Mengapa Menko Rizal Ramli Berisik

21 August 2015 | 10:27 am | Dilihat : 2309

jokowi-anggap-persoalan-rizal-ramli-jk-sudah-selesai-lTp

Tiga Tokoh Harapan Bangsa, Rizal, Jokowi, JK (Foto : indeks.kompas.com)

Nama Rizal Ramli kini menjadi selebritis, terus dicari media, mengalahkan ketenaran tokoh ataupun selebritis  manapun di Indonesia, setelah memberisiki soal renvana pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt serta rencana pembelian pesawat Airbus A-350 untuk Garuda. Keberisikan itu dilemparkan ke publik beberapa hari setelah dilantik Presiden Jokowi menjadi Menko Bidang Kemaritiman menggantikan Indroyono Soesilo sejak 12 Agustus 2015.

Sosok menarik tetapi kontroversial ini walaupun berisik, ternyata bukan orang  sembarangan.  Rizal Ramli lahir di Padang 10 Desember 1954 (kini berumur 60 tahun) adalah alumnus  ITB Bandung, jurusan Teknik Fisika, dan mempunyai gelar Doktor ekonomi dari Boston University (1990). Pada era pemerintahan Presiden Gus Dur, Rizal  pernah dipercaya sebagai  Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional  menggantikan Kwik Kian Gie. .

Setelah kembali dari AS, bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi mendirikan ECONIT Advisory Group. Ketika masih aktif sebagai Managing Director Econit, Rizal Ramli dan rekan-rekannya di lembaga think-tank ekonomi independen ini sering mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah Orde Baru. Dia pernah masuk penjara karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggapnya telah melenceng dari cita-cita berbangsa dan bernega.

Misalnya saja kritik terhadap kebijakan Mobil Nasional, Pupuk Urea, Pertambangan Freeport, dan sebagainya. Bersama dengan beberapa orang koleganya Dr. Rizal Ramli mendirikan Komite Bangkit Indonesia (KBI) dan saat ini sekaligus menjabat sebagai ketua.Rizal juga pernah menjabat sebagai Kabulog dan dinilai sukses.

Rizal Ramli pernah menyelamatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dari kebangkrutan tanpa menyuntik uang tapi melalui revaluasi asset, sehingga modal yang dari minus 9 Triliun Rupiah melonjak menjadi surplus 119,4 Triliun Rupiah. Tokoh pengeritik yang pernah dipercaya sebagai salah satu penasehat PBB ini,  pada tahun 2000-an memimpin Indonesia Bangkit, sebuah think-thank yang secara periodic memberikan penilaian tentang situasi sosial-politik dan ekonomi Indonesia (Sumber Wikipedia).

Rizal Ramli oleh beberapa kalangan sejak lama dikenal sebagai Sang Penerobos, tetapi insider information menyebut dia dikenal kritis, noisy. Pada era pemerintahan Presiden SBY, Rizal pernah diberi kepercayaan menjadi Komut PT Semen Gresik, dan akhirnya diganti karena informasinya karena noisy juga. Semangat dan ambisinya cukup besar untuk menduduki jabatan pada pemerintahan.

Beberapa kritikan Rizal Ramli kepada Pemerintah Sebelum menjabat sebagai Menko

Rizal Ramli: Jokowi "Naikin" Harga, Uangnya untuk Pejabat -

Kompas.com - http://nasional.kompas.com/read/2015/04/06/12391381/Rizal.Ramli.Jokowi.Naikin.Harga.Uangnya.untuk.Pejabat

Rizal Ramli : Jokowi Raja Tega

http://www.publicapos.com/nasional/3120-rizal-ramli-jokowi-raja-tega

Jokowi mimpi kata rizal ramli :

http://m.fastnewsindonesia.com/article/rizal-ramli-jokowi-mimpi-pertumbuhan-ekonomi-7

Rizal Ramli : pemerintah jokowi malas!

http://m.inilah.com/news/detail/2155360/rizal-ramli-pemerintah-jokowi-malastak-kreatif

Rizal Ramli : Jokowi antek asing !

http://www.spektanews.com/2014/11/dr-rizal-ramli-bongkar-dugaan.html?m=1

Rizal Ramli : Kebijakan Jokowi tidak sesuai Nawa Cita

http://m.news.viva.co.id/news/read/585681-rizal-ramli--kebijakan-jokowi-tak-sesuai-nawa-cita

Rizal Ramli, Setelah Dipercaya Menjadi Menko : "Saya Lemas dan Terharu"

http://m.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/08/12/nsyncb354-rizal-ramli-terharu-dan-lemas-saat-diminta-jadi-menko-kemaritiman

Kritikan Soal Pembangkit Listrsik 35.000 Megawatt dan Rencana Pembelian Airbus A-350

a350

Pesawat Airbus A-350 (Foto : finance.detik.com)

Rizal  mengeritik program pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt. Menurut Rizal, program itu tidak realistis dan hanya meneruskan program pada pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu I yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.  "Saya akan minta Menteri ESDM dan DEN (Dewan Energi Nasional) untuk lakukan evaluasi ulang soal mana yang betul-betul masuk akal. Jangan kasih target terlalu tinggi, tetapi capaiannya susah. Ini supaya kita realistis," ujar Rizal Ramli di Gedung BPPT, Jakarta, Kamis (13/8/2015).

Rizal juga mengkritik rencana Garuda Indonesia membeli pesawat Airbuss A350 karena untuk penerbangan internasional Garuda akan rugi, lebih baik Airbus A-330 saja. Dia mengaku telah membicarakan hal ini kepada Presiden Jokowi. Ia mengaku tidak ingin Garuda bangkrut dengan membeli 30 unit Airbus A350 tersebut. Mengenai kritik itu, Wapres JK merespons dengan meminta Rizal memahami terlebih dahulu persoalannya sebelum berkomentar di hadapan publik. "Itu sudah ditegur oleh Presiden. Makanya, paham dulu, tidak pernah beli, baru penandatanganan letter of intent, saya berminat, bukan kesepakatan jual beli," kata Kalla, Selasa.

Pernyataan Rizal ini kemudian direspons Menteri BUMN Rini Soemarno. Rini mengisyaratkan tidak boleh ada pihak yang mencampuri urusan bisnis PT Garuda Indonesia Tbk, selain Menko Perekonomian, dengan posisi bahwa Kementerian Keuangan bertindak selaku pemegang saham perusahaan milik negara, dan Kementerian BUMN sebagai kuasa pemegang saham.

Soal kritikan Rizal tentang  listrik, JK mengkritik balik soal rencana pembangunan pembangkit listrik listrik 35.000 megawatt yang dinilai Rizal tidak masuk akal. Menurutnya, Rizal sedianya memahami terlebih dahulu persoalan yang ada sebelum ia menyampaikan kritik. Wapres juga membantah jika disebut proyek pembangkit listrik itu proyek ambisius JK yang belum tercapai ketika ia menjabat Wapres mendampingi Presiden SBY. Menurut JK, proyek ini merupakan proyek pemerintah yang diresmikan Presiden Joko Widodo.

listrik 35.000

Peluncuran Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 Megawatt (Foto: print.kompas.com)

"Tentu sebagai menteri, harus pelajari dulu sebelum berkomentar. Memang tidak masuk akal, tetapi menteri harus banyak akalnya. Kalau kurang akal pasti tidak paham itu memang. Itu kalau mau 50.000 megawatt pun bisa dibuat," kata Kalla di Kompleks Parlemen Jakarta, Selasa (18/8/2015).

Yang membuat bergetar, Menko Rizal Ramli menyatakan, "Kalau mau paham, minta Pak Jusuf Kalla ketemu saya, kita diskusi di depan umum," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (18/8/2015).

Menanggapi perseteruan dua pejabat utama di pemerintahannya, Presiden Jokowi menyatakan tidak akan merevisi target pemerintah untuk membangun pembangkit listrik sampai 35.000 megawatt, meski Menko Rizal Ramli mengkritik kebijakan itu."Maka dari itu, angka 35.000 (megawatt) itu kalau ada masalah di lapangan, itu yang dicarikan solusi. Carikan solusi sehingga investor bisa melaksanakan investasinya. Itu tugasnya menteri-menteri, tugasnya menko untuk cari solusi, jalan keluar setiap masalah yang dihadapi investor," kata Jokowi di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (19/8/2015).

Analisis

Sebenarnya apa yang menarik dari silang pendapat antara Wapres JK dengan Menko Rizal Ramli? Yang pertama jelas ada sesuatu yang samar dan abu-abu dalam rencana pembangunan pembangkit 35.000 Megawatt dan rencana pembelian pesawat wide body Airbus A-350 itu. Kini publik terbelahantara pendukung JK dengan pendukung Rizal Ramli. Yang jelas ada nilai turunnya citra dan kewibawaan pejabat. Wibawa Jk sebagai Wakil Presiden menjadi runtuh, tidak terbayangkan ada menteri utama di pemerintahan yang menantang debat. Ini buah simalakama, dilayani salah, tidak dilayani juga salah. Ada dua poin kerugian wapres soal keterkaitan pembangunan pembangkit listrik dan pembelian pesawat. Bola panas itu disorongkan Rizal ketangan wapres. Publik kira-kira menilainya begitu.

Rizal-Ramli-dan-JK

Dua Tokoh Tua, Sama-Sama Keras, Hebat:  JK dan RR (Foto: indoberita.com)

Nah, masalah yang jauh lebih menarik sebenarnya ada apa dibelakang pengangkatan Rizal Ramli menjadi Menko. Jelas Jokowi mengetahui bawa dari beberapa fakta terbuka di media dari beberapa sumber yang penulis sertakan diatas, sebenarnya presiden mestinya faham, bahwa Rizal ini seorang ekonom tangguh, mempunyai jaringan luas dan juga aktivis. Yang paling menonjol dia itu suka mengeritik dan dikenal noisy.

Lantas mengapa Presiden Jokowi memilihnya? Ini sebuah pertanyaan intelijen "why" atau "Me (Mengapa)." Dalam beberapa pola kepemimpinan sebagai suku Jawa, bebrapa kali Jokowi menggunakan second opinion untuk memutuskan sebuah kasus. Sebagai contoh dalam konflik KPK vs Polri, presiden membentuk Tim Sembilan dibawah kepemimpinan Buya Safii Maarif. Tim konsultatif independen ini mengeluarkan rekomendasi, salah satu poin rekomendasi terpentingnya, agar Presiden Jokowi tidak melantik Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri, sedang Budi Gunawan sudah lulus fit and propper test DPR. Ini posisi sulit presiden saat itu dan dibutuhkan dukungan masyarakat.

Sementara itu sebenarnya presiden sudah mempunyai Watimpres yang berisi tokoh-tokoh hebat. Dilihat dari tugasnya, tim ini untuk memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara. Pemberian nasihat dan pertimbangan tersebut wajib dilakukan oleh Wantimpres baik diminta ataupun tidak oleh Presiden. Penyampaian nasihat dan pertimbangan tersebut dapat dilakukan secara perorangan maupun sebagai satu kesatuan nasihat dan pertimbangan seluruh anggota dewan. Nah disini terlihat bahwa dalam kasus berat dan spesifik ada 2nd opinion yang dibutuhkannya.

Apakah dalam kasus keberisikan Rizal Ramli dengan JK juga merupakan pola yang sama? Yang digempur kini wapres JK. Selama ini siapa yang berani  mengeritik JK? Maka munculah tokoh spesialis yang nothing to loose ini, nekat tanpa beban. Yang jelas saat ditawari menjadi Menko, Rizal pasti akan menyampaikan ke presiden bahwa dia akan tetap kritis. Kalau dalam ilmu intelijen teori ini sebagai langkah proxy. Sementara dari insider information, pada saat pemerintahan SBY, Rizal tidak masuk dalam jajaran kabinet (walau kepengin juga), karena dinilai suka berisik, ngeritiknya tidak kira-kira. Mungkin dinilai tidak membuat nyaman, agak-agak ktroversial.

jokowi dan luhut

Presiden Jokowi Dikawal Luhut (Foto : liputan6.com)

Nah, kini Presiden semestinya faham bahwa aparat pemerintah yang tidak bersatu akan menurunkan kepercayaan publik, termasuk investor. Dalam kondisi normal, pengaruhnya jelas ada, tetapi dalam kondisi perekonomian yang sedang sulit, rupiah sedang bergerak turun, pengaruhnya akan luar biasa. Menurut ilmu intelijen, ini sebuah kelemahan dan menjadi kerawanan yang apabila ada yang mengeksploitir maka akan bisa menimbulkan kelumpuhan, yaitu kepercayaan terhadap pemerintah.

Konflik selama ini terjadi di grass root, kemudian dikalangan middle class kedua level ini bisa diatasi oleh kelompok elit. Tetapi bila terjadi konflik di level elit  akibatnya akan fatal, bisa menggoyahkan pohon pemerintahan secara keseluruhan, dimana apabila getarannya sangat keras, ditambah adanya angin ribut, pohon itu bisa tercabut akarnya dan tumbang. Ini yang menurut penulis sebaiknya kita waspadai bersama (khususnya pemerintah).

Bagaimana jalan keluarnya? Hanya satu, yaitu lakukan 'introspeksi', bukan hanya cukup  soal jabat tangan diantara mereka yang berbaju putih itu saja. Pemegang amanah kini terus dilirik dan diawasi rakyat yang makin memahami akan arti transparansi. Langkah Rizal Ramli, ada baiknya tetapi ada juga sisi bahayanya. Sebaiknya pemerintah melakukan pemeriksaan sekuriti, dan yang bisa menetralisir disintegrasi dan kelumpuhan permanen hanya presiden Jokowi. Itu saja.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.