SBY dan Moeldoko Menurut Ukuran Hippokrates

13 March 2021 | 3:11 pm | Dilihat : 617

ucoybv0phfcd9qvijto5

Saat masih menjadi Presiden, SBY pernah menunjuk Moeldoko sebagai Panglima TNI pada 2013. Sebelum jadi Panglima TNI, Moeldoko ditunjuk terlebih dahulu sebagai KSAD (foto : Kumparan)

Kasus KLB Partai Demokrat melibatkan tiga tokoh utama yang purnawirawan tentara. Satu Jenderal Purn SBY plus sang anak Mayor Purn AHY di satu sisi dan seorang Jenderal Purn Moeldoko di lain sisi. Kondisi terakhir perseteruan antara pengurus DPP Partai Demokrat pimpinan AHY versus KLB yang memilih Jenderal Purn Moeldoko akan melangkah ke tahap Kementerian Hukum dan Ham. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah menerima berkas AD/ART dari Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan sementara ini menyatakan bahwa persoalan kemelut di Partai Demokrat adalah masih masalah internal Demokrat.

“Karena kelompok yang dikatakan KLB kan belum ada menyerahkan satu lembar apapun maka pihaknya akan menilai semua sesuai dengan AD/ART partai Demokrat dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku" kata  Yasonna di DPR, Selasa (9/3/2021.   Yasonna kemudian mengingatkan SBY dan AHY untuk tetap mempercayai  Kemenkumham yang tetap profesional dalam bekerja. “Hanya saya pesan kepada salah seorang pengurus Demokrat kemarin, saya pesan tolong Pak SBY dan AHY jangan tuding-tuding pemerintah begini pemerintah begitu. Tunggu saja kita objektif kok jangan main serang yang tidak ada dasarnya.”tegasnya.

Terkait dengan perseteruan tersebut, karena urusan partai politik terutama menyangkut siapa manusianya, maka selain masalah hukum,  ilmu politik dan  psikologi individu dan sosial  yang menarik, ilmu kedokteran juga memiliki peran dalam menilai seseorang. Penilaian karakter dalam ilmu kedokteran  juga  penting dalam menilai manusia. Pada disiplin ilmu intelijen disebut salah satu bagian dari basic descriptive intelligence.

 Sementara Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan  saat ini AD/ART Partai Demokrat yang diakui adalah AD/ART yang diserahkan pada tahun 2020 bernomor MHH 9 tahun 2020 tanggal 18 Mei 2020. Berdasarkan AD/ART itu, masih tercatat yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat sampai saat ini adalah AHY."Nanti akan timbul persoalan apakah AD/ART yang menjadi dasar apa yang disebut KLB, di Deli Serdang sah atau tidak, nanti akan kita nilai. Kita akan nilai secara terbuka, dari logika-logika hukum. Karena logika hukum itu logika masyarakat. Jadi kita tidak boleh main-main," kata Mahfud.

 Selain logika umum yang dijadikan acuan dalam menilai kemelut Partai Demokrat, penulis mencoba menilai fakta sisi informasi dasar manusia yang menjadi tokoh perseteruan dan akan menjadi final decesion. Salah satu tokoh kedokteran yang penulis pakai sebagai acuan adalah  Hippokrates (460 SM - 370 SM), seorang dokter dari Yunani kuno, dikenal sebagai figur medis paling terkemuka sepanjang masa, hingga ia disebut sebagai "Bapak Kedokteran". Manusia menurut Hippokrates pada dasarnya dapat dibagi-bagi dalam empat golongan berdasarkan temperamennya, yaitu :

- Sanguine : Adalah orang yang mempunyai kelebihan (terlalu banyak atau ekses) darah, mereka mempunyai temperamen penggembira, pada umumnya optimis, periang, rasional, yakin, dan dengan senang mencintai.

- Melankolik : Orang yang mempunyai terlalu banyak sumsum hitam, temperamennya pemurung, cenderung selalu ingin tampil sempurna dan menjadi sangat teliti untuk mencari dan mencapai keinginan dan cara menggapainya.

- Kholerik : Orang yang terlalu banyak sumsum kuning dalam tubuhnya, temperamennya bersemangat dan gesit, mereka cenderung memiliki banyak ambisi, energik, dan menjadi penggerak dalam suatu wadah.

- Phlegmatik : Yaitu orang yang terlalu banyak lendir dalam tubuhnya, mereka ini orang-orang yang bertemperamen lamban, cenderung santai, dan tidak mengeluarkan emosi dalam menanggapi sesuatu permasalahan.

Analisis

Nah, kini kita bisa melihat ketiga mantan TNI itu, bagaimana temperamen mereka, terutama dua pemain utamanya sebagai penentu. Persaingan utama terjadi antara tokoh yang bertemperamen Kholerik versus Melankolik. Siapa yang menang? Seperti itu pertanyaaannya. Alternatif jalan keluarnya pada khususnya terdiri atas dua kata yaitu, "Bisa Jadi" menjadi dua suku kata  "Mungkin Akan".

Kholerik yang ambisius dan gesit kadang terlalu cepat memutuskan, bisa jadi saat ini mulai menyadari dan merasakan tekanan publik semakin membesar dan muncul statement Menkopolhukam ada kecenderungan khusus message tersembunyi apabila kita simak apa yang tersirat. Kholerik mungkin akan mengalkulasi ulang keputusannya masuk secara penuh ke belantara politik.

Sementara Sang Melankolik, dikenal sebagai  pemurung bisa jadi akan mengalkulasi situasi dan kondisi yang berlaku  dengan peta politik yang ada, merancang strategi pengamanan intelijen dengan ujung tombak putranya, yang menurut penulis agak over protective. Mungkin saja melankolik tepaksa kembali terjun aktif, walau semangat tempur batiniahnya tidak setangguh dahulu.

Kesimpulan

Sang Kholerik sedang mencoba mencari jawaban bahwa berpolitik itu harus siap tidak jujur atau dijujuri. Dalam kehidupan militer, pasti beliau sangat faham dan  sekali saja bawahan tidak jujur ke atasan, ya "rampung". Mungkin ia akan cooling down dan lebih menyadari masuk ke dunia politik di luar sistem itu kasar, bisa-bisa dinilai naif dan zholim.

Pada saat konferensi pers terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang di kediaman Kepala KSP Moeldoko, di Jalan Terusan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/3/2021) ternyata ia tidak hadir. Mereka yang hadir adalah penggagas KLB para mantan tokoh Partai Demokrat yang tersingkir.

Apakah dengan demikian proses kemelut  Partai Demokrat versus KLB akan cepat selesai. Kira-kira kalau diprediksi dengan teori hippokrates plus intelijen sepertinya masalahnya  tidak akan berlangsung lama. Ruang sukses Kholerik itu tipis, arah pemerintah apabila diamati tersirat kurang happy dengan KLB. Sesuatu  yang pasti terjadi,  akan jatuh korban terutama masalah harga diri dan citra. Kira-kira begitu ending-nya. Semoga bermanfaat. Pray Old Soldier.

Penulis :  Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam, Politik. Bookmark the permalink.