Intelijen Mataram, Kenapa Ada Yang Menang Telak?

14 July 2009 | 10:01 am | Dilihat : 168

Siang kemarin penulis ngobrol-ngobrol dengan adik kandung yang lulusan sekolah marketing di Inggris. Kita berdiskusi tentang segala macam, mulai dari pemasaran, sejarah, sifat dasar manusia, intelijen dan pemilihan presiden dan wakil presiden. Dari hasil ngobrol itu penulis mencoba menyusun sebuah Analisa Intelijen Mataraman dengan fokus kepada masalah Pilpres 2009. Tema yang diangkat, kenapa ada yang menang telak?.   Dari beberapa sisi penelusuran, inilah hasilnya.

Dalam dunia intelijen, dikenal  sebuah mashab modern disamping masih dimanfaatkannya teori-teori kuno. Pada era Kerajaan Demak, intelijen dikenal dengan sebutan "telik-sandi." Namun apapun mashabnya, baik yang modern ataupun yang kuno, penguasaan atas sifat, karakter dan pamor manusia yang akan dilibatkan didalam sebuah proses intelijen itu sendiri sifatnya mutlak, harus diketahui dengan pasti dan tanpa asumsi.

Nah, sekarang pertanyaannya, apakah ada perbedaan prinsip antara manusia Indonesia saat ini dibandingkan dengan manusia pada jaman Sunan Kalijaga?. Secara prinsip sebenarnya tidak ada perbedaan dari sisi sifat dasar manusia, apalagi ini biasanya sudah turunan, bagian dari genetika. Banyak sekali contoh yang bisa diberikan. Misalnya kalau seseorang sewaktu kecil suka makan singkong, meskipun dia sudah jadi menteri, dia tetap saja doyan makan singkong. Kemudian, kalau sifat dasarnya seseorang itu curang, biarpun dibungkus dengan baju dan nama surga, tetap saja orang itu akan curang. Buktinya, banyak sekali hasil tangkapan KPK yang dari nama-namanya saja sudah berkaitan dengan surga. Begitu pula kalau seseorang sifatnya jorok, biarpun dia sudah jadi artis top, kamarnya ya tetap saja seperti kapal yang habis di Bom, berantakan.

Dari berbagai analisa sifat dasar manusia yang banyak diteliti, pada intinya terdapat tiga kelompok dasar yang bisa dikaitkan dengan analisa intelijen tradisional kita itu. Pertama, adalah manusia yang bertipe "Manajer," kedua yang bertipe "Montir", ketiga yang bertipe "Visioner." Mari kita ulas perbedaan diantara ketiganya, sebenarnya sih sederhana saja.

Tipe Manajer, adalah tipe orang yang memimpin sebuah kelompok. Soal terpilihnya dia baik sebagai ahli ataupun hanya karena nasib, itu soal lain. Yang ini tidak kita bahas. Yang kita bahas, cara-cara dia mengelola kepemimpinannya. Sebagai pemimpin, jelas dia akan di tuntut banyak hal. Dia harus dihormati, seringkali bahkan harus ditakuti, harus berwibawa, harus lebih pintar dan harus mampu membuat keputusan. Andai dia tidak memenuhi syarat diatas, maka dia bukanlah manajer, dia hanya sebatas karyawan  biasa !. Memang sulit bagi sang manajer itu, dalam konteks pengelolaan pekerjaannya, seringkali dia harus mengambil tindakan-tindakan untuk mengamankan posisinya. Dia harus membentengi dirinya dengan data-data, agar tidak bisa disalahkan nantinya.

Berkaitan dengan data, secara naluriah seorang manajer akan ber-orientasi pada data masa lalu ketimbang masa depan, khususnya dalam pengambilan keputusan. Misalnya bila dia harus menaikkan harga sebuah produk, si manajer akan melihat "past-record," atau dampak kenaikan harga dimasa lalu. Dia bisa saja tidak sungkan mengabaikan kondisi aktual saat ini yang mungkin sudah berubah drastis. Manajer yang orientasinya lebih kemasa lalu, akan mendasarkan setiap keputusannya pada perkawinan data "nice to know" dan "need to know".

Tipe yang kedua, Montir, ini lain lagi. Ada istilah asing yang mengatakan "if ain't broke, don't fix it," kalau tidak rusak kenapa harus diperbaiki?. Ini adalah sifat dasar manusia. Apabila kita kebengkel mobil yang  dan mengatakan mobil kita tidak rusak, sang Montir otomatis akan mengatakan "Loh, kenapa dibawa kemari?" Ini lumrah bukan?. Pada umumnya, manusia bertipe montir tidak akan 'berkutat' dan menghabiskan waktunya untuk masa lalu. Yang jadi fokusnya sangat sederhana. Perbaiki yang rusak!. Yang sudah lewat, untuk apa dipikirkan lagi. Yang penting, apa yang kini rusak harus diperbaiki. Umumnya montir adalah manusia yang berjasa dan dibutuhkan saat kita butuh. Pada saat kita tidak memiliki masalah, umumnya montir ya banyak dilupakan.

Tipe ketiga, Visioner, ia memimpikan dan merencanakan sebuah masa depan dan akan bekerja untuk mencapai mimpinya itu. Masa lalu bagi Visioner hanya menjadi bahan catatan saja. Berbeda dengan Montir yang sangat kreatif dengan "today's problem." Bagi Visioner, isu dan masalah yang mungkin terjadi pada hari ini lebih dianggap sebagai sebuah melodi kehidupan yang normal dalam proses perjalanan alam semesta. Baginya yang pokok adalah bagaimana tujuan yang telah direncanakannya, dipersiapkan dan dijalaninya harus tercapai. Jadi, kesimpulan dari ketiganya, Manajer lebih berorientasi kemasa lalu, Montir lebih fokus kemasa kini dan Visioner kemasa depan. Banyak yang mengatakan cukup sesederhana demikian.

Kini, apa hubungannya ketiga tipe sifat dasar manusia tersebut dengan Pilpres yang baru berlalu?. Disatu pihak kita menggabungkan teori intelijen tradisional dan sifat dasar konstituen yang tidak berubah. Namun demikian, ada dua pokok yang harus dicermati. Pertama sifat dasar manusia tidak berubah, yang berubah secara drastis adalah perilakunya. Yang sopan menjadi kasar, yang tawadhu jadi jumawa, yang irit jadi konsumtif. Yang utama, orientasi mayoritas konstituen sudah jauh berubah untuk kedepannya. Sekarang bagaimana dengan "image building" yang dibuat oleh ketiga capres? Tentunya jelas akan dipengaruhi sifat dasarnya masing-masing.

Bila diteliti, maka terdapat kesan Ibu Mega lebih memposisikan dirinya sebagai Manajer. Nuansa, emosi dan persoalan yang diangkat dan disebarkannya ke publik baik langsung maupun lewat media massa sepertinya agak terseret mundur. Secara emosional nampak lebih ber-orientasi kemasa lalu. Apakah ini salah satu penyebab turunnya dukungan simpatisan dari tiga buah pemilu 1999  (33%%), 2004 (22%) dan 2009 (14%) ?. Kadang kita kurang menyadari, semakin terbuka sistem disebuah negara, rakyatnya justru akan semakin maju, bertambah pintar dan modern. Masyarakat yang semakin maju umumnya akan sulit apabila akan dibawa kembali kepada nuansa masa lalu. Kini jamannya hand phone dan bahkan Blackberry, sulit apabila akan diajak kembali ke era pager.

Lain halnya dengan Pak JK,  memperkenalkan teorinya dengan slogan yang diusungnya  "lebih cepat lebih baik" dalam memecahkan masalah. Cuma agaknya ada yang kurang pas disini. Dalam konteks ini, JK lebih bisa dilihat sebagai seorang yang bertipe montir. Yang bisa menyelesaikan setiap masalah rumit dalam sekejap. Hanya ada yang agak kurang klop disini. Musim kampanye kali ini bertepatan dengan hari libur tahunan anak sekolah. Sepertinya Indonesia saat ini tidak mempunyai masalah. Lihat saja, mid night shopping penuh sesak, puncak macet total, ke Borobudur antri, factory outlet di Bogor dan Bandung sudah susah untuk bernafas,  parkir di mall sangat sulit. Pesawat dan bis tujuan Bali dan tujuan domestik lainnya habis dipesan. Cari tiket ke luar negeripun "fully booked." Premium dan Solar tidak naik. Akselerasi kenaikan bursa di BEJ jauh diatas negara-negara Jiran. Bonbin, Ancol penuh sesak.

Nah, kalau melihat kondisi seperti itu, dimana masalahnya? Sepertinya, kita kok tidak punya masalah prinsip. Media massa lebih mengekspose masalah Mano dan Cici yang secara substansi bersifat intern keluarga bukan kasus nasional. Sehingga dengan demikian maka dalam spektrum ini peran Pak JK sebagai ahli pemecah masalah tidak mencuat.

Publik Indonesia sepertinya sudah sangat terorientasi kedepan, lihat saja yang menangpun menggunakan slogan "Yes" dan "Vote".  Saat ini masyarakat cukup bergembira dan bersyukur, karena pilpres'09 ini mungkin pilpres yang dinilai paling nyaman dan tenang...tidak terlihat tentara berbaju loreng berpatroli dengan senjata dan kendaraan perang. Seperti wejangan Ki Tuntung Pait, salah satu tokoh "telik sandi" pada era Mentaraman, momentum yang digunakan dan tentunya yang diridhoi Allah Swt merupakan kunci pokok kemenangan. Dan, Pak SBY pada kesempatan kali ini mendapat hadiah momentum tersebut.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2009/07/14/intelijen-mataram-kenapa-ada-yang-menang-telak/ (Dibaca: 4715 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.