MH17, Antara Kesedihan Dan Strategi Global

22 July 2014 | 10:25 am | Dilihat : 285

[google-translator]

dutch-investigator-admits-they-dont-know-where-the-bodies-of-mh17-victims-are-going

Tim Penyelidik Belanda Dikawal Separatis Melihat Jenazah (foto: businessinsider.com)

Amerika Serikat sangat erat kaitannya dengan penembakan dengan rudal BUK yang meruntuhkan pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina Timur, karena pesawat yang ditembak adalah jenis Boeing 777 buatan AS. Karena itu AS terus aktif mencari pembuktian siapa yang melakukan penembakan itu.

Presiden AS Barack Obama saat memberikan penjelasan di Gedung Putih menegaskan bahwa AS telah mengetahui dan mengenali siapa tokoh kunci yang melakukan perintah dalam peluncuran rudal mematikan itu.  Obama menegaskan, seperti yang dilansir Reuters,  Selasa (22/7/2014), "Rusia telah melatih mereka, Kami mengetahui bahwa Rusia telah mempersenjatai meeka dengan persenjataan militer termasuk senjata anti pesawat udara," katanya. Obama meminta agar Presiden Putin menekan pemberontak agar tidak menghalangi evakuasi jenazah dan penyelidikan.

Presiden AS itu  juga mengecam upaya masuknya Rusia di Ukraina Timur. Dia dengan tegas meminta Putin untuk memutuskan  dukungan kepada kelompok separatis itu."Now's the time for President Putin and Russia to pivot away from the strategy that they've been taking and get serious about trying to resolve hostilities within Ukraine," kata Presiden Obama. "And time is of the essence."

Sementara harian pro pemerintah Rusia Moskovsky Komsomolets menulis, bahwa kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada pesawat Malaysia Airlines MH17 tak akan pernah terungkap dan menuding Barat sudah menyalahkan Rusia sebelum penyelidikan dimulai. "Soal siapa yang bersalah ini telah dirancang," tulis media tersebut. Harian itu juga menyatakan bahwa pemerintah AS pernah   salah menuduh mendiang diktator Irak, Saddam Hussein  memiliki senjata pemusnah massal, sebagai alasan untuk melakukan invasi ke Irak tahun 2003.

Pada hari Senin, Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan skenario yang berbeda, mengatakan bahwa radar Rusia telah melihat pesawat kedua di sekitar jet Malaysia Airlines tak lama sebelum kecelakaan itu dan dari  citra satelit Rusia menunjukkan bahwa militer Ukraina telah menggeser sistem rudal ke daerah konflik sebelum terjadinya penembakan.

Dalam upaya pencarian korban serta penyelidikan di medan tempur yang dikuasai kelompok separatis, Reuters mengabarkan bahwa pada Senin (21/7/2014) telah terjadi pertempuran di kota Donetsk (Ukraina Timur) , dekat stasiun kereta api yang dikuasai pemberontak. Kedua belah pihak terlihat mengerahkan kendaraan lapis baja. Di tengah pertempuran tim penyidik internasional pertama dari Belanda tiba  di Donetsk untuk melakukan pemeriksaan dan proses identifikasi korban.

Kedatangan tim penyelidik Belanda ini disertai  tim pengamat internasional dari Organisation for Security and Cooperation in Europe (OSCE), yang telah mendatangi lokasi jatuhnya MH17 dalam beberapa hari terakhir. Sementara  Tim penyelamat Ukraina telah menemukan sebanyak 251 mayat serta sedikitnya 86 potongan tubuh manusia, demikian Reuters.

Tim penyelidik kemudian memindahkan jenazah ke dalam kereta berpendingin dari dua gerbong yang semula dikirim kelompok separatis dari lokasi kecelakaan. Pada awalnya kelompok separatis dituduh menahan jenazah, berita itu dibantah pemimpinnya Alexander Borodai yang menyatakan akan langsung menyerahkan jenazah kepada keluarganya. Para korban akan dipindahkan ke wilayah Ukraina dimana pemerintah Ukraina berjanji akan segera mengirimkan jenazah tersebut ke Belanda.

Selain upaya evakuasi jenazah, AFP melaporkan, bahwa kelompok separatis pro-Rusia akhirnya menyerahkan kotak hitam MH17 kepada pejabat Malaysia. Ada dua kotak hitam yang diserahkan oleh separatis setempat. Penyerahan dilakukan oleh Perdana Menteri dari Republik Rakyat Donetsk, Alexander Borodai kepada pejabat Malaysia saat menggelar konperensi pers di Ukraina Selasa (22/7/2014).

Borodai   juga mengumumkan penetapan gencatan senjata di lokasi kejadian hingga radius 10 kilometer di sekitarnya demi memberi akses dan keamanan bagi penyelidik internasional. "Kami memutuskan untuk menyerahkan kotak hitam kepada ahli dari Malaysia," katanya.

Dengan demikian maka akan tetap sulit untuk membuktikan siapa yang melakukan penembakan MH17, karena terjadi saling tuduh antara kelompok negara Barat dengan Rusia. Akan tetapi perkembangan baru yang sangat menguntungkan strategi dari AS dalam menyikapi terjadi pemberontakan kelompok separatis di Ukraina yang didukung Rusia, adalah menguatnya dukungan negara-negara Uni Eropa. Kini mereka sepakat bahwa akan bersama-sama AS memberikan sanksi kepada Rusia apabila tetap mendukung separatis.

Presiden Obama dalam konperensi pers di Gedung Putih memperingatkan  agar Rusia jangan meneruskan dukungannya kepada separatis, karena masyarakat internasional akan melanjutkan sanksi kepada mereka. Obama menegaskan masih ada solusi diplomatik untuk menyelesaikan krisis.

AS semakin canggih nampaknya, tanpa mengirimkan kekuatan pasukan yang besar, tanpa letusan ataupun jatuhnya  korban di fihaknya, strateginya menekan Rusia semakin sukses. Isu ditembaknya Malaysia Airlines MH17, sangat menyedihkan bagi Malaysia dan keluarga korban disatu sisi akan tetapi menjadi isu yang menguntungkan koalisi Barat dalam melakukan tekanan psikologis terhadap Rusia dengan melibatkan masyarakat internasional lainnya.

Kini semuanya terserah Rusia, mau terus mendukung separatis dengan resiko terhadap kemungkinan pecahnya konflik yang lebih besar, mendapat sanksi ekonomi, sosial dan pergaulan masyarakat internasional, atau tunduk dan melepas wilayah Ukraina Timur. Menurut penulis, Rusia kemungkinan akan bertahan, karena faham bahwa AS kini sudah menghindari dan enggan perang di daratan Eropa dan Timur Tengah, konflik disana bukan ancaman nasionalnya secara langsung. AS kini  sudah menggeser kebijakan porosnya ke Asia Pasifik. Kita akan melihat permainan global strategi antara AS dengan Rusia, dimana saat ini Rusia di fihak yang tertekan.

Pada beberapa waktu lalu, Presiden Obama menegaskan, "Ketika terancam, kita harus merespon dengan kekuatan," katanya. “But when that force can be targeted, we need not deploy large armies overseas,” jelasnya. Itulah kepemimpinan Presiden Barack Obama masa kini, diplomasi cerdas dengan momentum yang tepat akan lebih keras daya pukulnya dibandingkan gempuran kekuatan militer gabungan. Perlu juga kita tiru.

Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Penembakan MH17 Dinilai Sangat Merugikan Bagi Putin dan Rusia,     http://ramalanintelijen.net/?p=8567

-Boeing 777 Malaysia Airlines Flight MH17 Jatuh Ditembak di Udara Ukraina,  http://ramalanintelijen.net/?p=8550

-Fokus Gelar Tempur Pasukan AS akan ke Asia , http://ramalanintelijen.net/?p=4819

-Kemampuan Militer Jepang Akan Ditingkatkan, http://ramalanintelijen.net/?p=7143

-Ancaman Perang Korea dan Benturan Peradaban, http://ramalanintelijen.net/?p=6728

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.