Serangan Psikologis Terhadap Presiden Jokowi

5 April 2018 | 6:20 am | Dilihat : 1020
presiden-jokowi-kiri-prabowo-subianto-kanan_20170526_223146
Presiden Jokowi dan Prabowo, masih sebagai magnit (Foto : TribunWow)

Tahun 2018 dikatakan sebagai tahun politik karena terdapat dua kegiatan politik di Indonesia, dengan akan dilaksanakannya  Pilkada serentak pada 27 Juni 2018  di 171 daerah dan persiapan Pilpres 2019 (masa pendaftaran bakal pasangan capres yang dimulai pada 8-14 Agustus 2018). Pada dua bulan terakhir penulis mengamati  terjadinya getaran yang berpotensi kearah gesekan pada komponen intelstrat politik yang apabila tidak kita waspadai bersama akan dapat mengimbas serta memengaruhi  komponen intelstrat lainnya. Dalam bahasa intelijen, pilkada adalah medan tempur menuju ke pilpres sebagai medan perangnya.

Penulis mencoba mengulas medan perang, karena  rakyat akan memilih pimpinan nasional yang akan menentukan masa depan Indonesia. Sementara ini terlihat baru terbentuk dua kubu yaitu kubu yang mendukung Pak Jokowi dan kubu dari Pak Prabowo. Kekuatan parpol sementara ini akan bergabung dalam dua kubu tersebut. Pertanyaannya, masih mungkinkah terbentuknya kubu ketiga?  Kubu ketiga terbentuk hanya apabila SBY mau membentuknya, tetapi sepertinya kubu Cikeas akan bergabung ke Hambalang. Sementara ini dari dua kubu itu, Jokowi dinilai sebagai kandidat yang lebih kuat untuk kembali berkuasa melalui pilpres 2019, dibandingkan Prabowo atau siapapun yang akan dijadikan capresnya dari kubunya.

Nah, penulis melihat demikian kental  upaya pembentukan opini  negatif yang berusaha  menurunkan baik popularitas maupun elektabilitas  Jokowi baik selaku pribadi maupun presiden. Dalam ilmu intelijen, pengondisian atau conditioning akan dilakukan melalui beberapa tahapan dan harus benar-benar difahami oleh para inner circle pak Jokowi dalam melakukan counter. Konsep serangan adalah standar intelijen, let them think, let them decide (Rakyat diberikan masukan untuk berfikir dan dibiarkan untuk memutuskan).

Sebagai contoh konkrit, saat pilkada DKI, popularitas dan elektabilitas Ahok sebagai Petahana pada awalnya  sulit ditumbangkan karena tingginya elektabilitasnya. Kinerjanya dinilai demikian tinggi, kecuali popularitasnya diturunkan dengan cara dimasukkan dalam killing ground kemudian diserang bersama. Ahok diserang di titik  rawannya, sering emosional dan tidak tajam melihat kelemahannya yang berupa kerawanan. Setelah tanpa sadar dia menyentuh soal Islam yang bukan wilayahnya, maka penggunaan referensi Al-Maidah  menjadi detonator yang mengakibatkan kelumpuhan politisnya. Ahok tumbang dan bahkan masuk penjara. Pematangan solidaritas Islam demikian cantik dan matang di kemas menjadi daya giling elektabilitas Ahok.

Serangan Psikologis Terhadap Jokowi

Penulis melihat dalam beberapa bulan terakhir, serangan terhadap Pak Jokowi semakin masif,  dengan memanfaatkan medsos yang telah menjadi virus yang menyebar ke semua lapisan masyarakat. Pengondisian serangan  telah dan sedang terjadi berupa pukulan identitas, kompetensi, kapabilitas dan akseptabilitas. Identitas diserang dengan ditiupkan terus  adanya  sentuhan Jokowi sebagai keluarga PKI dan anti Islam. Dalam masalah kompetensi, disebarkan  terus bahwa presiden kurang  memiliki kemampuan, ketrampilan atau skill. Lebih spesifiknya kemampuan pengambilan keputusan dikatakan lemah. Ditiupkan terus masalah perekonomian, kurs dolar, hutang negara, dan infrastruktur.

Dalam hal kapabilitas, Jokowi juga diserang,  pengertiannya sama dengan  kompetensi, tetapi pemaknaannya tidak sebatas memiliki keterampilan (skill) tetapi lebih paham secara mendetail sehingga benar benar menguasai kemampuannya dari titik kelemahan hingga cara mengatasinya. Akseptabilitas, artinya adalah keterimaan, kecocokan dan kepantasan, ini sasaran terakhirnya.  Rakyat diarahkan berfikir,  masih pantaskah Pak Jokowi menjadi presiden untuk lima tahun mendatang? Tagline yang dimunculkan adalah ABJ (Asal Bukan Jokowi).

Dari beberapa tahapan serangan psikologis tersebut, rakyat atau konstituen akan dijejali dengan berita-berita palsu (HOAX), yang dikemas sedemikian rupa. Apabila konsep diatas gagal, maka  senjata pamungkas dari tahapan tersebut, yang masih disembunyikan adalah soal integritas. Pengertian secara umum Integritas yaitu yaitu konsep yang berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Sebelum menjadi presiden,  Jokowi pernah menjabat sebagai  Gubernur DKI Jakarta dengan wakilnya Ahok. Pada saat lalu pernah dimasalahkan adanya kasus-kasus berbau korupsi di DKI, apakah kasus sudah selesai atau  masih ada tetapi diredam?. Perlu diingat Anies dan Sandi jalur politiknya adalah oposan. Secara ilmu intelijen, lawan akan sangat berbahaya apabila menguasai informasi kerawanan kita.

Orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Kesimpulan utamanya adalah kejujuran. Nah, kekuatan Presiden Jokowi terutama soal kejujuran, tetapi justru ini bisa berbalik akan menjadi detonator yang meletupkan semua yang sudah tertata. Lawan politik semakin berani dan terbuka dengan kata-kata pengibulan misalnya. Sebagai studi kasus soal integritas,  mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum sangat sulit dicari kerawanannya sebagai  titik mati agar dapat diseret ke KPK, dia saat itu demikian powerfull, sebagai Ketua Umum Parpol yang berkuasa, hingga berani sesumbar siap digantung di Monas. Akhirnya Anas toh tumbang juga hanya karena soal  gratifikasi sebuah mobil. Setelah ditahan KPK, maka kita lihat terbongkarnya kasus-kasusnya saat di DPR, dia dipenjara yang hingga kini belum selesai juga, bahkan terseret korupsi e-KTP.

Nah, dalam hal ini inner circle Presiden harus waspada terhadap kemungkinan adanya masalah gratifikasi sekecil apapun, terlebih apabila lawan politiknya mampu mengembangkan adanya celah inkonsistensi dan hal-hal yang bersifat pelanggaran hukum. Hati-hati, masa kini kata singkat yang mematikan adalah korupsi. 

Kesimpulan 

Serangan terhadap Pak Jokowi penulis perkirakan akan terus terjadi dan semakin masif, lawan politik akan berusaha menurunkan popularitas dan elektabilitasnya dengan pelbagai cara, menjelang pengajuan capres. Kemampuan membaca ancaman hanya dimiliki mereka yang memiliki sense of intelligence, karena ada sisi clandestine yang tidak terbaca secara umum. Pak Jokowi sebaiknya jangan terbuai dengan hasil survei yang menghanyutkan bahwa elektabilitasnya tetap tinggi. Tiap orang ataupun kelompok umumnya hanya  memikirkan kepentingannya. Nah, Pak Jokowi perlu menilai teman seiring yang mau membantunya memberikan informasi akurat dan mau memikirkan masa depan bangsa ini. Tidak ada kata telambat, yang ada hanyalah mungkin belum difahami. Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.