KESEIMBANGAN KAWASAN VERSI PRESIDEN JOKOWI, TINJAUAN DARI PERSPEKTIF INTELIJEN

30 July 2022 | 8:17 pm | Dilihat : 215

Presiden Jokowi dalam posisinya sebagai Presidensi G20 mengambil langkah diplomatis bernilai strategis tak terduga yang mampu menuai pujian, walaupun juga  tidak terlepas dari  kritikan. Usai menghadiri  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Jerman, Minggu (26/6/2022), Jokowi kemudian mengunjungi Ukraina dan Rusia dengan mengangkat isu perdamaian di Ukraina serta upaya untuk mengatasi krisis pangan dan energi global.

Langkah diplomasi strategis kemudian diambil khusus di kawasan Asia Pasifik, dimana pada akhir Juli presiden beserta rombongan mengunjungi tiga Negara Asia Timur, RRT, Jepang dan Korea Selatan. Pertemuan Presiden Jokowi dengan ketiga Kepala Negara tersebut jelas membawa hasil setelah dibahasnya sejumlah isu, mulai dari global hingga kerja sama di sejumlah bidang mulai dari perdagangan, investasi, kesehatan, infrastruktur, perikanan hingga isu kawasan dan dunia. Bagian yang menarik dari isu regional kawasan, pada waktu yang bersamaan Indonesia (TNI) sedang mempersiapkan sebuah latihan berskala besar dengan Amerika Serikat serta beberapa negara lain di wilayah Indonesia dengan sandi Super Garuda Shield.

Resume kunjungan Presiden Jokowi ke Tiga Negara

Dalam kunjngan ke tiga negara Asia Timur tersebut, Presiden Jokowi tidak hanya membawa misi kepentingan Indonesia, tetapi juga sebagai Presidensi G20 dan Ketua ASEAN 2023.

Dalam kunjungan ke China (RRT), Presiden Jokowi pada hari Selasa (26/7/2022) mengadakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping dilakukan di Villa 14, Diaoyutai State Guesthouse, Beijing. Dari pertemuan kedua mitra strategis komprehensif ini lahir kerja sama baru seperti perpanjangan nota kesepahaman mengenai Global Maritime Fulcrum - Belt and Road Initiative (GMF-BRI) 2022-2026, MOU KS Genetika & Genomika, MOU Pembangunan Hijau, Perikanan, serta Pertanian. China juga akan kembali membuka akses pasar untuk minyak sawit, produk perikanan, produk pertanian. Selain itu, memberikan investasi pada bidang industri hijau, kendaraan listrik dan baterainya, infrastruktur, digital, serta logistik.

Presiden Xi juga memberikan apresiasi atas inisiatif Jokowi dalam memperbaiki situasi kemanusiaan di Ukraina. Selain menemui Xi, Jokowi juga menyempatkan diri untuk berdiskusi bersama Perdana Menteri Li Keqiang. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Li Keqiang, China menyampaikan komitmen untuk menambah impor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebanyak 1 juta ton dan akan memprioritaskan impor produk pertanian dari Indonesia. Presiden menambahkan, nilai perdagangan antara Indonesia dan Cina terus meningkat dan sudah melampaui USD 100 miliar.

Kunjungan kedua dilakukan ke Jepang, di  Tokyo, pada hari Rabu (27/7/2022)  Presiden Jokowi dijamu oleh Perdana Menteri Jepang, Kishida Fumio di kantornya. Presiden Jokowi dan PM Kishida menyampaikan kedua negara akan memperkuat kerja sama di bidang perdagangan dan investasi. Presiden Jokowi dan ibu negara Iriana juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Kaisar Jepang Naruhito dan Permaisuri Masako di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo. Selain itu dilakukan pertemuan dengan sejumlah CEO perusahaan Jepang.

Kunjungan ketiga di Korea Selatan, dalam rangkaian kunjungan kerja ke Korea Selatan, saat pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden Yoon Suk-yeol pada hari Kamis (28/7/2022) tercapai  sejumlah kesepakatan bilateral tren perdagangan bilateral, mulai dari sepakat untuk terus membuka akses pasar, mengatasi hambatan-hambatan perdagangan, dan mempromosikan produk-produk unggulan kedua negara. Di bidang investasi, Jokowi menyampaikan investasi Korea Selatan di Indonesia juga mengalami pertumbuhan pesat dan prospek yang baik khususnya di beberapa bidang termasuk industri baja, petrokimia, baterai kendaraan listrik industri kabel listrik dan telekomunikasi, serta garmen dan energi terbarukan.

Latihan Bersama Super Garuda Shield

Hampir bersamaan waktunya Indonesia sedang persiapan akan mengadakan latihan bersama AS dengan sandi Super Garuda Shield. Menurut siaran Kedubes AS di Jakarta, ini adalah latihan gabungan tahunan antara TNI dengan Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM), yang dirancang untuk memperkuat interoperabilitas, kemampuan, kepercayaan, dan kerja sama yang dibangun selama beberapa dekade pengalaman bersama. Latihan Garuda Shield 2022 akan jauh lebih besar cakupan dan skalanya daripada latihan sebelumnya, melibatkan unsur gabungan dari ketiga matra, yakni Darat, Laut dan Udara di Area latihan Baturaja, Amborawang, dan Pulau Batam.

Komandan Divisi Ketujuh Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), Major General Stephen G Smith yang akan bertindak sebagai pimpinan delegasi pihak militer  AS menyatakan pihak AS datang dengan membawa arsenal dan sistem kesenjataan modern dari empat matra Angkatan Bersenjatanya. Smith menegaskan, "Jadi, ini benar-benar merupakan latihan militer dan bukanlah ancaman untuk sesuatu pihak. Latihan ini merupakan ajang saling berbagi nilai dengan mitra-mitra kami, Indonesia salah satunya," katanya.

Latihan ini melibatkan sekitar 2.000 tentara AS, 2.000 tentara Indonesia, dan tambahan peserta dari negara mitra Singapura dan Australia. Selain itu Kanada, Prancis, India, Malaysia, Republik Korea, Papua Nugini, Timor Leste, Jepang dan Inggris, akan bergabung sebagai negara pengamat.

Analisis dari Perspektif Intelijen

Dari dua fakta tersebut diatas, bila ditinjau  dari perspektif intelijen, ada dua kegiatan menarik yang dilakukan Indonesia pada akhir Juli hingga minggu kedua Agustus 2022 yang menyentuh dua kutub berlawanan, yaitu Amerika Serikat dan China (RRT). Kita ketahui bahwa AS menilai China sebagai musuh utamanya selain Rusia. China sejak 2007 mempersiapkan kekuatan maritim (Great Power), mencoba menjadi sherif di kawasan Laut China Selatan (LCS) dengan membuat pernyataan Laut China Selatan  sebagai wilayah tradisionalnya, menerapkan OBOR dan BRI.

Kondisi geopolitik kawasan menjadi panas karena AS merasa terganggu dengan aksi China yang  dinilai sebagai ancaman terhadap jalur mati hidupnya di LCS (SLOC ). Langkah China tersebut sedikit banyak  telah menurunkan hegemoni AS, karena itu  AS menerapkan rebalancing kawasan. Sejak tahun 2009  Presiden Obama di Jepang menyatakan mengurangi perannya di  kawasan Timur Tengah, mengurangi kekuatan di Eropa dan menggeser kepentingan politik Luar Negerinya ke Asia Pasifik. Kini  beserta negara sekutu serta beberapa negara mitra menegaskan kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, bebas dan damai. Artinya menolak peryataan China terhadap status Laut China Selatan dan AS mengantisipasi dengan kekuatan militer (security approach).

Dalam era pemerintahan  Presiden AS, Joe Biden yang saat menjadi Wapres dari Presiden Obama dikenal menjadi arsitek politik Luar negeri AS,  kemudian  menyatakan kawasan Asia Pasifik  sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negeri AS. Kepentingan AS di fokuskan dalam konsep Indo Pasific. AS kemudian membentuk jaringan intelijen dan koalisi militer yaitu badan intelijen lima negara (Five Eyes), AUKUS (Australia, Inggris, AS) dan Quad (AS, Australia, India, Jepang), memperkuat peran Indo Pasifik (INDOPACOM), dan mengadakan latihan bersama dengan sekutu serta latihan bersama dengan mitra, diantaranya Indonesia (Garuda Shield) yang telah dilaksanakan 16 kali.

Dari kondisi tekanan potensi ancaman konflik militer AS versus China, dari posisi geografisnya, Indonesia menjadi center of grafity. AS berusaha Indonesia mau menjadi sekutunya, tetapi Indonesia menyatakan tetap netral dengan prinsip politik LN yang bebas aktif. Dalam posisi buah simalakama apabila keliru dalam mengambil langkah, penulis terus mengamati, melihat bahaya AS akan mengambil langkah ekstrem kearah pimpinan nasional apabila kepentingan nasionalnya terganggu. Ini yang selama ini penulis khawatirkan (baca studi kasus kejatuhan PM Najib).

Presiden Jokowi pada akhirnya  memutuskan mengambil langkah keseimbangan, di satu sisi mewadahi kepentingan AS dengan memberikan clearance TNI mengadakan latihan militer dengan AS dan sekutunya di wilayah Indonesia, kedua memberi akses beberapa spot strategis untuk dipakai sebagai medan latihan. Daerah latihan mengarah ke koridor Laut China Selatan. Latihan Super Garuda Shield kali ini melibatkan tiga matra, menjadi lebih komprehensif menjurus kearah latma multi nasional. Terjadi kesepakatan terutama security clearance penggunaan ruang udara dan airfield tertentu di Indonesia. AS jelas menginginkan akses tersebut berkaca dari pengalaman pahit saat operasi mengejar Osama bin Laden dan ditolaknya operasi udara USAF di ruang udara Pakistan.

Nah, langkah diplomatis keseimbangan geopolitik dan geostrategis kawasan dilakukan oleh Presiden Jokowi  kearah China sebagai pesaing AS. Presiden Jokowi menjelang latma tersebut justru  mengunjungi tiga negara Asia Timur, terutama China (RRT) sebagai musuh AS dan dua sekutu AS, Jepang serta Korea Selatan. Dalam posisinya sebagai Presidensi G20 dan Ketua Asean 2023 safari Jokowi dinilai valid. Kemudian, Indonesia dengan posisi netral jelas berhasil menetralisir rasa iri hati dua kutub, menghindari kecurigaan AS di satu sisi, dan menegaskan bahwa hubungan Indonesia dengan RRT lebih fokus ke bidang ekonomi. Indonesia behasil menegaskann ke China bahwa latma Super Garuda Shiled murni latihan militer tanpa ada tujuan politik atau ancaman tertentu terhadap sebuah negara.

Kini Presiden Jokowi dalam safari Asia Timur ini sebagai Presidensi G20, calon Ketua Asean 2023 selain mengutamakan keberhasilan KTT G20 yang akan dilaksanakan di Bali juga mendapat keuntungan bidang ekonomi, selain menegaskan posisi netralitas Indonesia terhadap negara sahabat dan mitra.   Inilah diplomasi cantik yang nilainya tinggi. Keseimbangan Presiden Jokowi tersebut dapat disebut diplomasi kontra kecemburuan, menenteramkan rasa tidak puas dua raksasa dan  dinilai sukses. Inilah rebalancing versi Presiden Jokowi.

Kesimpulan

Indonesia mampu membebaskan diri dari posisi jepitan dua kepentingan negara raksasa, AS dan China (RRT) yang berseteru serta menegaskan netralitasnya. Amerika Serikat dalam persiapan menghadapi kemungkinan konflik bersenjata  dengan China mengadakan pendekatan ke Indonesia terutama untuk mendapat akses ruang udara apabila konflik pecah. Selain itu AS terutama bisa melatih geser pasukan dan logistik di spot penting dan taktis.

Penutup

Demikian analisis dari perspektif intelijen terhadap keputusan Presiden Jokowi dalam menyikapi sikon geopolitik  dan geostrategi kawasan. Semoga bermanfaat. Pray Old Soldier

Penulis : Marsda Purn Prayitno W.Ramelan, Pengamat Intelijen , http//:ramalanintelijen.net 

This entry was posted in Hankam, Politik. Bookmark the permalink.