AVRIL HAINES WANITA TANGGUH DITUNJUK BIDEN MENJADI DIREKTUR INTELIJEN NASIONAL AS

4 December 2020 | 12:40 pm | Dilihat : 432

20180406_image1_lg (2)

Avril Haines, Calon Kuat Direktur Intelijen Nasional Amerika, dalam Kabinet Joe Bidden, pemenang pilpres 2020 (Foto : John Hopkins)

Amerika Serikat sebagai negara super power memiliki tujuh instrumen yang mampu menciptakan kondisi dimanapun demi untuk kepentingan nasional dan melindungi keamanan nasionalnya. Setelah   peristiwa 911, AS lebih cenderung melakukan pendekatan security aproach, dimana salah satu instrumen sebagai ujung tombak yang paling tajam dan efektif dan efisien adalah intelijen.

Secara umum, beberapa badan intelijen tersebut dapat bermain di komponen intelijen strategis yang manapun. Operasi senyap intelijen tidak ditonjolkan, bisa bermain di wilayah, putih, abu-abu maupun  hitam. Operasi luar negeri dilakukan oleh CIA dan NSA, selain link dengan organisasi mata-mata lima negara  Five Eyes (AS, Inggris, Canada, Australia, NZ). Pada era Trump, yang menonjol adalah peran CIA, dengan sosok direktur Gina Haspel dan Menlu Mike Pompeo, mantan Direktur CIA yang dipercaya presiden.

Sistem di AS, organisasi intelijen militer dan sipil pada dasarnya semuanya terkait dalam intelligence community (IC) yang diawasi oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional.

Terkait dengan peran intelijen, Joe Biden yang memenangkan pilpres 3 November 2020 telah mengumumkan beberapa calon kabinet inti, dimana Avriel Haines yang penulis nilai seorang wanita tangguh, dekat dengan Biden, mantan pejabat intelijen dan penasihat keamanan di era pemerintahan Presiden Barack Obama dipilih sebagai kandidat direktur, dan kini hanya menunggu konfirmasi dari Senat.

Walau Biden diketahui sebagai politisi berpengalaman, arsitek politik luar negeri Obama, dia tetap membutuhkan dukungan staf keamanan yang loyal.

Nah, dari sejarah karier dan karakter Haines yang berani, smart, dikenal hipster, strategi dan prediksinya akan mewarnai keputusan Presiden AS Joe Bidden setelah dilantik bulan Januari 2021. Penulis mencoba menyampaikan sejarah dan karakter wanita tangguh dan menarik ini dari hasil pulbaket. Sudut pandang informasi intelijen penulis harapkan bermanfaat bagi Badan Intelijen di Indonesia (BIN, Bais TNI, Baintelkam Polri serta badan intel lainnya) serta Kemlu RI untuk dapat membaca arah politik luar negeri AS yang diperkirakan akan mengalami perubahan dan pengaruhnya bagi Indonesia.

Kabinet Inti Pemenang Pilpres Joe Biden

Mengutip CNN, Selasa (24/11), Joe Biden mengumumkan beberapa calon anggota kabinet inti, hanya menunggu dikonfirmasi oleh Senat. Beberapa calonnya adalah Alejandro Mayorka, mantan wakil sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri. Mayorka, lahir di Cuba, 24 November 1959 ( 61 tahun), dinominasikan akan memimpin Departemen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security).

Mantan Menteri Luar Negeri John Kerry kelahiran 11 Desember 1943 (77), dipilih memimpin masalah terkait iklim. Kerry adalah pendukung kesepakatan iklim Paris, kesepakatan penting yang ditarik Trump. Kerry juga dipilih Biden untuk menjadi ketua bersama "satgas gabungan" tentang perubahan iklim dengan Senator Bernie Sanders. Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Janet Yellen ditunjuk sebagai Menteri Keuangan. Janet Louise Yellen yang lahir 13 Agustus 1946 (74) adalah ekonom Amerika Serikat. Yellen sempat menjadi Wakil Ketuanya tahun 2010 sampai 2014

Linda Thomas-Greenfield dipercaya akan menjadi duta besar AS untuk PBB. Linda Thomas-Greenfield, lahir tahun 1952 (68) adalah seorang diplomat Amerika menjabat sebagai Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Afrika di Biro Urusan Afrika Departemen Luar Negeri AS (2013-2017). Dia adalah penasihat senior di Albright Stonebridge Group di Washington, D.C. Greenfield masuk ke dalam Dewan dan kabinet Keamanan Nasional.

Sebagal Menteri Luar Negeri, Biden memilih Antony John Blinken yang lahir 16 April 1962 (58), staf khusus kebijakan luar negeri Biden (khusus Menlu Blinken akan ditulis tersendiri).

Mengenali Avril Haines, Calon Direktur intelijen Nasional AS

Avril Danica Haines, yang lahir tanggal 29 Agustus 1969 (51) adalah pakar, praktisi dan pejabat high ranking pada era Presiden Obama. Menguasai hukum, dengan latar belakang sebagai pengacara Amerika, mantan Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih di era pemerintahan Barack Obama. Haines adalah wanita non karir intelijen pertama yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur CIA. Sebelum ke CIA, dia menjabat sebagai Wakil Penasihat Presiden Urusan Keamanan Nasional di Kantor Penasihat Gedung Putih.

Dari 2007 hingga 2008, Haines bekerja untuk Komite Senat Amerika Serikat untuk Hubungan Luar Negeri sebagai Wakil Ketua Penasihat untuk Senat Mayoritas Demokrat (di bawah ketua saat itu Joe Biden). Dia kemudian bekerja di Departemen Luar Negeri sebagai asisten penasihat hukum untuk urusan perjanjian dari 2008 hingga 2010.

Pada 13 Juni 2013 Presiden Obama menominasikan Haines untuk menggantikan Michael Morell, Wakil Direktur CIA. Jabatan yang perlu di konfirmasi oleh Senat. Setelah lolos, Haines menjabat sejak tanggal 9 Agustus 2013, menggantikan Morrell. Haines adalah wanita pertama non karir intelijen di posisi tinggi  CIA, sedangkan Gina Haspel adalah personil intelijen karir wanita pertama yang ditunjuk sebagai Direktur CIA di era Presiden Trump.

Publik AS mencatat, dalam sebuah kasus pada 2015, Haines ditugaskan untuk menentukan apakah personel CIA yang terlibat dalam peretasan komputer staf Senat yang menulis laporan Komite Intelijen Senat tentang penyiksaan CIA akan harus didisiplinkan atau tidak. Haines memilih untuk tidak mendisiplinkan, dia berani dan berhasil mengalahkan keputusan Inspektur Jenderal CIA. Selanjutnya, dia justru terlibat dalam proyek CIA untuk menyunting laporan Senat secara bebas.

Haines juga merupakan wanita pertama yang menjadi Wakil Penasihat Keamanan Nasional, DNSA (Deputy National Security Advisor). Selama tahun-tahun bertugas di Gedung Putih membantu Presiden Obama, Haines memainkan peran penting bekerja sama dengan John O. Brennan (Direktur CIA, periode 2013-2017) dalam menentukan kebijakan administrasi tentang "pembunuhan yang ditargetkan" oleh drone. ACLU mengecam keras kebijakan Obama tentang pembunuhan pesawat tak berawak karena gagal memenuhi norma hak asasi manusia internasional. Haines yang menentukan keputusan dengan back ground hukum.

Para pengeritik Haines kemudian menyatakan khawatir dengan perannya dalam program serangan Drones pemerintahan Obama yang kontroversial tersebut, kebijakan CIA yang berpusat pada pembunuhan terarah terhadap teroris, tetapi juga mengakibatkan kematian warga sipil.

Dengan terjadinya kebocoran email Komite Nasional Demokratik selama kampanye presiden 2016, Haines sebagai DNSA mengadakan serangkaian pertemuan untuk membahas cara-cara counter intelligence menanggapi peretasan dan kebocoran.

Kasus lain yang menarik, pada tahun 2018, Haines menjadi pendukung vokal pencalonan Gina Haspel yang dinilai kontroversial, dicalonkan Presiden Donald Trump untuk menjabat sebagai direktur CIA. Meskipun tidak mengomentari catatan Haspel, dia memuji pengetahuannya tentang organisasi intelijen. Haspel tercatat pernah dilaporkan terlibat dalam operasi situs penyiksaan pada situs hitam rahasia CIA pada tahun 2002 dan 2003. Haspel telah mengakui perannya dalam membantu menghancurkan rekaman video penyiksaan oleh interogator CIA. Beberapa orang menyuarakan keprihatinan tentang dukungan Haines setelah diketahui bahwa dia menjadi pendukung teknik penyiksaan seperti waterboarding.

Penunjukan Haines di posisi puncak intelijen ini, seperti pemilihan kabinet Biden lainnya banyak nominator diambil dari personel  era Obama, ketika Biden menjadi wakil presiden. Ini akan berpengaruh dan  menandai dimulainya pendekatan yang sangat berbeda terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Trump.

Tugasnya Haines apabila sudah menduduki jabatannya itu  adalah menjaga keamanan Amerika, menasihati Presiden dalam segala hal mulai dari serangan dunia maya hingga terorisme, ancaman pandemi, dan lanskap geopolitik yang selalu berubah. Tetapi meskipun pencalonannya kemungkinan akan disetujui oleh Senat, dia aka  menghadapi kritikan beberapa keputusan masa lalunya.

Peran dan wewenang Avril Haines secara 'formal' sebagai DNI (Director of National Intelligence) adalah pejabat setingkat Menteri di Kabinet Pemerintah Amerika Serikat dengan tugas dan wewenang menurut Undang-Undang Reformasi Intelijen dan Pencegahan Terorisme tahun 2004 untuk :

-Menjabat sebagai kepala Komunitas Intelijen Amerika Serikat yang beranggotakan tujuh belas orang.

-Mengarahkan dan mengawasi National Intelligence Program (NIP)

-Bertugas sebagai penasihat, atas permintaan Presiden Amerika Serikat dan kantor eksekutif Dewan Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Dalam Negeri tentang masalah intelijen yang berkaitan dengan keamanan nasional.

-Haines yang memimpin Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) juga bertugas mengawasi United States Intelligence Community (IC), yang bertanggung jawab kepada presiden Amerika Serikat. Komunitas intelijen itu terdiri dari 16 organisasi intelijen AS, yaitu sekelompok badan intelijen pemerintah Amerika Serikat dan organisasi bawahan yang terpisah, yang bekerja secara terpisah dan bersama-sama untuk melakukan kegiatan intelijen guna mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat. (Organisasi anggota IC termasuk badan intelijen, intelijen militer, dan intelijen sipil dan kantor analisis dalam departemen eksekutif federal)

Ini adalah jenis perubahan yang diyakini banyak orang sangat dibutuhkan setelah Donald Trump, yang menurut para pengkritiknya menghabiskan empat tahun terakhir ini merusak keamanan nasional, mempolitisasi peran intelijen utama, dan mengabaikan nasihat ahli dari agensinya sendiri .

Pribadi dan Karakter Avril Haines

David Priess, mantan perwira CIA yang telah banyak menulis tentang para pemimpin CIA membuat catatan khusus. Avril Haines dikatakannya menghabiskan tahun-tahun pembentukannya lebih sebagai hipster dan orang luar (Hipster adalah sebutan untuk sekelompok orang yang memiliki penampilan serta gaya hidup serba berbeda dan eksentrik tidak umum, anti-mainstream atau limited, sebuah gaya hidup yang tidak dijalankan oleh kebanyakan orang).

Sebagai anak tunggal yang dibesarkan di West Side of New York, dia menghabiskan masa remajanya untuk membantu merawat ibunya yang sakit, yang meninggal ketika Haines berusia 15 tahun. Begitu dia selesai sekolah menengah, Haines memulai serangkaian petualangan. Dia mulai bergabung di akademi judo elit di Jepang, berhasil mendapatkan sabuk coklat. Kemudian dia kuliah di Universitas Chicago, belajar fisika teoritis, departemen yang sangat kompetitif yang didominasi oleh laki-laki.

Dia memiliki hobi merestorasi kembali mobil dan pesawat terbang, dan juga belajar terbang. "Dia membeli Cessna bekas dan membangun kembali avioniknya sendiri dan mencoba terbang melintasi Samudra Atlantik dan mendarat di dekat pantai Newfoundland," kata Priess.

Perjalanannya dibatalkan, tapi instruktur terbangnya David Davighi, kemudian menjadi suaminya, dan mereka membuka toko buku dan kafe independen di Baltimore pada 1990-an. Ketika Presiden terpilih Joe Biden memperkenalkan Haines minggu lalu sebagai wanita pertama yang dinominasikan sebagai direktur intelijen nasional, jabatan tertinggi di intelijen AS, dia merujuk pada masa lalu eklektik Haines.

"Brilian, rendah hati. Bisa bicara literatur dan teori fisika, memperbaiki mobil, menerbangkan pesawat, menjalankan kafe toko buku, semua dalam satu percakapan, karena dia sudah melakukan semua itu," kata Biden.

Kepada Biden pada konferensi pers saat penunjukannya, Haines mengatakan kepada Biden : “Saya tidak pernah menghindar dari berbicara kebenaran kepada kekuasaan dan itu akan menjadi tanggung jawab saya sebagai Direktur Intelijen Nasional. Saya telah bekerja untuk Anda sejak lama dan saya menerima nominasi ini dengan mengetahui bahwa Anda tidak ingin saya melakukan sebaliknya… bahkan ketika apa yang saya katakan mungkin tidak nyaman atau sulit. Dan saya jamin, akan ada saat-saat itu".

Mengapa Biden Memilih Haines

Biden saat mengumumkan memilihnya, menyatakan, “Jika dia mendapat kabar tentang ancaman datang ke pantai kami, seperti pandemi lain atau campur tangan asing dalam pemilu kami, dia tidak akan berhenti memberikan peringatan sampai orang yang tepat mengambil tindakan. Orang-orang dapat mempercayai kata-katanya karena dia selalu menyebutkan seperti yang dia lihat.

Haines serta team inti calon anggota kabinet Biden dikatakan, "Sebagai orang-orang yang sama-sama sekaligus mengalami krisis karena mereka inovatif dan imajinatif. Prestasi mereka dalam diplomasi tidak tertandingi, tetapi mereka juga mencerminkan gagasan bahwa kita tidak dapat memenuhi tantangan besar dari momen baru ini dengan pemikiran lama dan kebiasaan yang tidak berubah atau tanpa keragaman latar belakang dan perspektif. Itulah mengapa saya memilih mereka." Para ahli mengatakan bahwa pilihan tersebut mencerminkan keinginan Biden untuk membangun Kabinet yang beragam dengan para ahli berpengalaman dalam kebijakan publik dan pengalaman pemerintah yang mendalam.

Kebijakan politik luar negeri Amerika akan ada perubahan dalam implementasinya, menyangkut geopolitik dan geostrategi Timur Tengah, Eropa, serta kawasan Indo Pasifik. Indonesia termasuk bagian geostrategi yang akan tetap diperhitungkan Amerika dalam menghadapi China (RRT).

Penunjukan Avril Haines, merupakan salah satu wanita dari beberapa wanita anggota kabinet inti setelah Kemala Haris yang dipilih sebagai wapres, Janet Yellen  sebagai Menteri Keuangan, Linda Thomas-Greenfield sebagai Duta Besar AS untuk PBB,  Mereka bukan wanita biasa, tetapi semuanya berpengalaman, inovatif, imaginatif dan memiliki prestasi diplomasi yang hebat. Biden menginginkan cara lama ditinggalkan dan anggota inti kabinetnya diharapkan mampu berperan menangani persoalan geopolitik dan geostrategi di kawasan manapun.

Itulah strategi Biden, dengan ujung tombak tandem politik luar negeri terdiri dari Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Direktur Nasional Intelijen, Ariel Haines yang memang sudah bekerjasama sejak lama.

Kesimpulan

Dari fakta-fakta tersebut di atas, terlihat bahwa Biden akan menjadi dirigen sebuah orchestra super besar yang mengarahkan staf intinya bermain di ranah diplomasi secara cermat dalam mengatasi tantangan besar terhadap Amerika yang terus berkembang maju. Biden menginginkan team inti ini melakukan perubahan dengan keragaman perspektif. Gaya lama yang diperagakan Trump dinilainya usang, harus direstorasi.

Bagi para pemegang amanah di Indonesia, penulis percaya sudah memperkirakan kemana arah kebijakan Biden. Salah satu pemikir dan perencananya adalah Avril Haines, dan bila Antony Blinken terpilih sebagai Menlu, sebaiknya Menlu RI perlu mendalami lagi ritme hubungan bilateral dengan AS. Saran penulis perhatikan Haines yang dijuluki hipster, percaya diriny tinggi dan bisa keras, berani mengambil keputusan yang kontroversial serta Blinken yang berasal dari Israel, besar  dan fasih berbahasa Perancis.

Semoga bermanfaat bagi pemegang amanah terkait, Pray Old Soldier

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam, Politik. Bookmark the permalink.