Presiden Obama Kembali Ditekan Islamic State, Jurnalis AS Kedua Sotloff Dipenggal

3 September 2014 | 2:58 pm | Dilihat : 242

[google-translator]

steven-sotloff-main

Presiden Obama, Jurnalis Sotloff dan Eksekutor (Foto : mirror.co.uk)

Kembali masyarakat dunia dikejutkan dengan beredarnya sebuah video pemenggalan kepala seorang jurnalis dari Amerika Serikat, Steven J. Sotloff yang dieksekusi oleh algojo IS (Islamic State).  Washington Post memberitakan Video, yang diunggah pada hari Selasa (1/9/2014)  menunjukkan Sotloff  yang berpakaian tahanan warna oranye dalam posisi berlutut dan terikat.

Sementara dibelakangnya berdiri seorang berpakaian hitam memegang pisau dengan latar belakang  padang pasir yang mirip dengan yang ditunjukkan dalam video sebelumnya yang menggambarkan saat pemenggalan wartawan Amerika  lainnya, James Foley yang diunggah di video pada 20 Agustus 2014.

Sotloff (31) , adalah  seorang jurnalis lepas berusia sekitar 31 tahun, ia menulis untuk majalah Time, dengan topik Kebijakan Luar Negeri dan tema  lainnya. Sotloff telah melakukan perjalanan ke dan dari Suriah beberapa kali sebelum ia diculik setelah memasuki negara itu dari Turki pada 4 Agustus 2013, dan ia pernah ditampilkan dalam video Islamic State sebelumnya  saat eksekusi pemenggalan kepala terhadap  James Foley pada bulan lalu.

Dalam video yang diunggah hari muncul Selasa itu, terlihat bahwa  Sotloff menatap batu dimuka kamera,  sementara ia memberikan pernyataan yang tampaknya ditulis oleh para penculiknya. "Saya Steven Joel Sotloff, kini membayar harga untuk kebijakan pemerintahan Obama di Timur Tengah."  Video berlangsung kurang dari tiga menit, dan disertakan sebuah bendera hitam Islamic State yang terkenal itu di sudut kiri atas dari bingkai video. Para analis intelijen sepakat bahwa video itu  sengaja diproduksi dalam rangka psywar terhadap ancaman serangan udara dari Amerika Serikat.

Dalam tayangan video tersebut, seorang militan IS tak dikenal mengancam pemerintahan AS dibawah Presiden Barack Obama, dan mengatakan, "Aku kembali, Obama, dan aku kembali karena kebijakan luar negeri arogan Anda terhadap Negara Islam." Dia mengutip serangan udara AS baru-baru terhadap kelompok Islamic State di Irak dan memperingatkan bahwa "Apabila misil Anda terus menyerang orang-orang kami, maka pisau kami akan terus menyerang leher orang-orang anda," tegasnya. Eksekutor itu  berbicara dengan aksen Inggris, meningkatkan kemungkinan bahwa ia juga sebagai pelaku yang memenggal kepala James Foley.

Intelligence Group Site, sebuah organisasi yang berhasil  melacak posting online kelompok militan Islam juga menunjukkan adanya  sandera lain  diidentifikasi sebagai David Cawthorne Haines. Haines adalah seorang pekerja bantuan Inggris yang diculik Maret 2013 di dekat kamp pengungsi Atmeh berbatasan perbatasan Turki, provinsi Suriah Idlib. Pembunuh Sotloff itu juga memperingatkan "pemerintah dalam kelompok aliansi jahat ini adalah Amerika, harus mundur dan meninggalkan orang-orang kita sendiri." Haines ditampilkan dalam posisi berlutut yang sama dan memakai jenis yang sama jumpsuit oranye sama dengan pakaian yang dipakaikan kepada Sotloff dan Foley.

Presiden Obama dikabarkan belum menanggapi pembunuhan terhadap Sotloff hingga kemarin. Sementara Perdana Menteri Inggris David Cameron mengeluarkan pernyataan yang mengatakan jika video tersebut  otentik, itulah sebuah gambaran  "pembunuhan yang keji dan biadab" dan bahwa para pejuang Islamic State  " telah mengancam Suriah, Irak, Amerika Serikat  dan orang Inggris, mereka  sama dan tidak membeda-bedakan antara Muslim, Kristen atau agama lainnya."

Analisis

Pembunuhan kedua jurnalis asal Amerika Serikat walaupun secara kwantitas hanya dua orang, tetapi secara kwalitas efek tekanan psikologisnya sangat besar. Islamic State kini semakin cerdik bermain dengan ilmu teror untuk melakukan psywar dalam menghadapi tekanan serangan udara dari AS. Titik lemah IS yang pada awalnya adalah kemampuan perang infanteri telah dapat mereka perbaiki dan tingkatkan. Kemampuan serangannya semakin beragam dan mampu mengintimidasi pasukan Irak dan Suku Kurdi.

Dalam upayanya melindungi baik personil militer, pejabat diplomat AS di Irak (Irbil), mengusir IS dari bendungan di Mosul dan melindungi penasehat militer AS di Baghdad. Serangan udara lain telah terjadi  sebagai bagian dari operasi kemanusiaan untuk menyelamatkan ribuan minoritas Yazidi yang dikepung oleh militan IS  di punggung bukit gunung dekat perbatasan barat laut Irak dengan Suriah. Minggu lalu Angkatan Udara AS telah melakukan sekitar 100 shorty serangan udara langsung.

Pada awal  minggu ini, pesawat-pesawat tempur AS juga  melakukan serangan udara untuk mematahkan tekanan serangan militan IS  ke desa Amerli dimana para minoritas Turkmen terkepung. Serangan udara AS ini yang dikatakan oleh eksekutor Sotloff, apabila diteruskan maka mereka akan kembali memenggal sandera AS lainnya.

Pada saat ini kelemahan militan Islamic State adalah tidak dipunyainya senjata anti pesawat udara, sehingga mereka mudah didikte dan dilumpuhkan oleh serangan udara, tetapi dengan dana yang banyak, bukan tidak mungkin mereka suatu saat akan mampu memiliki Hanud aktif yang berbahaya.

Dilain sisi, keengganan Presiden Omaba untuk terlibat langsung dan keras dengan pengerahan besar-besaran kekuatan Angkatan Darat telah menimbulkan kritik di dalam negerinya. Pada hari Selasa Presiden Obama menyetujui penambahan 350 pasukannya ke Irak dalam menanggapi permintaan Departemen Luar Negeri minggu lalu untuk perlindungan  bagi personel AS dan fasilitas di Baghdad. Tetapi Presiden menekankan bahwa penambahan kekuatan bukan merupakan dan tidak akan menjalani peran tempur.

Kekuatan pasukan sebagai penasehat militer dan pelindung fasilitas dan warga AS sejak Juni 2014 dikabarkan berjumlah 1.100 orang, dimana 820 pasukan kini  bertanggung jawab untuk melindungi Kedutaan Besar AS dan bandara di Baghdad dan Konsulat AS di Irbil di wilayah Kurdi Utara. Dengan situasi yang sekamin gawat, penambahan 350 pasukan diperkirakan akan lebih memadai.

Dari situasi dan kondisi yang berlaku, nampaknya di jajaran bawah kepemimpinan Islamic State merasa terganggu gerakan pasukannya sebagai akibat serangan udara militer AS. Sementara langkah militer AS terbatas karena kebijakan Presiden Obama yang tidak menginginkan keterlibatan langsung berupa pengerahan kekuatan besar pasukan darat ke medan tempur di Irak. Obama menginginkan bahwa seharusnya yang melakukan tekanan ke militan IS adalah pasukan  Irak dan kekuatan udara AS sifatnya hanya membantu.

Dalam teknologi masa kini sebenarnya tidak sulit untuk mendeteksi pasukan lawan, walau  dislokasi IS dengan pasukan Irak tercampur dan sulit dibedakan. Inilah yang mengundang pertanyaan, ada apa sebenarnya dibelakang ini semua? Apakah informasi Snowden benar, adanya keterlibatan unsur intelijen AS, Inggris dan Israel dalam konflik keras dan kejam yang kini berlangsung di Irak? Apabila ini benar, nampaknya kompartmentasi operasi intelijen AS dan dua mitranya itu berlangsung dengan ketat., tidak diketahui oleh pelaksana jajaran bawah.

Dalam sebuah operasi intelijen, korban bukanlah sebuah pertimbangan, hanyalah sebuah akibat dinamika, tercapainya tujuan adalah yang utama. Invasi ke Irak dengan alasan adanya SPM (Senjata Pemusnah Massal) yang tidak terbukti adalah skenario intelijen, tetapi kemudian diputuskan dan dilaksanakan oleh Presiden Bush. Karena itu kini harusnya perlu dikhawatirkan akan susul menyusul warga AS yang akan disembelih disana.

Dari basic descriptive intelligence, Al-Qaeda dan Taliban dahulu dibina melawan Uni Soviet, tetapi Al-Qaeda kemudian menjadi musuh utama AS, dan untuk menetralisirnya dibutuhkan pengorbanan nyawa ribuan pasukan AS serta ratusan miliar dollar. Apakah kini akan terulang kembali? al-Baghdadi dan ISIS apabila benar, yang pada awalnya dibina untuk melindungi Israel,  kemudian menjadi bola liar dan justru akan bisa menjadi ancaman nyata keamanan nasional AS, Inggris dan negara-negara sekutu lainnya.

Yang perlu diingat adalah gerakan serta ide Islamic State jauh lebih berbahaya dibandingkan Al-Qaeda, karena mereka berani mengumandangkan ke khalifahan sejak awal. AS, Inggris, Israel atau negara-negara lain di dunia memang harus waspada, karena kini sekitar 12.000 militan IS adalah warga asing yang dikabarkan  warga negara dari 50 negara di dunia. Semua negara harus bersiap, apabila para militan yang membawa paspor masing-masing itu kemudian menyebar, mereka bak sel kanker seperti yang dikatakan Presiden Obama.

Kita faham bahwa penyakit kanker belum ada obatnya, akan selesai apabila tubuh yang terkena jiwanya sudah hilang. Apakah begitu? Kita lihat saja nanti, penulis memperkirakan kanker Islamic State akan berkembang merupakan gerakan di banyak negara sekitar 1-2 tahun mendatang saat militan brutal membawa ide Negara Islam ala Baghdadi  itu pulang kandang. Tetapi, Raja Arab Saudi, King Abdullah memperkirakan hanya butuh satu bulan untuk mencapai  Inggris dan dua bulan sampai ke AS. Mari kita tunggu perkembangannya, menakutkan memang.

Penulis :  Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net 

Artikel Terkait :

-King Abdullah ; Mengatasi ISIS dengan Force, Reason and Speed,  http://ramalanintelijen.net/?p=8975

-Menilai Ancaman Islamic State Terhadap AS, Negara Barat dan Indonesia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8965

-Inggris Menilai ISIS Ancaman Serius Bagi Keamanan Nasional,  http://ramalanintelijen.net/?p=8958

-Awal Kepemimpinan Jokowi Sudah Sangat Benar, http://ramalanintelijen.net/?p=8950

-Arab Dihancurkan dengan Operasi Intelijen, ISIS Hanya Bagian Kecil Operasi Five Eyes ,  http://ramalanintelijen.net/?p=8910

-ISIS Proyek Dari Mossad, CIA dan MI6?, http://ramalanintelijen.net/?p=8696

-Ancaman Perkembangan ISIS di Indonesia Sangat Serius,  http://ramalanintelijen.net/?p=8679

-Fokus Gelar Tempur Pasukan AS akan ke Asia, http://ramalanintelijen.net/?p=4819

-Potensi Konflik Militer di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea,  http://ramalanintelijen.net/?p=7564

-Perseteruan AS dan China di Laut China Selatan, http://ramalanintelijen.net/?p=4336

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.