kita yang singkat di dunia yang penuh dengan dinamika ini.

Sebuah pemikiran tentang perubahan drastis dengan bentuk revolusi hanya akan mengakibatkan kesengsaraan bersama. Ongkosnya terlalu mahal bagi kita bersama. Kita jadikan protes diam bakar diri Sondang sebagai peringatan bagi kita dalam melaksanakan sistem demokrasi yang cerdas, mengedepankan Hak Asasi Manusia seperti yang kita kehendaki bersama. Mari kita berfikir positif, kita jadikan semangat Sondang untuk menyadarkan dan menggugah kita bersama.

Kita sering berteriak "MERDEKA," tetapi apakah kita mampu menjaga kemerdekaan bersama hingga tercapainya cita-cita suci bangsa ini? Selamat jalan Sondang, semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosa anda anak muda. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi Gambar : tribunnews.com

 

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.