Latar Belakang Serangan Teror di Paris dan Prinsip Desentralisasi

24 November 2015 | 4:40 am | Dilihat : 936

_IS_french_article_main_image

Kelompok Islamic State sangat kuat dalam melakukan tayangan di media (foto:theguardian)

Serangan teror di Paris jelas membuat gentar, marah dan paranoid baik pemerintah maupun rakyat Perancis serta Belgia dari mana teror direncanakan. Bahkan  beberapa negara lain, mulai menilai potensi teror akan bisa menjadi ancaman nasionalnya. Dalam membahas serangan tersebut serta kemungkinan perkiraan di masa depan, yang sangat penting difahami adalah perkembangan situasi dan kondisi konflik politik, ekonomi serta militer di Suriah. Dari negara inilah kini nama besar teroris kembali lebih mencuat, mulai mengembara dan berkembang dan mengancam dunia.

Teror tersebut telah mengirimkan gelombang kejutan di seluruh dunia dan dinilai merupakan perubahan yang signifikan  berupa taktik serangan dari  kelompok militan Islamic State (ISIS/ISIL). Aksi terornya  di kawasan Timur Tengah kini  fokus berupa tindakan militer, penculikan dan pembunuhan dengan Kodal (komando dan kendali) penuh. Kelompok militan kini mengalihkan fokus untuk serangan besar-besaran di luar kandang nya, berupa serangan jihad dan menyebarkan ancaman terorisme dengan mengorbankan nyawa dengan prinsip keyakinan mati sahid.

Dari penilaian rencana  serangan di Paris, membuktikan bahwa   IS telah mampu membentuk jaringan yang kuat di Eropa dan kawasan  lain, merekrut teroris, mampu dalam pengadaan senjata teror dan melakukan pengumpulan dana secara lebih sistematis. Beberapa pengamat dan penulis juga sepakat, jika IS kini benar-benar mengubah taktik dan menempatkan penekanan pada terorisme di luar kandangnya di Timur Tengah apabila mereka kehilangan wilayah kekuasaan,  kelompok ini akan menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat internasional. Oleh karena itu penulis mencoba membahas teror di Paris dengan latar belakangnya.

Sikon Politik dan Konflik Militer di Suriah

Konflik di Suriah terus berlarut dan bergeser menjadi sebuah perang proksi. Rusia kini muncul menjadi aktor terbaru yang ikut bermain langsung dan terlibat dalam melakukan serangan udara dan darat. Rusia mencoba memainkan kartu Suriah setelah di blokade negara-negara Barat sebagai akibat dukungannya terhadap kelompok yang memberontak kepada pemerintah Ukraina. Di sisi pemerintahan Bashar al-Assad, berkumpul kekuatan, selain  pasukan yang setia kepadanya, didukung pasukan Iran, kelompok Hezbollah, milisi serta kini militer Rusia. Secara ideologis, koalisi Suriah terdiri dari penganut  Syiah.

free syrian army

Free Syrian Army yang didukung koalisi AS (foto: AP)

Pada sisi lainnya tercatat kekuatan pasukan  pemberontak Free Syrian Army terhadap pemerintahan Bashar al-Assad  didukung negara-negara   koalisi yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Turki dan Yordania. Sementara kelompok lain yang bermain adalah Army of Islam  atau Tentara Islam (Arab: Jaysh al-Islām) yaitu nama yang digunakan oleh klan Doghmush Hamula untuk kegiatan militan Islam mereka, yang beroperasi di pusat Jalur Gaza berbatasan dengan Israel dan Mesir. Kelompok ini didukung oleh Saudi Arabia, Qatar dan Kuwait. Klan ini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab.

Amerika sebagai negara adi kuasa, amat pantas  disebut sebagai derigen di kawasan tersebut. Setelah terbunuhnya Osama bin-Laden, pimpinan Al-Qaeda di Pakistan pada tanggal 22 Juni 2011, Presiden AS, Barack  Obama menyatakan  bahwa negara yang menjadi basis serangan ke daratan AS pada peristiwa 911, kini  sudah bukan merupakan ancaman teror terhadap AS. Pemerintah AS menyatakan perang Irak selesai pada 15 Desember 2011. Obama menegaskan, "Gelombang perang telah surut, dan kini sudah saatnya AS membangun negara. Ketika terancam, kita harus merespon dengan kekuatan," katanya. “But when that force can be targeted, we need not deploy large armies overseas.” Ini  mengisyaratkan AS tidak akan mengirim pasukan tempur Darat kembali  ke Timur Tengah. Dalam menjaga eksistensi peran,  penggelaran kekuatan udara tetap dilaksanakan dengan pesawat-pesawat tempur utamanya.

proxy war in Syria

Skema konflik di Suriah antara Pemerintah Suriah dengan pemberontak (Sumber : Business Insider)

Selain itu,  Suriah juga menjadi medan konflik  kekuatan pelbagai pihak dengan kelompok terorisme, yaitu  Al-Qaeda dengan ujung tombaknya Jabhat al-Nusra, dan yang sangat terkenal adalah Islamic State (dahulu ISIS/ISIL). Jabhat al-Nusra (JN) sering disebut sebagai Al-Qaeda di Suriah atau al-Qaeda di Levant adalah milisi jihad Islam Sunni yang ikut memberontak terhadap  pemerintah Suriah. JN bertujuan mendirikan negara Islam di Suriah, selain beroperasi di Suriah, JN juga beroperasi di negara  Libanon.

Kelompok ini mengumumkan dibentuk pada 23 Januari 2012. Pada bulan November 2012, Washington Post menggambarkan al-Nusra sebagai lengan paling sukses dari pasukan pemberontak.  Amerika Serikat menetapkan Jabhat al-Nusra sebagai organisasi teroris asing. JN  juga telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Dewan Keamanan PBB, Perancis,  Australia, Ingris, Kanada, Arab Saudi, Selandia Baru, Uni Emirat Arab,Rusia, dan Turki.

Perang yang terjadi di kawasan ini  terdiri beberapa front  yaitu ;  pertama,  perang saudara di internal Islam Sunni, antara jihadis radikal dan moderat muslim Sunni utama dan rezim; kedua, perang saudara di seluruh wilayah antara Sunni yang di danai oleh Arab Saudi dan Syiah didanai oleh Iran; ketiga,  perang saudara antara jihadis Sunni dan semua minoritas lainnya di wilayah ini, yaitu Yazidi, Turkmen, Kurdi, Kristen, Yahudi dan Alawi.

Screen Shot 2014-09-05 at 8.12.05 AM

Tokoh-tokoh Utama Islamic State (sumber : english.alarabiya.net)

Pada saat itulah muncul ISIS (Islamic State for Iraq and Syria) yang Sunni dan merupakan kelompok berlatar belakang jihadis radikal.  ISIS diresmikan pada 8 April 2013, dimana pimpinannya Abubakr al-Baghdadi mengumumkan pembentukan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) yang diterjemahkan dari bahasa Arab sebagai Islamic State of Iraq and Syria. Sebagai pemimpin ISIS, al-Baghdadi menjalankan dan memimpin semua aktivitas ISIS di Irak dan Suriah. Pada tanggal 29 Juni 2014, ISIS mengumumkan pembentukan khilafah, al-Baghdadi meresmikan dirinya sebagai Khalifah, dikenal sebagai Khalifah Ibrahim, dan ISIL (ISIS) berganti nama menjadi Islamic State (Negara Islam). Dia menggunakan sorban hitam untuk menegaskan sebagai keturunan Nabi Muhammad.

IS atau  Negara Islam ini secara luas dikenal sebagai militan terkaya dalam sejarah. Organisasi ini telah menguasai ladang minyak di Irak dan Suriah, mengundang ahli dari  dalam dan luar negeri, membayar dengan  gaji besar, dan mendirikan fasilitas penyulingan sendiri. Ladang minyaknya memproduksi sekitar 40.000 barel minyak per hari, dengan pendapatan US $ 40 juta/bulan. Pembeli minyak IS selain suku kurdi juga pejualannya melalui broker, dan bahkan pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok pemberontah lainnya membeli minyak dari IS. Minyak menjadikan IS sebagai teroris terkuat, tetapi juga akan menjadi sumber kerawanan utamanya.

Dari pengamatan intelijen, memang jelas terjadi  operasi conditioning di kawasan Timur Tengah, tangan-tangan intelijen  banyak bermain. Apakah semua karena persoalan minyak? Nampaknya bukan itu inti masalahnya. Seperti yang dibocorkan oleh pembelot (mantan anggota NSA) Edward Snowden, sumber pokoknya adalah keberadaan dan keamanan Israel sebagai sekutu AS. Dalam kasus perang roket dengan Hamas di Palestina, Presiden Obama dengan tegas membela Israel. Kini Presiden  AS Barack Obama menyatakan bahwa konflik di Suriah akan selesai apabila Bashar al-Assad sudah turun dan Islamic State akan benar-benar dihabisi. Pendapat ini ditentang oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang mendukung al-Assad.

1378

Abubakr al-Baghdadi Pimpinan Islamic State yang Misterius (sumber :theguardian)

Sangat  realistis apabila operasi destabilisasi Timur Tengah dengan tokoh al-Baghdadi dengan konsep Negara Islamnya  pada intinya akan menghindarkan Israel dari tekanan dan ancaman negara-negara Arab. Bahkan  konsep selanjutnya akan berupa program Israel Raya. Yang penting Suriah sebagai ancaman utama dan Irak ancaman utama kedua sudah berganti warna kalaupun mungkin di masa depan akan menjadi lumpuh.

Kini AS memulai operasi militer baru yang disebut "Tidal Wave II" di Suriah dan Irak pada akhir Oktober 2015 dalam memerangi IS. Nama operasi ini dinamakan "Operasi Tidal Wave," sama namanya dengan kampanye udara AS terhadap ladang minyak Rumania yang diduduki oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II. Tidal Wave II diluncurkan untuk melakukan serangan udara intensif terhadap ladang minyak dan fasilitas penyulingan yang berada di bawah kontrol Islamic State.

Suriah Sebagai Epicentrum Teror Islamic State

Bagaimana dengan konstelasi konflik militer di Suriah  yang berimbas kepada aksi teror yang kemudian menyebar? Seperti diketahui bahwa kelompok-kelompok penempur di Suriah  potensinya besar untuk melakukan aksi teror. Para pelaku dengan nama besar yaitu  yaitu Al-Qaeda (Jabhat al-Nusra), ISIS (kini Islamic State) dan Army of Islam. Al Qaeda melakukan operasi dan berkonflik dengan Free Syrian Army dan negara koalisi AS, serta pasukan Kurdi, juga dengan koalisi Suriah. Sementara Army of Islam berkonflik dengan pasukan Kurdi, tetapi saling mendukung dengan Free Syrian Army.

Dari kelompok militan tersebut, yang medan tempurnya luas dan complicated adalah Islamic State (ISIS). Mereka secara rahasia sebenarnya mempunyai hubungan khusus semacam gencatan senjata dengan Bashar al-Assad.   Pada tanggal 4 Oktober 2011, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan memasukkan nama Baghdadi sebagai teroris global yang namanya dicari dan kepalanya dihargai US $ 10 juta. Pengumuman ini yang sangat menarik perhatian, karena seperti dikatakan oleh pakar Rusia Matuzov, Baghdadi adalah agen binaan CIA yang dilatih oleh Mossad. Apakah ini merupakan upaya pengamanan agen seperti yang biasanya dilakukan badan intelijen? Biasa disebut sebagai upaya desepsi pengamanan agen agar tidak terbaca oleh counter intelligence lawan.

Kiprah al-Baghdadi kemudian semakin menjadi-jadi. Pembentukan ISIS (ISIL) pada 8 April 2013 semakin menunjukkan kepercayaan diri dan anak buahnya. Dikabarkan di daerah operasi Suriah, sebagian besar milisi asing kemudian bergabung ke ISIS. Al-Baghdadi tidak perduli, siapapun yang dianggap bertentangan akan diserangnya. Dengan logo bendera hitam dan potong leher, ISIS telah mendapatkan reputasi untuk aturan brutal di daerah yang dikendalikannya. Semua diatur dengan hukum syariat Islam yang sangat keras, mereka yang beragama selain Islam dipaksa masuk Islam atau membayar pajak, dan apabila menolak akan dipenggal kepalanya.

Konflik ISIS dengan pemerintahan negara-negara di Timur Tengah semakin menjadi-jadi terutama setelah dia mengumumkan Negara Islam versi Baghdadi, dimana dia menjadi Khalifah pada tanggal 29 Juni 2014. Al-Baghdadi mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk pindah dan bergabung dengannya.

Nah, dalam perjalanannya, Islamic State telah melakukan serangkaian serangan teror, tidak hanya di Suriah saja , tetapi juga di pelbagai negara lain. Apabila sebuah serangan sukses maka IS akan mengakui, tetapi apabila sebuah teror gagal, maka mereka akan diam saja. Karena teror dan sabotase adalah sarana dari intelijen, dan intelijen adalah pengatur ritme dan bagian perencana strategi konflik. Maka bukan tidak mungkin ada badan intelijen yang juga melakukan serangan semacam aksi teror. Dari detail dan pelaksanaan serangan di Paris, telihat perencanaannya matang, disinilah seperti dikatakan Presiden Perancis Francois Hollande, ada unsur internal yang membantu mereka. Sangat mungkin ada personil intelijen yang terlibat. Informasi diatas jelas akan sangat terkait dengan kasus teror di Paris.

Setelah serangan, Perancis telah meningkatkan serangan udara terhadap target IS di Suriah, juru bicara militer Prancis Kolonel Gilles Jaron mengatakan hari Kamis (19/11/2015) bahwa AU  Prancis telah menghancurkan 35 target IS di Suriah sejak serangan di Paris. Perdana Menteri Belgia, Charles Michel mengumumkan paket tambahan langkah-langkah anti-teror, dan mengatakan anggaran sebanyak $ 427juta  akan dialokasikan untuk memperluas operasi anti teror. Michel juga menyerukan ditingkatkannya kerjasama internasional, dan mengatakan ingin mengamandemen konstitusi Belgia untuk memperpanjang jangka waktu penahanan tersangka teror. "Semua kekuatan demokratis harus bekerja sama untuk memperkuat keamanan kami," katanya.

Serangan Teror di Paris Serta  Pelaku

Para pejabat Perancis menyatakan bahwa dari korban aksi teror Jumat malam,  mayat 117 dari 129 orang yang tewas telah diidentifikasi secara positif; dimana selain itu terdapat 221 dari 352 orang yang terluka masih dirawat  di rumah sakit, dimana  57 diantaranya berada dalam perawatan intensif.

Pada Selasa (17/11)  pagi, otoritas keamanan menyita sebuah mobil hitam merek  Renault Clio dengan plat nomor Belgia  di tepi utara Paris, di samping pinggiran St.-Denis, di mana tiga pembom bunuh diri meledakkan bom mereka selama pertandingan sepak bola di Stade de France. Pihak berwenang meneliti kemungkinan  kendaraan akan dipergunakan untuk melakukan serangan lain.

Pada Selasa(17/11)  malam, pihak polisi merilis foto dari salah satu pembom stadion - yang menggunakan paspor Suriah untuk memasuki Yunani pada bulan lalu, yang menyamar sebagai seorang imigran asal Suriah dan meminta bantuan publik dalam mengidentifikasi dirinya. Menurut pejabat Perancis, paspor mungkin curian, dimana pemilik parpor adalah  Ahmad al-Mohammad, 25, dari Idlib, Suriah, diperkirakan seorang tentara Suriah yang telah tewas.

Pada hari Rabu (18/11/2015),   Polisi Perancis yang dibantu militer berjumlah 110 orang menyerbu sebuah apartemen di St.-Denis tidak jauh dari Stade de France (stadion nasional), dimana tiga teroris tewas melakukan bom bunuh diri dalam upaya  menemukan tersangka penyerangan  (warga Belgia) yang diduga mendalangi serangan teroris di Paris pada hari Jumat (13/11). St.-Denis, sebuah kota berpenduduk 118.000 orang, dimana terdapat komunitas Muslim yang besar, serta terdapat sebuah basilika Gothic lokasi dimana banyak raja Perancis dimakamkan.

Penyergapan terjadi selama tujuh jam dimana terjadi tembak menembak secara sporadis. Lima petugas polisi menderita luka ringan, dan anjing polisi (Diesel) berumur  7 tahun, mati dalam penyergapan itu. Dari pihak tersangka dilaporkan tiga orang tewas, dua diantaranya meledakkan rompi peledak, tersangka wanita yang tewas awalnya diberitakan, Hasna Aitboulahcen (26), sepupu dari Abdelhami Abaaoud yang diduga sebagai perencana serangan malam 13 November 2015. Polisi Perancis kemudian meralat, bahwa bukan Hasna yang tewas dengan bom bunuh diri, Agence France-Presse melaporkan, mengutip sumber polisi. Sementara, Abdelhami dipastikan tewas dengan meledakkan bom rompi. Sementara  tujuh orang lainnya ditangkap.

Jaksa Paris, François Molins, menegaskan bahwa target operasi itu adalah Abdelhamid Abaaoud, yang diduga telah mengorganisir serangan. Selain itu polisi juga mencari  tersangka lainnya, Salah Abdeslam yang berhasil melarikan diri ke Brussels, Belgia setelah serangan. Dia telah menjadi subyek dari sebuah perburuan internasional yang kuat, bersama dengan tersangka kedua.

Para tersangka jaringan penyerang di Paris 13 November 2015, diantaranya :

Ismael Omar Mostefai (29 tahun), lahir pada 21 November 1985. Lahir di Courcouronnes, di bagian selatan Paris, Mostefai adalah warga Perancis keturunan Aljazair.

Samy Amimour (28), lahir pada 15 Oktober 1987, Warga Prancis dari Drancy, Saint Denis, di bagian utara Paris ini juga terlibat dalam serangan ke Bataclan.

Brahim Abdeslam (31), lahir pada 30 Juli 1984,  adalah kakak dari Salah Abdeslam, tersangka kunci yang masih buron. Brahim adalah warga Perancis yang tinggal di Belgia. Ia tewas akibat meledakkan diri di Cafe Comptoir Voltaire, Paris.

Bilal Hadfi (20), lahir pada 22 Januari 1995, terlibat dalam serangan di bom di luar Stadion Stade de France, Bilal tewas.

Ahmad Al Mohammad (25), lahir pada 10 September 1990. Sebuah paspor ditemukan di samping jenazah pembom bunuh diri atas nama Ahmad Al Mohammad. Ia berasal dari Idlib, Suriah barat daya.

Abdelhamid Abaaoud (27), warga Belgia, tersangka perancang serangan,  warga distrik Molenbeek di Brussels.

Salah Abdeslam (26), warga Perancis kelahiran Brussels, 15 September 1989 warga Belgia.

Di Belgia, pemerintah meluncurkan enam penggerebekan di wilayah Brussels.Tiga orang ditangkap di Brussels pinggiran kota Molenbeek, (terkait dengan Bilal Hadfi) , salah satu dari tiga pembom bunuh diri yang meledakkan diri di luar Stade de France. Selain itu tiga orang lainnya ditangkap di perbatasan Perancis-Belgia dalam mobil yang terlihat pernah berada di tempat penembakan. Mobil Belgia lain yang   digunakan dalam serangan itu ditemukan di Timur Paris di pinggiran Montreuil. Tujuh orang ditangkap pada penggerebekan 14 November, kini ditahan atas tuduhan terorisme, diantaranya Mohammad Abdeslam, kakak dari Salah dan Brahim (sudah tewas). Polisi Perancis dalam operasi besarnya telah menangkap 25 orang dalam penggerebekan  terhadap para tersangka militan Islam, pada hari Minggu, (/11/2015) malam.

Sementara itu, penyelidikan terkait aksi teror terus melebar di seluruh Eropa, dimana  otoritas Jerman melihat kemungkinan kaitan dimana  seorang pria Montenegro (51) sebelum serangan telah ditahan, dia diketahui membawa mobil yang berisi penuh  senjata dan bahan peledak. Bersama dengan penangkapan itu, polisi menemukan telepon dan mobil GPS sistem seluler yang menunjukkan dia dalam perjalanan ke Paris.

Polisi Turki juga telah melakukan penangkapan Ahmet Dahmani, pria Maroko karena diduga terlibat serangan di Paris sebagai pengintai.  Dahmani ditangkap di hotel mewah di kota pesisir selatan Antalya (pekan lalu juga menjadi lokasi pertemuan pimpinan G20). Kantor berita Dogan mengatakan, pria berusia 26 tahun tersebut menginap sejak 16 November 2015 di hotel bintang lima di lokawisata terkenal itu. Selain dua pria lain, Ahmet Tahur (29) dan Muhammed Verdi  (23) juga ditahan di jalan raya terdekat atas dugaan  mereka dikirim oleh kelompok jihadis IS di Suriah untuk mendukung perjalanan Dahmani.

Perencana Serangan Teror di Paris

Kini, badan-badan intelijen Barat, khawatir bahwa Islamic State (IS) merencanakan untuk memperluas pembantaian  dari Timur Tengah ke benua Eropa. Perencana serangan Paris, Abdelhamid Abaaoud diketahui beberapa kali melakukan perjalanan dari Belgia ke Suriah tanpa terlacak. Nampaknya dia sebagai militan muda dan rendah telah direkrut oleh Abu Muhammad al-Adnani, juru bicara resmi IS. al-Adnani kepalanya dihargai oleh pemerintah AS seharga US$5 juta.

Menurut RTL Radio, Abaaoud yang berasal dari  Molenbeek, Brussels, yaitu markas  sel bersenjata yang diduga melakukan serangan. Seorang pejabat Perancis mengatakan kepada The Associated Press bahwa Abaaoud adalah tersangka dalam plot digagalkan terhadap kereta api kecepatan tinggi dan gereja. Abaaoud diketahui terlibat dalam serangkaian serangan yang dia rencanakan di Belgia tetapi digagalkan oleh polisi pada bulan Januari ini. Polisi Belgia di kota Verviers telah menembak mati  dua pria yang menembaki petugas. Jaksa federal mengatakan kelompok itu diduga akan meluncurkan “terrorist attacks on a grand scale.”

Abaaoud diduga menjadi pemimpin salah satu cabang Islamic State di Suriah yaitu Katibat al-Battar al Libi  (berasal dari Libya). Jaringan  ini khusus telah menarik banyak pejuang Belgia karena hubungan bahasa dan budaya, demikian menurut Pieter van Ostaeyen, peneliti militan Belgia. Menurutnya, banyak Muslim Belgia yang berasal dari Maroko,  berbicara dengan dialek yang umum di Maroko Timur dan mirip dengan dialek Libya. Pendapat lain, diantaranya dari  Aymenn Jawad al-Tamimi, pimpinan Middle East Forum sebuah pusat penelitian di Washington yang mempelajari kelompok-kelompok jihad, mengatakan belum ditemukan bukti bahwa serangan teror ke Paris tersebut telah diperintahkan oleh al-Adnani atau pemimpin IS, Abu Bakr al-Baghdadi.

Abaaoud diketahui sangat bersemangat dan bersedia berbagi semangat melakukan propaganmda berupa aksi teror di daratan Eropa, khususnya Perancis yang memang diincar oleh al-Adnani.  Abdelhamid Abaaoud kemudian menjadi  aset yang tak ternilai bagi para pemimpin Islamic State karena kesiapan dan kemampuan serta  keinginannya melakukan pertempuran ke daratan Eropa, tempat dia familiar yaitu Paris dan Belgia.

Masalahnya kini apakah Abaaoud melakukan serangan atas kodal dari Islamic State di Suriah atau karena inisiatifnya sendiri, ini sebuah pertanyaan intelijen yang sangat penting. Diketahui terdapat sekitar 520 militan Belgia telah pergi ke Suriah atau Irak untuk bertempur. Jumlah ini sangat signifikan dan  membuat Belgia sumber terbanyak di Eropa, per kapita dalam keterlibatan penempur asing  di IS. Menurut posting di Twitter dan akun media sosial lainnya, dua orang yang tewas dalam serangan di Verviers, Belgia, pada bulan Januari 2015 adalah anggota dari Katibat al-Battar. Disinilah ada sebuah benang merah yang patut didalami.

Dasar dilakukannya serangan bisa terbaca dari sebuah pesan di sosial media setelah terjadinya serangan ;  "Perancis, tetap menjadi target utama Islamic State ... karena telah memimpin perang salib, berani menghina nabi kita, membual memerangi Islam di Perancis dan menyerang Muslim di wilayah kekhalifahan dengan pesawat mereka", kata kelompok itu.

Kesimpulan

Dari beberapa fakta serta informasi diatas, sementara dapat disimpulkan bahwa serangan teror di Paris pada Jumat (13/11/2015) malam tetap terkait dan sangat dipengaruhi oleh situasi serta kondisi konflik yang terjadi di palagan Suriah. Nampaknya terjadi perkembangan bahwa serangan teror yang terjadi di Paris, merupakan teror yang sukses dilakukan sel bersenjata IS jauh di luar khilafahnya.

Dari beberapa data pelaku, yang menarik dan perlu diperhatikan oleh intelijen Barat, operasi serangan jelas dilakukan oleh sel di Belgia dimana para jihadis yang berasal dari Belgia dan Perancis mampu melakukan serangan bunuh diri secara terencana. Seperti dikatakan oleh Presiden Hollande, keterlibatan unsur internal merupakan faktor yang harus juga diwaspadai.

Yang sangat mengkhawatirkan, nampaknya Islamic State mulai menerapkan prinsip desentralisasi operasi serangan teror. Sel-sel IS diberi kewenangan melakukan teror di negara manapun dengan target yang mereka pilih sendiri. Para pelaksana adalah  mereka yang kembali dari Suriah dan yang teradikalisasi atau termotivasi ideologi teror.

Bagi Indonesia, teori serupa pernah terjadi saat sel Jamaah Islamiyah juga menginstruksikan serangan yang berdiri sendiri dengan target yang dipilihnya sendiri. Toni Togar pernah mengeluarkan instruksi tersebut dari penjara. Toni alias Indrawarman, hingga saat ini sedang menjalani hukuman 20 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Pematang Siantar di Sumatera Utara karena terlibat dalam pemboman Hotel JW Marriott Jakarta pada 2003, yang menewaskan 12 orang dan terlibat dalam perampokan bank CIMB Medan.

Teror masa depan nampaknya akan berupa serangan sporadis dengan senjata serbu serta bom rompi, dengan  sasaran ruang publik dan sangat mungkin dilakukan oleh sel terlatih yang kembali dari kawasan Timur Tengah. Prinsip bunuh diri atau siap mati akan menjadi tantangan tersendiri bagi aparat keamanan pastinya.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Fadli Sadama Teroris Pelarian Tanjung Gusta ditangkap di Malaysia,  http://ramalanintelijen.net/?p=7783

-Lima Hari, Lima Toko Emas di Medan Dirampok, Ulah Teroris?,  http://ramalanintelijen.net/?p=7433

-Teroris Menumpuk Logistik Untuk Serangan Lanjutan, http://ramalanintelijen.net/?p=7281

-Fadli Sadama Napi Narcoterrorism Lolos dari Tanjung Gusta, http://ramalanintelijen.net/?p=7032

-Kader Aktif Teroris Mencari Fa'i dengan Merampok Toko Emas, http://ramalanintelijen.net/?p=6604

-Fadli Sadama, Teroris Perampok CIMB Medan Divonis 11 Tahun,  http://ramalanintelijen.net/?p=4007

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.