Pelajaran Dari Pilkada Jabar

1 September 2008 | 4:56 pm | Dilihat : 1464

Sumber : Koran Seputar Indonesia : Thursday, 17/04/2008

*PRAYITNO RAMELAN (Analis Lembaga Indset)

Hasil quick count yang dilakukan Lembaga Survei Nasional menunjukkan pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf mengungguli pasangan Danny Setiawan- Mayjen (purn) Iwan Sulandjana dan pasangan Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar-Nu'man Abdulhakim.

Walau hasil resmi belum diumumkan, hasil quick count biasanya cukup akurat dan dapat dipercaya, seperti yang terjadi saat Pilpres 2004. Dari pilkada tersebut terlihat suatu fenomena menarik yang perlu diamati secara serius dan teliti oleh para elite parpol, khususnya dalam menghadapi Pilpres 2009.

Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf didukung PKS dan PAN yang pada Pemilu 2004 di Jawa Barat (Jabar) suara gabungannya meraih 16,77%. Pasangan Agum Gumelar- Nu'man Abdulhakim didukung PDIP, PKB, PPP dengan perolehan suara gabungan sebesar 34,34%. Pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana didukung Partai Golkar dan Demokrat dengan perolehan suara gabungan pada Pemilu 2004 mendapat 35,67% suara.  Pada awal pendaftaran, pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf dinilai sebagai underdog.

Dari perhitungan di atas kertas, dengan dasar hasil Pemilu 2004 di Jabar, jumlah konstituen partai yang mendukung mereka dinilai sulit bertanding dengan kedua pasangan lainnya yang didukung oleh gabungan partai-partai besar. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik kemenangan Ahmad Heryawan- Dede Yusuf ini? Mengapa cagub- cawagub dari partai-partai besar justru tak berkutik?

Dari fakta-fakta yang ada, pasangan calon Danny yang Gubernur Jabar (2003?2008) serta Mayjen (purn) Iwan Sulandjana (mantan Pangdam Siliwangi) tidak perlu diragukan lagi ketokohannya. Kedua tokoh itu sangat berpengalaman dalam urusan pemerintahan dan birokrasi.

Sementara itu, Agum Gumelar adalah purnawirawan jenderal yang pernah menjabat sebagai menteri, tokoh masyarakat, dan tokoh olahraga yang tidak perlu diragukan lagi. Pada pilkada ini, Agum didampingi Nu'man, Wakil Gubernur Jabar (2003-2008). Latar belakang kedua pasangan di atas teramat kontras dengan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Ahmad Heryawan yang belum genap berumur 42 tahun, belum mempunyai pengalaman sebagai pejabat pemerintahan. Kariernya banyak di organisasi Islam, institusi pendidikan, dan parlemen (terakhir sebagai anggota DPRD DKI).

Demikian juga pendampingnya Dede Yusuf, lebih dikenal sebagai artis, bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN) beberapa tahun terakhir. Jika kemenangan mereka terkait dengan adanya resistensi calon dari TNI, kelihatannya juga tidak. Survei Puskaptis pada Juli 2007 menyebutkan, sebanyak 52% responden masih menginginkan pemimpin visioner, tegas, dan kapabel yang dapat merupakan kombinasi militer-sipil atau sipil-militer.

 

Bosan  janji-janji

 

Sejak bergulirnya reformasi sekitar sepuluh tahun lalu, masyarakat sangat banyak menerima informasi terbuka baik dari media massa. Banyak informasi yang diterima masyarakat bawah yang berkait dengan kesulitan kehidupan dan beratnya mencari nafkah. Informasi yang mereka terima lebih menjurus kepada menyalahkan kepemimpinan dan pemanfaatan jabatan dan tindak korupsi. Timbulnya kekacauan yang banyak terjadi lebih disebabkan karena dinilai salah urus dan kurangnya kepedulian pejabat.

Pada akhirnya, masyarakat banyak yang kurang percaya terhadap janji-janji yang disampaikan mantan-mantan pejabat yang maju pada pilkada tersebut. Peluang inilah yang secara cerdik diambil PKS dan PAN. Calon yang mereka ajukan justru bukan tokoh yang sudah terkenal, diragukan mampu melawan Danny yang gubernur dan Agum yang sangat terkenal, belum lagi keduanya diperkuat calon wakilnya yang juga tokoh besar di Jawa Barat.

Namun, Cagub PKS dan PAN tampil beda dan bermain pencitraan. Lihat saja foto pada kertas pilkada keduanya tidak berpeci, sedangkan kedua pasangan lainnya berwibawa dengan pecinya masing-masing. Ahmad Heryawan adalah orang muda sederhana, bukan tokoh besar di Jabar, dosen, dan hanya anggota DPRD DKI. Calon wakilnya adalah seorang artis terkenal yang menjadi politisi beberapa tahun terakhir, juga bukan tokoh besar di Jabar, dibandingkan calon lainnya.

Di sinilah keberhasilan PKS yang mampu menghitung kondisi psikologis masyarakat Jabar yang sudah jenuh dengan para pejabat yang dinilai hanya bisa janjijanji. PKS bukan partai yang mengutamakan penokohan, tetapi mesin partai yang dikelola pengurus yang rata-rata kaum mudalah yang menyukseskan agenda partainya. Masyarakat Jabar sangat terkesan dengan kedua calon sederhana tersebut yang berani membuat kontrak politik, siap dicopot apabila membuat kesalahan atau menyalah gunakan jabatannya.

Jadi, inilah perkembangan politik di Indonesia, yang menunjukkan bahwa rakyat sudah letih, bosan dan mencoba mencari pemimpin yang sederhana.

 

Pemilihan Langsung dan Pilihan Rakyat

 

Sesuai dengan kesederhanaan masyarakat kalangan bawah, kompetensi bukanlah hal yang sangat penting lagi, tetapi rakyat mencoba mencari pemimpin muda meski belum berpengalaman dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan. Apa pelajaran yang dapat dipetik untuk 2009 ini? Kelihatannya, sejarah kembali berulang bahwa calon dari partai menengah dapat mengalahkan calon dari partai papan atas dalam pemilihan pemimpin secara langsung. Perolehan suara pada pemilu legislatif tidak dapat dijadikan pegangan dalam pemilihan pimpinan nasional dan pimpinan daerah secara langsung.

Kondisi psikologis rakyat mulai bergeser, dengan kondisi yang semakin sulit, kepercayaan terhadap tokoh besar mulai luntur. Rakyat mulai mencari mereka-mereka yang kira-kira bisa dipercaya. Faktor kejujuran seseorang akan sangat berperan dan diminati masyarakat. Rakyat menyimpulkan bahwa pejabat atau mereka yang pernah menjabat tidak dapat dipercaya dan berbau korupsi. Buktinya, banyak yang dipublikasikan media massa dan media elektronik, banyak pejabat dan mantan pejabat yang ditangkap serta dipenjara oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Walau tingkatan Pilkada Jawa Barat hanya memilih kepala daerah, fenomena dari kasus tersebut perlu dianalisis dan diamati lebih mendalam oleh elite partai politik. Semoga pasangan sederhana tersebut mampu membuktikan bahwa pilihan masyarakat tidaklah salah. Masyarakat sering salah dalam memilih pemimpin daerahnya, bahkan pemimpin nasionalnya. Keduanya harus siap menghadapi hambatan politisi daerah yang mayoritas bukan pendukungnya. Di samping itu, masalah birokrasi yang akan dihadapi tidaklah semudah seperti apa yang terlihat. Diperlukan seni kepemimpinan yang demokratis tetapi tegas. Semoga tabah "Hade."

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.