HILANGNYA KEHORMATAN?

1 September 2008 | 6:59 am | Dilihat : 436

Sakit dan terbaringnya Pak Harto di RSPP dengan kondisi kritis merupakan berita paling mendominasi media massa Indonesia. Setiap stasiun TV menyiapkan berita terbaru berkaitan dengan kondisi Pak Harto, upaya dokter kepresidenan, kunjungan pejabat, tokoh-tokoh politik, agama, simpatisan, dan bahkan pendemo.

Kesedihan terpancar dari keluarga karena kedudukan seorangbapak bagi masyarakat Indonesia adalah tokoh sentral yang dihormati, dihargai, pengarah, pengajar, pemberi restu dan ridha. Sebagai manusia biasa,tidak dapat dimungkiri Pak Harto dalam usia menjelang 86 tahun bertemu dengan kodratnya menjadi tua dan rapuh.Sebagai mantan presiden, banyak residu, yang jelas tidak akan dapat dibersihkannya sendiri.

Tersisanya kasus tuduhan korupsi, masalah penyelewengan di beberapa yayasan yang didirikannya, mengundang polemik yang terus bergulung tidak hanya di kalangan politisi, DPR, LSM, ahli-ahli hukum, bahkan pejabat negara. Kita kadang heran, bangsa Indonesia seperti orang bingung hanya untuk memutuskan bagaimana menyelesaikan masalah Pak Harto di akhir hayatnya.

Kasus tersebut kalau dihitung sudah 10 tahun, tetapi tidak juga selesai. Saat ini terdapat tiga kubu, pendukung Pak Harto, yang anti, dan penonton. Ada kesan sakitnya Pak Harto justru dijadikan komoditas politik, ada yang menarik simpati, jadi orang bijak, dan musuh abadi. Banyak pihak yang memanfaatkannya. Disadari atau tidak,masih banyak mereka yang bersimpati kepada Pak Harto.

Belum lagi mereka yang berutang budi, dibesarkan, diberi kedudukan, jabatan, dan kekayaan. Mereka masih banyak yang berkiprah di dunia politik, dunia usaha, atau masih menduduki jabatan penting. Kunjungan Lee Kuan Yew sebagai sesama tokoh besar pada zamannya ke RSPP cukup menarik. Sekembalinya ke Singapura dia membuat pernyataan bahwa dia menyayangkan Pak Harto di akhir hidupnya tidak mendapat suatu kemuliaan sebagai bekas pemimpin bangsa Indonesia.

Ungkapan tersebut kalau kita renungkan merupakan peringatan bagi bangsa ini yang justru datang dari bangsa lain. Betapa kerdilnya kita, betapa takutnya kita, takut menghadapi kenyataan, takut menghadapi cercaan,takut untuk memutuskan sesuatu yang ditakutkan akan memukul balik.

Di zaman demokrasi liberal, setiap orang memang bebas menyampaikan pendapat,bebas dengan jaminan hak asasi manusianya.Rakyat bebas mendemo apa saja,menyerang polisi,petugas tramtib,memblokir jalan,merusak kantor pemerintah, merusak tempat bekerja, dan yang terparah menghancurkan dan membakar tempat ibadah.

Semua ini hanya dikeluhkan para tokoh-tokoh, menyesalkan tingkah laku rakyat tanpa dapat berbuat apaapa, hanya diserahkan kepada polisi, terserah bagaimana menanganinya. Keributan banyak terjadi di manamana, pertandingan sepak bola berkelahi, masalah tanah berkelahi, penertiban pasar berkelahi, pemilihan kepala daerah berkelahi.Apakah kita sedang dilatih berkelahi atau disiapkan untuk berkelahi?

Kita sudah mempunyai pengalaman berkelahi sesama kita sejak zaman DI/TII, G30S/PKI, kasus Aceh, Ambon, Poso. Korban rakyat kecil mencapai jutaan jiwa.Apakah secara tidak sadar kita ada yang mengarahkan menuju ke arah sana? Ataukah ini bukan sebuah proses conditioning? Bagaimana kalau nanti pada 2009 kondisi psikologis rakyat sudah matang dan siap berkelahi? Kalau kita renungkan, inti semua masalah ini adalah kebebasan yang tidak pada porsinya.

Masyarakat yang kurang terdidik, tidak diberi penjelasan apa arti kebebasan dalam menggunakan sistem demokrasi liberal itu. Yang salah siapa? Jelas,mereka yang bergelut di dunia politik kurang memberikan pendidikan politik,rakyat hanya diberikan ruang kebebasan.Akibatnya seperti sekarang ini,siapa pun di negara ini akan sangat takut apabila diserang dengan kata bertuah reformasi.

Semua harus mereformasi diri dan organisasinya.Ya, UUD 45,politik,ekonomi, sosial budaya, agama, h u k u m , pertahanan,TNI,tidak ada terkecuali, pokoknya semua harus direformasi. Kita tidak anti dalam mereformasi, karena ini kesepakatan bangsa,tetapi reformasi harus ditata, rakyat harus diberi pendidikan,penjelasan.Upaya kembali mencari jati diri sebagai sebuah bangsa ini kelihatannya akan memakan waktu yang tidak sebentar.

Masih dibutuhkan upaya, dana, dan energi yang sangat besar agar kita kembali dapat duduk tenang, damai, sejahtera, bisa hidup, makan dan beranak-pinak di negeri tempat kita dilahirkan ini. Yang tidak boleh dilupakan bagi mereka yang terpilih sebagai pemimpin adalah rakyat kita 220 juta orang lebih harus diberi makan, ruang hidup, pendidikan.

Sementara, masih ada yang tidur kebanjiran selama tiga bulan dan makan seadanya. Intinya miskin dan susah. Pada kesempatan ini kita bersama mengimbau para tokoh-tokoh besar di negara kita, Pak SBY, Pak JK, Ibu Mega, Gus Dur, Pak Amien, Pak Wiranto, Sri Sultan, Pak Hidayat, Pak Agung, para elite politik, pimpinan TNI, atau siapa saja yang merasa menjadi tokoh, kita harus segera dan tegas memutuskan dan menyelesaikan kasus yang dituduhkan kepada mantan Presiden Soeharto agar tidak terulang kembali kekeliruan penanganan seperti yang pernah menimpa Bung Karno.

Kalau tidak, kondisi 2008 sama dengan kondisi 1970. Bangsa ini harus semakin maju,berani, pintar,dan bijaksana.Jangan kita lihat kesalahan Pak Harto saja.Jasa beliau kepada bangsa dan negara ini sangat besar. Bagaimana sulitnya memberi makan dan menata bangsa dan negara ini selama 32 tahun.Berapa besar jasa beliau membangun bangsa ini. Jelas,yang terlihat umumnya kesalahan seseorang, tetapi pengorbanan beliausejakzamankemerdekaanhingga menjadi jenderal besar banyak tidak diketahui masyarakat.

Keputusan harus diambil sebelum worst condition terjadi. Sangat tidak mengenakkan apabila seseorang dipanggil menghadap Allah, ada masalah yang tersisa. Pemimpin dan tokoh nasional jangan takut menghadapi kritikan. Jangan kita lari dari kenyataan. Mari kita hadapi dan sepakati bersama sebagai bangsa yang besar dan bijaksana. Pada intinya, kita bukan membela Pak Harto pribadi,tetapi kita bersama mendudukkan dan menghormati salah seorang pemimpin bangsa kita.

Kita banyak yang bangga kepada tokoh Gajah Mada yang tidak pernah kita kenal langsung,kenapa kita tidak dudukan tokoh-tokoh kita yang justru kita kenal telah memerdekakan,memimpin,dan mengangkat nama Indonesia pada tempat terhormat dan mu-lia?

Kalau tidak,walaupun rakyat kita banyak, negara luas, kita akan dinilai menjadi bangsa yang kerdil dan penakut dalam mengambil keputusan, khususnya dalam menghadapi persaingan di dunia yang semakin menantang ini. Semoga Allah SWT menyadarkan dan menolong kita.Amin.(*)

MARSDA TNI (PUR) H PRAYITNO RAMELAN S.IP

Sumber: Seputar Indonesia - Tuesday, 15/01/2008

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.