Jusuf Kalla Yang Memenuhi Kriteria Sebagai Cawapres Jokowi

8 May 2014 | 2:02 pm | Dilihat : 448

JK itunes

Jusuf Kalla (Sumber foto : itunes.apple.com)

Rabu dinihari (7/5/2014) setelah mencermati dinamika politik di tanah air menjelang Pemilu Presiden, penulis menayangkan artikel di blog ramalan intelijen, dengan judul "PDIP Sebaiknya Menghitung benar Menghadapi Koalisi Gerindra-Golkar."

Dari perkembangan politik, terlihat bahwa Aburizal Bakrie (ARB) rupanya mendapat masukan dari para elit Golkar agar mawas diri, jangan memaksa maju bersaing sebagai capres Golkar dan bergabung dengan salah satu capres terkuat. Rupanya gayung bersambut, ARB dan Prabowo mengadakan pertemuan-pertemuan, dan ARB memberikan indikasi siap menjadi cawapresnya Prabowo. Walaupun belum final, nampaknya Akbar Tanjung yang menyatakan keberatan langkah ARB, sepertinya merasa peluangnya akan habis untuk maju sebagai cawapres.

Dalam mempelajari sikon politik, penulis tertarik dengan temuan dari survei SMRC baru-baru ini. Temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terbaru memperlihatkan tren Jokowi yang melemah, di lain sisi, Prabowo cenderung menguat. Dalam kondisi ini, Jokowi bisa kalah oleh Prabowo jika salah memilih pasangan dan salah dalam berstrategi kampanye. Ini adalah informasi yang sebaiknya diolah dan diwaspadai tim pemenangan Jokowi. Langkah Prabowo seperti catur, ada langkah kuda yang tidak umum, bisa schack mat apabila salah melangkah. Kira-kira begitu.

Survei SMRC menyatakan bahwa Mahfud MD adalah  bakal cawapres yang paling kuat untuk mendampingi Jokowi. Survei ini mengasumsikan Jokowi-Mahfud bertarung melawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa serta Aburizal Bakrie-Wiranto. Menurut hasil survei, elektabilitas Jokowi jika dipasangkan dengan Mahfud sekitar 47,6 persen. Begitu Jokowi dipasangkan dengan Kalla, elektabilitasnya menjadi 46,1 persen. Begitu katanya.

PDIP kini sudah mengantongi beberapa nama cawapres untuk mendampingi Jokowi. Menurut Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo kriteria pertama untuk figur yang akan mendampingi Jokowi pada pilpres  adalah sosok yang memiliki komitmen menjadi wakil presiden selama lima tahun. PDI-P juga meminta agar bakal cawapres Jokowi harus mampu memosisikan diri sebagai wakil presiden saat kelak terpilih dan tidak melampaui kewenangan presidennya. Kedua, harus mampu memperkuat sistem presidensial, memiliki program prorakyat dan bersungguh-sungguh mengimplementasikan Trisakti  Bung Karno.

Beberapa nama yang banyak disebut antara lain Mahfud MD, Jusuf Kalla, Hatta Rajasa dan Ryamizard Ryacudu. Nama-nama itulah yang disurvey oleh SMRC, dan menyimpulkan Mahfud MD adalah bakal calon terkuat ditinjau dari hasil survei untuk melawan Prabowo, terkuat kedua adalah JK. Akan tetapi melihat latar belakang organisasi Mahfud, nampaknya ada kendala penyatuan keduanya sebagai pasangan capres dan cawapres.

Nah, kemarin sore, setelah membaca artikel penulis, ada teman wartawan media yang menyebutkan bahwa Ketua KPK Abraham Samad juga menjadi salah satu calon kuat cawapresnya Jokowi. Abraham Samad mulai naik daun setelah menjadi pimpinan KPK. Apakah Samad ini yang kriterianya dikatakan Jokowi pada akhir-akhir ini? Mari kita ukur dari kriteria yang disampaikan.

 Menurut Jokowi, ada beberapa kriteria utama yang diinginkannya. Saat blusukan ke Ulujami, Jakarta pada hari Rabu (7/5/2014), Jokowi  mengatakan, "Integritas terutama, kompetensi juga terutama. Komitmen terhadap hal-hal yang bersifat kerakyatan," katanya.  Saat ini menurutnya sudah ada nama yang mengerucut, jadi 5, 3 dan 1. Minggu depan akan diumumkan.  Keputusan akhir ditentukan oleh dirinya sendiri. Yang terakhir menurut Jokowi, bekerja dengan siapa, itulah jawabannya. Beberapa waktu lalu, Jokowi menyampaikan kriteria, cawapresnya berasal dari luar Jawa, ahli ekonomi dan juga mengerti hukum.

Abraham Samad, dari luar Jawa, mengerti hukum tapi bukan ahli ekonomi, JK luar Jawa, ahli ekonomi dan mengerti hukum, Hatta Rajasa bukan sarjana ekonomi, tapi kini Menko Perekonomian, berarti ahli ekonomi, mengerti hukum. Ryamizard bukan ahli ekonomi, tapi mengerti hukum. Mahfud MD, bukan ahli ekonomi tapi ahli hukum.

Dengan demikian maka cawapresnya Jokowi yang dipergunakan untuk menyaring para calon adalah, integritas, kompetensi, komitment terhadap rakyat, ahli ekonomi, mengerti hukum dan orang luar Jawa. Berarti kunci informasi luar Jawa akan mendudukkan Jusuf Kalla dan Abraham Samad yang lolos saringan. Tetapi dari kriteria ahli ekonomi, Abraham Samad nampaknya akan tereliminasi karena dia bukan ahli ekonomi.

Dengan demikian apabila kriteria yang disampaikan itu benar apa adanya, nampaknya mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla berpeluang besar  akan terpilih menjadi cawapresnya Jokowi. Dari sisi integritas jelas JK tidak pernah tersentuh hal-hal yang berbau negatif. Memang kini JK diminta datang ke sidang masalah korupsi terkait Century sebagai saksi saat menjadi wakil presiden. Dari sisi kompetensi, jelas tidak diragukan, karakter dan rekam jejaknya sangat difahami Ketua Umum PDIP,  dia pernah menjabat sebagai Menko Kesra saat Bu Mega menjadi presiden.

JK masuk kriteria ahli ekonomi bila dilihat dari pendidikan dan pengalaman jabatan, dan dari rekam jejaknya walau bukan sarjana hukum, JK jelas mengerti hukum, mampu menyelesaikan secara hukum dan politis serta keamanan masalah Aceh dan Poso. Kini JK menjadi ketua PMI, yang menunjukkan jiwa sosialnya mau mengurusi persoalan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Inilah data-data biografinya, Drs.H Muhammad Jusuf Kalla, lahir di Watampone, Bone,  Sulsel 15 Mei 1942. JK adalah mantan Ketua Umum Golkar, dan mantan Wakil Presiden RI (2004-2009). JK adalah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967), dan The European Institute of Bussiness Administration, Perancis (1977). Pernah menjabat sebagai Menko Kesra RI masa pemerintahan Ibu Megawati (9 Agustus 2001-22 April 2004), dan pernah juga menjadi Menteri Perdagangan RI (26 Agustus 1999-24 Agustus 2000).

Nah dari pembahasan dengan berdasarkan beberapa informasi diatas, nampaknya Pak JK ini yang akan kembali bertarung di ajang pilpres mendampingi Jokowi. Walau Jokowi relatif  muda (52), tetapi dengan dikawal JK, walau Prabowo didampingi Aburizal, pamor dan kepercayaan publik terhadap pasangan PDIP ini penulis perkirakan akan cukup tinggi. Selain itu saran Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh juga terpenuhi. Demikian, semoga bermanfaat, kita tunggu pengumuman Capres Jokowi, apakah ramalan  ini benar.

Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Artikel terkait :

-Sulit Menaklukan Jokowi, Prediksi Pilpres Satu Putaran, http://ramalanintelijen.net/?p=8343

-Antara Ramalan Intelijen Presiden 2014 dan Jokowi,  http://ramalanintelijen.net/?p=8218

-Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama,  http://ramalanintelijen.net/?p=7601

-Numpang Populer atau Menyerang Jokowi, Strategi yang Salah,  http://ramalanintelijen.net/?p=7668

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.