Mampukah Ahok Menghadapi Gelombang Gempuran Terstruktur?

26 October 2016 | 10:37 am | Dilihat : 1856

No-Urut-5

Setelah undian nomor urut peserta pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta, AHY-Sylvi nomor satu, Ahpk-Djarot dua dan Anis-Sandi nomor tiga (Foto : bintang)

Berdasarkan pengamatan penulis, jabatan itu sangat besar pengaruhnya bagi seseorang dalam sebuah kehidupan. Misalnya, seorang militer dengan pangkat Jenderal sekalipun, saat menjabat dan berpakaian dinas, maka dia akan sangat disegani orang lain, tetapi begitu seragamnya dilepas, dipensiun, maka pengaruhnya akan mengecil dengan sendirinya. Juga dikalangan sipil, saat jadi pejabat tinggi, orang sangat menghormatinya, nah begitu dia turun, banyak yang kemudian tidak menjadi apa-apa. Walaupun beberapa tokoh masih dapat eksis. Ada yang terkena post power syndrome dan menjadi lebih parah tersentuh masalah tipikor.

Terkait dengan rencana Pilkada serentak pada tanggal 15 Januari 2017, KPU Daerah DKI Jakarta telah menetapkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI dalam Pilgub DKI hari Senin (24/10/2016) pukul 16.00 WIB di Balai Sudirman. Kemudian Selasa malam (25/10/2016), dilakukan pengambilan nor urut calon. Pasangan Agus-Sylvi mendapat nomor urut satu, Ahok-Djarot urut dua, dan Anies-Uno urut tiga. Menurut KPU, rangkaian tersebut akan dilanjutkan dengan masa kampanye dan debat publik  mulai tanggal  28 Oktober 2016. Sesuai peraturan, maka petahana di DKI Jakarta (Ahok-Djarot) cuti dari jabatannya sejak Rabu (26/10/2016), menyerahkan jabatannya kepada plt gubernur.

Hari Senin (24/10/2016), Gubernur DKI, Ahok mendatangi  Bareskrim Polri.  Dikatakannya, "Tadi ke Istana permisi (pamit ke Presiden Jokowi) kan. Rabu sudah serah terima ke Kemendagri," katanya di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo No.3  Jakarta Pusat. Nampaknya Ahok akan lolos dengan pelaporan penistaan agama, karena polisi mempunyai kaidah-kaidah khusus hukum. Ini buah simalakama juga untuk Kapolri dan harus di tangani dengan hati-hati.

350502_620

Ahok dan Presiden Jokowi jelas saling mengenal baik karena pernah menjadi pasangan di DKI Jakarta, posisi ini jelas memperkuat secara psikologis rasa percaya dirinya, sementara Ahok dengan Wapres JK diberitakan berada di posisi yang berbeda (Fofo : tempo)

Sementara,  Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sudah menyiapkan dua nama yang salah satunya akan ditunjuk sebagai Plt Gubernur DKI yakni Sekjen Kemendagri Yuswandi A Temenggung atau  Dirjen Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri Soni Sumarsono. "Salah satu dari dua nama tersebut (Yuswandi atau Soni)," kata Tjahjo saat dikonfirmasi media soal sosok Plt Gubernur DKI, Senin (24/10/2016).

Pertanyaan menggelitik, apakah Ahok yang terus digempur banyak pihak saat sudah tidak aktif  menjabat sebagai gubernur DKI masih mampukah bertahan? Memang hingga survei terakhir yang dirilis lembaga survei, elektabilitasnya masih mengungguli dua calon lainnya. Nah, mari kita bahas dari sudut pandang intelijen, baik sisi taktis maupun strategis.

Ahok Kuat Tapi Bukan Tokoh Pada Pilkada DKI 2012

Pada umumnya, petahana merupakan sosok yang kuat sebagai calon disuatu wilayah untuk kembali memenangkan persaingan. Tetapi, melihat pengalaman Pilkada 2012 di DKI Jakarta, situasi terjungkir balik, setelah Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi  sebagai petahana, dikalahkan oleh Jokowi yang berpasangan dengan Ahok. Sementara kita tahu bahwa mayoritas parpol mendukung Fauzi, sedang Jokowi-Ahok hanya didukung dua parpol saja. Disitu yang terlihat, konstituen Jakarta sudah tidak percaya lagi dengan Fauzi, dan menginginkan perubahan.

Konstituen Jakarta menurut beberapa data saat itu lebih  50  persen diantara penduduk adalah lulusan SMA, disebut sebagai  pemilih rasional.  Fauzi Bowo takluk oleh pasangan Jokowi-Ahok karena keduanya memiliki track record yang diberitakan baik saat menjabat di Solo maupun di Belitung. Karena itu pemilih rasionalitas Jakarta memilih Jokowi-Ahok karena lebih utamanya melihat pengalaman, track record sebagai pejabat pemerintahan di wilayah  serta kinerja si calon, maksiudnyua apa yang sudah dikerjakannya.

????????????????????

Jokowi saat kampanya Pilkada 2012 dengan simbol metal tiga jari dan sukses (Foto ;metrotvnews)

Ukuran masyarakat dalam kondisi sulit, banjir, macet, pelayanan pemda payah, dan melihat Jokowi sang calon berkenan masuk ke kolong got, menambah kepercayaan rakyat Jakarta. Saat itu ketokohan Jokowi lebih berperan banyak dalam memenangkan persaingan dengan petahana. Terbukti  selanjutnya dengan beberapa polesan,  jadilah Jokowi Presiden RI, ini karena DKI Jakarta adalah barometer Indonesia, kira-kira begitu. Kesimpulannya saat itu yang dilihat rakyat siapa calonnya? Bukan parpol pendukungnya.

Nah, bagaimana dengan Ahok? Penulis pernah menganalisis, pada pilkada DKI 2012, konstituen lebih fokus dan mempercayai  Jokowi. Ahok belum teruji, walau dia  pernah menjadi Bupati di Belitung, yang mungkin rakyat Jakarta juga belum tentu  tahu dimana dengan tepat letaknya.

Dalam melanjutkan kepemimpinan, keberhasilan Ahok hanya dapat diukur dengan survei. Kini bertaburan lembaga survei, karena mahal ongkos sewanya bisnis survei bisa menjadi ladang penghasilan, sebagai konsultan publik. Pada masa ini, para lembaga survei menurut penulis baru dalam tahap pemasaran, umumnya masih independen. Maksudnya supaya menarik pemesan dari salah satu pasangan. Survei yang merilis hasil ke publik sebaiknya independen, transparan dan dipercaya. Kalau abal-abal ya akan tidak dipercaya pastinya.

Mari kita simak beberapa hasil lembaga survei, apapun lembaga itu, bisa dilihat sebagai perbandingan seberapa kuat elektabilitas Ahok yang terkenal memimpin dengan gaya kontroversi.

Hasil Survei Hingga 11 Oktober 2016

 

Survei SSI , merilis hasil pada hari Minggu, 23 Oktober 2016 15:50. Elektabilitas Ahok-Djarot  bulan Oktober 2016 adalah 33,8 persen, Agus-Sylvi 19,6 persen, Anies-Sandi, 18,8 persen. Survei dilakukan dengan wawancara tanggal 6-11 Oktober 2016 di seluruh wilayah DKI, dengan metodologi multistage random sampling. Responden sebanyak 800 orang. Margin of error 3,46% dan tingkat kepercayaan 95%.

SMRC (Saiful Mujani Research Center) merilis hasil survei Pilkada DKI pada Kamis (20/10/2016). Survei ini dilakukan pada 1-9 Oktober 2016, elektabilitas  Ahok-Djarot,   45,4 persen. Agus Harimurti-Sylviana Murni, 22,4 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 20,7 persen. Sebanyak 11,6 persen responden menjawab tidak tahu atau rahasia

Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas menyebutkan, alasan kuatnya dukungan terhadap pasangan Basuki-Djarot erat kaitannya dengan tingkat kepuasan warga DKI terhadap kinerja Ahok. Mayoritas warga DKI,  sebesar 75 persen merasa puas dengan kinerja Ahok-Djarot. "Ini merupakan peningkatan 5 persen dari kepuasan terhadap kinerja Ahok pada survei Agustus 2016. Sementara itu, yang kurang atau tidak puas hanya mencapai 22 persen," kata Sirojudin di Hotel Pan Pacific, Jakarta Pusat, Kamis (20/10/2016). Alasan responden dalam memilih,  26,4 persen memilih pasangan calon atas dasar sudah ada bukti nyata hasil kerjanya. Ahok dan Djarot pun dipilih oleh 48,8 persen responden atas bukti kerjanya.

"Analisis regresi multinominal menunjukkan bahwa penilaian pemilih terhadap pelaksanaan pemerintahan, kondisi ekonomi, dan kinerja petahana berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih calon gubernur dan wakil gubernur," kata Sirojudin yang juga mengatakan bahwa survei SMRC didanai oleh SMRC sendiri. Petahana dinilai unggul karena pemilih Jakarta cenderung rasional dan lebih mengandalkan kinerja. Petahana sangat dipengaruhi oleh penilaian warga atas kinerjanya.

"Karena kinerja incumbent secara umum dinilai positif, maka pasangan incumbent untuk sementara ini unggul atas penantangnya sekitar 23 persen," katanya. Sirojudin menuturkan, kepuasan masyarakat diukur dari beberapa indikator, yaitu kondisi rumah sakit dan puskesmas dengan kepuasan, 92 persen, pelayanan di kecamatan dan kelurahan, 90 persen, gedung sekolah 90 persen, air bersih 89 persen, jaringan listrik 89 persen, dan kondisi jalan 88 persen.

Kebersihan dan pengelolaan sampah, 80 persen berada dalam kategori baik atau sangat baik. Warga juga menyatakan puas dengan kinerja Pemprov DKI dalam  menangani banjir, menangani sampah, dan yakin dengan program beasiswa untuk keluarga miskin. Kepuasan terendah ada pada kondisi kelancaran transportasi dengan tingkat kepuasan 49 persen.

Pelaksanaan pemerintahan di DKI Jakarta juga dinilai sangat baik oleh 6 persen responden, 55 persen responden menyatakan baik, dan 30 persen responden menilai sedang, 8 persen buruk, sementara sisanya tidak tahu atau tidak menjawab. Terkait isu perekonomian di Jakarta, 41 persen responden menilai keadaan ekonomi Provinsi DKI Jakarta lebih baik dari tahun lalu, dan 45 persen responden menilai keadaan ekonomi rumah tangga mereka lebih baik dari tahun lalu.

Populi (Public Opinion and Policy Research) Center

Survei dilaksanakan pada 25 September-1 Oktober 2016. Hasil survey, elektabilitas pasangan Ahok-Djarot 45,5 persen.  Anies-Sandi, 23,5 persen pasangan Agus-Sylvi, 15,8 persen.  Sementara 15,2 persen responden belum memutuskan dan tidak menjawab. Dalam pertanyaan terbuka, yang memilih Ahok (40,8 persen), Anies (17,3 persen), Agus Harimurti (12,5 persen), Sandiaga (1,5 persen), dan Tri Rismaharini (0,8 persen).

 Median (Media Survei Nasional)

Lembaga Media Survei Nasional  melakukan survei pada 26 September-1 Oktober 2016. elektabilitas pasangan Ahok-Djarot sebesar 34,2 persen, Anies-Sandiaga 25,4 persen, Agus-Sylvi,  mendapat sebesar 21 persen. Sebanyak 19,4 persen responden belum menentukan pilihan.

 LSI (Lingkaran Survei Indonesia)

Survei LSI Pertama, dilakukan pada 26-30 September 2016 dengan metode multistage random sampling. Jumlah respondennya 440 orang. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error survei lebih kurang 4,8 persen. Seandainya pilkada digelar saat survei, Ahok-Djarot memperoleh 31,4 persen responden, Anies-Sandiaga 21,1 persen, dan Agus-Sylvi 19,3 persen. Swing voters tercatat sebanyak 28,2 persen

Survei tersebut juga membagi dua kategori pemilih, yakni Muslim dan non-Muslim. Hasilnya, sebanyak 27,7 persen pemilih Muslim memilih pasangan Ahok-Djarot, sedangkan non-Muslim 83,3 persen. Pasangan Anies-Sandiaga, mendapat 22,8 persen pemilih Muslim dan 2,8 persen pemilih non-Muslim. Pasangan Agus Sylviana mendapat 20,6 persen pemilih Muslim dan 3,2 persen non-Muslim.

Survei Kedua Head to head, pada 28 September-2 Oktober 2016, dengan total 440 warga DKI Jakarta yang menjadi responden. Apabila Ahok-Djarot head to head Anies-Sandiaga, 64,3 persen pendukung Agus-Sylviana akan mengalihkan dukungannya ke Anies-Sandiaga ketimbang ke pasangan Ahok-Djarot yang hanya dapat dukungan 14,3 persen dari responden pendukung Agus-Sylviana.

Sebaliknya, jika Ahok-Djarot head to head  Agus-Sylviana, 59,1 persen pendukung Anies-Sandiaga akan memilih Agus-Sylviana. Sementara itu, pendukung Anies-Sandiaga yang akan memilihAhok-Djarot hanya 8,6 persen. Survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka dan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error dalam survei ini plus minus 4,8 persen, dengan sumber dana dari kas internal LSI.

Analisis

Penulis yang juga aktif dalam mengamati pergerakan di sosial media terkait pilkada menyetujui betapa besar perannya, baik dalam rangka cipta kondisi, black campaign (robot), pembentukan opini serta efisiensi dan efektivitas sarana komunikasi.

Dari lima lembaga survey (tanpa melihat lembaganya) yang melakukan survey dalam rentang tanggal 25 September -11 Oktober 2016, pasangan Ahok-Djarot berada pada angka terendah 31,4 persen dan tertinggi 45,5 persen. Sementara Agus-Sylvi dalam waktu yang sama elektabilitasnya berkisar antara terendah 15,8 persen dan tertinggi 22,4 persen. Untuk pasangan Anies-Sandi terendah 18,8 persen dan tertinggi 25,4 persen.

AHY batik

Agus Harimurti yang berpasangan dengan Sylviani memiliki keunggulan sosok yang bisa diharapkan berani dan tegas, di samping nama besar SBY masih menjadi daya tarik publik. Tetapi AHY harus kerja keras, perlu lebih tenang sedikit, tidak emosional (maaf, seperti saat acara Mata Najwa dia kurang memperlihatkan sikap yang tenang dan matang). Foto : nasional.kompas)

Rentang waktu disesuaikan oleh lembaga survey dimana ketiga pasangan melakukan pendaftaran ke KPU DKI Jakarta sebagai calon dari tanggal 21-23 September 2016. Itulah gambaran dari hasil survey dengan hasil rata-rata, elektabilitas terendah maupun tertinggi, Ahok-Djarot masih  mengungguli kedua pasangan lainnya.

Dalam melakukan penelitian, penulis mencermati survey SMRC, yang menyimpulkan bahwa penilaian pemilih terhadap pelaksanaan pemerintahan, kondisi ekonomi, dan kinerja petahana berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih calon gubernur dan wakil gubernur.

Ahok dan Djarot  dipilih oleh 48,8 persen responden atas bukti kerjanya diantaranya, kondisi rumah sakit dan puskesmas, pelayanan di kecamatan dan kelurahan, gedung sekolah. Kinerja Pemprov DKI mendapat apresiasi 75 persen responden  dalam  menangani banjir, menangani sampah, dan yakin dengan program beasiswa untuk keluarga miskin. Kepuasan terendah ada pada kondisi kelancaran transportasi.

anies_baswedan_sandiaga_uno_640x360_bbc_nocredit

Anies Baswedan menurut penulis terlalu santun, sikapnya nampak kurang tegas, saat pengundian nomor urut di JIExpo memangku anaknya, sedang itu acara resmi mencari pemimpin Jakarta, bukan acara keluarga. (Foto : jppn)

Nah, itulah kekuatan dan kemampuan pasangan Ahok-Djarot yang harus diatasi oleh dua pasangan lainnya. Sementara Anies, Agus tidak memiliki track record dalam menangani pemerintahan daerah. Hanya Sylvi yang duduk di bangku Pemda DKI itupun bukan sebagai decision maker.

Yang menjadi masalah utama dari Ahok adalah gelombang gempuran terhadapnya sebagai calon gubernur, dimana dia pernah dijepit dengan kasus-kasus terkait hukum pembelian RS Sumber Waras dan Reklamasi, walaupun mampu lolos. Kemudian muncul kasus Ahok yang menyentuh Surat Al-Ma’idah ayat 51, kini harus berurusan dengan Bareskrim Polri karena dilaporkan dalam penistaan agama. Kemudian terjadi gelombang gempuran terstruktur di beberapa kota selain Jakarta yang menyatakan Ahok menista Agama Islam. Diberitakan juga Ahok menyentuh masalah minoritas saat HUT Sabam Siratit dan mengaitkan dengan Pancasila. Penulis melihat, nampaknya ada kesalahan-kesalahan teratur yang dibuat Ahok, dan mengakibatkan meluasnya mereka yang anti. Ahok nampaknya terlalu over confident.

Oleh karena itu, menurut penulis terdapat waktu kritis pasangan Ahok-Djarot hingga dilaksanakannya  pencoblosan pada 15 Februari 2017. Mulai Rabu (26/10/2016), Ahok-Djarot harus cuti, dan Gubernur DKI akan dijabat Plt, dalam hal ini apakah power serta kemampuan Ahok dalam mempertahankan elektabilitasnya masih tetap tinggi?. Hantaman terstruktur dan teratur terhadap petahana menurut penulis cepat atau ;ambat bisa menggerus elektabilitasnya. Dia akan muncul sebagai calon dan bukan Gubernur aktif. Seperti yang penulis tuliskan diatas, pejabat sehebat apapun, begitu dia melepaskan seragamnya, maka rakyat akan melihatnya sebagai orang biasa.

FPI demo

Demo anti Ahok di Balaikota DKI Jakarta, serangan kalimat yang anti demikian keras terlihat di pasang di mobil demo (Foto :liputan6)

Empat bulan waktu lama, apabila perencana penghancuran citranya mempunyai kemampuan intelligence conditioning yang mumpuni, maka Ahok-Djarot hanya dapat berdoa semoga rakyat masih ingat kinerja mereka dan strong voters-nya tidak terpengaruh. Keberuntungan petahana dalam persaingan ini karena pesaingnya tidak mempunyai track record  yang berpengalaman dalam menangani pemerintah daerah. Kinerja Anis maupun Agus berada di wilayah lain, oleh karena itu tim sukses keduanya harus benar-benar jeli melihat psikologis konstituen Jakarta.

Dengan jumlah pemilih sekitar 7,4 juta jiwa, dimana yang 65 persen adalah pemilih rasional, dengan sementara melihat elektabilitas para calon, nampaknya pilkada akan berjalan dua putaran. Masih ada kesempatan dua cagub pesaing untuk menaikkan elektabilitasnya. Yang perlu diingat,  Jakarta itu diibaratkan hutan beton yang keras, dan ganas,  banyak reman disini. Jakarta butuh pemimpin yang berani keras, agak-agak nekat, nampak hasil kerjanya, tetapi punya etika. Dia akan dicintai warga Jakarta.

Kesimpulannya, peluang Ahok-Djarot dengan deking yang kuat itu masih ada, tetapi berpeluang meredup. Kalau ‘meleng’ ya bisa kecebur juga, ada SBY dan Bowo di sana yang ahli strategi. Pertempuran akan berakhir dengan gaya intelijen, masing-masing tim sukses serta KPUD dan Bawaslu DKI, waspadai saja serangan fajar dan permainan IT. Kita fahamlah itu. Pejabat dan mantan pejabat saja kini bingung, ada dokumen negara yang dinilai sangat penting raib.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.