CIA Buka Dokumen Al-Qaeda, serta Kaitan Sikon politik di Indonesia

3 November 2022 | 5:29 am | Dilihat : 75

Lima,tahun yang lalu pada hari Jumat (3/11/2017) penulis memosting short article di Medsos tentang CIA membuka dokumen Al Qaeda, sebagai hasil operasi penyergapan Osama bin Laden di Pakistan. Media Reuters pada hari Kamis (2/11/2017) memberitakan bahwa pemerintah AS baru-baru ini merilis dokumen kedua yang ditemukan pasukan khusus AS, Navy SEALs saat melakukan penyergapan terhadap pimpina Al-Qaeda, Osama bin- Laden di Pakistan, pada 2011.

Direktur CIA Mike Pompeo menyebut rilis tentang dokumen Al-Qaeda ini akan membantu rakyat AS untuk mendapatkan gambaran soal rencana dan cara kerja Al-Qaeda.Dari 115 dokumen yang dirilis di antaranya yg menarik penulus dari sudut pandang intelijen adalah perseteruan Al- Qaeda dengan ISIS. Osama pada dokumen tersebut menyatakan tidak setuju dengan aksi ISIS. Dia menentang metode pemenggalan dan tindakan brutal lainnya yang dilakukan kelompok ISIS di Irak.

"Kita tidak boleh kewalahan dengan perang, suasananya, kondisinya, kebencian, dan pembalasan dendam yang mungkin membuat kita salah jalan", tulisnya.Osama juga menentang tekad ISIS yg tergesa-gesa mendeklarasikan ke-Khalifahan, yang dia yakini tidak punya dukungan kuat dan akan memunculkan tantangan soal tata kelola yang tidak bisa dipenuhi kelompok itu.

Setelah Osama tewas, Al-Qaeda dipimpin oleh Ayman al-Zawahiri dan anak Osama bin Laden, Hamzah bin-Laden (28). Zawahiri saat itu dekat dengan kelompok Taliban Pakistan. Hamzah menyerukan agar perang melawan AS dan sekutunya harus diteruskan. Ia juga menyatakan perang itu harus dilakukan dari Kabul, Baghdad, Gaza hingga Washington, London, Paris dan Tel Aviv.

Analisis

Al-Qaeda yakin bahwa ISIS akan hancur pada 2017, terutama menghadapi aray kekuatan yg begitu kompleks, dari AS, Rusia, Inggris dan lainnya, terbukti benar, dan lara pejuang dari banyak negara kembali ke negara masing-masing. Sementara di Indonesia menurut penulis, jaringan ISIS yang baru kembali dari Suriah dan Irak terutama yang melalui jalur ilegal tetap harus diwaspadai, karena mereka bebahaya dan tetap siap mati. (berjihad)

Yg perlu diketahui pada Pemilu dan Pilpres 2019, terbaca ada yabg mencoba memanfaatkan koalisi kelompok radikal teror dengan radikal ideolog untuk menjadi satu kekuatan dalam memenangkan pesta demokrasi 2019. Pilkada DKI adalah studi kasus yang diuji coba dan diterapkan.

Petinggi radikal teror dari kubu Al- Qaeda, kini sudah tidak mengharamkan lagi kader serta simpatisannya, dan menggeser strateginya dengan ikut pemilu denfan tujuan berkiprah di jalur legislatif. Ini indikator kuatnya. Namun akhirnya setelah tujuan bersama tercapai mereka tetap akan berkuasa atau melakukan kudeta untuk membentuk Khilafah versi masing-masing.

Sepertinya saat ini kelompok radikal teror hanya butuh kawan untuk menjebol pintu gerbang politik yang selama ini dikuasai kelompok nasionalis serta Muslim moderat. Hal ini yang perlu diketahui apabila sudah berhasil masuk pasti radikal teror yang mau menguasai dan memegang kendali perjuangan.

Apakah konsep tertutup seperti ini difahami dan sudah diwaspadai bersama? Konsep Khilafah akan terus digaungkan dan disuarakan untuk mengganti ideologi Pancasila, terlebih bila kelompok radikal teror yg memenangi persaingan. Kelompok tersebut saat ini dalam mendukung salah satu capres 2024 mulai melakukan PUS (Perang Urat Syaraf) serta menyebarkan kaidah-kaedah agama Islam untuk memengaruhi konstituen atau masyarakat luas yang low educated .

Pertanyaanya, siapkah kita? Bila hal ini terjadi, bukam tidak mungkin konflik semacam Suriah bisa saja terjadi di sini. Mari berfikir dan memahami info dan prediksi ini. Pray Old Soldier.

Penulis : Marsda (Pur) Prayitno W. Ramelan, Pengamat Intelijen

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.