Kembali Empat Brimob Tewas Ditembak Teroris di Poso

21 December 2012 | 1:38 pm | Dilihat : 1455

Situasi Poso kembali memanas dan mengkhawatirkan. Pada Kamis (20/12/2012) sekitar pukul 10 Wita, telah terjadi baku tembak antara anggota Brimob-Polda Sulawesi Tengah dengan sekelompok orang bersenjata di Desa Kalora, Tambarana, Poso Pesisir, daerah Gunung Klora. Dalam baku tembak tersebut empat anggota Brimob tewas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jakarta menyatakan, “Jumlah petugas yang tewas jadi empat orang. Atas nama Briptu Ruslan, Briptu Wayan Putu, Briptu Winarto, dan yang baru Bripru Siswandi,” katanya Kamis (20/12). Boy menjelaskan, rincian yang tertembak, atas nama Briptu Ruslan tertembak di kepala, Briptu Winarto dan Briptu Wayan Putu tertembak di dada. Sementara, Briptu Siswandi tertembak di leher tembus kebelakang.

Kronologis kejadian, bermula saat satu team Brimob sedang  berpatroli, kemudian berpapasan dengan kelompok yang mencurigakan. Mereka  berupaya menyergap, dan terjadi baku tembak. “Mereka melihat sekelompok orang, kemudian didekati, tetapi tiba-tiba kelompok orang tersebut menembak anggota brimob yang sedang patroli tersebut. Diduga mereka menggunakan senjata laras panjang soalnya mereka menembak dari jarak jauh,” kata Kabagpenum Mabes Polri, Kombes Pol Agus Rianto di Jakarta (20/12).

Usai kontak senjata yang menewaskan empat anggota Brimob tersebut, petugas gabungan TNI dan Polri langsung menyisir wilayah  Kalora.  Perburuan dilakukan di seputaran Gunung Taswinuni, Desa Kalora, yang diduga menjadi lokasi pelarian kelompok sipil bersenjata. Hasilnya, satu orang warga asal Bima, NTB, diamankan sementara karena diduga sebagai pelaku. Polisi hingga kini masih mengejar delapan pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri. Setelah berhasil menembak anggota Brimob, para penyerang membawa lari satu pucuk senjata SS milik Briptu Ruslan yang jatuh dari sepeda motor  setelah ditembak.

Langkah lain, Polres Poso mengamankan 15 warga yang diduga mengetahui peristiwa penyerangan anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah tersebut. Kapolda Sulteng Brigjen Pol Dewa Parsana mengatakan, warga tersebut diamankan saat polisi melakukan penyisiran sesaat setelah penyerangan terjadi. Mereka diamankan karena diketahui berada di lokasi saat terjadi kontak senjata antara personel Brimob dengan kelompok sipil bersenjata.

Perkembangan negatif situasi keamanan di  Poso kini menjadi lebih serius, dimana beberapa anggota Polri telah menjadi korban pembunuhan. Tanggal 16 Oktober 2012, dua anggota polisi Poso ditemukan tewas mengenaskan dalam satu lubang di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah. Pada hari Kamis pagi (15/11), rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara, Iptu Taruklabi, ditembaki orang tidak dikenal.  Kapolsek berhasil selamat.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri terus melakukan penyisiran, dan pada Rabu (31/10) berhasil menangkap tiga terduga teroris, satu orang di antaranya tewas dalam baku tembak di Desa Halora, Kecamatan Poso Pesisir Utara. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menjelaskan, terduga teroris yang tewas itu bernama Jipo asal dari Pesantren Umar bin Khatab, Bima, Nusa Tenggara Barat,  dan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus teroris.

Pada hari Sabtu (2/11/2012), Densus 88 Antiteror berhasil melakukan penyergapan dua terduga anggota kelompok teroris. Menurut Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar,  yang ditangkap hidup bernama Sutomo bin Sudarto alias Mohamad Yasin dan yang ditembak mati atas nama Abdul Halif Tumbingo alias Kholid.

Boy menjelaskan, mereka diketahui berhubungan dengan buronan terduga tokoh teroris Santoso dan membuat tempat latihan teroris di Poso. Keduanya  mengajak kelompok teroris Solo pimpinan Badri Hartono untuk melatih pembuatan bom terhadap kelompok Poso. Bahkan, Abdul Halif juga berperan menampung peserta pelatihan teror dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Kepala BNPT Ansyaad mengatakan penangkapan terduga teroris itu adalah terkait dengan pengejaran terhadap buron terduga teroris Santoso dan Upik Lawanga. Jadi besar  kemungkinan kelompok yang melakukan penembakan dan menewaskan empat anggota Brimob tersebut adalah kelompok binaan Santoso.

Menanggapi jatuhnya korban dikalangan Bimob, Presiden SBY menyatakan bahwa situasi di Poso harus ditangani lebih serius oleh Polri dan dibantu TNI sesuai UU. Tidak dibenarkan adanya kelompok bersenjata liar di Indonesia. Presiden menegaskan, peristiwa semacam itu jangan dianggap remeh dan harus bisa segera dituntaskan. Menurutnya, hukum harus ditegakkan agar masyarakat dapat memperoleh jaminan hukum dan keamanan. “Perlu ada langkah-langkah yang sigap dan tegas. Hukum mesti ditegakkan, rakyat harus dilindungi dan tidak boleh di negeri ini ada elemen bersenjata, seberapa pun besarnya. Itu prinsip bagi kita.Itulah tugas kepolisian dan TNI sesuai dengan undang-undang,” ujar SBY saat menggelar konferensi pers di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Jumat (21/12), seusai melakukan kunjungan ke Malaysia dan India.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono juga mengaku TNI siap membantu Polri dalam menangani persoalan di Poso, khususnya terkait penembakan anggota Brimob tersebut. “Sesuai dengan permintaan Kapolri, kita akan tetap lakukan. Untuk Poso, memang sementara kita koordinasi tiap wilayah. Artinya,tiap wilayah akan membantu Polri,” kata Panglima TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat (21/12).

Memang Poso akan kembali bergolak, apabila tidak ditangani dengan lebih tegas, kelompok teroris sudah lebih menguasai kawasan, seperti yang dikatakan oleh Brigjen Boy Rafli, para teroris bahkan sudah memasang ranjau di beberapa kawasan hutan yang sangat berbahaya. Apabila situasi terus memanas, nampaknya TNI perlu menawarkan penugasan pasukan anti terornya yang mahir dalam perang hutan dan perang gerilya.

Dilain sisi, Polisi sebaiknya meminta pasukan khusus TNI yang pada dasar hukumnya merupakan bagian dari Satgas Penindakan didalam organisasi BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ini hanya masukan, untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak dikalangan Polri. Baku tembak yang menewaskan empat Brimob, tiga luka-luka, tanpa adanya korban jatuh dikalangan teroris. Ini membuktikan bahwa kelompok teroris lebih menguasai daerah operasi dan perang hutan di hutan Poso.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : kompas.com

Share
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.