Strategi Militer BPN, dan Perang Total TKN di Zona Merah Sebagai Penentu Kemenangan

20 February 2019 | 8:05 am | Dilihat : 1681

moeldoko_djoko santoso

Dua Mantan Panglima TNI Jenderal Purn Djoko Santoso dan Jenderal Purn Moeldoko menjadi Ketua  tim sukses di dua kubu Paslon Pilpres 2019 (Foto : TribunNews)

Pilpres 17 April 2019, tinggal dua bulan kurang, timses kedua belah pihak semakin gencar berupaya menaikkan branding capres masing-masing untuk meyakinkan konstituen. Kubu Prabowo berada  pada posisi menyerang, sementara kubu Jokowi sebagai petahana di posisi bertahan. Persepsi intelijen melihat strategi militer nampak digunakan kedua belah pihak. Pilpres diibaratkan semacam peperangan, dimana kemenangan perang akan ditentukan oleh pertempuran berupa perebutan konstituen di 33 propinsi.

Kemenangan sebuah perang tidak selalu harus dicapai dengan menang di semua medan tempur. Demikian juga dalam pilpres, kemenangan paslon tidak harus menguasai seluruh propinsi, medan kritik yang mutlak harus direbut (zona merah) itu berada di tiga propinsi pulau Jawa, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam membuat prediksi (the future), intelijen menggunakan data-data masa lalu (the past) dan yang sedang berlaku (current). Hasil pilpres 2014 adalah data penting riil, mengingat dua capresnya kini tetap sama. Nah, penulis melihat strategi BPN telah melakukan serangan psyops dalam konteks conditioning kepada petahana. Upaya pokoknya kini berupaya merebut garis belakang paslon 01 di Jawa Tengah dengan gerakan senyap, memanfaatkan tim yg memiliki pengalaman membangkitkan solidaritas Islam dan memengaruhi wong cilik.

Sementara itu, di kubu paslon 01, TKN selain menaikkan branding JKW dalam keberhasilan kinerja 4,5 tahun era pemerintahannya, menjadikan JKW sebagai centre of gravity dominan, juga dalam pola conditioning. TKN memainkan pengaruh cawapres di kalangan kaum Muslim, di samping meningkatkan gebyar dukungan pelbagai pihak.

Pengertian Strategi Militer

Strategi militer adalah tindakan yang dilaksanakan oleh organisasi militer untuk mengejar sasaran-sasaran strategis yang diinginkan. Carl von Clausewitz menyatakan bahwa strategi militer adalah tujuan yang ditentukan oleh politik dimana perang adalah kesinambungan politik dengan cara militer. Implementasi perang ini yang kini dilakukan BPN dan disambut TKN dengan jargon terakhirnya.

Dalam militer, taktik adalah tingkat terendah dalam perencanaan, melibatkan unit-unit kecil mulai dari beberapa puluh hingga beberapa ratus orang. Unit disusun dalam formasi, terdiri dari tiga tingkat perencanaan yaitu keseluruhan sarana dan rencana untuk mencapai kemenangan perang.

Operasi perang akan mengubah strategi menjadi taktik, agar tercapai kemenangan pada setiap medan pertempuran. Bagian terpentingnya adalah  data intelijen tentang  kekuatan, kemampuan dan kerawanan lawan dan pihak sendiri.

Panglima militer harus melakukan serangan sebagai sarana unggulan untuk menghasilkan kemenangan. Serangan adalah operasi militer yang berusaha melalui agresif angkatan bersenjata untuk menduduki wilayah, memperoleh serta mencapai tujuan strategis yang lebih besar, di samping menyerang termasuk juga bagian dari upaya pertahanan.

Serangan militer umumnya dilakukan dengan kekuatan fisik, tapi dapat juga dilakukan dengan kekuatan lain seperti ekonomi, budaya, politik dan kekuatan iptek serta operasi psikologi dalam rangka cipta kondisi.

Strategi kubu paslon 01, walaupun ketua TKN adalah Erick Thohir, nampak kini Ketua Harian TKN, Jenderal Purn Moeldoko, mantan Panglima TNI,  menjadi tokoh utama yang menyuarakan strategi militer  dengan jargon "perang total". Ini untuk mengimbangi gerakan BPN, mendudukan kedua tim sama tinggi.

Menurut Moeldoko, TKN akan melakukan mobilisasi semua sumber daya yang dimiliki. Diterjemahkan, langkah yang ditempuh berupa, pertama "Menentukan Center of Grafity", kedua "Memetakan Karakteristik setiap daerah", ketiga "Gencar mendekati Swing Voters", ke-empat, "Mengoptimalkan penetrasi Segmen Prioritas".

Sementara timses Paslon 02 (BPN) dipimpin oleh Jenderal Purn Djoko Santoso, alumnus Akabri Darat 1975, mantan Panglima TNI dan juga mantan Kasad. Djoko juga memiliki pemahaman hitam putihnya dunia perpolitikan di Indonesia. Penulis  cukup mengenalnya sejak Sesko tahun 1990 walau berbeda angkatan, dan pernah bersama satu Kogasgab  saat latihan gabungan antar Sesko.

Langkah terakhir yang menarik, dia memindahkan markas BPN ke Solo yang hanya berjarak 300-400 meter dari rumah Pak Jokowi. Jelas ini perlu dibaca dengan jeli oleh Erick, Moeldoko dan tim TKN. Intelijen TKN harus menjawab UUK, yaitu Me (Mengapa?).

Menurut penulis, BPN kini melakukan serangan melingkar, dengan menggerakkan kekuatan utama pasukan penyerang ke belakang pertahanan musuh untuk menyerang dari belakang. Pada PD-2, Jerman melakukan serangan penetrasi terhadap Perancis dengan menggerakkan kekuatan utama untuk menembus garis pertahanan belakang musuh dengan cepat, dan sukses.

Nah, Jawa Tengah kini menjadi Propinsi kunci yang menjadi target BPN untuk direbut, karena pada Pilpres 2014, kekalahan terbesar Prabowo-Hatta terjadi di Jateng. Mari kita lihat zona merah pilpres, sebagai medan tempur hidup mati kedua paslon.

Basic Descriptive Intelligence (BDI)

Data masa lalu (BDI) nilainya sangat penting, dan bila dilengkapi kejadian masa kini (current) dapat dibuat prediksi kemenangan. Dalam konteks pilpres 2019, inilah data pilpres 2014, yang valid digunakan mengingat dua capresnya masih sama. Selain itu juga data pilkada Jateng dan Jabar menjadi sangat penting.

Pada Pilpres 2014, total DPT nasional 190.307.134 pemilih, (laki-laki 95.220.799, perempuan 95.086.335). Golput 57.410.696, suara sah, 132.896.438. Paslon JKW-JK menang dan meraih 70.997.833 suara (53,15 %), lawannya Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara (46,85 %). Selisihnya 13,587,187 suara ( 6,2 %).

Pada pilpres 2019, Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan 2 (DPTHP2), diumumkan KPU, Sabtu (15/12/2018), total pemilih 192.828.520 orang. Terdiri dari pemilih laki-laki 96.271.476 dan pemilih perempuan 96.557.044 orang. DPT Pilpres 2019 jumlah pemilih bertambah sebanyak 2.521.386 orang.

Data pilpres 2014 Jawa Barat, suara sah : 23.697.696. JKW-JK, 9.530.315 (40,22%), PBW-Hatta : 14.167.381 (59,78%). Jokowi kalah 4.637.066 suara (19,56%). Data DPT 2019, 32.636.846 pemilih.

Data pilpres 2014 Jawa Tengah, suara sah, 19.445.260, JKW-JK, 12.959.540 (66,65 %), PBW-Hatta, 6.485.720 (33,35 %). Jokowi unggul 6.473.820 suara (33,3%). Data DPT pilpres 2019, 27.068.500 orang.

Data pilpres 2014 Jawa Timur, suara sah : 21.946.401. JKW-JK, 11.669.313 (53,17%), PBW-Hatta, 10.277.088 (46,83%). Jokowi unggul 1.392.225 suara (6.34%). Data DPT 2019, 30.554.761 pemilih.

Pada Pileg 2014, PDIP meraih 23.681.471 suara (18,95 %), Golkar 18.432.312 (14,75 %), Gerindra 14.760.371, (11,81 %) dan PKS, 8.480.204 (6,79%).

Data Pilkada Jawa Tengah 2018, Ganjar-Yasin, dari kubu koalisi PDIP meraih  10.362.694 suara (58,78%), lawannya Sudirman Said-Ida Fauziyah dari kubu koalisi Gerindra meraih  7.267.993 suara ( 41,22 %).

Data Pilkada 2018 Jawa Barat, jumlah pemilih: 31,73 juta, surat suara sah: 21.979.995. Rekapitulasi KPU, Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum ( diusung Nasdem, PKB, PPP, dan Hanura) menang dengan 7.226.254 suara (32,88 %). Posisi kedua Sudrajat-Ahmad Syaikhu (PKS dan Gerindra) 6.317.465 (28,74 %). Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (koalisi Golkar dan Demokrat) di posisi ketiga 5.663.198 suara (25,77 %), terakhir Tubagus.H-Anton CH (PDIP), 2.773.078 suara (12,62%).

Serangan  Melingkar BPN ke Jawa Tengah

Timses BPN jelas sangat faham  bahwa Jawa Tengah adalah daerah basis PDIP, disamping kentalnya dukungan terhadap Jokowi. Pada pilpres 2014, Jokowi unggul dari Prabowo sebanyak 6.473.820 suara (33,3%).

Serangan melingkar BPN ke Jateng dalam militer dikenal sebagai upaya penetrasi. BPN menggerakkan kekuatan utama penyerang ke garis belakang pertahanan pendukung Capres Jokowi, menyerang, memengaruhi konstituen (wong cilik)  dan mendegradasi dari belakang. Seperti saat  Jerman melakukan serangan terhadap Perancis pada perang dunia II, serupa, yang  dilakukan dengan menggerakkan kekuatan utama untuk menembus garis pertahanan musuh dengan cepat. Konsep pre-emptive strike juga masih menjadi salah satu teori yang  dianut oleh negara-negara besar seperti AS dan Australia.

Operasi BPN dari Solo tersebut jelas lebih efektif dan efisien, langsung melakukan operasi penguasaan wilayah dipimpin Ketua BPN,  bisa diperkirakan akan memiliki daya kejut besar apabila tidak difahami atau tidak diwaspadai lawan. Pada pilkada Jateng 2018, cagub Gerindra, Sudirman Said hanya kalah tiga  juta suara dari cagub PDIP, Ganjar Pranowo sebagai Petahana.  Sudirman bukan tokoh besar di sana, ini membuktikan mesin Koalisi Gerindra sudah berjalan cukup efektif. TKN jangan memandang ringan upaya penetrasi berbagai macam cara, salah satu misalnya sholat subuh berjamaah dari unit-unit Muslim BPN. Hal serupa juga dilakukan di Jawa Timur.

Sementara Tim Kampanye Daerah (TKD) Paslon 01, juga melakukan kampanye penetrasi pada titik-titik wilayah zona merah Jabar meliputi Bekasi, Sukabumi, Pengandaran, Tasik, Garut dan Banten.

Pengalaman pada Pilpres 2014, di Jabar, Jokowi kalah 4.637.066 suara (19,56%) dari Prabowo. TKN kini melakukan penetrasi wilayah yang di kuasai militansi PKS untuk meyakinkan dan merubah mindset pemilih, menggunakan Cawapres Ma'roef Amin sebagai salah satu tokoh Muslim. Selain itu dari peta Pilkada Jabar 2018, pendukung Prabowo (koalisi Gerindra dan PKS)  dipecah, satu dipihak koalisi Gerindra, sementara tiga calon lain berada di seberang. Nampak kini beberapa tokoh mantan tiga cagub akan mendukung dan menarik gerbongnya ke paslon 01 seperti Ridwan Kamil, Dedy Mulyadi, Tubagus Hasanudin serta Anton Charliyan. Ini operasi imbangan untuk membalikkan kekuatan pendukung Prabowo yang sangat kuat pada pilpres 2014.

Secara perbandingan angka, suara murni PKS dan Gerindra saat pilkada Jabar 2018, hanya, 6.317.465 (28,74 %) dari 21.979.995 surat suara sah, bila dibanding dibandingkan suara sah pilpres 2014, 23.697.696. Perolehan JKW-JK pada pilpres 2014, 9.530.315 (40,22%), PBW-Hatta : 14.167.381 (59,78%). Jokowi kalah 4.637.066 suara (19,56%). Kini nampaknya kubu paslon 01 memiliki peluang lebih besar di Jawa Barat, zona merah berat.

Menarik yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer M.Qodari, pada Pilpres 2014 Jokowi kalah di sepuluh provinsi di seluruh Indonesia. Apabila kekalahannya di  sembilan provinsi digabung tanpa termasuk Jawa Barat, kekalahannya hanya 3,9 juta suara. Sementara kekalahan Jokowi di Jabar adalah 4.637.066 suara, Penulis setuju pendapat Qodari, bahwa Jawa Barat menjadi sangat penting, bahkan disebutnya "dahsyat". Disinilah penetrasi TKN harus lebih  tajam. Sementara di lain sisi, hal serupa bisa juga  terjadi pada kubu BPN apabila tidak waspada, aktif menyerang di Jawa Tengah, tapi berpeluang runtuh di Jawa Barat.

Waktu yang tinggal dua bulan ini jelas akan diwarnai dengan penerapan strategi militer lanjutan, nampaknya operasi psikologi (psychological operation) dan cyber akan semakin menonjol. Cipkon (cipta kondisi) dengan sarana cyber merupakan sentral dari operasi penggalangan, menurut pengalaman akan mampu menarik swing voters dan bahkan juga golput. Apabila salah satu pihak  kalah di cyber war, jelas harus siap-siap gulung tikar.

Dari fakta-fakta serta data diatas, bagi kubu Jokowi bila berhasil membuat perimbangan (balance) , dan bahkan mampu merebut suara, menang di Jabar dan mampu mempertahankan kemenangan di dua provinsi pokok lainnya, Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka peluang menangnya besar.

Bagi paslon 02 Prabowo-Sandi, walaupun serangan BPN ke garis belakang basis PDIP di Jateng tidak ditonjolkan (silent ops), sebaiknya diwaspadai TKN. Konsep sholat subuh berjamaah jangan dianggap ringan, pesebarannya luas dan masif, para wong cilik dibius dengan informasi kepentingan hidup yang lebih baik. Sebagai contoh di DKI saja gerilya BPN diinformasikan berhasil membentuk 201 unit (organisasi) pendukung, tersebar merata. Jakarta Selatan dan Timur banyak dikuasai pendukung Prabowo. Secara teori strategi dan taktis militer, TKN baru akan mampu  mengimbangi bila memiliki 600 unit serupa.

Prabowo pada pilpres 2014 selain mempunyai modal besar di Jawa Barat, terbentuknya militansi pendukung PKS yang pernah menguasai dua pilgub sebelumnya. Besarnya peluang menarik para millenial yang dibentuk melalui medsos dengan sarana cyber bisa menjadi ancaman tersendiri bagi TKN.

Kesimpulan

Walau kini beberapa lembaga survei menyampaikan bahwa paslon 01 masih lebih unggul dari paslon 02, waktu dua bulan masih cukup untuk cipkon mengubah keunggulan posisi. Inisiatif penyerang berada di kubu paslon 01, dimana dalam rumus militer bagi yang bertahan (petahana), harus tiga kali lebih kuat dari penyerang, ini perlu diukur. Pejabat dan ahli penggalangan di kubu BPN adalah purn TNI yang faham dengan perang psikologi, fokus hanya menangani  pilpres, sementara di kubu TKN para petugas penggalangan diragukan memiliki pengalaman dalam operasi serupa.

Ini bukan kegiatan politik semata, tetapi kemampuan intelijen dari tim menjadi pokok. Kerawanan TKN, karena tim juga sebagian disibukkan dengan pemilu legislatif. Masih ada waktu paling tidak satu setengah bulan bagi Erick Thohir dan Pak Moeldoko untuk membenahinya.

Adu strategi militer, adu ilmu intelijen penggalangan dan adu kemampuan cyber war penulis perkirakan akan makin mewarnai pilpres. TKN jangan ternina bobok dengan hasil survei dimana umumnya paslon 01 selalu unggul, BPN dan pendukung Paslon 02 juga sedang mempersiapkan diri untuk menang. Memang debat paslon penting untuk menilai dua patron capres, tetapi menurut penulis, kecerdasan dan kecerdikan mengolah zona merah itulah intinya. Siapa yang lebih tajam dan mampu,  diperkirakan dia yang akan menang. Kira-kira begitu. PRAY.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.