Hasil Survei, Jokowi-JK Lebih Kuat, Prabowo-Hatta Masih Besar Peluangnya

8 July 2014 | 3:03 pm | Dilihat : 717

 Silahkan Memilih (Sumber : indonesia-baru.liputan6.com)

Besok pagi rakyat Indonesia akan menyoblos, sebuah sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia karena sejak dilaksanakannya pilpres langsung, baru kali ini pada putaran pertama hanya ada dua pasang capres dan cawapres yang akan dipilih.  Kini masing-masing tim sukses akan memasuki saat yang mendebarkan,  menyiapkan dan mengontrol saksi, logistik petugas, mengamati langkah akhir taktis lawan, waspada terhadap kemungkinan serangan fajar dan banyak lagi keribetan yang sulit dituliskan.

Sementara di lain sisi lembaga-lembaga survey juga berdebar karena mereka faham kondisi semakin ketat. Kita faham bahwa survei hanya memberikan persepsi pada saat dilakukan, hasilnya bisa berbeda keesokan harinya. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi pilihan dan dapat merubah hasil survei. Sangat berbeda dengan quick count yang memang sudah terjadi.

Pertanyaannya, bagian manakah yang terpenting? Kemenangan perolehan suara dari lawan politik adalah puncak dari segala-galanya. Bagaimana tim memperoleh keyakinan? Alat yang paling mendekati kebenaran untuk mendapatkan gambaran  hanyalah melalui kegiatan survei itu. Walaupun survei hanya merupakan persepsi publik, tetapi bila dilaksanakan dengan benar dan jujur, paling tidak akan dapat memberikan gambaran posisi baik popularitas maupun elektabilitas.

Hanya sayangnya beberapa lembaga nampaknya kemudian menjadi konsultan politik capres bersangkutan, dan dengan tujuan pembentukan opini, akhirnya hasil surveinya bukan karya ilmiah seperti yang diharapkan.  Beberapa survei terlihat gagal dalam memprediksi kemenangan dalam beberapa pilkada misalnya.

Menarik yang dikatakan oleh Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, di Jakarta, Kamis (3/7). Dikatakannya agar masyarakat mesti berhati-hati membaca hasil survei dari beberapa lembaga yang belakangan ini marak memublikasikan hasil survei elektabilitas pasangan calon presiden. Banyak lembaga survei abal-abal yang memanipulasi data hanya untuk memengaruhi opini publik terhadap kandidat tertentu.

“Inilah yang disebut dengan bandwagon effect, artinya sejumlah lembaga survei ingin memainkan efek ikutan dari publikasi hasil survei yang memenangkan kandidat tertentu,” katanya. Dia mengatakan, memang tidak semua lembaga survei mau memanipulasi data untuk menggiring opini publik.

Penulis sejak pemilu dan pilpres 2004 terus mengikuti peluang kemenangan dari Pak SBY juga dengan menggunakan survei sebagai rujukan. Para pengamat politik sudah faham mana lembaga survei berbayar, mana konsultan politik, mana yang independen dan mana yang abal-abal. Dalam pengamatan penulis, posisi SBY yang pada pilpres 2004 yang awalnya diukur sebagai underdog, elektabilitasnya jauh dibawah Ibu Megawati sebagai petahana. Akan tetapi kemudian secara perlahan elektabilitasnya naik dan akhirnya terbukti sesuai dengan hasil survei, pasangan SBY-JK akhirnya menang. Karena dapat dikatakan survei masih baru, tidak terbaca adanya  kontaminasi serius saat itu.

Kemenangan SBY pada 2004 banyak ditentukan karena momentumnya tepat, saat itu  terjadi perubahan kebutuhan dan keinginan rakyat. Menjelang pilpres mereka kemudian memutuskan memilih SBY dibandingkan Megawati. Kesengsemnya konstituen terutama karena melihat SBY yang gagah, berasal dari militer dan diharapkan akan dapat memimpin bangsa Indonesia lebih makmur dan sejahtera. Intinya hanyalah "harapan" dan  "perubahan."

Nah kini yang terjadi nampaknya akan berulang, kebutuhan rakyat dikatakan sebagai rasa aman dan presidennya jujur. Sebagian menginginkan presiden yang merakyat, sederhana dan jujur. Sementara yang lain menginginkan presiden yang tegas berwibawa dan diharapkan akan memberikan rasa aman. Inilah yang kemudian di olah oleh tim sukses, di goreng habis.

Dalam perjalanan baik sebelum maupun sesudah masa kampanye, beberapa lembaga survei mengeluarkan data surveinya. Tanpa melihat lembaga survei berbayar atau independen, inilah sebagian hasil survei menjelang pilpres  diurut dari yang terbaru hingga terlama :

1)Survei LSI (Lingkaran Survei Indonesia), 2-5 Juli 2014 :

Hasil LSI terbaru menyebutkan elektabilitas Jokowi-JK (47,8 persen), Prabowo-Hatta (44,2 persen), swing voters 8 persen. Responden 2400 di 33 propinsi, margin of error plus minus 2 persen. Disebutkan oleh peneliti LSI Fitri Hari (7/7/2014), meskipun selisih kecil (3,6 persen), Jokowi-JK mampu memperlebar gap dari Prabowo-Hatta. Pada survei LSI akhir Juni 2014, selisih Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta hanya 0,5 persen)

Langkah positif kubu Jokowi menurut Fitri adalah program door to door, pembagian kartu Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat, kekuatan artis, keberanian kontrak politik dan panasnya mesin partai karena ada bayang-bayang kekalahan.

2) Survei PDB (23 Juni - 1 Juli 2014) :

Survei  dilakukan Pusat Data Bersatu (PDB) terhadap 1090 responden di 20 provinsi. Peneliti Senior PDB, Agus Herta dalam pemaparannya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (3/7/2014), mengatakan elektabilitas Prabowo - Hatta  40,6 persen, sedangkan Jokowi - JK,  32,3 persen. Undecided voters  15,8 persen, 11,0 persen tidak mau menyebutkan pilihan dan 0,5 persen mengaku akan mengambil sikap golput atau tidak memilih.

3) Survei PolMark Indonesia, 24-28 Juni 2014.

CEO PolMark, Eep Saefulloh Fatah mengatakan keunggulan Jokowi-JK atas Prabowo-Hatta sebesar 3,5 persen. Elektabilitas Prabowo-Hatta 41 persen, Jokowi-JK 44,6 persen, undecided voters 9 persen. Responden 2.600 di 33 propinsi, margin of error plus minus 1,9 persen, tingkat kepercayaan 95 persen. Menurut Eep, selisih Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta dalam pencoblosan besok hanya 2,4-6,1 persen. Menurutnya secara presentasi angka tersebut kecil, tetapi jika dikonversikan dengan jumlah pemili, cukup besar. "Jika partisipasi pemilih diasumsikan mencapai 80 persen, maka selisihnya sekitar 3,6-9,15 juta," kata Eep.

4) Survei Indobarometer, Minggu (29/6/2014) :

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam paparan hasil survei di Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo No 191, Tebet, Jakarta Selatan (29/6/2014) menyebutkan elektabilitas Prabowo-Hatta 42,6 persen dan Jokowi-JK 46 persen, undecided voters 11,3 persen . Dikatakannya, "Dengan hasil survei ini maka sulit untuk memprediksi siapa pasangan yang akan menang dalam pilpres 9 Juli 2014 yang tinggal 10 hari lagi. Akhirnya, berpulang pada rakyat Indonesia jugalah yang akan menentukan siapa pemimpin republik yang mereka anggap tepat untuk lima tahun ke depan," tegasnya.

"Pertama, mesin politik koalisi Prabowo-Hatta mulai bangkit. Yang kedua pemilih Islam mulai mengarah ke Prabowo-Hatta," katanya. Posisi akan berubah dan terkjadi pergeseran dari hasil survei :

Prabowo-Hatta: 42,6persen, Jokowi-JK: 46,0 persen, Rahasia/belum memutuskan: 11,3 persen.

Jokowi-JK menang  dapat mempertahankan keunggulan suara, Prabowo-Hatta: 48 persen, Jokowi-JK: 52 persen, Rahasia/belum memutuskan: 0 persen.

Prabowo-Hatta menang jika tren kenaikan suara Prabowo-Hatta terus berlangsung, demikian juga penurunan suara Jokowi-JK berlanjut; Prabowo-Hatta: 53 persen,  Jokowi-JK: 47 persen, Rahasia/belum memutuskan: 0 persen.

5) Political Communication (Polcomm) Institute, 23-27 Juni 2014:

Polcomm merilis hasil survei terbaru, pada 3 Juli 2014, di Jakarta. Dikatakan oleh Direktur Polcomm Institute, Heri Budianto, "Pasangan Prabowo-Hatta memperoleh elektabilitas sebesar 46,8 persen, sedangkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebesar 45,3 persen," katanya, saat memaparkan hasil survei Polcomm bertajuk "Adu Balap Capres: Membaca ke Mana Arah Undecided Voters?".

6) Lingkaran Survei Indonesia, (26/6/2014) :

Dalam catatan LSI Denny JA, pada September 2013, elektabilitas Jokowi mencapai 50,3 persen sementara Prabowo 11,1 persen. Enam bulan kemudian, yakni Maret 2014 tingkat keterpilihan Jokowi turun menjadi 46,3 persen dan Prabowo justru naik ke angka 22,1 persen. Elektabilitas Prabowo kian naik saat dipasangkan dengan Hatta Rajasa. Awal Mei 2014 elektabilitas Prabowo-Hatta 22,75 persen, sementara Jokowi yang kemudian disandingkan dengan Jusuf Kalla turun ke  35,42 persen.

Pada awal Juni disparitas kedua calon presiden dan wakil presiden kian tipis. Elektabilitas Prabowo-Hatta kian naik ke posisi 38,7 persen, sementara Jokowi-JK 45 persen. Peneliti LSI  Fitri Hari, mengatakan jika melihat tren pergerakan elektabilitas capres dan cawapres, maka selisih kemenangan nanti sangat kecil. Dia memprediksi selisih kemenangan di bawah 5 persen, yakni pemenang akan memperoleh suara sekitar 51-53 persen. Sementara pesaingnya mendapatkan dukungan 47 sampai 49 persen.

"Jika melihat hasil tren, Prabowo dapat mengambil pendukung Jokowi, tetapi pada akhirnya Jokowi tetap unggul dengan selisih 5 persen," kata Fitri Hari saat memaparkan hasil survei LSI Denny JA di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (26/6/2014).

7) Survei Populi Center, 11-15 Juni 2014 :

Pasangan Prabowo-Hatta (36,9 persen), pasangan Jokowi-JK (47,5 persen).

8) Survei Puskaptis, 6-12 Juni 2014 :

Hasil survei dari Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menjelang Pilpres 9 Juli menunjukkan, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto- Hatta Rajasa mencapai 44,64 persen, sedangkan  Joko Widodo-Jusuf Kalla 42,79 persen.

"Prabowo-Hatta unggul sekitar 1,67 persen. Data ini menunjukkan duet Prabowo-Hatta memasuki fase tren positif (naik) sekitar 5,36 persen. Sedangkan Jokowi-JK mulai stagnan dan cenderung masuk fase tren negatif (turun) sekitar 1,75 persen," kata Direktur Puskaptis, Husin Yazid di Jakarta, Minggu

9) Survei LSN, Kamis, 12 Juni 2014 :

Prabowo mengungguli  Jokowi. "Survei kami 46,3 persen responden memilih Prabowo-Hatta dan 38,8 persen memilih Jokowi-JK. Sisanya 14,9 persen belum punya pilihan," kata Dipa Pradipta, peneliti LSN, saat menggelar jumpa pers di Le Meridien Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Juni 2014

10) Survei IFES dan LSI,  1-10 Juni 2014:

Dari Survei ini dilaksanakan bersama oleh IFES dan LSI pada 1-10 Juni 2014, Elektabilitas Jokowi 43 persen, Prabowo 39 persen. Metode survei yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden sebanyak 2.009 orang dengan sample acak tersebar di seluruh Indonesia. Margin of erorr dalam survei ini adalah +- 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Terkait pilihan masyarakat terhadap capres yang ada sekarang, hasil survei ini menunjukkan 43 persen memilih Jokowi dan 39 persen memilih Prabowo Subianto. Hanya terpaut 4 persen perbedaan pilihan masyarakat terhadap kedua capres tersebut. Meski begitu masih ada 18 persen responden yang tidak menjawab atau masuk kelompok undecided voters.

11)  Survei Cyrus 25-31 Mei 2014 :

Elektabilitas Prabowo-Hatta 41,1 persen, Jokowi-JK 53,6 persen. Survei  ini memiliki angka unidentified voters tinggal sekitar 5 persen. Dari 5 persen tersebut, preferensi mereka tetap bisa dipetakan dengan instrument lanjutan. Sekitar 2,9 persen cenderung memilih Jokowi-JK, sementara 0,8 persen cenderung memilih Prabowo-Hatta, dan sisanya tetap merahasiakan pilihan.

Analisis

Bagaimana kita mengukur hasil survei dari riset mereka selama dua bulan? Apabila dibuat matrix, maka akan terlihat bahwa dari 11 hasil survei, pasangan Jokowi-JK diprediksi memperoleh 8 kemenangan, sedangkan pasangan Prabowo-Hatta hanya dipersepsikan memperoleh 3 kemenangan. Survei tersebut diambil secara acak untuk setiap penyampaian survei. Penulis tidak mengesampingkan  apakah survei-survei tersebut murni independen, dibayar atau abal-abal.

Pertanyaannya dari 8 hasil yang mempersepsikan Jokowi-JK menang, hanya LSI yang dua kali memberikan hasil survei. Berarti dalam hitungannya, hanya 7 lembaga survei berlainan yang mempersepsikan Jokowi-JK menang sementara Prabowo-Hatta tetap 3 lembaga. Dari survei LSI maka dalam jangka waktu satu bulan melihat elektabilitas masing-masing pasangan maka undecided voters akan terbagi dua rata.

Dari pergerakan elektabilitas dalam dua bulan terakhir, yang terlihat menonjol adalah geliat elektabilitas Prabowo-Hatta yang sangat signifikan. Sejak awal hingga akhir  bulan Juni 2014,  Prabowo-Hatta mampu memperkecil gap elektabilitas dengan Jokowi-JK yang menurut LSI hanya 0,5 persen. Akan tetapi kemudian dikatakannya pada awal Juli 2014 pasangan Jokowi-Jk rebound dan untuk pertama kalinya mampu memperlebar gap hingga 3,5 persen.

Dengan demikian pertanyaannya, apakah kemudian pasangan Jokowi-JK akan menang? Apabila menggunakan hasil empat lembaga survei dalasm waktu teranyar yaitu Indo Barometer, PolMark Indonesia, PDB dan LSI, dimana keempatnya melakukan hasil surveinya antara tanggal 28 Juni-5 Juli, maka seperti yang kita ketahui, bahwa persepsi lebih hanya berlaku apabila pilpres dilakukan pada tanggal survei, nampaknya kekuatan elektabilitas Jokowi-JK nampak lebih meyakinkan dibandingkan elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta. Keunggulan Prabowo-Hatta terakhir dari survei PolCom yang melaksanakan survei antara 23-27 Juni 2014. Saat itu Prabowo-Hatta unggul hanya 1,5 persen.

Apakah dengan demikian pasangan Prabowo-Hatta lantas akan kalah? Belum tentu juga, ada undecided voters (UV) yang bisa membalikkan situasi apabila bisa dikelola oleh timses Prabowo.  Dari empat data survei terakhir, terlihat selisih elektabilitas masih dibawah besaran undecided voters. Dalam survei terakhir tersebut diatas,  LSI Jokowi-JK unggul  3,6 persen (UV; 8 persen), PDB Jokowi-JK unggul 8,3 persen (UV; 15,8 persen), PolMark Indonesia Jokowi-JK unggul 3,5 persen (UV; 9 persen), Indo Barometer Jokowi-JK unggul 4 persen (UV; 11,3 persen).

Nah, apabila kita perhatikan maka undecided voters bisa saja akan menetapkan pilihannya diantara tanggal 5 s/d 8 Juli 2014 menjelang pilpres. Timses Prabowo-Hatta memainkan kekuatan dan pengaruh Cikeas sebagai Gong (dukungan) pamungkas menarik kader dan simpatisan Partai Demokrat ke kubunya.  Prabowo-Hatta dan tim menemui Pak SBY di Cikeas pada Jumat, tanggal 4 Juli 2014. Jumlah pemilih Partai Demokrat pada pemilu legislatif 2014 cukup besar, 12.728.913 jiwa (10,19 persen). Dengan demikian maka diterimanya  Prabowo-Hatta oleh SBY dan diberi pesan-pesan dapat dibaca merupakan penegasan secara psikologis bahwa Partai Demokrat secara penuh mendukung pasangan ini. Selama ini hanya elit Demokrat yang nampak dimunculkan bergabung. Partai Demokrat adalah SBY, disinilah kunci psikologisnya.

Pesan SBY adalah sebuah gambaran seorang Ketua Partai yang juga masih Presiden, akan menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada penggantinya. Langkah pamungkas antar besan, dan mantan militer dengan visi yang sama jelas tidak bisa dipandang ringan oleh kubu Jokowi-JK. Dari pesan SBY kepada Prabowo-Hatta, masyarakat akan melihat kepastian rasa aman dengan mengikuti jejak SBY. Mereka yang tadinya khawatir Prabowo akan macam-macam akan terbius dan merasa aman dengan wejangan SBY yang demikian santun, dan intinya jaga stabilitas politik dan pikirkan rakyat. Itulah intinya, peran SBY sebagai King Maker.

Setelah pertemuan itu, penulis belum menemukan adanya lembaga survei yang mengukur elektabilitas Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Menurut penulis kemungkinan akan terjadi perubahan yang cukup besar. Kubu Jokowi -JK beberapa waktu terakhir nampak agak gundah dan mengkhawatirkan terjadinya koalisi penuh PD ke koalisi merah putih.

Jadi bagaimana kesimpulannya? Apabila menggunakan survei hingga tanggal 5 Juli 2014, maka peluang menang akan lebih berat berada di kubu Jokowi-JK. Akan tetapi melihat masih cukup besarnya undecided voters dibandingkan selisih elektabilitas dan langkah strategis berkoalisinya Pak SBY ke kubu merah putih, maka dalam dua-tiga hari menjelang penyoblosan, kemungkinan elektabilitas Prabowo-Hatta akan menguat secara signiifikan. Kubu Jokowi bisa berada di lampu kuning.

Pada akhirnya persaingan akan kita ketahui besok hari.  Menurut beberapa lembaga survei kemungkinan Jokowi-JK akan menang sekitar 5 persen, bagaimana apabila nanti terbalik Prabowo-Hatta yang menang 5 persen? Tidak perlu ada yang marah mestinya. Nah, penulis akhiri tulisan panjang lebar ini, semoga tidak bosan membacanya. Jangan terlalu yakin dengan hasil survei, itu hanya sebatas pegangan belaka. Yang penting adalah bagaimana di dalam diri pasangan capres dan cawapres membersihkan hati, akan memimpin Indonesia, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau Allah berkehendak apapun akan terjadi. Analisis ini panjang karena menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Kita berdoa semoga pilpres berlangsung aman dan damai.

Penulis hanya khawatir, ada yang tidak suka dengan salah satu capres kok jadinya seperti sangat  membenci? Siapapun yang menang nanti kita harus hargai dan hormati, karena hanya itu pilihannya. Harus sadar dengan resiko menggunakan faham demokrasi yang intinya adu banyak-banyakan. Maaf kalau ada kurang-kurangnya analisis Old Soldier ini.

Penulis : Marsda (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

             
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.