Arab Dihancurkan dengan Operasi Intelijen, ISIS Hanya Bagian Kecil Operasi Five Eyes

14 August 2014 | 8:24 am | Dilihat : 3997

[google-translator]

baghdadi-cia (1)

Pemimpin ISIS  Abu Bakr al-Baghdadi (foto : infowar.com)

Nama ISIS yang merupakan singkatan dari Islamic State of Iraq and Syria (al-Sham) kini menjadi topik bahasan populer di Indonesia. Tidak kurang media terus memberitakannya, yang menarik dan menonjol, pada beberapa daerah, bendera hitam ISIS menjadi sangat populer, terkenal dengan ide pemimpinnya Abu Bakr al-Baghdadi yang membentuk negara Islam dengan pusat di Racca (Suriah) dan Mosul di Irak.

ISIS yang pada awalnya bernama ISI (Islamic State of Iraq) kini diganti kembali namanya menjadi IS (Islamis State) atau dikenal juga sebagai Daulah Islamiyah. Penulis membuat artikel dengan judul "ISIS Proyek Dari Mossad, CIA dan MI6?"(http://ramalanintelijen.net/?p=8696), dimana menurut Edward Snowden mantan agen CIA/pegawai NSA mengatakan ISIS dan Baghdadi hanyalah buatan ketiga badan rahasia dari Israel, AS dan Inggris.

Dari perkembangan informasi, penulis mencoba mengulas lebih jauh lagi, kaitan antara konflik antara Israel-Arab, kepentingan negara-negara besar (AS dan Inggris), kepentingan Israel di satu sisi, serta kaitannya dengan iintelijen dari lima negara (five eyes).

Konflik dan Perang antara Negara-negara Arab melawan Israel

Konflik yang terjadi antara Israel dan Negara-negara Arab,  secara kasar sudah terjadi selama satu abad, dimana selain konflik  bidang politik, berlangsung juga  konflik kekerasan bersenjata berupa perang terbuka. Konflik ini terjadi karena pada awalnya munculnya  gerakan Zionis yang bertujuan untuk mendirikan negara Israel. Konflik antara negara-negara Arab dan Israel  terus berlangsung hingga kini.

Zionisme adalah gerakan nasional  dan budaya Yahudi yang mendukung terciptanya tanah air Yahudi di wilayah yang mereka definisikan sebagai tanah Israel. Berbagai tokoh Zionisme mendukung orang-orang Yahudi dalam menegakkan identitas Yahudi , menentang asimilasi Yahudi ke dalam masyarakat lain.

Zionisme muncul pada akhir abad ke-19 di kawasan Eropa Tengah dan Timur sebagai gerakan kebangkitan nasional, dan kemudian sebagian besar pemimpin gerakan terkait tujuan utama dengan menciptakan keadaan yang diinginkan di Palestina, maka area tersebut dikontrol oleh kekaisaran Ottoman. Sejak berdirinya Negara Israel, gerakan Zionis terus berlanjut terutama untuk melakukan advokasi atas nama negara Yahudi untuk melanjutkan tentang eksistensi keberadaannya dan keamanan.

Dari catatan sejarah, perang Arab melawan Israel terjadi  di tahun 1948, 1967, dan 1973 dimana Suriah tidak pernah absen. Bahkan di tahun 1982 saat negara-negara Arab seperti Mesir dan Arab Saudi sudah berdamai dengan Irael, Suriah tetap membantu PLO melawan Israel di Perang Lebanon tahun 1982. Presiden Hafez Assad tercatat tiga kali  ikut terlibat dalam perang melawan Israel sebagai Komandan Tertinggi Suriah di tahun 1967, 1973, dan 1982.

Pada tahun 1947, PBB memutuskan untuk membagi wilayah mandat Britania atas Palestina. Tetapi hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya dan juga banyak negeri-negeri Muslim. Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota Yerusalem yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen, akan dijadikan kota internasional. Israel diproklamasikan pada tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung diserang oleh tentara  Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya.   Mereka juga dibantu oleh Mujahidin dari Liga Arab, Arab Saudi, Yaman, Sudan, dan sebagainya.

Tetapi Israel bisa memenangkan peperangan ini dan malah merebut kurang lebih 70% dari luas total wilayah daerah mandat PBB Britania Raya, Palestina. Perang ini menyebabkan banyak kaum Palestina mengungsi dari daerah Israel. Tetapi di sisi lain tidak kurang pula kaum Yahudi yang diusir dari negara-negara Arab lainnya.

Perang  berakhir setelah disetujuinya  gencatan senjata antara Israel dan Negara-negara Arab tetangganya pada tahun 1949. Dalam perjanjian tersebut juga disepakati batas baru wilayah Negara Israel (green line) yang diakui secara internasional. Batas baru Negara Israel yang disepakati ini termasuk wilayah yang berhasil dikuasai Israel dalam perang 1948 (sebagian wilayah yang tadinya diperuntukkan sebagai Negara Palestina merdeka).

Pada pertemuan tahun 1964 di Cairo Liga Arab berinisiatif untuk membentuk sebuah organisasi yang mewakili kepentingan rakyat Palestina. Majelis Nasional Palestina lalu mengadakan pertemuan di Jerusalem pada 29 Mei 1964. Dari pertemuan ini akhirnya PLO terbentuk pada 2 juni pada tahun yang sama. Pada awal berdirinya, PLO adalah sebuah organisasi pembebasan Palestina yang menggunakan perlawanan bersenjata terhadap Israel sebagai kebijakannya. Piagam PLO yang dikeluarkan pada 2 Mei 1964 menyatakan bahwa Palestina dengan batas wilayah sebagaimana termaktub dalam mandat Inggris adalah sebuah kesatuan regional dan melarang aktifitas zionis dalam bentuk apapun.

Baru setelah sekitar 30 tahun kemudian PLO mengadopsi kebijakan "two state solution" dengan Israel dan Palestina hidup berdampingan dan mensyaratkan Jerusalem timur sebagai ibukota Palestina. Yasser Arafat pada 1993 melalui surat resminya kepada perdana menteri Israel Yitzak Rabin mengakui keberadaan negara Israel. Sebagai respon atas pengakuan tersebut, Israel mengakui PLO sebagai satu-satunya organisasi yang berhak mewakili rakyat palestina. Meskipun liga arab mendukung terbentuknya PLO dan berdirinya negara Palestina merdeka, namun mereka (terutama Mesir dan Jordan) tetap tidak memberikan hak kedaulatan kepada rakyat Palestina atas wilayah Gaza dan Westbank.

Pecahnya perang Arab-Israel 1967 (perang enam hari), merupakan peperangan antara Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dimana ketiga musuh Israel itu juga mendapat dukungan aktif dari negara-negara  Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang tersebut   hanya berlangsung di front Suriah saja. Perang berlangsung enam hari penuh, dimana perang  terjadi karena Israel yang memulai menyerang Pangkalan Udara Mesir.

Perang Yom Kippur 1973 , dikenal juga dengan nama Perang Ramadan atau Perang Oktober (Ibrani: Yom Kipur)  adalah perang yang terjadi antara  tanggal 6 - 26 Oktober 1973 antara negara Israel yang dikeroyok oleh koalisi negara-negara arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah. Pada tanggal 6 Oktober 1973, pada hari Yom Kippur, hari raya Yahudi yang paling besar, ketika orang-orang Israel sedang khusyuk merayakannya, yang juga bertepatan dengan bulan Ramadan bagi ummat Islam sehingga dinamakan "Perang Ramadan 1973", Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba.

Di dataran tinggi Golan, garis pertahanan Israel yang dipertahankan oleh 180 tank harus berhadapan dengan 1400 tank Suriah. Sedangkan di terusan Suez, kurang dari 500 orang prajurit Israel harus berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir. Nampaknya Mesir telah mengambil pelajaran pada Perang Enam Hari pada tahun 1967 tentang lemahnya pertahanan udara sehingga saat itu 3/4 kekuatan udara Mesir mengalami kehancuran total sementara Suriah masih dapat memberikan perlawanan. Sadar bahwa armada pesawat tempur Mesir masih banyak menggunakan teknologi lama dibandingkan Israel, Mesir akhirnya menerapkan strategi payung udara dengan menggunakan rudal dan meriam anti serangan udara bergerak yang jarak tembaknya dipadukan. Angkatan udara Israel akhirnya kewalahan bahkan banyak yang menjadi korban karena upayanya yang berusaha menembus "jaring-jaring" pertahanan udara itu.

Pada awal pecahnya perang, Israel terpaksa menarik mundur pasukannya. Tetapi setelah memobilisasi tentara cadangan, mereka bisa memukul tentara invasi sampai jauh ke wilayah Mesir dan Suriah. Israel berhasil melemahkan  payung udara Mesir yang ternyata lambat dalam mengiringi gerak maju pasukkannya, dengan langsung mengisi celah (gap) antara payung udara dengan pasukan yang sudah berada lebih jauh di depan. Akibatnya beberapa divisi Mesir terjebak bahkan kehabisan perbekalan.

Sementara di front timur, Israel berhasil menahan serangan lapis baja Suriah. Melihat Mesir mengalami kekalahan, Uni Soviet tidak tinggal diam. Melihat tindakan Uni Soviet, Amerika Serikat segera mempersiapkan kekuatannya. Kemudian, Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mengumumkan pembatasan produksi minyak. Krisis energi muncul dan negara negara industri kewalahan lantaran harga minyak dunia membumbung tinggi. Dua minggu setelah perang dimulai, Dewan Keamanan PBB mengadakan rapat dan mengeluarkan resolusi 339 serta gencatan senjata dan dengan ini mencegah kekalahan total Mesir.

Secara total 2.688 tentara Israel tewas dan kurang lebih 7.000 orang cedera, 314 tentara Israel dijadikan tawanan perang dan puluhan tentara Israel hilang (17 di antaranya bahkan sampai tahun 2003 belum ditemukan). Tentara Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan kurang lebih 800 tank. Sementara di pihak  Mesir dan Suriah 35.000 tentaranya tewas dan lebih dari 15.000 cedera. Sebanyak 8.300 tentara ditawan. Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah 135.

Posisi Palestina setelah perang Yom Kippur 1973 ini semakin tidak jelas. Terlebih setelah Yordania, negeri yang ditempati sebagian besar bangsa Palestina mengambil sikap netral akibat kekalahannya pada Perang Enam Hari 1967 yang menyebabkan Yordania kehilangan Tepi Barat dan Jerussalem Timur.

Sikap Yordania ini, menyebabkan kemarahan dikalangan Palestina terutama dari PLO yang saat itu berkedudukan di sana. Karena PLO bertindak sebagai negara dalam negara di Yordania dan berencana untuk mengkudeta Raja Yordania maka untuk menghindari ketidakstabilan keamanan, Raja Hussein bin Talal akhirnya mengambil sikap represif dengan mengusir PLO dari negaranya. PLO akhirnya pindah ke Libanon dan Tunisia.

Suriah sendiri mengalami kerugian yang cukup besar, namun akhirnya Suriah menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel,namun tidak mengadakan perjanjian perdamaian, terutama sebelum wilayah Dataran Tinggi Golan dikembalikan oleh Israel dalam perang tahun 1967. Dataran tinggi Golan sendiri akhirnya ditetapkan secara sepihak oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat.

Perang Lebanon 1982 adalah sebuah perang antara Israel dan Lebanon yang terjadi pada tanggal 6 Juni 1982 ketika militer Israel menyerang Lebanon Selatan. Pemerintahan Israel melancarkan invasi sebagai respon dari usaha pembunuhan terhadap  duta besar Israel di Inggris, Shlomo Argov oleh Organisasi teroris Abu Nidal.

Setelah menyerang PLO  serta Suriah, sayap kiri, dan pasukan muslim Lebanon, pasukan Israel berhasil menduduki wilayah  Lebanon Selatan. Setelah Beirut Barat mengalami pemboman gencar, pasukan PLO dan sekutu mereka dipindahkan dari Lebanon dengan bantuan utusan khusus  Amerika Serikat Philip Habib dan perlindungan pasukan penjaga perdamaian internasional. PLO, di bawah pimpinan Yasser Arafat, kemudian  memindahkan kantor pusatnya ke Tripoli pada bulan Juni 1982.

Setelah raja Hussein menyatakan melepas wilayah West Bank dari kekuasaan Yordania pada 1988, majelis nasional Palestina menyatakan kemerdeaan Palestina di Al Jazair pada 15 November 1988. Meskipun lebih dari 100 negara mengakui kemerdekaan Palestina (kebanyakan merupakan negara-negara GNB dan Blok Timur), namun PBB dan negara-negara barat serta Israel tidak mengakuinya .

Setelah tahun 2000 konflik terjadi antara kelompok Hamas dengan Israel dan beberapa faksi militan dalam tubuh Fatah (brigade al aqsha). Kantor Arafat dikepung dengan tujuan mengisolasi Arafat. Dan setiap kali Israel melakukan operasi di wilayah Palestina, pelanggaran HAM selalu terjadi dan ratusan bahkan ribuan rakyat Palestina selalu menjadi korban. Pada tanggal 3 Mei 2002 akhirnya Arafat diizinkan meninggalkan wilayah pengepungan setelah negosiasi yang alot. Arafat setuju dan menyeru semua militan Palestina untuk menghentikan teror. Tapi seruan itu tidak pernah ditaati, bahkan oleh kelompok Fatah pimpinan Arafat sendiri.

Pada tahun 2003 Presiden Israel Sharon mulai melakukan penarikan mundur pasukannya dari Gaza dan mengakhiri pendudukan atas wilayah tersebut. Penarikan pasukan secara menyeluruh selesai pada tahun 2005. Dengan ditariknya pasukan Israel ini berarti Otoritas Palestina berkuasa penuh atas wilayah Gaza (dalam perjanjian 1979 disepakati bahwa Gaza berada di bawah kontrol Israel). Hamas akhirnya memiliki kontrol penuh atas wilayah Gaza, adapun Tepi Barat dikuasai oleh Fatah.

Dengan berkuasanya Hamas atas wilayah Gaza ini Israel menghentikan kerjasama dan bantuan ke wilayah tersebut. Israel juga mengurangi suplai listrik dari Israel ke Gaza. Sebelum Gaza dikuasai Hamas, Otoritas Palestina di wilayah Gaza menjalankan pemerintahan dengan dana bantuan dari Eropa, Amerika serikat, dan negara-negara lain. Setelah Hamas berkuasa, negara-negara donor menghentikan bantuannya ke wilayah Gaza. Israel juga menghentikan aliran dana yang selama ini didistribusikan dari Israel.

Ketika menguasai Gaza, Hamas semakin leluasa mengorganisasikan kekuatan militernya. Hamas juga sering  melakukan serangan ke wilayah Israel sampai akhirnya disepakati gencatan senjata antara Hamas dan Israel pada 19 Juni 2008. Pada akhir desember 2008 Israel melakukan serangan udara ke wilayah Gaza dalam upaya melumpuhkan kekuatan Hamas dan dilanjutkan dengan serangan darat. Perang masih terus berlanjut dan ribuan korban kembali jatuh.

Pada awal Juli 2014,   Israel mengumumkan akan segera memulai serangan darat ke Gaza, setelah 10 hari melakukan serangan udara memakai pesawat tempur dan serangan Angkatan Laut. Pernyataan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan sudah memerintahkan  untuk menghancurkan terowongan yang digali pejuang Palestina untuk menyusup ke Israel.

Juru Bicara militer Israel mengatakan pasukan negaranya tak sedang mencoba menggulingkan dominasi Hamas di Gaza. Menurut pernyataan itu, tujuan semacam itu mengharuskan serangan ke kawasan padat penduduk di Gaza City yang akan mahal bagi kedua belah pihak. (Perang darat besar-besaran antara Israel dengan Palestina terakhir kali terjadi pada akhir 2008 hingga akhir 2009. Saat itu, 1.400-an warga Palestina tewas sementara di pihak Israel hanya 13 orang tewas.)

Pada  10 Agustus 2014,  serangan udara Israel terhadap daerah kantung itu adalah dikatakan merupakan pembalasan  atas beberapa serangan roket yang ditembakkan dari wilayah tersebut ke dalam wilayah Israel, kata Radio Israel. "Sejak awal serangan militer berskala luas oleh Israel terhadap Jalur Gaza pada Selasa (8/7/2014), jumlah korban jiwa mencapai 1.928 dan sebanyak 10.000 orang lagi cedera, dua pertiga dari mereka adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak kecil," Xin Hua mengabarkan.

Meskipun ada upaya pada detik terakhir untuk memperpanjang gencatan senjata, Hamas melanjutkan penembakan roket ke permukiman di Israel Selatan pada Jumat pagi (8/8/2014), dan Pasukan Pertahanan Israel membalas dengan serangan udara dan tembakan artileri. Presiden AS, Barack Obama mendeklarasikan dukungannya atas agresi militer yang dilancarkan Israel ke Gaza, Palestina. Menurut dia, langkah itu perlu dilakukan Israel untuk mempertahankan diri dari serangan roket Hamas Palestina.

"Kami mendukung upaya militer mereka (Israel) untuk memastikan roket dari Hamas tidak meluncur," kata Obama dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, seperti dimuat Fox News, Sabtu (19/7/2014). "Bagi saya, serangan militer ini merupakan operasi yang dilakukan untuk membuat kesepakatan terkait serangan terowongan (Hamas). Dan kami berharap, risiko jatuhnya korban jiwa bisa dikurangi," tegasnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menurunkan ribuan tentara beserta persenjataan militer ke daratan Gaza. Dia juga menegaskan, pihaknya akan memperluas serangan darat untuk menghancurkan terowongan yang dibangun Hamas untuk menyerang Israel. Sementara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mendesak Israel menghentikan operasi daratnya di Jalur Gaza. Karena tindakan itu akan menyebabkan lebih banyak korban jiwa dan merumitkan usaha-usaha untuk menghentikan  konflik itu.

Pembentukan ISIS dan Ops Intelijen Memecah Belah Arab

Sebagai negara dengan wilayah yang relatif kecil dibandingkan wilayah negara-negara Arab disekitarnya, Israel selalu merasa terancam pastinya. Kini ancaman yang paling dirasakan langsung adalah serangan kelompok Hamas yang berhasil membangun terowongan seperti terowongan tikus tanah saat perang di Vietnam. Karena itu sejak bulan Juli 2014 mulai kembali terjadi konflik terbuka, antara militer Israel dengan Hamas. Israel bahkan kemudian melakukan operasi militer serangan udara, laut dan darat. Serangan tersebut banyak dikecam masyarakat dunia karena banyaknya korban yang jatuh dari kalangan sipil  penduduk Palestina.

Strategi Israel dalam meniadakan ancaman dilakukan dengan melakukan upaya memecah belah, menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal dikalangan negara-negara Arab itu sendiri. Jelas Israel banyak dibantu oleh beberapa negara Barat sekutunya AS, terutama dalam melakukan operasi 'conditioning.'

Suatu hal yang menarik adalah munculnya kekuatan milisi ISIS dibawah pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi yang pada awalnya bukan pemimpin yang terlalu hebat di kawasan Timur Tengah. Baghdadi kemudian selalu diberitakan dan dijadikan pemimpin kelompok bersenjata ISIS dengan mengusung isu agama Islam. Kini ISIS telah mampu menguasai wilayah yang cukup luas di Irak dan sebagian Suriah. ISIS mendadak muncul dan terjun di wilayah konflik, selain konflik dengan pemerintah Irak dan Suriah, ISIS bahkan berkonflik dengan kelompok pemberontak lainnya (al-Nusra dan bahkan Al-Qaeda). Dengan merubah nama menjadi Islamic State (Daulah Islamiyah) kelompok ini mampu menyedot perhatian dan disukai oleh para pemberontak di Suriah dan Irak.

Nama besar al-Baghdadi menjadi ikon perjuangan yang mengatas namakan para jihadis dalam menuju terbentuknya negara Islam dengan penerapan syariat Islamnya. Nah, kini ditengah kesuksesan ISIS, masyarakat  internasional dikejutkan dengan informasi dari mantan agen CIA yang pernah juga menjadi staf dari NSA (National Security Agency), bahwa organisasi ISIS yang kini berganti nama menjadi IS (Islamic State) adalah kelompok milisi bentukan dinas rahasia Israel (Mossad), CIA dan MI6 (Inggris).

Menurut Edward Snowden (whistleblower),  dokumen NSA  mengungkapkan bahwa pemimpin ISIS al-Baghdadi adalah aset   dari intelijen Amerika, Inggris dan Israel.  Dalam bocoran itu, dokumen NSA secara  lebih detail  merencanakan untuk mendestabilisasi kawasan Timur Tengah. Cryptome mengirim surat ke berbagai sumber  dokumen yang dibocorkan, ke The New York Times, Washington Post, The Guardian, Barton Gellman, Laura Poitrias, Glenn Greenwald, ACLU, EFF dan lain-lain. Dokumen NSA yang bocor itu juga mengungkapkan bahwa  Amerika Serikat, Israel, dan Inggris bertanggung jawab untuk penciptaan ISIS.

Dokumen NSA menyebutkan bahwa kelompok yang dibentuk oleh intelijen AS,  Inggris dan Israel sebagai bagian dari strategi yang dijuluki "sarang lebah," dengan tujuan   organisasi yang dibentuk itu akan mampu menarik ekstremis teroris dari seluruh dunia  untuk berkumpul menjadi satu sehingga mudah diidentifikasi.  Strategi sarang lebah dirancang untuk menciptakan persepsi bahwa Israel terancam oleh musuh dekat perbatasannya.

Pada awal  Juli 2014,  Nabil Na'eem, pendiri Partai Jihad  Islam  Moderat dan mantan komandan al-Qaeda di level yang cukup tinggi mengatakan kepada  stasiun TV Pan-Arab al-Maydeen di Beirut, bahwa semua afiliasi al-Qaeda saat ini, termasuk ISIS, telah bekerja untuk CIA.

Abu Bakr al-Baghdadi diketahui  "pernah mengikuti  pelatihan militer intensif selama satu tahun di tangan Mossad, selain juga  program dalam bidang teologi dan seni pidato," demikian dokumen NSA menjelaskan  (Gulf Daily News, Bahrain).

Seperti yang dilaporkan BBC, Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin kelompok militan Islam ISIS, telah menyerukan umat Islam untuk mematuhinya, dalam khotbah videonya  yang pertama disiarkan pada Sabtu (5/7/2014). Rekaman video tampaknya  difilmkan pada hari Jumat saat khotbah di Masjid al-Nouri di Mosul, Irak utara. Justru rekaman itu muncul pada hari Sabtu di tengah laporan bahwa ia telah tewas atau terluka dalam sebuah serangan udara dari AU Irak. Rilis tersebut dinilai sangat  penting karena pemimpin militan dalam operasi-operasi tertutup (clandestine) tidak pernah dimunculkan berupa rekaman video sebelumnya, meskipun ada foto-foto yang tersebar.

Menurut siaran BBC,  dalam khotbahnya , di lokasi paling terkenal di Mosul itu, Baghdadi memuji pembentukan "Negara Islam", yang dideklarasikan oleh ISIS. Baghdadi menekankan, "Menunjuk seorang pemimpin merupakan kewajiban umat Islam, dan salah satu yang telah diabaikan selama beberapa dekade," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa dia tidak mencari posisi sebagai khalifah, atau pemimpin, dia menyebutnya sebagai beban. "Saya pemimpin Anda, meskipun saya bukan yang terbaik dari Anda, jadi jika Anda melihat bahwa aku benar, dukunglah saya, dan jika Anda melihat bahwa saya salah, nasihati saya," katanya kepada para jamaahDengan kata lain, video yang pertama tersebut adalah  sebuah daya tarik ideologis dan emosional umat Islam di manapun agar bergabung dengannya.

Mengklaim sebagai organisasi militer bernafas Islam, kelompok ini justru meledakkan makam Nabis Yunus dan mengancam akan meledakkan Ka`bah (Kiblat umat muslim se-dunia). ISIS juga tidak membantu perjuangan di Palestina yang saat ini sedang diserang Israel.

Kelengkapan adanya kaitan antara ISIS dengan badan intelijen Mossad, CIA dan MI6 muncul dalam  pemberitaan   Veteran Today, Senin (4/8/2014), yang juga mengacu dari sumber  Snowden. VT menyatakan bahwa Ketua ISIS Abu Bakr al-Baghdadi yang kini diberi gelar sebagai "Khalifah" ternyata adalah  warga Israel, dengan nama asli Simon Elliot, dan orang tuanya asli Yahudi. Dia diketahui sebagai agen dinas rahasia Israel Mossad. Disebutkan bahwa  "Elliot" ini direkrut oleh Mossad  dan dilatih mengikuti pendidikan untuk melakukan  spionase dan perang psikologis terhadap masyarakat Arab dan Islam.

Sebagai awal gerakan  perusakan Arab, telah dipersiapkan penciptaan kondisi  proyek penggalangan Arab Spring (Musim Semi Arab) yang terkenal dengan penciptaan destabilisasi negara-negara (antara lain) Irak, Sudan, Tunisia, Mesir, Libya, Suriah dan Mali. The Arab Spring  (Arab: ar-Rabi al-Arabi) adalah gelombang revolusioner berupa demonstrasi dan protes (baik non-kekerasan maupun kekerasan), kerusuhan, dan perang sipil di dunia Arab yang dimulai sejak  18 Desember 2010 dan kemudian menyebar ke seluruh negara-negara Liga Arab dan sekitarnya.

Sementara gelombang revolusi awal dan protes telah berakhir pada pertengahan tahun 2012, dimana beberapa kekacauan kemudian mengacu pada konflik berskala besar yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan Afrika Utara sebagai kelanjutan dari Arab Spring. Sementara yang lain merujuk pada gelombang kedua revolusi dan perang sipil  sebagai gerakan Musim Dingin Arab.

Pada bulan Desember 2013, penguasa beberapa negara telah dipaksa turun oleh rakyatnya  dari kekuasaannya,  yaitu di Tunisia, Mesir (dua kali),  Libya,  dan Yaman. Pemberontakan sipil kemudian juga  meletus di Bahrain dan Suriah;  Aljazair,  Irak,  Yordan,  Kuwait, Maroko,  Sudan;  dan minor protes terjadi di Mauritania,  Oman,  Arab Saudi, Djibouti, Sahara Barat,  dan Palestina.

Protes terdiri dengan  beberapa teknik perlawanan sipil dalam kampanye berkelanjutan yang melibatkan serangan,  pawai dan demonstrasi, serta penggunaan media sosial secara efektif untuk mengatur, berkomunikasi, dan meningkatkan kesadaran dalam menghadapi tekanan dan pembatasan negara berupa upaya represi dan sensor internet.

Banyak demonstrasi Arab Spring telah ditangani secara   keras oleh pihak berwenang, serta perlawanan dari milisi pro-pemerintah dan kontra-demonstran. Serangan-serangan ini telah dijawab dengan kekerasan oleh  para pengunjuk rasa dalam beberapa kasus. Sebuah slogan utama para demonstran di dunia Arab dikenal dengan Ash-sha`b yurid isqat an-nizam ("orang-orang ingin menjatuhkan rezim ").

Sebuah informasi penting, diberitakan oleh media di kawasan timur Tengah tentang upaya destabilitasi serta conditioning operation Irael untuk menghancurkan musuh-musuhnya agar tidak kembali menjadi ancaman militer terhadap negaranya. Upaya tersebut dilakukan dengan menimbulkan konflik horizontal dan vertikal di masing-masing negara sasaran.

Pada tahun 1982, Oded Yinon, seorang wartawan Israel yang memiliki  link ke kantor Kementerian Luar Negeri Israel, menuliskan  rencana strategis  Israel untuk kawasan Timur Tengah. Menurutnya, kertas putih intelijen mengusulkan "bahwa semua negara-negara Arab harus dipecah,  menjadi bagian-bagian negara yang  kecil. Pembubaran Suriah dan Irak kemudian dilakukan dengan melalui sentimen etnis atau agama yang  unik seperti di Lebanon. Itulah  target utama Israel di Timur depan dalam jangka panjang. " Kehancuran negara-negara Arab dan Muslim, seperti yang dituliskan Yinon , akan dicapai dari dalam dengan memanfaatkan ketegangan agama dan etnis internal mereka.

Analisis dan Penutup

Timbul pertanyaan terakhir, apakah kondisi tersebut memang demikian? Sulit untuk mengatakan bahwa semua ini adalah kebenaran yang bisa dibuktikan. Sebuah operasi intelijen, terlebih dalam skala besar yang menyentuh kawasan regional jelas bukan sebuah usaha mudah dan bisa dilaksanakan dalam waktu yang pendek.

Kalau ditanya siapa yang mengatur-atur dunia, jawabannya adalah Amerika Serikat. Kini dunia telah terbagi menjadi beberapa kawasan yang bergolak atau berpotensi akan bergolak dan harus di kondisikan AS agar tidak menjadi ancaman terhadap dalam negerinya, bahkan diusahakan justru  menguntungkannya.  Negara yang kuat dan paling mampu mengondisikan adalah blok Barat. Untuk mengamankan  Israel sebagai sekutunya, dimainkan kartu Arab Spring dan  konflik sektarian, kini  ISIS dimunculkan dengan al-Baghdadi sebagai ikon,  untuk menarik dukungan sekaligus menjerumuskan umat muslim yang tidak faham dengan isu negara Islam (Daulah Islamiyah).

Di Indonesia, ISIS mendapat simpati dari sejumlah orang yang langsung sukarela mendaftarkan diri sebagai pengikut. Tanpa menyelidiki atau mencari kebenaran informasi tentang ISIS, sedikitnya 56 orang Indonesia sukarela menjadi anggota ISIS. Menururt BIN, sebanyak tujuh warga Indonesia tewas di Irak, salah satu diantaranya kerena sebagai pelaku bom bunuh diri.

Di kawasan Eropa, Rusia ditekan agar berhenti dalam upayanya yang mencoba menguasai Ukraina dengan pola pemberontakan separatis di Crimea. Masyarakat Uni Eropa dibuat harus menyetujui konsep yang dibuat AS dan Inggris untuk menekan Rusia setelah kasus MH17. AS terus memata-matai Jerman, walau sebagai sekutu tetap saja tidak dipercayainya seratus persen. Jerman pernah mempunyai sejarah konflik pada masa lalu. Negara yang sangat dipercayai sebagai sekutu  hanyalah Inggris.

Kini perhatian dan kepentingan AS telah bergeser ke kawasan Laut China Selatan. Beberapa negara di kawasan akan dimainkan sebagai kartu penekan China.  Di kawasan Asia Pasifik, negara yang sangat dipercayai AS hanyalah Australia dan New Zealand. Di benua Amerika yang di percayainya adalah Canada. Oleh karena itu, konsep surveilans lima mata (five eyes) yang terdiri dari AS, Inggris, Canada, Australia dan New Zealand kini adalah sebenarnya penguasa dan yang mengatur ritme dinamika dunia dalam segi apapun.

Negara lima mata tersebut diperkirakan akan mampu menguasai semua kawasan di dunia dengan pola pengumpulan informasi intelijen,  operasi intelijen strategis, operasi penggalangan, memainkan kekuatan di dalam negeri negara manapun agar tidak membantah apa yang mereka inginkan. Negara manapun yang membantah atau melawan akan terkondisikan dengan pola operasi intelijen seperti yang selama ini dilakukan. Tanpa pengerahan kekuatan militer, dengan biaya besar perkuatan organisasi intelijen, mereka akan menundukan  dunia.

Dengan demikian maka khusus wilayah Timur Tengah,  destabilisasi Arab mulai tercipta dan bukan lagi merupakan ancaman terhadap sekutunya, Israel. Disibukkan dengan kondisi internal. Dilain sisi, ladang-ladang minyak Arab, cepat atau lambat akan bisa mereka kontrol. ISIS kini mulai mengontrol ladang-ladang minyak setelah menguasai kota Mosul.

Jadi sebenarnya inti dari semua ini lebih dilatar belakangi karena  perebutan hidup. Wilayah dan luasnya dunia tidak akan pernah berkembang, sementara manusia jumlahnya terus  bertambah, sumber daya alam dan energi dunia semakin berkurang. Sebenarnya kita harus sadar bahwa negara manapun di dunia harus siap dan juga ikut berebut hidup. Lima negara itu bersatu dengan teknologi intelijennya, mampu memonitor semua negara, dan mereka mampu mengontrol negara manapun, yang membantah akan ditekan, dikondisikan yang menurut akan diperintah dan diatur.

Jadi kesimpulannya,  merebaknya berita keberhasilan ISIS atau ide  negara Islam bukanlah ide brilian al-Baghdadi, dia hanyalah seorang handler dari sebuah ranting operasi intelijen besar. Diciptakan untuk mengamankan Israel dari musuh-musuhnya, dan menarik kelompok teroris di dunia untuk bersatu sehingga mudah di identifikasi. ISIS adalah tahapan dari konsep destabilisasi dikalangan negara-negara Arab dalam menuju Israel Raya. The principle agent tetap berada pada kelompok five eyes. 

Khusus bagi pimpinan nasional dan para pejabat yang akan berkuasa  di Indonesia, penulis menyarankan,  sebaiknya juga memahami bahwa sebagai negara dengan sumber daya alam yang berlimpah, Indonesia juga menjadi sasaran perebutan hidup dari negara-negara lain. Persoalannya kita sadar dan tahu atau tidak.  Semuanya kini  tergantung kepada kemampuan diplomasi Indonesia dalam menghadapi kekuatan penguasa dunia itu. Mereka sudah beberapa langkah di depan kita, karena kemampuan penyadapan pastinya. Sulit untuk menangkal dengan teknologi yang jauh tertinggal.

Sekali saja kita salah dalam berdiplomasi, maka kita harus menerima akibatnya. Pemerintahan baru yang akan terbentuk bisa saja dan mungkin juga akan dijadikan target bila dianggap tidak menguntungkan. Hanya tinggal memilih, terjadi konflik vertikal dengan rakyat atau dihilangkan kredibilitasnya. Kita jangan pesimis, tetap optimis, tetapi  tetap smart, mampu membaca situasi dan kondisi di tengah suasana internasional yang sangat pragmatis. Membacanya sebaiknya dari posisi worst condition. Kira-kira begitulah kesimpulan dari analisis panjang lebar ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen,  www.ramalan intelijen.net 

Artikel Terkait :

-ISIS Proyek Dari Mossad, CIA dan MI6?http://ramalanintelijen.net/?p=8696

-Ancaman Perkembangan ISIS di Indonesia Sangat Serius, http://ramalanintelijen.net/?p=8679

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.